Bab 10 Peminat Sewa Yang Baru

by Haikal Chandra 13:14,Sep 16,2020
Awalnya dia hanya pasif menerima, tapi seiring tanganku yang satunya dari pinggang ramping masuk ke dalam roknya, menyentuh celananya yang membungkus area misterius, dia tidak bisa menahan, lalu merespon secara aktif.

Lidah kami berdua bersatu, sambil meminta kelembaban dan kehangatan masing-masing.

Tanganku naik turun, wajahnya berubah menjadi merah, ekspresinya juga jelas sekali menjadi melembut.

Reaksiku menjadi keras sekali, menempel erat pada perut kecilnya.

Sedangkan tanganku dibawah sudah dengan berani masuk ke celah celananya, menyentuh kelembaban, kemudian mulai bergerak.

Aku mencium dia sampai hampir kehabisan nafas, langsung berpisah dengan bibirku, lalu mengerang: "Kamu sungguh jahat sekali!"

"Aku hanya jahat kepadamu seorang." Aku tertawa, bagian bawah tanganku sudah melepaskan pakaian dalamnya dan juga mengangkat sweaternya sampai ke dada, menampakkan dua buah dadanya yang putih dan halus.

Aku langsung menggigit biji persik, menghisap dengan semangat.

Ramya tersentak, dengan tidak sadar membuka lebar kedua kakinya, air dibagian bawah tidak berhenti mengalir dibawah serangan jari-jariku yang tidak henti.

Aku sedikit tidak bisa menahan, menindihnya di atas sofa, melepaskan celanaku dan melompat ke atasnya.

Ramya menunduk melirik reaksiku, dengan wajah memerah berkata: "Punyamu sungguh besar sekali!"

"Apakah lebih besar dari punya suamimu?" Tanyaku sambil tertawa, menunjukkan perasaan puas.

Masih lumayan aku tidak mengungkit suaminya, begitu mengatakan ini, ekspresinya langsung berubah, dalam sekejap akal sehatnya kembali, langsung mendorongku, lalu mulai merapikan pakaiannya, berkata: "Aku......aku tidak boleh melakukan hal yang mengkhianati suamiku, maaf."

Gerakannya cepat sekali, saat aku tercengang beberapa detik, sudah berdiri membuka pintu dan pergi dengan cepat.

Ini membuatku mempunyai perasaan ingin menangis, awalnya reaksiku yang sudah berdiri tegak dalam sekejap langsung melemas.

Bajingan, hanya langkah terakhir saja, bisa-bisanya dia lari.

Aku tidak bisa menahan untuk tidak menamparku diriku, Wenas oh Wenas, mulutmu ini benar-benar sampah sekali, kalau tidak mengungkit suaminya bukannya tidak akan ada masalah lagi?

Aku depresi selama satu sore hari, malamnya juga tidak bisa menahan mengirimkan pesan teks kepadanya: "Kamu jangan membohongi perasaan dalam hatimu, kamu sudah menyukaiku."

"Kamu berbicara sembarangan" Balas Ramya.

"Kenapa tidak bisa menghadapi kenyataan, aku suka padamu, kamu juga suka padaku, kenapa tidak boleh bersama?"

"Karena aku sudah bersuami, hal seperti ini ditakdirkan tidak boleh terjadi. Kamu jangan sembarangan pikir, pergilah cari seorang pacar, maka kamu tidak akan memikirkan aku lagi. Dengan syaratmu, mudah sekali mencari seorang gadis yang cantik lucu dan menyukainya."

"Aku tidak mau pacaran, aku hanya mau kamu."

Ramya tidak membalas pesanku lagi, membuat hatiku sangat kecewa.

Aku membuka laptop, melihat gambaran cctv.

Mereka berdua suami istri sudah berbaring di atas tempat tidur, Awang bertanya Ramya mengirimkan sms kepada siapa.

Ramya bilang teman kerja, langsung menyimpan handphone.

Lalu Awang memeluknya, ingin berciuman panas dengannya.

Ramya malah menolaknya, mengatakan sangat lelah, memutar badannya lalu tidur membelakangi Awang.

Awang menghela nafas, ekspresinya sedikit kecewa.

Hatiku juga bukan senang sekali, kenapa aku malah mencintai seorang wanita yang sudah bersuami?

Malam hari kedua aku turun kebawah makan, karena berjalan terlalu cepat, saat keluar dari lift tidak sengaja menabrak sesosok tubuh yang cantik.

Orang itu meringis 'aduh', tersandung dan terjatuh di atas tanah.

Aku buru-buru meminta maaf, ingin membantunya berdiri, alhasil seorang wanita duluan membantu orang itu berdiri daripada aku.

Aku tercengang, tidak disangka orang yang membantunya berdiri adalah Ramya.

" Lala, kamu tidak apa-apa kan?" Ramya bertanya dengan perhatian.

"Aku tidak apa-apa." Gadis yang kusenggol sampai terjatuh adalah wanita berumur 20-an tahun, rambut sepanjang baju, berwarna maroon yang indah, kulitnya seputih salju, paras wajahnya cantik, tapi riasan smoke yang tebal membuat matanya lebih besar.

Dia memakai setelan jeans, kancingnya tidak dikancing, dalamnya adalah kaos hitam, memiliki dada yang menonjol dengan dua siluet yang sangat berbeda, tampaknya sangat mempesona.

Dengan celana jeans pendek dan stocking hitam, terlihat langsing dan tidak "

"Wei, kamu bagaimana berjalan, tidak pakai mata atau buta?!" Emosi gadis ini sedikit jelek, menggosok lututnya, sambil memarahi.

Bagaimana juga aku yang bersalah, hanya bisa meminta maaf kepadanya: "Maaf, aku sungguh tidak sengaja, mohon dimaafkan."

" Lala, jangan marah, dia adalah tuan rumahku, Wenas." Ramya membujuk.

"Dia adalah Wenas yang kamu bilang mempunyai 5 rumah dan masih belum punya pacar?" Mata gadis itu langsung berbinar, dari marah berubah menjadi tersenyum, dengan sedikit malu berkata: "Sungguh maaf sekali, rupanya tuan rumah kak Ramya, aku kira siapa, halo, namaku Fela, senang sekali mengenal denganmu."

Fela tersenyum dan mengulurkan tangannya, ingin besalaman denganku.

Aku sedikit heran, tidak menyangka Ramya akan menceritakanku kepada orang lain.

Fela terlihat cantik saat tersenyum, matanya yang besar dan bulat membentuk menjadi dua bulan sabit, meskipun tadi dia berbicara tidak enak didengar, tapi bagaimana juga menghadapi wanita cantik yang meminta bersalaman duluan.

Aku tetap menyalaminya.

Tangannya halus dan lembut, jarinya panjang, juga memakai dicat dengan cat kuku yang berwarna cerah, kulitnya putih dan lembut, yang paling penting adalah di pergelangan tangannya memiliki tato bertulisan "Marco".

Aku pikir itu nama pacarnya.

"Tuan rumah, kamu mau pergi kemana?" Fela bersikap seolah sudah dekat, bertanya sambil tersenyum.

"Oh, aku mau keluar makan."

"Kenapa sudah malam sekali masih belum makan, nanti datang ke rumah kak Ramya duduk dulu."

Aku sedikit kebingungan, aku baru saja menabrak Fela, kenapa dia masih begitu ramah kepadaku.

Aku tersenyum dan mengangguk, lalu melirik Ramya.

Ramya sibuk menghindari tatapanku, berkata: " Lala hanya bercanda, jangan dianggap serius, kamu pergi makan saja."

Aku tersenyum pahit dalam hati, tidak berbicara lebih banyak lagi, langsung meninggalkan komplek.

Setelah makan baru saja pulang ke rumah, tidak menyangka mendapat telepon dari Ramya.

Dalam hatiku senang sekali, langsung menjawab telepon, bertanya: "Bu Ramya, ada apa?"

Ujung telepon sana terdengar suara tawa: "Kamu jangan salah paham, aku Fela, hanya menggunakan handphone kak Ramya untuk meneleponmu."

"Ada apa?" Aku sedikit kecewa, bertanya dengan sopan.

"Apakah kamu sudah pulang, kak Ramya dan aku ingin mencarimu karena ada sesuatu."

Medengar Ramya mencariku, aku langsung bilang sudah pulang.

Fela berkata sambil tersenyum: "Baiklah, aku dan kak Ramya kesana mencarimu."

Tidak lama aku langsung mendengar suara ketukan pintu, langsung pergi membuka pintu.

Ramya dan Fela mengikutiku masuk ke dalam rumah, aku menuangkan segelas air kepada mereka dan juga mengeluarkan buah untuk melayani mereka.

Fela malah melihat kesana kemari, tersenyum dan bertanya: "3 kamar dan 1 ruang tamu ya, rumah sebesar ini, apa kamu hanya tinggal sendirian?"

Aku tersenyum dan mengangguk, bertanya: "Ada apa kalian mencariku?"

"Begini, Lala adalah teman baikku, akhir-akhir ini dia baru saja ganti kerja, ingin mencari tempat kerja yang lebih dekat dari tempat tinggalnya, kami ingin bertanya apakah kamu ada rumah yang lebih, yang bisa disewakan untuk Lala." Ucap Ramya.

"Bu Ramya, bukan aku tidak mau membantu kalian, hanya saja 4 rumah semuanya sudah disewakan." Kataku.

Ramya bilang: "Dengar-dengar Milen suami istri beberapa hari ini sudah mau pindah, apakah benar?"

"Mereka awalnya berencana pindah, tapi setelahnya berubah pikiran lagi, oktober juga sudah membayar uang sewa kepadaku, jadi sungguh maaf sekali."

"Tuan rumah, rumahmu sebesar ini, bukankah sia-sia sekali apabila tinggal sendirian? Kalau tidak aku pindah kemari tinggal denganmu saja, saling menjaga satu sama lain, benar tidak?" Tiba-tiba Fela menyarankan.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

611