-
-
Chapter 39
Auren Vio
08:03,Aug 13,2026
Putri sah keluarga jenderal, Hani, terlahir dengan jiwa yang keras dan bersumpah tak akan pernah menundukkan kepala! Sebagai putri Panglima Besar Pertahanan Utara, ia dibesarkan di ibu kota yang dipenuhi bangsawan dan para penguasa. Berbekal kehormatan keluarga yang gemilang serta tekad sekeras baja, ia hidup dengan kepala tegak, menantang dunia yang selalu meremehkan perempuan.
Namun, sebuah pernikahan justru menyeretnya ke dalam pusaran pengkhianatan. Suami berselingkuh, wanita simpanan datang menantang, mertua terus menekan, bahkan kedudukan Hani sebagai istri sah mulai digoyahkan. Ketika semua orang bersekongkol memaksanya menerima Perceraian Damai demi menutupi kepentingan mereka, Hani hanya tersenyum dingin.
"Kalau aku memilih berpisah... itu akan menjadi awal kehancuran kalian."
Saat harga dirinya diinjak dan kehormatan keluarganya berada di ambang kehancuran, Hani bersumpah akan membangkitkan darah ksatria yang mengalir dalam dirinya. Ia akan menghancurkan aturan-aturan yang mengekangnya, memutus setiap belenggu, dan menulis sendiri legenda perlawanannya. Badai mulai mengguncang ibu kota. Kini, siapa yang sanggup menghalangi kebangkitan putri keluarga jenderal itu?
-
-
-
-
Chapter 475
Raila Aidel
18:41,Aug 04,2026
“Rong Li, aku bersedia menikahimu saja sudah merupakan batas toleransiku. Jika kau masih berani naik ke ranjangku lagi, maka yang menunggumu berikutnya hanyalah sepucuk surat cerai.”
“Tak perlu menunggu nanti. Tulis sekarang juga.”
Ia adalah putri keluarga Perdana Menteri, demi pria yang dicintainya pernah melakukan segala kebodohan, hingga jatuh menjadi bahan tertawaan seluruh negeri.
Ia pula—seorang instruktur wanita pasukan khusus dari dunia modern—hadir dengan kemegahan. Mana mungkin ia membiarkan siapa pun menginjak-injaknya.
Sang pangeran muak padanya, selir samping menjebaknya, para pelayan mempersulit hidupnya?
Ikat semuanya, gantung, lalu hajar.
Ia mengira setelah berpisah secara damai, kebebasan akan berada dalam genggamannya. Namun siapa sangka, justru bertemu dengan pria yang telah ditakdirkan baginya.
“Hei, hei, hei! Kau keluar masuk kamar gadisku seperti rumah sendiri. Apa itu pantas?”
“Hmm… memang tidak pantas,” ujarnya sambil menatapnya dengan ekspresi penuh perhitungan.
“Kalau begitu, aku akan kembali untuk memilih hari baik, lalu menikahimu dan membawamu pulang ke kediamanku.”
-
-