Bab 2 Anak Jenius

by Sherin 08:00,Jan 01,1970

Bab 2 Anak Jenius

“Devan, jam tangan edisi khusus ini hadiah buat Simon …, kelihatannya beberapa hari ini dia nggak begitu senang, aku dapat ini setelah mencari ke banyak toko loh.”  ujar Gabriel sambil berjalan melewati Sherin lalu berdiri di depan Devan dan mengerutkan keningnya, terlihat bahwa ia sangat perhatian terhadap Simon. Melihat ekspresi wanita ini, membuat Sherin bertambah bingung, sepertinya dia perhatian sama Simon, layaknya seorang ibu tiri, Simon tidak seharusnya malah membencinya….

“Kamu terlalu manjain dia…” sikap dingin Devan pun luluh oleh sikap Gabriel yang memanjakan Simon ini. Devan mengambil kotak jam tangan itu dari tangannya, dan dengan raut muka yang dingin memberikannya ke Sherin “nanti berikan ke Simon.”

Lalu dia mengambil jaket dari sofa dan menaruhnya di bahu “bukannya mau pergi milih baju pesta untuk tunangan?” sambil menarik Gabriel dan berjalan melewati Sherin.

Bau asap rokok Devan membuat kening Sherin mengerut, dia tidak suka laki-laki yang merokok.

Gabriel menoleh ke belakang dan melihat Sherin sepintas, penampilan pengasuh baru yang sangat biasa ini membuat Gabriel tidak banyak bertanya, lalu menganggukkan kepalanya, kelihatannya Gabriel adalah sosok orang yang lembut dan lapang dada.

“Simon sudah bangun, Sherin ayo naik…” panggil salah seorang PRT dari atas.

Sherin sudah beberapa saat di rumah ini, hanya saja Simon dari tadi tidur siang, dan panggilan ini membuat Sherin tidak sabaran untuk berjumpa dengan anaknya.

Dia menundukan kepala, menggigit bibir bawah, dan menutup matanya sejenak.

Anak ini… anak yang kurindukan selama 5 tahun… langkah kaki yang seakan tidak bisa dikontrol membuat dirinya sedikit tersandung. 

Walaupun pada awalnya anak ini ia dapatkan secara mendadak, namun demi anak ini Sherin pernah mencoba mengikuti ujian masuk perguruan tinggi walau pada akhirnya ia gagal, lalu demi anak ini Sherin yang seharusnya bisa memperbaiki kehidupannya, nampaknya juga harus berkorban lagi.

10 bulan ia mengandung, dia sangat mengenali anak ini, baik gerakan maupun emosinya. Oleh karena itu, dia akan menerima apapun hasilnya. Selama berapa tahun ini dia terus merindukan anak ini, sampai terasa hampir gila, hanya saja dia tidak memberitahu ibunya karena merasa tidak ada gunanya karena itu lah hal ini tertunda terus.

“Ayo masuk!” sapa salah satu PRT yang sudah berada di dalam kamar, memanggil Sherin yang merasa lega saat sampai di depan pintu kamar Simon.

Sherin berdiri di depan pintu dan menatap anak itu. Badan Simon masih di dalam selimut, hanya terlihat kepalanya saja, rambutnya sedikit ikal dan berantakan, meskipun begitu anak ini tetap terlihat mengemaskan.

Saat melahirkannya, belum sempat melihat sejenak sudah dibawa pergi, sering kali Sherin membayangkan raut wajah anak ini…..

Tapi, dia tidak pernah membayangkan wajahnya seganteng ini. Dan kalau saja tidak ada pembawaan maskulinnya, anak ini kelihatan sekali seperti anak perempuan, sangat cantik, dan bisa dibilang mirip sekali dengan Sherin. Kenyataan ini membuat perasaan Sherin bercampur aduk, mama tidak bohong, benar sekali anak ini adalah anakku.

Sherin mengempalkan tangannya, menahan diri untuk tidak memeluk anak itu.

“Nama saya Sherin, nama kamu Simon, kan?” sapa Sherin dengan suara agak gemetaran.

Simon tidak menjawab Sherin sama sekali, membalikkan badannya dan mengeluarkan tablet dari bawah bantal, lalu tangan mungil itu mengetik dengan cepat.

“Ketik namamu.” Simon menyodorkan tabletnya ke Sherin.

Semua huruf dan angka di layar itu berwarna biru, terlihat seperti suatu program…..

Sherin sedikit terkejut sampai menelan air ludah, anak ini bukannya baru umur 5 tahun?

Dia pikir anak ini mengambil tabletnya untuk nonton film kartun?

Ini…. program apa yah?

Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan anak ini, tapi ia pun mengikuti permintaan anak itu.

Kira-kira 1 menit kemudian, Simon memegang kembali tabletnya, sambil berlutut di ranjang, melipat kedua tangannya dan meletakkan di depan dada, memandang Sherin dengan serius,”Tante, saat umur 18 tahun memalsukan data diri.”

Anak ini mengatakannya dengan sangat yakin, membuat badan Sherin mematung. Dulu, ibu Sherin membayar dengan sangat mahal saat memalsukan datanya supaya kelak tidak ditemukan kejanggalan data. Sebelumnya Sherin juga tidak menemukan masalah saat melamar kerja, tapi kok bisa anak ini….

“Tante, kamu memalsukan data untuk mendekati papaku yah?” tanya Simon sambil terus menganalisa, lalu mengenakan kemeja, jaket, celananya sendiri dengan baik, dan kemudian turun dari ranjang mengenakan sandal.

Kemampuan untuk mengenakan pakaiannya sendiri dengan baik ini membuat Sherin terkejut. Dan merasa lega setelah mendengar dia suaranya, “tapi… Tante….” sambil mengerutkan keningnya.

“Simon, yang sopan yah.” perintah mbok Lili yang berada di depan pintu sambil membawa nampan dan kebetulan mendengar pembicaraan mereka, mbok melihat sepintas Simon dan Sherin, lalu meletakkan nampan yang dibawanya di meja bundar kecil itu, ada beberapa mangkuk besar dan kecil di dalam nampan tersebut.

“Mbok…” sapa Sherin sambil menganggukkan kepalanya. Sherin sudah berkenalan dengan mbok Lili sewaktu baru sampai di rumah ini.

Mbok Lily pun membalasnya dengan senyuman, lalu merapikan kerah baju Sion dan berkata: “IQ Simon 190, waktu umur 2 tahun dia sudah bisa membaca, menulis beberapa sajak, tahun ini, dia sudah menyelesaikan beberapa mata kuliah… akhir-akhir ini dia sedang meneliti satu program, apa yah namanya..? pokoknya aku juga nggak ngerti… mengangetkan kamu yah Sherin.”

Penjelasan mbok Lily membuat Sherin sangat terkejut.

Wah, dia dan Devan dengan cara seperti ini bisa melahirkan seorang anak jenius, benar-benar luar biasa.

“Apa kamu pikir papamu yang sangat hebat itu bisa terpikat oleh wanita seperti aku ini? Aku memalsukan data diriku supaya bisa lebih mudah mencari kerja!” jelas Sherin pelan-pelan sambil berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Mendengar jawaban Sherin, Simon baru melihat dengan seksama pengasuh barunya itu. Benar juga yah, cewek-cewek sebelumnya emang jauh lebih cantik dan modis.

Simon berpikir dan meletakkan mangkuknya ke atas meja.

“Perempuan tuh pandai menyamar!”

Mbok Lili yang sedang melipat selimut pun tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan Simon tadi. Mbok Lili yang mau membentangkan selimut, tiba-tiba kakinya terasa lemas dan tersungkur ke ranjang.

“Nek, kamu nggak kenapa-kenapa kan?” tanya Simon dengan nada khawatir dan segera berlari ke samping si mbok dan memengang lengannya.

Melihat itu, Sherin juga segera memapa mbok Lili berdiri dan bertanya “Mbok, kamu baik-baik saja kan?” setelah berdiri di samping mbok, Sherin melihat jelas wajah mbok yang pucat, keningnya keringatan dan mngerut….

“Iya nggak pa pa, sudah tua makanya ga ada berguna.” jawab mbok yang berusaha berdiri dari ranjang.

“Nenek, belum tua!” kata Simon sambil memegang erat tangan mbok, walaupun dari raut wajahnya terlihat sedih dan khawatir.

Berdasarkan yang Sherin dengar dari PRT lainnya, mbok Lili juga pengasuh Devan sewaktu dia kecil, dan setelah Simon lahir si mbok juga mengasuhnya, walaupun ia tergolong PRT di rumah Devan, namun semua orang di rumah itu sangat menghormati mbok. Oleh karenanya, berbeda dengan pembantu lainnya hanya si mbok yang disapa Nenek oleh Simon.

Hanya karena si mbok sudah memasuki usia lanjut lah, makanya mereka baru mencari pengasuh baru untuk Simon. Tapi Simon sudah membuat berapa puluh pengasuh baru tidak betah kerja di rumah itu.

“Simon, nenek sudah tua, kalo kamu membuat ulah terus dan pengasuh baru ini berhenti lagi, nenek bisa kelelahan.” ucap si mbok sambil mengangkat lengan bajunya, mengapus air mata.

Air mata nenek membuat Simon tidak tahu apa yang harus ia lakukan, sambil terus memegang erat tangan nenek dan menundukkan kepala, ia pun menjawab dengan suara kecil:”aku akan membuatnya betah di sini.”

Mbok mengangkat kepalanya lalu bermain mata dengan Sherin tanpa sepengetahuan Simon.

Untuk orang lansia seperti ini, kelakukan mbok yang jail ini membuatnya kagum, dan segera mengaggukan kepalanya…..

“Gimana mbok?” tanya pria berbadan ramping yang sedang berdiri di dekat jendela di sebuah gedung tinggi sambil melihat pemandangan di bawah sana, dan jarinya memegang rokok yang tersisa setengah puntung.

“Sepertinya, dia bisa menerima!” jawab si mbok dengan lega di telpon, lalu mengangkat kepalanya ke atas dan suara tawa pun terdegar beberapa kali, seketika itu suasana rumah pun terasa hangat. Sudah lama tak terdengar suara tawa di rumah ini, walaupun ada sedikit merasa tidak rela untuk melepaskan anak ini.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

793