Bab 8 Menolong Seseorang

by Hellen Mo 10:20,Apr 04,2022
Valeria Qiao tetap menaiki kereta keledai yang sama seperti dia datang. Dia sendiri sudah mencari tahu waktu kapan kereta keledai akan kembali, jadi dia kebetulan tiba di waktu yang tepat.

Sang paman tampaknya sangat tidak menyukainya, di mana dia terus memberikannya tatapan sinis.

Valeria Qiao tidak peduli dan masuk ke gerobak keledai dengan keranjang bambu dan Molly Gu.

Dalam perjalanan, orang lain dari desa yang sama melihat apa yang dia beli pun bertanya.

Valeria Qiao tidak menyembunyikannya, melainkan langsung berkata, "Aku menjual kulitnya seharga dua tael perak untuk membeli makanan dan minuman untuk keluarga. Lagipula nasi dan mie juga kosong, akan tetapi bagaimana pun juga anak-anak tetap harus makan."

Sepertinya ibu tiri ini memang sudah bertobat.

Beberapa bibi dari desa yang sama tersenyum dan mengangguk, memandang Valeria Qiao dengan tatapan setuju.

Tentu saja, pasti ada beberapa orang yang mencibir dengan sinis, "Seseorang tidak akan berubah begitu mudah. Aku rasa dia semua ini untuk dirinya sendiri dan sudah sangat baik, bila anak-anaknya bisa menyentuhnya."

Valeria Qiao meliriknya, samar-samar mengingat bahwa dia adalah menantu kedua dari Bibi Zhang itu dan tiba-tiba tersenyum dengan jelas.

“Mengapa kamu tertawa?” Menantu perempuan kedua dari Keluarga Zhang sangat tidak senang. “Apakah kamu pikir ketika kamu tertawa, kamu adalah orang yang baik? Manusia tidak akan berubah begitu mudah dan kamu Valeria Qiao, bukanlah orang baik."

"Kamu tidak memiliki hak untuk menilai baik atau tidaknya aku." Valeria Qiao meliriknya, "Dan juga, tidak peduli apa yang aku lakukan pada anak-anak, itu adalah urusan keluargaku, kamu sebaiknya jangan ikut campur."

“Apakah kamu pikir dengan kamu memiliki anak-anak itu adalah perbuatan yang benar?" Menantu perempuan kedua dari Keluarga Zhang sangat marah, menunjuk ke Valeria Qiao, “Terakhir kali aku melihat dia memukul gadis kecilnya hingga hidungnya mengelu9arkan darah, tetapi kali ini dia berkata dia menjual kulit. Hanya hantu yang tahu apakah kamu sedang ingin menjual gadis kecil itu untuk menjadi pengantin anak, kamu adalah orang yang kejam, jadi tidak ada yang tidak bisa kamu lakukan."

"Apa, pengantin anak?"

Ekspresi beberapa wanita di sekitarnya berubah.

Sebutan pengantin anak mungkin terdengar cukup baik, tapi sebenarnya menjualnya kepada orang lain sebagai budak dan hanya sedikit orang di keluarga petani biasa yang mau melakukannya.

Tapi Valeria Qiao adalah ibu tiri dan memiliki sejarah memukuli anak-anak, jadi dia mungkin bisa melakukan hal seperti itu.

Segera, beberapa wanita di dalam gerobak mulai membicarakannya.

Menantu perempuan kedua dari Keluarga Zhang menjadi lebih senang ketika dia melihat ada yang mendukungnya, "Bagaimana orang seperti ini pantas menaiki kereta keledai? Paman, aku pikir lebih baik mengusirnya turun, biarkan dia menderita dan tahu bahwa sebaiknya juga menganggap anak orang lain sebagai manusia."

Paman yang mengendarai gerobak keledai, yang sudah tidak menyukai Valeria Qiao pun segera menghentikan gerobak ketika dia mendengar ini.

Menantu perempuan kedua dari Keluarga Zhang memanfaatkan situasi untuk mendorong Valeria Qiao, mencoba mengusirnya keluar dari gerobak.

Wajah Valeria Qiao membeku seperti es, dia memeluk Molly Gu erat-erat dengan satu tangan dan mengangkat tangan yang lain tinggi-tinggi lalu menampar menantu kedua Keluarga Zhang dengan kecepatan kilat.

Terdengar suara tamparan dan menantu perempuan kedua dari Keluarga Zhang membeku di tempat, lupa untuk bergerak.

Ketika Valeria Qiao melihat ini, dia menamparnya lagi, bahkan lebih kuat dari yang sebelumnya.

Kali ini, menantu perempuan kedua dari Keluarga Zhang bereaksi, menutupi wajahnya dan menangis.

Perkelahian wanita pedesaan sebagian besar hanya menggunakan teriakan dan dorongan, jadi mereka belum pernah melihat tamparan yang begitu kuat dan semua orang di dalam gerobak pun membeku.

Bahkan menantu kedua dari Keluarga Zhang hanya tahu menangis dan lupa untuk melawan.

"Sejak tadi kamu terus mengatakan pengantin anak, apakah kamu cacing gelang di perutku? Hingga kamu bahkan tahu apa yang akan aku lakukan? Terakhir kali keluargamu mencoba merebut dombaku, tapi kali ini kalian kembali menargetkan kami lagi. Apakah kamu pikir dengan sepeninggalannya suamiku, maka kalian sudah bisa menindasku sesuka kalian?"

Valeria Qiao membalas dengan tajam dan berbicara, "Sebelumnya ketika keluarga kalian ingin merebut seekor domba pun berpura-pura melakukan hal-hal seperti itu, aku rasa kalian pasti tahu jelas apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan. Jangan berpikir dengan sepeninggalannya suamiku, maka kalian bisa menindasku sesuka kalian."

Setelah dia selesai berbicara, dia memegang Molly Gu di satu tangan dan keranjang bambu di tangan lainnya, lalu turun dari kereta keledai.

Wajah beberapa wanita di dalam kereta memerah karena ucapannya dan mereka ingin membuka mulut mereka untuk memanggilnya kembali, tetapi Valeria Qiao sudah berjalan pergi ke arah yang berlawanan.

“Hei paman, kamu seharusnya tidak berhenti. Bagaimana dia bisa kembali sambil membawa anaknya?” Seseorang berkata.

Ada juga orang yang menyalahkan menantu Keluarga Zhang, "Mengapa kalian terus mencari masalah dengan mereka? Mereka bahkan sudah tidak mencari masalah dengan kalian, karena permasalahan domba yang sebelumnya."

Sang paman mengerucutkan bibirnya, mengangkat cambuknya dengan ragu-ragu dan memukul pantat keledai tua itu.

Kereta keledai terus melaju, tetapi ada satu orang yang hilang dari kereta.

“Ibu, kita tidak naik gerobak lagi?” Molly Gu bertanya dengan suara seperti susu, melingkarkan tangannya di leher Valeria Qiao.

“Iya, kita tidak menaiki gerobaknya lagi.” Valeria Qiao tersenyum, pada saat yang sama dia senang dalam hatinya bahwa kereta keledai tidak pergi terlalu jauh dan sekarang dia masih bisa kembali ke Kota Xiyang untuk mencari gerobak keledai yang lain untuk pulang.

Manusia begitu memiliki uang memang bisa melakukan apapun yang mereka inginkan!

Ibu dan anak itu berjalan di sepanjang tepi jalan. Entah apakah itu ilusi atau bukan, Valeria Qiao selalu merasa bahwa kekuatan fisiknya secara bertahap semakin kuat. Kemarin, dia kehabisan napas ketika dia berjalan sendirian. Hari ini, dia hanya merasa sedikit berat dengan membawa seorang anak dan keranjang bambu. .

Meski jauh lebih rendah dari dirinya yang dulu, tapi fisiknya nyaris bisa disamakan seperti orang pada umumnya.

“Ibu.” Molly Gu, yang telah meringkuk di pelukannya, tiba-tiba menjulurkan kepala kecilnya dan berkata dengan wajah bingung, “Ibu, bau, ada bau.”

“Bau?” Valeria Qiao sedikit mengernyit, berpikir bahwa keledai tua seseorang telah membuang kotoran di jalan, tetapi melainkan dia mencium bau darah yang samar.

"Benar, bau, sangat bau. Di sana paling bau.” Molly Gu menunjuk ke hutan bambu yang sangat tersembunyi di belakang jalan.

Jantung Valeria Qiao berdetak kencang dan berdasarkan pengalamannya selama puluhan tahun di Keluarga Qiao memberi tahu dia bahwa di depannya ini terjadi sesuatu yang tidak sesederhana yang dilihat.

Dia memeluk Molly Gu dan ingin pergi, tetapi tiba-tiba melihat badai pasir disertai dengan suara kencang.

Ketika dia melihat lebih dekat, ini jelas bukanlah badai pasir, melainkan debu yang ditunggangi sekelompok orang di jalan!

Jalan tanah di pedesaan hanya beberapa langkah lebarnya, jadi bahkan jika mereka berdua berdiri di tepi, mereka pasti akan terluka.

Setelah menimbang sejenak, Valeria Qiao memeluk Molly Gu dan terjun ke hutan bambu di pinggir jalan.

Kemudian dia melihat seorang pria berbaju ungu dengan topeng berukir perunggu di separuh wajahnya. Meskipun dia tidak sadar, dia memegang pisau pendek dengan erat.

“Ibu, ini tempatnya. Tempat ini paling bau.” Molly Gu memeluknya erat-erat karena ketakutan.

Valeria Qiao menutupi mata Molly Gu dengan satu tangan dan melihat ke atas dan ke bawah.

Pria berbaju ungu itu mengalami luka parah, meski dibalut dengan kain, jelas dia tidak diobati hingga ke akar-akarnya. Bila dia tidak diobati, mungkin dia akan meninggal dalam waktu satu jam.

Menyelamatkannya atau tidak.

Valeria Qiao ragu-ragu sejenak sebelum membuat keputusan.

“Sayang, kamu duduk di sini dan tunggu ibu.” Memerintahkan Molly Gu untuk duduk di keranjang bambu dengan patuh, lalu Valeria Qiao membalikkan punggungnya dan mengeluarkan disinfektan dari laboratorium untuk menghentikan obat pendarahan dan kain kasa.

Pria berbaju ungu itu terluka parah dan juga memiliki banyak luka. Dia menghabiskan waktu selama 10 menit untuk membersihkan lukanya, menaburkan lapisan tebal obat putih dan akhirnya membungkusnya dengan hati-hati dengan kain kasa.

Obat putih itu cukup kuat, jadi meskipun pria berbaju ungu dalam keadaan tidak sadar, dia tetap mengerutkan kening karena kesakitan.

Valeria Qiao menghela nafas, mengeluarkan botol air panas silikon dari laboratorium, mengisinya dengan air mendidih yang penuh lagi di beberapa titik dan memasukkannya ke dalam lengan pria berpakaian ungu itu.

Setelah melakukan semua ini, dia melemparkan kapas desinfektan bekas ke dalam lubang tanah dan menguburnya, berbalik dan mengambil Molly Gu, lalu meninggalkan hutan bambu.

Dari awal hingga akhir, pria berbaju ungu tidak membuka matanya, hanya sepasang bulu matanya yang sedikit bergetar mengungkapkan bahwa dia mungkin sudah tahu segalanya.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

433