Bab 11 Godaan Fela

by Haikal Chandra 13:14,Sep 16,2020
Mendengar perkataan Fela, Ramya mengerutkan keningnya: " Lala, sepertinya tidak begitu baik."

"Apa yang tidak baik, lagi pula aku tetap membayar uang sewa. Dan juga bisa jadi tuan rumah masih bisa menikmati masakanku!" Ucap Fela sambil tersenyum.

"Bukan itu maksudku, bagaimana juga pria dan wanita tinggal bersama, sedikit tidak cocok." Ucap Ramya.

"Tidak apa-apa, dulu juga bukannya tidak pernah tinggal bersama pria. Tuan rumah, boleh atau tidak?" Tanya Fela sambil tersenyum.

Tinggal bersama wanita cantik dan juga teman Ramya, tentunya aku tidak akan menolak, berkata: "Kamu saja tidak keberatan, apa yang aku beratkan, melihat atas muka Bu Ramya, aku akan menghitung uang sewamu lebih murah."

Terakhir, aku memberi harga 1,2 juta per bulan, Fela pun menyetujuinya dengan senang hati.

Ramya berkata kepadaku: "Tuan rumah, kamu tidak boleh mengganggu teman baikku, kalau tidak lihat aku bagaimana mengurusimu."

Aku awalnya ingin bilang aku hanya akan mengganggumu, mana mungkin mengganggu teman baikmu?

Tapi bagaimana juga ada Fela disini, aku tersenyum berkata tidak akan terjadi.

Aku dan Fela langsung menandatangani surat perjanjian, membayar uang deposit seharga harga sebulan dan membayar uang sewa 3 bulan, dia menyerahkan 4,8 juta kepadaku.

Tidak disangka hari kedua pagi-pagi sekali, Fela sudah menyeret dua koper besar, juga memikul kotak gitar di punggungnya, masuk ke rumahku.

"Aiya, sungguh lelah sekali, tuan rumah, cepat bantu aku dulu, aku sudah tidak bisa tahan lagi." Fela berteriak di depan pintu.

Aku baru saja selesai menggosok gigi, buru-buru berlari ke depan pintu membantunya menyeret koper, dengan aneh berkata: "Kenapa sepagi ini kamu pindah rumah?"

"Lagipula aku cepat bangun, juga tidak ada urusan apapun, kebetulan bisa pindah rumah." Dia masuk ke dalam rumah, menjelaskan kepadaku, meletakkan kotak gitar di atas meja teh.

Aku menuangkan segelas air untuknya, dengan penasaran bertanya: "Kamu bisa bermain gitar?"

"Aku mengandalkan ini untuk hidup." Fela meminum satu teguk besar, lalu dengan sayang mengelus kotak gitarnya.

"Guru musik?" Aku langsung teringat dengan Ramya, mereka berdua adalah teman baik, mungkin juga guru.

"Dulunya iya."

"Apa maksudnya dulunya iya?"

"Aku baru mengundurkan diri, sekarang menjadi penyanyi di sebuah bar." Fela menjelaskan dengan tersenyum, kedua kakinya yang ramping dan mulus bersilangan, kulit pahanya sangat putih dan lembut, sangat menggoda.

Sambil mengatakannya,dia juga melepaskan jas luarnya, hanya memakai sebuah kaos hitam.

Kaos hitam seperti ini biasanya dipakai oleh pria, kalau dipakai oleh wanita tampak sangat menggoda, karena bahu bundar yang harum dan area dada semuanya menonjol keluar, apalagi Fela berkeringat, hampir semuanya menempel pada tubuhnya, bisa melihat dua tonjolan montok yang mencolok.

Bajingan, di bawah kaos bisa-bisanya no bra!

Aku melihat dadanya yang padat, mataku sudah mau keluar.

Fela juga tidak memperhatikan, bertanya: "Apakah ada minuman?"

"Ada, aku ambilkan untukmu!" Dalam hatiku sedikit bersemangat, berpikir dalam hati tampaknya menyetujui Fela untuk tinggal disini adalah pilihan yang bijak.

Aku mengambilkan sebuah coca-cola untuknya dari kulkas, sesekali melirik dadanya, bertanya: "Bukankah jadi guru lumayan bagus, kenapa mau pindah profesi?"

"Karena menjadi penyanyi adalah impianku! Penyanyi di bar dan guru berbeda, meskipun pentas sangat kecil, tapi di bawah pentas setidaknya ada penonton yang mendengar musikku."

Mendengar jawaban yang begitu polos, hatiku tidak sadar bertambah satu rasa suka kepada Fela, berkata: "Guru juga mempunyai penonton."

"Tapi penonton biasanya hanya sekumpulan murid, keduanya berbeda." Fela minum beberapa teguk minumannya, lalu berdiri dan berkata: "Sudah, tidak banyak mengobrol lagi, aku merapikan kamar dulu, tuan rumah kamu kalau ada kerjaan sibuk saja, tidak perlu urus aku."

Aku tidak ada kesibukan, maka membantu Fela merapikan bersama, kopernya sederhana sekali, sprei dan beberapa baju ganti dan juga beberapa pasang sepatu dan alat cuci mulut, bahkan alat makeup pun sangat sedikit, semuanya ada di dalam tasnya.

Fela tidak membawa selimut, katanya tidak bisa diambil jadi sudah diberikan kepada teman sekamarnya, untungnya aku mempunyai dua selimut baru, maka aku memberikan kepadanya.

Saat merapikan, dia membungkuk pinggang, aku bisa melihat dua tonjolan montok yang putih itu dari leher kaosnya, tidak bisa menahan diam-diam menelan air ludahku, celanaku dalam sekejap langsung bereaksi.

Dia sepertinya menyadari keanehanku, tidak menyangka tidak hanya tidak malu, malah dengan tersenyum dan bertanya: "Apakah kamu bereaksi?"

Aku ditanya seperti itu, membuatku malah sedikit malu, tidak menyangka wanita ini begitu terbuka.

Aku langsung menyamping dan membungkukkan badanku, agar tidak begitu jelas, tidak menjawab perkataannya, malah berkata: "Kamu pergi mandi saja, aku bantu kamu rapikan saja."

"Boleh juga, maka sungguh terimakasih. Aku lihat umurmu tidak begitu jauh dariku, lain kali boleh tidak tidak perlu memanggilmu tuan rumah, langsung panggil namamu Wenas saja?" Fela tanya dengan tersenyum.

"Tentu saja bisa."

Setelahnya, Fela mengambil baju gantinya dan pergi, saat berjalan ke depan pintu, tiba-tiba memutar kepalanya, dengan tersenyum dan berkata: " Wenas, jangan lupa perkataan kak Ramya, lain kali tidak boleh menggangguku!"

Melihat lekuk tubuhnya yang anggun dan angkuh, aku berpikir dalam hati, lain kali siapa yang mengganggu siapa masih belum bisa dipastikan.

Fela sudah pergi mandi, aku pun merapikan kamarnya, memasangkan spreinya, lalu menggantungkan gitar besarnya diatas dinding.

Tapi sebelum menggantungkannya, aku tidak bisa menahan membukanya dan melihat, itu adalah sebuah gitar akustik yang sangat tua dan usang.

Aku sedikit heran, tampaknya Fela juga tidak seperti bukan tidak punya uang mengganti gitar baru, untuk apa memakai gitar usang ini.

Setelahnya, aku meletakkan tasnya di atas tempat tidur, tidak hati-hati membalikkan tasnya, selain beberapa kosmetik berserak keluar, juga ada mainan lateks yang berukuran besar.

Sepertinya mainan ini adalah elektronik, tampaknya sangat mirip, tampaknya lebih besar daripada reaksiku, membuatku sangat terkejut, ada semacam perasaan yang tidak bisa dijelaskan?

Biasanya Fela kalau kesepian maka menggunakan mainan sebesar ini menghibur diri sendiri? Bukankah dia ada pacar, apakah pacarnya tidak bisa memuaskannya?

Memikirkan mainan ini bisa saja sudah sering sekali Fela pakai, jantungku berdegup kencang, ada semacam semangat yang tidak beralasan.

Saat pikiranku berkelana, siapa menyangka Fela malah memanggil dari kamar mandi: " Wenas, bagaimana menghidupkan mesin air panas ini aku tidak bisa!"

Aku langsung bereaksi, buru-buru menyimpan mainan lateksnya dan kosmetiknya ke dalam tasnya, lalu dengan cepat keluar dari kamar, di depan pintu kamar mandi menjawab: "Apakah aku boleh masuk?"

"Masuklah, pintu tidak dikunci."

Saat aku membuka pintu dan masuk, pintu kaca buram kamar mandi juga dibuka oleh Fela.

Saat aku melihatnya hanya menggunakan kaos hitam dan celana dalam berenda ungu berdiri di hadapanku, aku dalam sekejap menjadi kacau.

Dada padat yang kosong itu tentunya tidak perlu dikatakan lagi, celana dalam berenda ungu

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

611