Bab 1 Ibu Tiri Dari Lima Anak

by Hellen Mo 10:20,Apr 04,2022
"Benar-benar sudah mati?"

"Apakah ingin membawanya ke tempat dokter?"

"Keluarga adik ketiga ini juga bukan orang yang baik, biarkan saja bila dia sudah mati, untuk apa mengurusinya."

Kebisingan di sekitarnya berangsur-angsur menghilang dan Vanessa Qiao menyentuh dahinya yang terasa sangat sakit. Sebelum dia membuka matanya, ingatan itu tiba-tiba muncul di benaknya.

Ada seorang wanita bernama Valeria Qiao. Keluarga asalnya sangat buruk. Ayahnya kecanduan alkohol dan sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu, dia kakak lelaki yang pelit dan ibu yang malas dan sulit diatur. Valeria Qiao seperti harinya melewati hidup dengan diintimidasi.

Pada usia lima belas tahun, dia dinikahkan oleh orangtuanya kepada anak ketiga Keluarga Gu yang hanya bisa membebani orang itu dengan harga 2 tael perak.

Mengapa bisa dikatakan sebagai beban, karena Anak ketiga Keluarga Gu telah menikah dan memiliki lima orang anak. Entah siapa pun yang menikah dengan dia, dia akan langsung menjadi ibu tiri dan pasti tidak ada yang bersedia.

Tapi Valeria Qiao tidak punya hak untuk menolak, di mana dirinya dikirim ke kamar pengantin dengan keadaan terikat.

Namun, Tuhan tidak bersimpati padanya. Pada malam pernikahan, sebelum dia melihat suaminya, tiba-tiba, pihak pengadilan datang. Ternyata beberapa waktu yang lalu ada diadakannya wajib militer, di mana anak tertua dari Keluarga Gu sudah pergi beberapa hari ke sana, akan tetapi karena tidak sanggup menerima cobaan tersebut, dia pun melarikan diri. Karena pihak pengadilan tidak bisa menangkap dia, jadi mereka pun menangkap Anak ketiga Keluarga Gu.

Pengantin wanita yang sial, yang bahkan belum pernah melihat suaminya saat menikah, terpaksa mengambil alih lima anak.

Pada awalnya, dengan adanya bantuan dari Anggota Keluarga Gu yang lain, Valeria Qiao masih bisa mendapatkan makan.

Namun begitu muncul berita meninggalnya Anak ketiga Keluarga Gu, Anggota Keluarga Gu mengambil kesimpulan bahwa Valeria Qiao adalah pembawa sial untuk sang suami, jadi dia dan kelima anaknya pun diusir.

Tunggu sebentar.

Mengapa plot ini begitu familiar?

Vanessa Qiao tiba-tiba teringat sebuah cerita di internet yang dia baca di waktu luangnya. Ada beberapa penjahat besar di dalamnya, semuanya kejam, berwajah dingin, bahkan ketika sudah 'menggila', orang mereka sendiri pun juga tidak dibiarkan kabur.

Semua penjahat ini dibesarkan oleh ibu tiri yang sama. Wanita itu berdarah dingin, egois dan sesat. Karena dianggap membawa sial untuk suaminya, jadi diusir dari keluarga suaminya dan dia melampiaskan kebenciannya pada beberapa anak itu, di mana dia memukuli atau memarahi mereka setiap hari dan memanggil mereka melakukan pekerjaan berat, bahkan mencoba menjual anak perempuan ke rumah bordil, hal pertama yang menyebabkan beberapa penjahat tumbuh dewasa adalah bergabung untuk membunuhnya.

Meskipun penulis plot ini hanya menjelaskan dalam beberapa kata, mereka tidak menggambarkannya secara rinci.

Namun Vanessa Qiao masih sangat mengingat kisah ini.

Sialan, apakah dia masuk ke dalam buku?

Vanessa Qiao, oh bukan, Valeria Qiao duduk dengan linglung, melihat ke atas dan melihat dua anak mengenakan pakaian empuk yang sudah robek dan kotor, di mana sepasang mata itu tidak ada kehidupan dan duduk di sudut ruangan.

“Adik, apakah ibu benar-benar sudah meninggal?” Anak laki-laki bertatapan kosong itu berusia sekitar lima atau enam tahun, sudah lama tidak makan dan dia sangat lemah ketika berbicara.

“Paman berkata bahwa ibu sudah mati jadi sepertinya ibu benar-benar sudah mati.” Gadis kecil yang pemalu itu baru berusia dua atau tiga tahun dan dia tampak lebih lemah daripada bocah itu, seolah-olah dia akan kehilangan napas kapan saja.

Valeria Qiao bukanlah karakter yang simpatik, tetapi melihat kedua anak ini membuatnya merasa sedikit masam di hatinya.

“Oh, baguslah bila sudah mati.” Pada saat ini, bocah lelaki berusia lima atau enam tahun itu menunjukkan senyum bahagia.

Valeria Qiao, “Aku tidak mati.” Dia berkata dengan marah, berdiri, melihat sekeliling dua kali dan akhirnya melangkah maju untuk menggendong gadis kecil itu.

Tanpa diduga, gadis kecil itu sangat ketakutan hingga seluruh tubuhnya gemetar dan buru-buru berteriak dengan suara menangis, "Ibu, Molly sangat patuh, tidak membuat masalah, ibu jangan memukul Molly.

Valeria Qiao menghela nafas. Ini pasti Molly Gu, putri bungsu dari lima bersaudara. Dia dianggap paling memiliki hati nurani dari lima penjahat dan anak yang paling banyak disiksa oleh tokoh aslinya.

"Jangan takut." Dia dengan lembut menepuk kepala gadis kecil itu, lalu mencubit pipinya dan memeluknya, "Ibu tidak akan memukulmu."

Dia hanya melihat bahwa tanahnya terlalu dingin karena cuaca yang dingin, jadi dengan duduk di tanah terlalu lama akan membekukan anak itu.

Gadis kecil itu masih sangat ketakutan dan ketika Valeria Qiao membaringkannya di tempat tidur, dia dengan cepat mundur ke sudut.

Entah apa yang dilakukan sang tokoh aslinya, hingga berhasil membuat anak-anaknya ketakutan hingga seperti ini.

"Kamu juga kemari." Dia mengerutkan bibirnya dan memeluk bocah itu juga.

Kedua bersaudara itu bersembunyi di sudut tempat tidur dengan ketakutan, tubuh mereka menggigil.

“Hanya kalian berdua?” Valeria Qiao sedikit bingung. Menurut ingatannya, seharusnya ada lima anak dalam keluarga.

“Kakak pertama dan kakak kedua pergi mencari sesuatu untuk dimakan.” Anak laki-laki itu berkata dengan malu-malu, “Aku, aku seharusnya ikut pergi juga, tetapi kakak mengatakan bahwa penglihatanku kurang, jadi aku pun diminta untuk tunggu di rumah. Ibu jangan marah, aku akan pergi sekarang, aku akan pergi sekarang."

Setelah dia berbicara, dia mulai merangkak keluar dengan tergesa-gesa, tetapi hampir jatuh dari tempat tidur karena penglihatannya yang buruk.

Valeria Qiao dengan cepat menangkapnya.

"Tidak perlu, kamu cukup berdiam diri di rumah saja."

Betapa kejamnya hati orang itu hingga membiarkan beberapa anak keluar mencari makanan dalam cuaca yang begitu dingin.

Valeria Qiao membungkus anak-anak dengan selimut di tempat tidur, terhuyung-huyung dan berjalan keluar.

Patut dikatakan bahwa Keluarga Gu juga kejam, di mana begitu mereka diusir, mereka hanya diberikan rumah tua yang sudah tidak dipakai dan tidak pernah menanyakan kabarnya lagi.

Betapa bobroknya rumah tua ini? Dindingnya terbuat dari lumpur, atapnya terbuat jerami dan halamannya adalah pagar compang-camping yang bahkan tidak bisa menghalangi orang sekalipun.

Pada saat ini, itu adalah pertengahan musim dingin, cuaca sangat dingin dan masih ada kepingan salju yang mengambang di langit.

Dalam cuaca seperti itu, jika tidak berhati-hati, pasti bisa mati kedinginan. Valeria Qiao, khawatir pada beberapa anak itu, jadi dia meraih topi bambu busuk dan bergegas keluar.

Desa Keluarga Gu terpencil dan jauh di pegunungan, kelebihannya adalah bisa mengandalkan pegunungan untuk makan dan di dalam desa juga ada banyak orang yang sering berburu.

Kerugiannya adalah sangat berbahaya, entah itu binatang lapar atau jebakan pemburu, tidak ada satu pun yang lebih baik.

Valeria Qiao mencari dengan hati-hati sepanjang jalan, dan sebelum dia menghadapi bahaya apa pun, dia sudah kelelahan.

Terengah-engah di pohon besar, dia menghela nafas bahwa tubuh ini terlalu kurus dan cuacanya dingin, alangkah baiknya untuk minum secangkir air panas sekarang.

Begitu pikirannya jatuh, segelas air mendidih muncul di telapak tangan kanannya.

Valeria Qiao kepanasan hingga dia hampir melemparkan cangkir berisi air ke tanah.

Untungnya, satu-satunya rasionalitas yang tersisa membuatnya menarik tangan kirinya ke dalam lengan bajunya, kemudian memegang cangkir air panas melalui pakaiannya.

Dengan napas hangat yang bertiup ke wajahnya, Valeria Qiao hanya ingin mengucapkan satu kata, yaitu nyaman!

Ketika airnya sudah tidak terlalu panas, dia meminumnya dan menatap gelas modern.

jika dia tidak salah mengingat.

Ini seharusnya secangkir air matang yang baru dia tuangkan di laboratorium sebelum dia keluar dan ini adalah cangkir yang baru saja dia beli.

Ya Tuhan, kenapa dia muncul di sini?

Valeria Qiao benar-benar terpana.

Pada saat ini, sebuah suara datang dari kejauhan dan Valeria Qiao terburu-buru untuk menyembunyikan gelasnya, tetapi ternyata tidak ada tempat untuk meletakkannya.

Mau tak mau dia berpikir, "Kalau saja cangkir ini bisa hilang."

Begitu pikirannya jatuh, gelas itu hilang.

Mata Valeria Qiao melebar sebelum berbalik dengan kaku dan berjalan menuju tempat asal suara itu.

Bukannya dia sudah lepas dari kebingungannya, tetapi suara-suara dari sana sepertinya adalah suara beberapa anak.

"Tolong."

"Tolong."

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

433