Bab 15 Toilet Wanita

by Haikal Chandra 13:14,Sep 16,2020
“Kita baru saja bertemu dua hari yang lalu." Ramya dengan gugup melihat ke sekelilingnya dan berkata dengan suara yang pelan.

Aku tidak dapat menahan untuk menarik tangannya dan melanjutkan perkataanku : "Aku ingin benar-benar resmi bersama denganmu."

"Kamu jangan seperti ini, ada orang lain yang melihatnya!" Ramya melepaskan tanganku, dengan langkah yang cepat ia berjalan menuju ke toilet wanita.

Orang yang keluar masuk dari toilet tidak sedikit yang menatap kami dengan tatapan yang aneh.

Aku tidak mempedulikan tatapan mereka, kemudian langsung mengikuti Ramya berjalan masuk ke dalam toilet wanita.

Seorang wanita yang baru saja selesai menggunakan toilet dan keluar dengan mengangkat roknya, setelah melihat kami raut wajahnya pun berubah, hampir saja ia berteriak karena terkejut, akhirnya ia pun pergi dengan raut wajah yang kesal.

Ramya pun telah merasa sedikit marah : "Ini adalah toilet wanita, kamu cepat keluar!"

" Ramya, kamu puaskan aku satu kali saja." Biasanya aku akan memanggilnya guru Ramya, kali ini aku benar-benar tidak mempedulikan apa pun lagi, kemudian aku menjulurkan tangan memeluknya di dalam toilet wanita.

Ramya merasa terkejut dengan segera ia memberontak : "Kamu sedang melakukan apa cepat lepaskan tanganmu!"

Aku memeluknya dengan erat, tidak membiarkannya untuk memberontak, kemudian aku menundukkan kepala untuk mencium pipinya dan daun telinganya yang memakai anting itu, tangan aku yang lain sudah menjulur masuk ke dalam pakaiannya dan mencengkram gundukan penuhnya yang lembut dan halus.

Di bawah seranganku, Ramya tidak memiliki tenaga untuk memberontak, tanpa dapat ditahan ia pun terkulai lemas di dalam pelukan aku.

"Jangan... Jangan seperti ini, bisa terlihat oleh orang lain..." Ramya dengan wajahnya yang merona itu, pun berkata dengan panik.

Sebaliknya aku malah membungkam mulutnya, memaksakan lidahku untuk masuk ke dalam mulutnya, kemudian melakukan ciuman panas yang mendalam.

Ramya pun luluh dengan serangan panas dari aku, ia mulai bergerak mengeluarkan lidahnya dan menyatuh bersama denganku.

Tanganku yang satunya lagi dengan lancar terjulur ke dalam celananya dan meraba bokongnya yang terbungkus oleh celana dalamnya, sangat bulat dan lembut, halus dan indah, benar-benar kenyal, saat tersentuh memberikan perasaan yang sangat nikmat.

Ramya mengeluarkan suara erangan : " Wenas, kita... kita masuk ke salah satu bilik..."

Aku merasa sangat terangsang, dengan segera pun mengatakan baik.

Kami dengan saling berpelukan pun bergerak masuk ke dalam bilik toilet, tanganku pun terus-menerus bertahan dengan kondisi yang berada di dalam pakaian dan celananya.

Siapa sangka pada saat itu, dari luar terdengar suara langkah kaki dan juga terdengar senandung nyanyian : "Tempat duduk yang ada di dalam cafe itu, aku sedang menantikan siapa yang akan datang, aku tidak memiliki jalan untuk lari dari kesedihan cappucino, seolah-olah seperti melebarkan akup untuk membawamu terbang, untuk melihat langit berbintang di malam hari yang begitu indah..."

Mendengar nyanyian ini, aku dan Ramya pun dapat mengetahui siapakah orang itu.

Ramya seperti terkena sengatan listrik, dengan segera ia mendorongku dan berbicara terburu-buru dengan suara yang pelan : "Cepat sembunyi!"

Aku pun juga terkejut, tak disangka pada detik-detik yang krusial ini Fela ternyata masuk kemari, dengan segera aku pun memutar salah satu pintu bilik toilet tersebut dan masuk ke dalamnya.

Melalui celah pintu, aku pun dapat langsung melihat Fela masuk ke dalam toilet.

Ramya baru saja selesai merapikan bajunya, wajahnya masih sedikit merona, ia pun memaksakan sebuah senyuman pada wajahnya dan bertanya : " Lala, kamu juga pergi ke toilet?"

Fela pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kelihatannya sama sekali tidak menyadari ekspresi dari Ramya, kemudian ia pun bertanya : " Kak Ramya, aku ingin bertanya mengenai suatu hal kepadamu."

"Hal apakah itu?"

"Tunggu aku selesai ke toilet dulu barulah akan mengatakannya kepadamu."

Dengan gugup melihat Fela yang berjalan menuju ke arah nya, aku pun terkejut hingga cepat-cepat mengunci pintu, kemudian terdengar pintu bilik sebelah yang terbuka, yang disusul dengan suara air gemericik.

Wajahku pun memerah, tak menyangka bahwa dirinya sendiri bersembunyi di dalam toilet wanita, diam-diam mendengar suara Fela yang sedang buang air kecil.

Kemudian terdengar suara pintu yang dibuka, Fela pun berjalan keluar dan bertanya : "Kak Ramya, kamu sudah tinggal selama beberapa bulan di rumah Wenas, menurutmu dia orang yang bagaimana?"

"Mengapa tiba-tiba menanyakan hal seperti ini?"

"Tidak ada, hanya asal bertanya saja."

"Jangan-jangan kamu menyukainya ya."

"Jangan sembarangan bicara, baru saja dua hari, aku bagaimana mungkin telah menyukainya."

Aku diam-diam pun kembali membuka sedikit celah yang ada di pintu, tak disangka Fela menarik tangan Ramya, lalu dengan tersenyum ia berkata : "Kamu ceritakanlah kepadaku, menurutmu dia orang yang bagaimana?"

Ramya menolehkan kepalanya ke arahku, tepat berpapasan sesaat dengan tatapan mataku.

Dia merasa sedikit tak berdaya, hanya dapat mengikuti Fela yang menariknya keluar dari toilet.

"Seseorang yang sangat biasa saja, cukup antusias, kondisi keluarganya juga cukup baik..." Suara Ramya yang ada diluar perlahan-lahan semakin mengecil.

Di dalam hatiku terasa seperti ingin menangis tak berdaya namun air matanya tak keluar, tepat saat ia dan Ramya akan melakukan itu, siapa yang mengira bahwa pada saat yang krusial itu dalam sekejap muncul Fela, ia juga membawa Ramya pergi!

Aku kembali ke dalam ruang private restaurant itu, raut wajah Ramya telah kembali menjadi tenang.

"Bro Wen, Mengapa kamu ke toilet begitu lama?" Awang menuangkan secangkir bir untukku, kemudian ia bertanya sambil tersenyum.

Aku pun tersenyum dengan canggung, tidak mengatakan apa pun.

Kami pun melanjutkan makan dan minum bir, Fela adalah yang paling ceria diantara kita, tidak peduli ketika membicarakan topik apa pun juga, dia pasti bisa menyahutinya.

Ramya dan aku adalah yang paling jarang berbicara, Ramya biasanya hanya akan mengatupkan bibirnya dan tersenyum tipis, dengan sikapnya yang elegan, menjadi perbandingan yang sangat terlihat jelas dengan Fela.

Beberapa hari kemudian, aku dan Ramya tidak lagi saling berhubungan, sering kali mengiriminya pesan, akan tetapi dia tidak membalasnya, membuatku benar-benar kecewa.

Sebalinya dengan Fela, setelah selesai mandi sering sekali hanya menggunakan sebuah kaos yang kebesaran untuk menggodaku.

Kadang kala dia akan menaikkan kedua kakinya yang putih dan halus itu ke atas meja, aku pun sedikit menundukkan kepala untuk melihat, maka dapat terlihat pemandangan yang terpampang di bawah bajunya dan celana dalamnya yang sangat seksi itu, membuat aku tidak tahan untuk merasa terangsang.

Selain itu, di atas balkon pun banyak bra dan celana dalam wanita.

Setiap kali aku berjalan menuju balkon untuk merokok, pasti selalu tidak dapat menahan untuk memandang ke arah pakaian dalam yang dijemur oleh Fela.

Ada suatu malam, pada saat Fela sedang mandi di kamar mandi, diluar dugaan ia meminta aku untuk membantunya mengambil pakaian.

"Kamu mandi bahkan pakaian pun tidak ikut dibawa?" Aku pun berkata di hadapan kamar mandi.

Dari dalam kamar mandi terdengar suaranya : "Dulu tinggal sendiri bukankah juga telah terbiasa, setelah selesai mandi kembali ke kamar untuk berpakaian, aku masih belum terbiasa tinggal dengan dirimu."

Aku pun tersenyum hambar, terpaksa pun menyetujuinya.

Dia pun kembali mengatakan : "Dia atas ranjang di dalam kamar, bra dan celana dalam semuanya ada disana."

Aku pun memasuki kamarnya, kemudian melihat pakaian tidurnya yang setengah transparan itu, sebuah bra berwarna merah dan sebuah celana dalam g-string berwarna hitam.

Astaga, ini benar-benar terlalu seksi, sungguh tidak berani membayangkan pemandangan Fela yang sedang memakai g-string.

Di dalam hatiku sedikit terasa menggebu-gebu, kemudian mengambil pakaian tersebut dan dengan terang-terangan dapat tercium aroma harum.

Aku datang ke kamar mandi, kemudian mengetuk pintunya, dia pun membiarkanku untuk masuk.

Karakter Fela lebih terbuka, oleh karena itu aku juga tidak merasa malu apa pun lagi, setelah masuk ke dalam kamar mandi, kemudian pintu kaca buram kamar mandi tersebut menampilkan bayangan seorang wanita cantik dengan tubuh yang sintal dan lekukan tubuh yang anggun, membuatku tidak tahan untuk menelan air liur.

"Aku akan meletakkan pakaianmu di samping westafel." Aku pun berkata kepadanya.

Dengan segera pintu buram kamar mandi pun terbuka sedikit celah, sebuah tangan yang halus dan ramping pun terjulur keluar : "Berikan kepada aku."

Aku pun berjalan kesana, lewat celah tersebut sepertinya dapat terlihat sesosok tubuh yang putih halus, dalam sekejap tubuhnya pun terangsang dengan hebat, membuat mata pun menjadi lurus memandang ke arahnya.

"Berikan kepadaku, kamu sedang melakukan apa?" Fela kelihatannya tidak mengetahui bahwa aku telah melihat pemandangan indah melalui celah pintu.

Kesadaranku pun telah kembali kemudian dengan segera aku memberikan pakaian tersebut kepadanya.

Dia pun menjulurkan tangan untuk mengambilnya, kemudian mengatakan terima kasih, lalu kembali menutup pintu kaca buram kamar mandinya.

Aku sedikit menghela nafas, Fela memang cukup memikat, kalau saja dapat melihat sedikit lebih banyak itu akan sangat bagus.

Aku pun kembali ke ruang tamu dan bermain ponsel, tak menyangka sepuluh menit kemudian, Fela pun kembali memanggil aku : " Wenas, Wenas !"

"Kenapa?"

"Apakah kamu dapat membantuku?"

"Bantu apa?"

"Aku... Bra yang baru aku beli sepertinya terlalu ketat, sudah begitu lama masih tidak dapat dikaitkan, apakah kamu dapat masuk kemari dan membantuku untuk mengaitkannya?"

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

611