Bab 3 Hidup Damai

by Sherin 08:00,Jan 01,1970

Bab 3 Hidup Damai

“Berani sekali kamu mengelitik aku yah?” ujar Simon lalu bersembunyi di dalam selimut dan memandangi Sherin dengan tatapan yang dingin. Dipikir-pikir berinteraksi dengan wanita ini jauh lebih nyaman daripada wanita-wanita sebelumnya yang berpura-pura baik terhadapku.

Sherin tidak menghiraukan kata-kata Simon lalu mencubit pipinya sambil berkata, ”Simon kamu tuh yah.. jangan pasang muka cemberut terus donk, anak kecil itu harusnya tertawa gembira setiap hari.” Meskipun anak ini ber-IQ tinggi, tapi bagaimanapun usianya masih kecil, Sherin tak ingin anak ini terlalu cepat dewasa dibanding anak seumurannya.

Simon memoncongkan mulutnya dan kemudian meminta Sherin, “kamu jangan pergi, temeni aku tidur.”

“Okey, kalau kamu sudah tertidur, aku baru pergi.”

Melihat raut wajah anak ini ketika dia tidur membuat mata Sherin berkaca-kaca, segera ia menarik dan menghelakan nafas dalam-dalam mencoba menenangkan diri. Setelah sebulan ibunya meninggal, baru sekarang dia merasakan gembira lagi.

Dia juga tidak hidup tanpa tujuan lagi.

Senangnya, hari-hariku jika terus bisa berada bersamamu, bagiku hal lainnya sudah tidak terlalu penting lagi.

 Setengah bulan kemudian, hari-hari dilewatin dengan damai. Simon yang awalnya mempersulit dan menolak Sherin, melihat Sherin selalu menanggapi ulahnya dengan sabar tanpa amarah dan emosi sedikit pun, setelah berapa hari berulah, anak itu lelah sendiri.

Sherin selalu menikmati setiap kebersamaannya dengan anak ini. Dia mengamati sifat dan emosi anak itu, menemaninya saat suka dan duka, mungkin ini semua yang membuat Simon merasa Sherin merawatnya dengan sepenuh hati, alhasil membuatnya semakin mempercayai Sherin.

Sherin pikir semua ini karena hubungan darah antara ibu dan anak yang mereka miliki.

Di sisi lain, Sherin setiap hari juga bisa bertemu Devan, namun dia berusaha sebisa mungkin untuk menghindari pria ini, oleh karena itu mereka jarang berinteraksi.

Hidup Sherin sekarang lebih sederhana dari yang dia pernah bayangkan tapi terasa bahagia.

“Papa, tadi papa bilang mau mengajakku ke Pulau Mutiara?” tanya Simon ke Devan yang tidak sengaja terdengar oleh Sherin yang sedang berjalan menuju kamar Simon, seusai bersih-bersih, karena mau memastikan anak ini sudah tertidur atau belum. Wajah Simon terlihat sangat gembira, anak ini baru berusia 5 tahun, tapi jarang sekali bisa melihat raut wajah segembira ini, mungkin ini karena IQ-nya yang melebihi anak sebaya ditambah pembawaannya yang sama seperti Devan, dingin. Wajah gembira ini biasanya hanya bisa terlihat saat dia berinteraksi dengan Sherin atau si mbok.

Devan membungkukkan badannya, menepuk bahu anaknya dan berkata:” tidur pagian, besok pagi-pagi kita berangkat.” Kemudian keluar dari kamar Simon dan berpapasan dengan Sherin, yang kemudian dengan muka cool-nya berkata: “tolong siapkan koper Simon.” lalu kembali berjalan kembali dan berenti lagi setelah beberapa langkah dan berkata:”kamu juga ikut jadi ada orang yang bisa menjaganya.”

“Ooo..” jawab Sherin yang gembira bukan kepalang setelah mendengarnya, dia tidak peduli alasan dari liburan ini, juga tidak peduli kenapa dia bisa ikut, yang penting ini adalah liburan pertama dia dan anaknya, ini semua membuatnya senang luar biasa.

Sambil melihat bayangan laki-laki itu pergi menjauhinya, Sherin yang senang bukan kepalang ini tidak bisa menahan diri untuk melompat, lompatan itu membuat langkah pria itu terhenti sebentar.

Lalu menegok ke belakang untungnya saat itu Sherin sudah masuk ke kamar Simon.

“Oh ya.. di sana ada pantai, menurutmu aku perlu bawa baju renang gak yah?”

“Terus mau bawa sunblock ga yah?”

“Adalagi, kamu nggak alergi air laut kan?”

“Kamu bisa berenang ga?”

“Kamu……”

“Aduhh… tante, pertanyaanmu banyak sekali, yang pergi berlibur juga bukan kamu, kenapa kamu bisa senang begitu?” jawab Simon yang memotong perkataan Sherin, lalu menutup buku komiknya dan baring sambil menyelimuti diri sampai kepala. Sherin pernah menyuruh Simon untuk memanggilnya mbak saja tapi Simon bersih keras memanggilnya tante, setelah berusaha mengingatkannya berkali-kali, Sherin juga tidak terlalu peduli lagi dengan panggilan ini.

“Simon kamu begitu bisa kehabisan oksigen.” ujar Sherin sambil menarik selimut Simon ke bawah sampai bagian kaki.

Sherin yang melihat Simon menatap dirinya, mencubit pipi Simon dan berkata:”kamu yah… suka sekali ngambek, hati-hati tar besar jadi seperti papamu tuh, muka tanpa ekspresi!”

Devan yang awalnya melihat pintu kamar Simon masih terbuka dan berniat untuk menutup pintu itu mendengar perkataan Sherin tadi, dengan muka malu ia berpikir berani sekali pengasuh ini mengatakan diriku seperti itu? muka tanpa ekspresi? tanpa dia sadari ia pun memegang mukanya, dan kemudian menggempalkan tangannya.

“Tolong matikan lampu, aku mau tidur.”

“Temani aku ngobrol sebentar donk?”

“Nggak mau!”

“Dasar, tidur deh tidur sana.”

Devan yang mendengar langkah kaki Sherin yang semakin mendekat, membalikaan badan lalu pergi.

Bukan karena Devan lapang dada dan tidak perhitungan tapi Simon bisa menjawab-jawab dan mau berinteraksi dengan pengasuh barunya itu menandakan anak itu menyayanginya, kalau sebaliknya, anak ini tidak akan mau memperdulikannya, contohnya Simon tidak pernah mau menjawab-jawab perkataan Gabriel, memikirkan hal ini membuat dahi Devan mengerut.

Keesokkan paginya, Sherin terdiam, ketika melihat ada Gabriel di dalam mobil, ternyata ini adalah liburan mereka sekeluarga, ngapain aku ikut-ikutan, mau jadi penganggu?

Ah biar saja lah, di mata mereka aku bukan siapa-siapa juga, tidak ada orang yang peduli juga? berpikir sampai di sini, Sherin akhirnya merasa lega.

Pulau Mutiara terkenal dengan kecantikan alamnya dan tempat-tempat peninggalan bersejarah, sesampai di sana Sherin benar-benar merasakan dan melihat keindahan pantainya. Semalam dia juga sempat mencari beberapa info di website tetang daerah yang mereka kunjungi ini merupakan salah satu tempat wisata baru daerah ini, belum resmi dibuka makanya belum banyak orang yang tahu.

“Capek ga?” tanya Devan ke Gabriel dengan suara yang lembut, sambil memijat bagian pelipis wanita itu.

Laki-laki yang selalu tampak sangat dingin ke semua orang ini, bisa menjadi begitu lemah lembut dihadapan wanita itu. Inikah yang namanya cinta? tapi papa dulu terhadap mama juga sama seperti ini, tapi akhirnya juga…..

Sorotan mata Sherin terasa oleh Devan yang kemudian membalikkan badannya, kedua pasang mata itu bertatap-tatapan. Tidak ada lagi pandangan lembut itu di matanya, walaupun Devan hanya berdiri diam saja tapi tetap terasa pesona dan kegarangannya, melihat muka itu tanpa Sherin sadari tubuhnya pun menjadi tegang dan berkata “aku bawa Simon main ke pantai dulu.”

Setelah itu ia bergegas pergi, dan sama sekali tidak berani memperlambat langkah kakinya.

“Tante, kamu kerja di rumahku apa benar bukan karena untuk mendekati papaku?”

“Simon, aku sudah jelasin ke kamu berkali-kali, kamu jangan tanya lagi deh yah? lagian papamu dan Gabriel sudah mau tunangan, tante Gabrielmu itu cantik, lembut, baik sama kamu. Kalaupun aku ada perasaan ke papamu, dengan kriteriaku seperti ini mana sepadan?”

“Polos… hanya orang ber-IQ rendah seperti tante ini baru bisa menganggap wanita itu baik.” ujar Simon sambil menedang sekuat tenaga pasir-pasir di depannya serta mulut yang masih terus bergumam.

Berinteraksi dengan Simon beberapa hari ini membuat Sherin perlahan terbiasa mendegar perkataan yang mengangetkan seperti itu dari mulut anak kecil itu, “Papamu rasa wanita itu baik sudah cukup” balas Sherin sambil memainkan bibirnya.

“Papa? IQ papa nggak rendah sih, tapi sayangnya dia terlalu berniat untuk membalas budi, mana mungkin bisa melihat dengan jelas lagi mana yang baik dan buruk.” jawab Simon.

Balas budi? dahi Sherin pun mengerut heran.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

793