Bab 9 Tidak Tau Diuntung

by Haikal Chandra 13:14,Sep 16,2020
Mendengar perkataan Ramya.

Aku mempunyai semacam perasaan ingin tertawa dan menangis.

"Kenapa kamu tidak mengira Asis, sebaliknya malah mengira aku yang memberimu obat?" Aku tidak menjawab malah bertanya balik.

"Tidak mungkin Asis, dia adalah teman kerjaku, juga teman SMA suamiku, tidak mungkin melakukan perbuatan seperti ini!" Ramya berkata dengan teguh, "Perbuatan selicik ini hanya orang licik tidak tau malu sepertimu baru bisa melakukannya!"

Aku dalam sekejap sedikit marah, dengan suara berat berkata: "Kalau begitu kamu beritahu padaku, aku hanya duduk beberapa menit dirumahmu, bagaimana aku memasukkan obat padamu?"

"Aku mana tahu bagaimana kamu memasukkan obat kepadaku? Siapa tau saat aku pergi ke dapur mengambil sayur, kamu memasukkan obat ke dalam sayur ataupun air!"

Aku dalam sekejap membisu, ingin memandunya bahwa Asis yang memasukkan obat, setelah dia berkata seperti itu sungguh tidak bisa berdebat.

Kecuali aku mengeluarkan rekaman cctv untuk dia lihat, tapi dengan begini juga membocorkan masalah cctv.

"Benar-benar tidak tau diuntung, tidak tau kebaikan hati orang! Sebenarnya siapa yang melakukannya, kamu pikirkan sendiri dengan baik, lain kali bertemu dengan masalahmu, aku tidak akan membantu lagi!" Setelah mengatakannya, aku dengan marah memutar badanku pergi, juga tidak mempedulikan Ramya lagi, memanggil sebuah taksilangsung pulang kerumah.

Sekembalinya, kemarahanku masih belum bisa reda juga, marah sekali sampai aku benci sekali tidak bisa menghapus perangkat lunak cctv.

Malam pun tidak makan lagi, langsung berbaring di atas tempat tidur beristirahat.

Aku di atas tempat tidur berputar ke sana kemari tidak bisa tertidur, dalam hati sedang berpikir apakah mau melepaskan perasaanku kepada Ramya.

Dia saja sudah menganggapku sebagai orang tidak tau malu yang sudah membiusnya, takutnya lain kali juga tidak akan mempedulikanku, kalau sampai memberitahu suaminya, aku sungguh tidak tau bagaimana menjelaskannya, hatiku murung sekali.

Tidak disangka saat ini, malah menerima sebuah pesan yang dikirim Ramya : "Sedang ada?"

Aku tercengang sebentar, bukankah Ramya salah paham mengira aku yang memasukkan obat? Kenapa mengirimkan pesan lagi?

"Ada sesuatu langsung katakan saja." Balasku dengan dingin.

"Aku berpikir sebentar, juga merasa tidak benar. Saat itu Asis juga ada di ruang tamu, kalau kamu memasukkan obat tidak mungkin dia tidak lihat, jadi aku kembali ke rumah sakit bertanya beberapa pertanyaan kepada dokter, dia memberitahuku sesuai takaran obat itu, setelah dipakai tidak akan mungkin langsung bereaksi, setidaknya harus di atas 15 menit, sedangkan kamu sampai dirumahku tidak selama itu."

"Kamu ingin mengatakan apa?" Aku berpikir dalam hati, wanita ini masih termasuk tidak bodoh, bisa-bisanya berpikir begitu banyak.

"Maaf, mungkin aku sudah salah paham padamu, aku ingin tau apakah Asis yang memasukkan obat?"

Menghadapi permintaan maaf Ramya, kemarahanku berkurang setengah, tapi masih dengan tidak ramah membalas: "Untuk apa kamu bertanya padaku, kamu harus tanya Asis !"

"Aku pikir meskipun tanya padanya, dia juga tidak akan mengatakannya. Aku sudah menyimpan semua nasi sayur dan air siang ini, berencana membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa, kalau sungguh memastikan kalau Asis yang melakukannya, aku langsung lapor polisi, nantinya apakah kamu bisa bersaksi untukku?"

"Untuk apa lapor polisi? Kamu tidak kenapa-kenapa dan juga dia sama sekali bisa ngotot mengatakan dirinya tidak melakukannya, kalau tidak melihat langsung mungkin akan susah ditetapkan bersalah. Apalagi keluarganya begitu kaya, meskipun dicurigai, siapa tau juga bisa membersihkan kecurigaan terhadapnya."

"Aku tau keluarganya kaya, tapi kalau tidak coba bagaimana bisa tau?"

"Aku mengerti, kamu lapor polisi saja, aku akan bekerja sama denganmu."

"Terimakasih, siang tadi, sungguh maaf sekali. Kalau bukan kamu kebetulan datang rumahku meminjam pisau, takutnya aku sungguh sudah......bagaimana juga, terimakasih sudah menolongku."

"Kalau begitu bagaimana kamu berterimakasih padaku?" Aku berkata dengan nada mengejek, di belakangnya juga menambah emotikon senyuman jahat.

Namun, Ramya malah tidak membalasku lagi.

Moodku sudah berubah baik, lalu membuka komputer, melihat gambaran cctv.

Di dalam kamar, Ramya sedang memberitahu Awang kejadian siang ini.

Mendengar ini, Awang terkejut sekali, saat Ramya bilang mau melapor polisi, Awang malah menghentikannya, alasannya hampir sama seperti aku katakan kepada Ramya, lalu berkata bagaimana juga teman SMA dan teman kerja di sekolah, paling nantinya jangan mempedulikan Asis lagi.

Karena bujukan Awang, Ramya akhirnya hanya bisa menyerah dengan rencananya untuk lapor polisi.

Dalam hatiku juga sedikit lega, bagaimana juga dirumahnya masih terdapat cctv, kalau karena masalah ini polisi jadi mengetahui ada dipasang cctv, takutnya aku juga akan ditangkap, paling penting adalah citraku di dalam hati Ramya pun hancur sepenuhnya.

Tapi setelah masalah ini, aku menyadari Ramya bertemu aku setiap hari akan menyapaku duluan.

Terkadang di rumah ada buah dan snack yang tidak habis dimakan, akan mengantarkannya untukku.

Aku menyuruhnya masuk ke dalam duduk, dia juga tidak menolak, hanya menunjukkan ekspresi sedikit malu-malu.

Hari Sabtu sore, aku sedang tidur, mendengar ada orang mengetuk pintu diluar.

Setelah membuka pintu, melihat Ramya membawa sedikit buah, dengan tersenyum berkata: "Tuan rumah, tadi pergi ke supermarket, membeli sedikit buah, kamu ambil saja."

Aku sedikit segan, mengatakan kalian simpan saja.

"Tidak apa-apa, aku tadi beli banyak sekali. Oh benar, uang sewa 3 bulan ini aku bayar padamu, sudah menunda begitu lama, sungguh maaf sekali."

Aku bilang tidak apa-apa, sekalian mempersilahkan Ramya masuk ke dalam duduk.

Dia meletakkan buah di atas meja, lalu mengeluarkan handphone dan mentransfer uang kepadaku.

Hari ini Ramya menggunakan sweater abu oversized dengan rok denim pendek, memperlihatkan kedua pahanya yang putih dan mulus.

Meskipun sudah pertengahan bulan 10, tapi cuaca di kota A malah sangat hangat.

Aku mempersilahkan dia duduk, menuangkan segelas teh untuknya, kedua kakinya disilangkan, menundukkan kepalanya mengirimkan uang kepadaku dari wechat.

Kemarin anting-anting yang hilang dia pakai lagi, kulit seputih salju, dari leher jenjangnya, aku melihat dua bola putih, ada semacam perasaan pusing.

Tubuhku dengan tidak sadar bereaksi.

Dalam hatiku muncul rasa impulsif, meskipun sekali lagi gambaran dia tidak mempedulikanku sebelum bertemu kejadian Asis, aku juga sudah pasrah.

"Aku sudah mentransfer uang kepadamu, kamu terima dulu." Ramya mengangkat kepalanya melihatku.

Aku malah menggunakan tatapan membara melihatnya.

Wajah Ramya memerah, langsung menundukkan kepalanya, tatapannya jatuh di celanaku, wajahnya lebih merah lagi, langsung mengalihkan tatapannya dan berdiri sambil berkata: "Aku pikir aku juga sudah harus pergi."

Dia memutarkan badannya mau pergi, aku langsung menarik tangannya.

"Kamu.....kamu sedang apa?" Dia membalikkan kepalanya melihatku dengan malu, sedikitpun tidak bermaksud untuk menolak.

Dalam hatiku senang, apakah ini adalah sinyal yang dia berikan diam-diam kepadaku?

Aku menarik dengan kuat, langsung menariknya masuk ke dalam pelukanku, memeluknya.

Tubuhnya yang lembut dan lunak masuk ke dalam pelukanku, membuatku sangat bersemangat.

Ramya malah memberontak: "Kamu lepaskan aku, suami.....suamiku sedang menungguku dirumah."

"Aku tau kamu berpikir apa di dalam hatimu." Ucapku dengan serius, lalu dengan tidak ragu menundukkan kepalaku mencium bibirnya.

Ramya langsung membelalakkan matanya, melihatku dengan tidak percaya.

Aku ingin menggunakan lidah membuka giginya, membuat ciuman yang intim, siapa sangka dia malah menggigit lidahku dengan kuat.

Aku berteriak kesakitan, lalu mendorongnya, memegang bibirku, rupanya sudah berdarah, sedikit marah berkata: "Apa yang kamu lakukan?!"

"Kamu cari gara-gara sendiri!" Ramya menunjukkan ekspresi senang.

Aku sedikit marah, lalu memeluknya dan menciumnya lagi.

Dia masih ingin menggunakan cara lama, tapi tanganku sudah masuk ke dalam bajunya, lalu memegang sesuatu yang padat, lembut dan lunak, memainkannya dengan tidak takut.

Ramya langsung tidak ada kekuatan untuk menggigitku lagi, badannya lemas berada di dalam pelukanku dan juga sedikit membuka mulutnya.

Aku menggunakan kesempatan ini mengulurkan lidahku masuk ke dalam mulutnya.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

611