Bab 8 Asis Yang Kesal

by Haikal Chandra 13:14,Sep 16,2020
Bersamaan dengan marah, aku juga sangat khawatir dengan keamanan Ramya.

Ingin pergi ke rumahnya menghentikan, tapi malah tidak terpikirkan cara apapun, tidak mungkin masuk ke dalam langsung mengatakan kalau teh di hadapanmu ini tidak boleh diminum, karena Asis memasukkan obat ke dalam, ingin berbuat jahat kepadamu!

Kalau berkata seperti itu, takutnya tentang aku memasang cctv juga akan ketahuan.

Melihat Ramya berjalan keluar dari dapur, baru saja menyodorkan semangkuk nasi untuk Asis, lalu duduk kembali dan lanjut makan, aku langsung gelisah.

Tiba-tiba sebuah kilat melewati otakku, aku teringat dengan sebuah ide bagus.

Aku langsung berdiri dan meninggalkan rumah, berjalan ke depan pintu rumahnya dan mengetuk pintu.

Beberapa saat, pintu pun terbuka, Ramya yang berdiri di belakang pintu melihatku, sepertinya teringat dengan masalah dulu, wajahnya sedikit memerah, dengan gugup bertanya: "Untuk.....untuk apa kamu datang?"

"Kemarin aku minum terlalu banyak, sungguh maaf sekali, aku minta maaf kepadamu." Ucapku dengan serius, "Seperti ini, aku sedang memasak nasi, tidak disangka pisau di rumahku rusak, kamu boleh tidak meminjamkan pisaumu kepadaku, nanti setelah aku selesai menggunakannya, langsung kukembalikan kepadamu."

Ekspresi wajah Ramya menjadi lebih santai, juga tidak membalas permintaan maafku, berkata: "Kamu tunggu, aku pergi ambilkan untukmu."

Aku tidak boleh menunggu bodoh di luar pintu, ikut Ramya masuk ke dalam ruang tamu, melihat Asis yang sedang makan, dengan sedikit curiga bertanya: "Ini siapa?"

"Dia adalah teman kerjaku dengan Awang, seorang guru olahraga." Ramya mengenalkan.

"Halo, namaku Asis." Asis meletakkan sumpit mangkuknya dan berdiri tersenyum, wajahnya ramah sekali.

Meskipun aku sedikit jijik di dalam hati, tapi masih tetap memperkenalkan diriku.

Saat ini aku memperhatikan kalau semua yang dipakai Asis adalah barang bermerek, lengannya juga memakai sebuah jam tangan mekanik Rolex, tampaknya berasal dari keluarga kaya.

Selanjutnya Ramya pergi ke dapur mengambil pisau, Asis tersenyum berkata: "Tuan rumah silahkan duduk sebentar."

"Tidak apa-apa." Jawabku dengan tersenyum, lalu tatapanku langsung jatuh pada gelas yang berisi obat, hatiku terguncang sebentar.

Teh di dalam gelas sudah habis, hanya tersisa daun teh di bawah gelas dan sedikit air.

Hanya dalam waktu aku datang kemari, Ramya sudah meminum habis semua teh!

Melihat tatapanku tidak benar, Asis bertanya: "Tuan rumah, ada apa?"

Aku tidak mempedulikan Asis, melihat Ramya berjalan keluar dari dapur sambil membawa pisau, dengan nada berat bertanya: "Kamu sudah meminum semua teh di dalam gelas?"

"Apa?" Pertanyaanku yang mendadak membuat Ramya dalam sekejap tidak bisa menjawab.

Tapi ekspresi wajah Asis berubah, keningnya berkerut.

"Kamu......mau minum?" Ramya bertanya dengan keanehan, sekalian menyodorkan pisau kepadaku.

Aku langsung bereaksi, tadi aku bertanya seperti itu tidak cocok, langsung mengoreksi: "Benar, tiba-tiba sedikit haus, dirumah juga sudah tidak ada daun teh lagi, kalau kamu tidak keberatan, tuangkan segelas teh untukku saja."

Sepertinya ada Asis disini, Ramya tidak begitu khawatir, meskipun wajahnya tidak tersenyum, tapi masih tetap berdiri pergi menuangkan teh untukku.

Aku langsung duduk, meletakkan pisau. Sudah berpikir dalam hati, karena Ramya sudah meminum teh yang sudah dimasukkan obat, maka aku tidak boleh pergi dari sini, dengan begitu Asis tidak akan bisa melakukan apa-apa.

"Kalian sedang makan?" Tanyaku dengan tersenyum.

Ramya tidak menjawab, meletakkan segelas teh di hadapanku dengan wajah tanpa ekspresi.

"Benar!" Asis menjawab dengan tersenyum.

"Kebetulan aku juga belum makan, perutku lapar!" Ucapku lagi.

Jelas sekali, maksudku adalah ingin makan disini, tapi Ramya malah tidak mempedulikanku, duduk dan lanjut makan nasinya.

Hatiku sedikit murung, hanya bisa minum teh dengan perlahan.

Saat ini, ekspresi Asis sedikit kesal, bertanya: "Tuan rumah, bukankah kamu mau pergi memasak?"

"Tidak apa-apa, sudah selesai minum baru pulang." Ucapku dengan tersenyum sipit melihat dua orang ini.

Detik demi detik berlalu, menit demi menit berlalu, aku merasakan ekspresi Asis semakin panik.

Meskipun tidak tau dia memasukkan obat seperti apa untuk Ramya, tampaknya efek obat sepertinya cepat sekali bereaksi, dia jelas sekali khawatir kalau tujuannya akan terbongkar.

Hatiku tertawa dingin, aku lihat kamu masih bisa melakukan apa lagi!

"Oh benar, tuan rumah, aku ada sesuatu ingin memberitahu kepadamu." Ucap Asis tiba-tiba.

"Ada apa?" Jawabku dengan pura-pura penasaran.

Dia langsung berdiri, tersenyum dan berkata: "Disini tidak begitu cocok, kita keluar ngobrol saja."

Sambil berkata juga menarik tanganku.

Aku mengeluarkan ekspresi terkejut, langsung menarik kembali tanganku, dengan tenang berkata: "Pak Asis, sepertinya aku tidak kenal denganmu, ada apa katakan saja disini."

Ekspresi wajah Asis berubah sangat tidak ramah, berdiri salah, duduk juga salah.

Saat berbicara, Ramya tiba-tiba menahan keningnya, tubuhnya sedikit terhuyung, berkata: "Aku......aku sedikit pusing......"

"Kamu kenapa?!" Aku langsung berdiri bertanya dengan perhatian.

Namun suara Ramya berubah sangat rendah: "Sangat.....sangat pusing......"

Setelahnya, langsung terjatuh di atas meja, tidak sadar diri.

Aku mengerti, ini adalah obat bius yang tadi Asis berikan kepada Ramya !

Asis juga mengeluarkan ekspresi sangat terkejut: "Ada apa dengan Bu Ramya ? Aku langsung antarkan dia ke rumah sakit!"

Dia sambil mengatakannya sambil ingin memapah Ramya, aku malah menghentikannya.

"Apa yang kamu lakukan?!" Dia dengan tatapan marah yang tidak biasa melihatku.

Aku tertawa dingin dalam hati, orang ini sepertinya ingin membawa Ramya pergi, lalu melakukan sesuatu padanya.

Karena sudah sampai tahap ini, tentunya aku tidak boleh membiarkannya berhasil.

Tapi Asis tinggi dan kuat, aku tau diri kalau aku bukan lawannya dan juga aku harus menyembunyikan tentang cctv, jadi tidak membongkar perbuatannya.

"Tidak apa, lebih baik kita berdua pergi ke rumah sakit." Aku mengatakannya lalu memeluk pinggang Ramya.

Terlintas kesuraman di wajah Asis, lalu kembali normal, berkata: "Boleh, kalau begitu naik mobilku saja."

Mobil Asis adalah BMW X6, aku naik ke mobil dan berkata dengan terkejut: "Mobil ini harganya 2 miliar bukan?!"

"Hehe, orangtuaku yang membelikannya untukku."

Mendengar dia berkata seperti itu, aku lebih yakin, dia adalah anak orang kaya, hanya saja tidak mengerti dia malah bersedia menjadi guru olahraga di sebuah sekolah SMA.

Sepanjang perjalanan, kami tidak berbicara.

Setelah mengantarkan Ramya ke rumah sakit, Asis pun menggunakan kesempatan ini pergi dari sana, saat mau pergi, tatapannya terlintas rasa tidak rela.

Aku tentunya mengerti alasan dia begitu cepat pergi, tampaknya tidak bisa melakukan apapun kepada Ramya dan juga kalau sampai diperiksa dokter kalau Ramya dimasukkan obat, nantinya tidak akan mudah diselesaikan.

Menunggu setengah jam di rumah sakit, Ramya pun bangun, wajahnya dengan kebingungan duduk di atas ranjang.

Dokter bilang: "Kami menyadari di dalam tubuhmu ada zat obat tidur, sudah mencucikan ginjal untukmu, apakah kamu sembarangan makan obat tidur di rumah?"

"Obat tidur?" Ekspresi Ramya terkejut sekali, lalu dengan buru-buru mengatakan tidak.

"Awalnya aku dirumah sedang makan dengan baik, tiba-tiba sedikit pusing, lalu kehilangan sadar......" Ramya melihatku, ekspresi wajahnya berubah, tatapannya yang melihatku berubah menjadi sangat aneh.

Dia tidak menjelaskan kepada dokter lebih banyak lagi, kami berdua baru saja meninggalkan rumah sakit, dia langsung mengatakan: " Wenas, aku tidak menyangka kamu adalah orang seperti ini!"

"Apa?" Aku terbingung.

"Karena kemarin tidak berhasil, kali ini dengan licik memberiku obat bukan? Kamu ini orang licik yang tidak tau malu, aku pulang nanti akan langsung mengatakan semuanya kepada suamiku, agar dia melihat jelas topeng aslimu!" Ucap Ramya dengan marah.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

611