Bab 10 Wanita Yang Marah

by Jacky 09:38,Mar 22,2021
Raymond Tang terkekeh: "Kenapa, apakah si Astan bajingan itu tidak baik padamu, merasa kamu sudah tua?"

Sentuhan kesedihan melintas di wajah Debby dan dia berkata, "Ya, pada saat baru menikah bisa beberapa kali dalam semalam, dan kemudian ada beberapa kali dalam seminggu. Sekarang sudah dihitung setiap bulan."

Raymond Tang sangat ingin memberitahunya bahwa suamimu sudah berselingkuh di luar, tetapi akhirnya menahannya, jangan sampai membuatnya merasa sedih.

Menghiburnya: "Jangan terlalu memikirkannya. Dia bekerja seharian, dan sekarang dia masih harus menanggung dua anak. Wajar jika dia kekurangan energi."

Debby berkata dengan sedih: "Kamu juga jangan menghiburku lagi. Sebenarnya, aku tahu sedikit tentang dia. Karena ayahnya adalah kepala desa, dia pun meniduri banyak wanita. Aku khawatir suatu malam dia akan ditangkap oleh suami orang, lalu dipukuli sampai lumpuh."

“Pasti juga karena ini tadi malam, tetapi dia bilang bahwa dia terjatuh di sawah. Demi kedua anakku, aku tidak punya jalan lain,” kata Debby tidak berdaya.

Raymond Tang mendengar kata-kata itu dan menghibur: "Karena dia adalah orang seperti itu, maka kamu juga tidak perlu terlalu menderita. Kalau kamu benar-benar tidak tahan lagi, tinggalkanlah dia dan carilah pria yang lebih baik."

Debby berkata dengan emosi: "Mana semudah itu? Ayahku berhutang kepada keluarganya. Ayahnya adalah kepala desa, mereka tidak akan setuju dengan perceraian. Hei, jangan bicarakan hal-hal menyedihkan ini lagi. Aku hanya membicarakan hal ini denganmu, jadi kamu harus merahasiakannya untukku."

“Kamu juga jangan menertawakanku. Kalau tidak, setelah kamu menikah nanti, aku akan memberitahu istrimu bahwa kamu pernah meniduriku.” Debby tersenyum licik.

Raymond Tang memiliki garis hitam di wajahnya: "Tolong, kamu sendiri yang datang kepadaku dan memberitahuku. Bukan aku yang bertanya, oke? Masih mengancamku seperti ini."

Raymond Tang diancam oleh seorang wanita muda dan berjanji: "Jangan khawatir, aku sangat menyimpan rahasia."

"Ya, waktu sudah larut, aku harus kembali untuk melihat anak-anak. Jika kamu mau, kamu bisa datang mencariku." Debby hendak melewati Raymond Tang.

“PIAK!” Pantat Raymond Tang dicubit kuat oleh sebuah tangan yang lembut, sampai-sampai matanya hampir jatuh karena terkejut. Keinginan batin Debby yang ditekan di dalam hatinya ada di tangan itu.

“Hihi, kamu masih sangat enak untuk dicubit. Carilah aku jika kamu punya waktu.” Dia mengucapkan kata yang berarti dan pergi.

Raymond Tang tercengang dan merasa gatal.

Apa yang dia maksud dengan perkataannya ini? Dia ingin memiliki hubungan dengannya? Memikirkan wanita muda yang matang itu, hatinya sedikit bergolak.

Teringat dengan Jacinda Li, pergolakan di hatinya baru sedikit lebih tenang.

Satu per satu wanita cantik di depannya membuat hati Raymond Tang sedikit kacau, namun dia selalu merasa bahwa dia kekurangan seorang pendamping dan pribadi yang intim. Seperti Mona Qin, dia mengeluarkan ponselnya dan menemukan nomor telepon Mona Qin. Setelah berkutat dengan ponselnya untuk waktu yang lama, Raymond Tang masih tidak menelepon.

Sebaliknya, dia menghubungi nomor telepon sahabat dari Mona Qin.

“Halo, siapa ya?” Pihak lain sepertinya sedang makan dan tidak peduli sama sekali.

Raymond Tang menghela nafas dan berkata, "Gadis cantik, ini aku, Raymond."

“Oh, Raymond, kudengar kamu sudah kembali ke kampung halaman. Benarkah?” Tanya pihak lain dengan santai.

Raymond Tang berkata: "Ya, kalian semua baik-baik saja, kan?"

"Baik, kami semua baik-baik saja. Aku sudah mau pergi ke bioskop, mari berbicara kembali."

“Itu, bagaimana kabar Mona?” Raymond Tang masih tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

Pihak lain berkata dengan tidak sabar: "Dia sangat sibuk. Baru-baru ini, dia mengambil alih perusahaan keluarga mereka dan berhubungan dengan Yudas Liu. Diperkirakan mereka akan menikah tahun depan. Kamu sudah pulang untuk bertani, jadi jangan mengingatnya lagi. Orang-orang seperti kalian ini, satu per satu menyukai Mona secara diam-diam, setiap hari bertanya kepadaku tentang ini dan itu, memangnya aku tidak butuh uang untuk tagihan teleponku? Aku tutup telepon dulu."

Mendengar suara bip di telepon, Raymond Tang merasakan sakit di hatinya. Akhirnya Mona Qin memilih Yudas, pemilik muda dari Shengwei Group. Tetapi dia telah diblokir sekarang, dan dia tidak bisa terlibat dengan mereka.

"Mona, maafkan aku, aku dipukuli hingga tidak sadarkan diri hari itu, dan kemudian aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak tahu dimana harus mencarimu, dan pekerjaanku juga berubah. Aku orang pedesaan yang ingin mengakar di perkotaan, ternyata tidak semudah yang kubayangkan."

"Sekarang, aku bahkan tidak memenuhi syarat untuk berada di depan pintu rumahmu. Aku tidak punya kesempatan untuk menyatakan cinta kepadamu." Raymond Tang berkata tak berdaya. Dia memasuki hidupnya seperti peri, juga tidak terjangkau seperti peri. Beberapa pemikirannya mungkin tidak pernah didengar olehnya.

Saat kencan penting dengan Mona Qin hari itu, dia dipukuli di tengah jalan dan pingsan. Setelah tersadar, dia pun meneleponnya, tetapi wanita itu tidak pernah menjawab. Dia tahu bahwa Yudas-lah yang mengutus orang lain untuk memukulnya hingga pingsan, dan kemudian menggunakan koneksinya untuk membuatnya kehilangan pekerjaan dan memaksanya untuk tidak dapat bertahan hidup di kota.

Kekuatannya sama sekali bukanlah lawan dari keluarga Liu. Tetapi, dia juga khawatir kalau Mona Qin tidak akan bahagia bersama dengan Liu.

“Hei, lupakan dia, sembunyikan saja di dalam hati.” Dia adalah wanita cantik, putih, dan kaya, sedangkan dirinya hanya seorang mahasiswa dari pedesaan, tidak lebih.

Raymond Tang menelepon Mona Qin lagi, tetapi masih tidak tersambung.

“Kuharap kamu bahagia.” Raymond Tang memutuskan untuk menaruhnya di dalam hatinya, dan hidupnya akan berlanjut.

Mengesampingkan masalah emosional dan berkonsentrasilah pada Lima Elemen.

Raymond Tang memutar trik sulapnya, menunjuk ke arah rerumputan di samping sungai, lalu energi kayu di rerumputan itu tiba-tiba menjadi marah dan berkumpul dengan cepat.

Raymond Tang merasakan energi kayu besar itu mengalir ke tubuhnya, hampir meledakkannya, membuatnya takut sampai-sampai menuju ke ladang tomatnya sendiri dengan tergesa-gesa. Tomat-tomat itu mendapatkan energi kayu dan tiba-tiba menjadi lebih bertenaga. Dari kejauhan, tomat-tomat itu seperti janin yang penuh kehidupan.

Raymond Tang memutar dan melihat gas tiga warna yang menelan di tanah tomat, terlihat sangat nyaman.

Raymond Tang pulang ke rumah, Jacinda Li juga sudah datang dan membelikan banyak barang.

"Raymond, efek dari siaran langsung malam itu sangatlah bagus. Ruang siaran langsungku sudah memiliki lebih dari dua ribu penggemar. Imbalannya saja sudah dibagi lebih dari 100 Yuan. Ayo pergi lagi malam ini dan lanjut kumpulkan penggemar." Jacinda Li sedikit bersemangat. Dia tampaknya bukan seorang guru, tetapi lebih seperti seorang pembawa berita yang menyukai hiburan.

“Masih mau pergi, kamu tidak takut digigit ular?” Raymond Tang menatap pahanya.

Jacinda Li mendengar kata-kata itu dan melihat Raymond Tang sedikit tercengang. Kaki yang indah ini begitu lembut dan indah.

"Tidak apa-apa, aku sudah memiliki perlindungan. Lihatlah, aku memakai jeans yang lebih tebal, ada celana panjang di dalamnya. Bahkan jika aku digigit kali ini, gigi kecil ular itu juga tidak akan bisa menggigit dagingku." Jacinda Li memperkenalkan dengan gembira.

"Apakah kamu tidak panas? Memakai yang sangat tebal di musim panas begini. ”Raymond Tang tidak bisa berkata-kata. Selama dia mendengarnya, dengan penglihatannya, bagaimana dia bisa membiarkannya digigit ular lagi?

“Panas, namun bukankah ini untuk keamanan?” Jacinda Li berkata dan pergi untuk mengambil peralatannya. Dia juga membeli beberapa peralatan bagus dari Internet.

“Menurutku, kamu tetap terlihat lebih cantik dengan rok.” Raymond Tang menggoda.

Keduanya berbicara sambil tertawa dan tiba di tepi sungai. Pada saat itu, hari baru gelap sebelum matahari terbenam. Ada banyak nyamuk di tepi sungai, dan kodok-kodok melompat ke pantai.

Jacinda Li membuka siaran langsungnya, menambahkan akun Raymond Tang sebagai temannya, lalu mengambil foto dirinya sebentar untuk mengenalkan situasinya.

“Malam sebelumnya, kami menangkap kodok di selokan di ladang. Malam ini, kami akan pergi ke tepi sungai. Aliran sungai di bagian ini sangat lancar, jadi ada banyak sekali kodok yang bersembunyi di dalamnya. Sekarang langit baru gelap, dan inilah saatnya mereka menjadi aktif. Mari kita terus mengagumi gaya sang pangeran kodok."

Raymond Tang memberitahunya sebelum datang bahwa kepadatan kodok di tepi sungai ini sangatlah tinggi.

Benar saja, begitu Raymond Tang mengambil senter dan menyinarinya, terlihat empat atau lima kodok gemuk. Raymond Tang berjalan mendekat dan melambaikan tangannya dengan cepat. Ketika mengangkatnya, dia sudah mengambil paha kodok-kodok ini di tangannya, menatap kamera dengan mata besar.

"Wow, kamu pantas menjadi pangeran kodok kecil. Teknik ini sangat bagus. Lima ekor kodok sekali tangkap."

"Sungai apa ini, aku juga ingin pergi menangkap kodok bersama dengan penyiar."

Ruang siaran langsung menjadi hidup kembali, dan jumlah orang meningkat dengan cepat.

Raymond Tang mengikuti tepi sungai, ada kodok di sepanjang jalan, membuat orang-orang di ruang siaran langsung menjadi sangat antusias, berharap bisa mengalaminya secara langsung.

Tetapi, ada juga beberapa orang yang tetap terjaga. Ini adalah keterampilan pangeran kodok kecil. Orang lain mungkin tidak akan begitu hebat.

Yang lain bersikeras bahwa jika dia memiliki sungai seperti itu, dia juga bisa menangkapnya seperti ini.

Kontroversi antara kedua pihak menyebabkan ruang siaran langsung meledak, dan popularitasnya segera meningkat. Dari dua ribu, ia telah meningkat menjadi delapan ribu, dan setelah meningkat menjadi delapan ribu, ia bahkan tidak bergerak lagi. Keseimbangan pun terjaga, ada yang masuk dan ada yang keluar.

“Pangeran kodok kecil, aku ingin melihat wajahmu.” Seorang netizen mencemooh di ruang siaran langsung, membuat para penggemar wanita lain pun tiba-tiba berteriak-teriak ingin melihat wajah Raymond Tang.

“Tunjukkanlah, aku juga tidak terlalu jelek, aku tidak memakai riasan, murni dan natural.” Raymond Tang menyalakan senter dan wajah tampannya tiba-tiba memasuki siaran langsung.

Ruang siaran langsung tiba-tiba meledak.

"Aduh, apakah pangeran cilik sudah menikah? Aku masih lajang, godalah aku."

“Begitu tampan, begitu pandai menangkap kodok, idolaku.” Orang-orang berbicara dengan hangat.

Ada kecemburuan seorang pria: "Sekelompok idiot, aku lebih tampan daripada dia dan lebih kaya daripada dia."

“Apakah kamu punya kemampuan menangkap kodok sepertinya? Kalau punya, kamu juga harus menangkap kodok di siaran langsung.” Penggemar wanita pun bersatu. Ada seorang pria yang keluar untuk mengkritik, dia langsung diinjak.

Tiba-tiba, kedua kubu di ruang siaran langsung menjadi saling mengutuk.

Ketika Raymond Tang dan Jacinda Li sedang menayangkan siaran langsung, mereka melihat Astan Li membawa Reno Li, dengan sabit di tangannya, dan sebuah ember.

Bersama mereka, ada juga beberapa penduduk desa.

“Raymond, kamu menangkap kodok lagi, ya? Bisakah kamu mengajari kami? Kami juga ingin menangkap beberapa dan menjualnya di kota untuk mendapatkan sedikit uang saku.” Ketiga istri muda itu mendekati Raymond Tang.

Raymond Tang menghentikan penangkapan kodoknya dan mengajarkan caranya dibawah siaran langsung Jacinda Li. Tentu saja, penglihatan khususnya tidak dapat diberitahukan. Dia hanya bisa memberitahu mereka beberapa trik agar mereka memperhatikan keselamatan dan tidak tergigit ular.

“Mendengar Pangeran Cilik membuatku juga ingin pulang untuk menangkap kodok. Sedih sekali bekerja di kota ini.” Sontak, hal itu menarik perhatian banyak orang dari perkotaan.

Popularitas ruang siaran langsung dengan cepat meningkat menjadi sembilan ribu.

“Yo, kenapa guru Li tidak pulang untuk mempersiapkan kelas besok? Masih datang ke sini untuk menangkap kodok bersama dengan Raymond.” Astan Li berkata.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

62