Bab 14 Pengalaman Hidup

by Haikal Chandra 13:14,Sep 16,2020
"Awalnya aku mencari kamu untuk pergi makan camilan malam bersama, begini saja, kamu temani aku pergi makan camilan malam, kamu yang traktir, maka aku akan memaafkan kamu." Fela pun mengatakan hal tersebut sambil tersenyum.

Aku kira permintaan sulit seperti apa, mendengar Fela berkata demikian, aku pun tersenyum dan berkata : "Baiklah, tidak masalah, akan tetapi tunggu aku mandi sebentar."

"Hihi, sungguh terlalu baik!" Fela merasa sangat bersemangat diluar dugaan ia sampai melompat dari atas sofa.

Setelah selesai mandi aku dan Fela pun turun bersama untuk makan camilan malam.

Kami pun memilih sebuah kedai barbeque, Fela juga memesan beberapa botol bir dan berkata : "Makan barbeque mana bisa jika tidak minum bir, betul tidak?"

Kami sambil makan sambil mengobrol, tak lama kemudian pun masalah yang tadi baru saja terjadi pun telah terlupakan.

Aku pun tak dapat menahan diri untuk bertanya : "Apakah kamu malam ini sudah pergi bekerja ke bar?"

"Benar, mengapa?" Fela sambil memakan sate barbequenya.

"Mengapa pulang begitu awal?"

"Tidak perlu menyanyi semalaman, setiap malam setelah dua jam lebih, juga sudah boleh pulang." Dengan tersenyum Fela pun bertanya : "Apakah kamu ingin datang ke bar tempatku bekerja untuk melihat-lihat, sekalian mendengar lagu yang aku nyanyikan?"

"Tidak tertarik." Aku pun mengatupkan bibir, kemudian minum seteguk bir.

Tanpa diduga Fela pun memajukan sedikit bibir mungilnya itu : "Kamu pria ini benar-benar tidak mengasikan, pantas saja hingga saat ini hanya ditemani oleh lima jari mu yang berperan sebagai wanita."

Melihat Fela yang marah, aku pun tersenyum dan berkata dengan acuh tak acuh : "Baiklah lain kali, lain kali pada saat kamu bekerja aku akan kesana untuk melihat-lihat."

Kekuatan minum Fela tidaklah besar, dua botol bir pun sudah cukup membuatnya mabuk, aku sudah minum empat botol bir.

Setelah selesai makan, aku pun membayarnya, berdua berjalan pulang bersama dengan menyusuri jalan.

Angin pun berhembus, terasa sangat sejuk, Fela pun melebarkan kedua lengannya, kemudian mengecilkan matanya dan menunjukkan senyum tipis yang menandakan ia telah mabuk berat : "Sungguh nyaman!"

Sudah lama tidak pernah berjalan santai bersama dengan seorang perempuan, perasaan semacam ini sepertinya masih cukup menyenangkan.

Aku pun bertanya : "Kemarin malam aku melihat gitarmu, mengapa tidak menggantinya dengan yang baru?"

"Tidak ada uang, kalau tidak tunggu ulang tahun aku di bulan depan, kamu berikan kepadaku?" Fela pun mengedipkan matanya dengan nakal, kemudian tersenyum sambil melihat aku.

"Aku tidak akrab denganmu, untuk apa memberikan gitar kepadamu."

"Cih, pelit." Fela pun berjalan berdampingan denganku, tatapan matanya mengarah kepada bintang-bintang yang ada di langit, senyuman yang ada diwajahnya pun sirna, tatapan wajahnya menjadi mendalam dan serius : "Sebenarnya gitar itu adalah sewaktu aku kelas SMA 2, diberikan oleh ayahku sebagai hadiah ulang tahun. Dia mengetahui impianku dalam musik dan berharap aku dapat bertahan mengejarnya, ini juga adalah gitar pertamaku di dalam hidup ini. Selain itu ayahku adalah seorang guru musik, juga adalah pengajar yang memberikan pencerahan kepadaku dalam bermusik, pada saat muda dia juga memiliki impian, akan tetapi akhirnya mau tidak mau harus menghadapi kenyataan, maka dari itu aku ingin membawa semangat dan kepercayaan ayahku, secara bersamaan mengejar impian kami berdua."

Perkataan Fela membuatku sedikit terharu, tanpa dapat dicegah aku pun berkata : "Kamu memiliki seorang ayah yang baik, mengajarimu musik, mengajarimu untuk bertahan dalam impian, benar-benar membuat orang kagum."

"Benar, orang lain juga mengagumiku memiliki ayah yang seperti ini, hanya saja disayangkan, dia telah tiada..." Fela pun menarik kembali pandangannya dari cahaya yang dilangit, suaranya pun memelan, ekspresinya pun sedikit murung.

Mendengar perkataan ini, aku pun merasa tidak enak, dengan terburu-buru aku meminta maaf kepadanya dan mengatakan bahwa tidak seharusnya membicarakan topik ini.

Wajah Fela pun mengembangkan senyuman yang indah : "Tidak masalah, aku suka membicarakan ayahku kepada orang lain. Tidak membicarakan mengenaiku lagi, kita bicarakan mengenai kamu, ayahmu bekerja sebagai apa?"

"Ayahku bekerja sebagai insinyur teknik sipil, dua tahun yang lalu ia menerima proyek sebesar 100 miliyar lebih, hasilnya kualitas gedung tinggi itu tidak terlalu baik, karena sebagian gedung tersebut roboh dan menimpa tujuh sampai delapan orang hingga meninggal, proyek tersebut juga hancur, ganti ruginya juga hingga menyebabkan keluarga kami bangkrut, ayahku tidak sanggup menerima pukulan tersebut, akhirnya ia bunuh diri dengan cara melompat dari atas gedung dan meninggalkan beberapa rumah untukku." Aku merasa ragu sejenak, akhirnya tetap saja memberitahukan hal tersebut kepada Fela.

Sejujurnya, hal ini bahkan Ramya juga belum aku beritahu, mungkin karena kepolosan dan keceriaan Fela dan juga karena perjuangannya terhadap impiannya, membuatku mempercayai perempuan ini.

Atau mungkin juga karena diri sendiri telah terlalu banyak minum bir, meminjam kekuatan dari bir untuk mengatakan kesedihan masa lalunya yang menancap tajam di dalam hatinya yang terdalam.

Fela pun memunculkan ekspresi yang bersimpati dan kasihan : "Maaf ya, tak disangka kamu dan aku ternyata sama, juga sudah tidak memiliki ayah."

"Tidak apa-apa, hanya mengobrol saja, aku sejak awal juga sudah berpikiran terbuka."

"Bagaimana dengan ibumu?" Fela pun bertanya.

"Saat aku SMP dia sudah lari dengan kekasihnya yang lain, sejak saat itu aku juga tidak pernah berjumpa dengannya lagi." Ekspresiku pun menjadi murung : "Kenyataannya, pada saat aku SMP, ayahku sibuk bekerja, demi hal ini, sepertinya ibuku dan dia setiap hari selalu bertengkar, belum apa-apa sudah membanting barang dirumah hingga hancur, perempuan yang semacam ini... tidak pantas untuk menjadi ibuku."

Aku pun menggertakkan gigi dan mengepalkan tinju tangan dengan erat.

Fela kelihatannya tak menyangka bahwa pengalaman hidup aku begitu kasihan, tatapan matanya pun menunjukkan permintaan maaf, dia juga tidak tahu harus bagaimana menghibur aku, kemudian menghela nafas perlahan : "Aku lebih baik sedikit dibandingkan dirimu, setidaknya aku masih memiliki ibu..."

"Tidak membicarakan hal ini lagi, segeralah pulang." Aku pun menarik nafas yang dalam, perlahan-lahan mengendalikan emosi sendiri, kemudian mempercepat langkah kakinya,

"Kamu pelan sedikit, tunggu aku!" Dari belakang terdengar suara dan langkah kaki Fela.

Keesokan paginya, aku pun dibangunkan oleh suara gitar yang lembut dan nyanyian yang merdu.

Aku mengusap-usap mata yang baru bangun tidur kemudian membuka pintu kamar, Fela duduk bersila dengan menaikan kedua kakinya diatas sofa, dengan diiringi oleh gitar kayu yang mengandung makna luar biasa itu, mulutnya pun sambil menyanyikan : " Mungkin kesedihan karena kehilangan arah ini, dapat menghancurkan langkah kakiku, akan tetapi aku percaya masa depan akan memberikan aku sepasang akup untuk bermimpi, walaupun kesakitan dari kegagalan telah membuat seluruh tubuhku terluka parah, akan tetapi aku tetap percaya akan ada cahaya dikejauhan sana..."

Nyanyian Fela ada kalanya bernada tinggi ada kalanya bernada rendah, ada kalanya bergairah ada kalanya tenang, nadanya yang naik turun dengan jelas, benar-benar sangat alami dan mendalam, memberikan orang semacam getaran yang langsung menyentuh kedalam jiwa.

Mungkin lagu ini sedang mewakili pemikiran yang ada di dalam hatinya yang terdalam, dinyanyikan dengan perasaan mendalam yang halus, sepertinya ia telah tenggelam seutuhnya ke dalam dunia musiknya, sama sekali tidak menyadari kehadiranku.

Aku memandangi wajah Fela yang putih dan cantik itu, kakinya yang panjang dan halus serta indah dan penampilannya yang mendalami iringan lagunya, dalam sekejap hatinya berdesir, juga ikut terbawa oleh nyanyiannya.

Hingga sampai pada akhir lagu tersebut, kesadaran aku barulah kembali, kemudian bertepuk tangan untuknya dengan perasaan yang tidak dapat dikendalikan.

Fela baru menyadari kehadiranku, ia pun tersenyum dan berkata : "Maaf, sudah membuatmu terbangun!"

Aku pun tersenyum : "Nyanyianmu sungguh bagus, tidak kalah hebatnya dengan para penyanyi yang terkenal."

Mendengar perkataanku yang berkata demikian, Fela malah merasa tidak enak hati, ia pun tersenyum dan berkata dengan wajahnya yang merona malu : "Benar kan, oleh karena itu barulah aku memintamu untuk datang ke bar mendengar aku bernyanyi. Oh iya, aku telah membelikan sarapan untukmu, Susu kacang kedelai, cakwe dan pangsit rebus, kamu cepat segera makan selagi masih panas."

Setelah aku sikat gigi dan cuci muka, aku pun memakan sarapan yang dibelikan oleh Fela.

Fela berkata : "Ayo siang nanti kita makan siang bersama, hari ini adalah hari libur, aku juga masih mengundang Kak Ramya dan suaminya."

Mendengar bahwa akan makan bersama dengan Ramya, dalam hatiku merasa bersemangat.

Pada saat siang hari, kami memilih sebuah restoran chinese yang berada di jalan perindustrian.

Ramya dan Awang duduk disisi satunya, aku dan Fela duduk di seberangnya.

Pada saat memesan sayur, Ramya terus-menerus menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mataku.

Begitu sayuran telah disajikan, Fela pun menampilkan senyuman yang begitu cerah, dengan mengangkat gelas arak ia pun berkata : "Hari ini harus berterima kasih banyak kepada Kak Ramya, kakak ipar, juga kepada penyewa rumah kami, yang membuatku menjadi bagian

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

611