Bab 6 Meminjam Satu Sen

by Hellen Mo 10:20,Apr 04,2022
Siapa yang menyangka ketika dia baru saja selesai berbicara, beberapa penduduk desa tertawa terbahak-bahak.

Valeria Qiao juga mengerutkan bibirnya dan tersenyum, tetapi tatapannya sedikit dingin.

Molly Gu tidak mengerti mengapa semua orang tertawa, jadi dia meraih pakaian Valeria Qiao dengan rasa ingin tahu.

Tiga bersaudara di ruangan itu tiba-tiba melebarkan matanya karena ketakutan, karena takut Valeria Qiao akan menendang gadis kecil itu dengan marah.

Tanpa diduga, Valeria Qiao membungkuk dan memeluk Molly Gu, lalu mencium pipinya.

Anak ini benar-benar pandai, di mana dia sudah mengingatnya setelah mengajarkannya hanya dalam sekali, bahkan waktu kemunculannya sangat tepat.

“Apa yang kalian tertawakan?” Bibi Zhang bingung dan melirik ke kiri dan ke kanan dengan kebingungan.

Valeria Qiao menyipitkan mata padanya, "Bibi, lain kali jangan hanya mempercayai apa yang kamu dengar. Lebih baik bertanya lebih dulu dengan jelas, baru menjawabnya. Kali ini domba yang aku dapatkan adalah domba hitam."

“Iya, bulu domba itu cukup bagus, bisa membuatnya menjadi pakaian luaran kulit hitam.” Seorang pemburu tua memuji.

Ucapan dia sama saja dengan membenarkan ucapan Valeria Qiao.

Bibi Zhang awalnya tertegun, lalu wajahnya memerah karena malu, lalu menyeret putra keduanya dan berlari keluar.

Wajahnya sudah tidak tahu harus diletakkan di mana lagi.

Valeria Qiao terlalu malas untuk mempedulikan hal ini, dia dengan sopan mengundang penduduk desa untuk makan malam, tetapi semua orang melambaikan tangan dan menolak.

Seorang janda, jarang-jarang mendapatkan daging untuk dimakan anak-anak, jika mereka sudah menonton keramaian dan ikut makan bersama lagi, itu benar-benar sudah kelewatan.

Setelah melihat semua orang pergi, Valeria Qiao mengunci pintu dan pergi ke dapur.

Myla Gu masih menyalakan api dan ketika dia melihatnya masuk, matanya bergerak-gerak.

Valeria Qiao melirik sudut mulutnya yang kemerahan, tahu bahwa dia sudah mencuri-curi makan, tetapi tidak mengeksposnya, melainkan mengeluarkan toples garam dan menaburkan dua sendok garam ke dalam panci.

Daging ini sangat harum, bahkan tanpa ada garam pun juga tetap sangat lezat.

“Kalian jangan khawatir, karena daging ini sudah dimasak, aku pasti akan memastikan kalian makan hingga puas.” Kata Valeria Qiao ringan sambil mengaduk garam dengan spatula.

Pipi Myla Gu tiba-tiba memerah, dia menundukkan kepalanya dan tidak mengatakan apa-apa.

Sepuluh menit kemudian, Valeria Qiao menebak bahwa garam telah terserap dengan baik, jadi dia membuka tutup panci dan menaburkan bawang merah cincang di atasnya.

Aroma daging kembali tercium daun bawang cincang dan hanya meciumnya saja sudah membuat mabuk beberapa anak yang sudah lama tidak makan hingga kenyang.

Valeria Qiao tidak mengirit-irit, melainkan langsung mengisi mangkuk untuk setiap orang. Dia benar-benar melakukannya untuk membuat mereka kenyang.

Kemudian kamar kecil Keluarga Gu pun penuh.

Perut yang sudah lama tidak direndam oleh minyak dan air tiba-tiba memakan hidangan daging yang besar, pasti akan buang-buang terus-menerus.

Valeria Qiao juga sudah mengingatkan beberapa anak, tetapi melihat mereka makan daging dengan bersemangat, bahkan Daniel Gu yang biasanya terlihat tenang pun memakannya terus-menerus. Gambaran ini membuat dia tidak tega untuk menghentikannya.

Makanlah sepuasnya, dengan begitu kedepannya perut mereka akan terbiasa.

Setelah selesai makan, Myla Gu sudah tidak bisa lagi berdiri, lalu Valeria Qiao perlahan mengumpulkan piring dan sisa daging, lalu melihat ke arah kulit domba.

Memang benar dia bisa memotong daging, tapi mereka tidak mungkin terus memakan daging sepanjang waktu. Dia harus menjual kulit domba selagi panas untuk membeli nasi dan mie.

Berdasarkan ingatan tokoh asli, desa Keluarga Gu adalah milik Kota Xiyang. Ada pasar dan jalan di kota serta ada orang yang mengkhususkan diri dalam mengumpulkan semua jenis kulit berkualitas baik.

Satu-satunya hal buruk adalah bahwa kota ini agak jauh, sekitar 20 mil jauhnya. Biasanya orang pergi ke pasar dengan gerobak keledai dan biaya dihabiskan juga tidak mahal, karena hanya menghabiskan satu sen.

Tapi sangat disayangkan bahwa rumah ini tampaknya tidak memiliki uang sepeser pun.

Ekspresi Valeria Qiao tampak kusut. Setelah beberapa saat, dia melirik ke arah rumah tetangga, mengertakkan gigi dan menghela nafas, pergi ke panci dan mengisi semangkuk daging kambing, lalu mengetuk pintu rumah Bibi Liu.

"Hei, Keluarga Ketiga Gu, kamu..." Bibi Liu sedikit terkejut.

Dia hanya meminjam beberapa bumbu, tetapi tidak menyangka Keluarga Ketiga Gu akan mengembalikannya dengan daging.

Tetangga biasa tidak saling memberi makan, bila ada, itu pun hanya akan mengambil sedikit, bukannya seperti sekarang ini, di mana di dalam mangkuk ini benar-benar penuh dengan daging.

“Bibi, aku baru saja membunuh domba, aku ingin Anda untuk mencobanya juga.” Valeria Qiao tersenyum dan menyerahkan mangkuk itu.

Bibi Liu berulang kali menolak, dia merasa bumbunya tidak sebanding dengan semangkuk daging, tetapi Valeria Qiao bersikeras untuk memberikannya, dia tidak punya pilihan selain menerima mangkuk daging tersebut.

Pada akhirnya, Valeria Qiao mengatakan yang sebenarnya dengan sangat malu, "Bibi, aku membunuh domba untuk mendapatkan daging, lalu masih ada kulit berkualitas bagus yang tersisa. Aku mendengar bahwa ada kolektor kulit di Kota Xiyang, aku pikir aku menjualnya untuk mendapatkan uang, tetapi aku bahkan tidak punya untuk transportasi, bisakah kamu meminjamkan aku sedikit uang?"

Bibi Liu terkejut.

Paman Liu di belakangnya berteriak, "Lihatlah apa yang aku katakan, tidak akan ada orang yang akan tiba-tiba bersikap baik pada kita tanpa memiliki niatan lain, rupanya ini rencana dia. Tidak punya uang, kami tidak punya uang."

Valeria Qiao mengerutkan bibirnya dan menghela nafas, "Jika seperti itu, aku pamit terlebih dahulu, maaf sudah mengganggu bibi."

Dia berbalik dan pergi, tidak lagi bersikap kelewatan seperti sebelumnya dan tidak ada ketakutan ketika dia pertama kali menikah dengan Keluarga Gu, bahkan di sudut matanya sudah tidak ada lagi kekecewaan, seolah-olah semua yang terjadi di depannya sesuai dengan harapannya.

Entah kenapa, Bibi Liu sedikit melunak.

"Tunggu sebentar."

Tidak mudah bagi seorang wanita untuk membesarkan lima anak. Bibi Liu sendiri juga seorang wanita, jadi dia paling memahami penderitaan wanita, "Berapa banyak yang ingin kamu pinjam? Aku beritahu terlebih dahulu, bibi juga memiliki banyak orang yang harus dihidupi, jadi tidak ada banyak uang simpanan."

Valeria Qiao berkata dengan gembira, "Satu sen saja sudah cukup."

Paman Liu yang baru saja akan menghentikannya pun tertegun di tempat.

Bahkan Bibi Liu juga membuka mulutnya sedikit, matanya melebar dan butuh waktu lama untuk mendapatkan suaranya kembali, "Satu sen?"

“Aku ingin pergi ke pasar dengan kendaraan, tetapi aku bahkan tidak punya uang untuk menaiki kendaraan, karena aku bahkan tidak punya sepeser pun di rumah.” Valeria Qiao menjelaskan dengan agak malu.

Bibi Liu tercengang dan setelah beberapa saat, dia memberikan mangkuk daging ke Paman Liu. Dia berlari untuk mencari dua puluh sen dan memasukkannya ke tangan Valeria Qiao, "Anak baik, kamu gunakan uang ini terlebih dahulu, bibi juga tidak berdaya, jadi aku hanya bisa membantumu sebanyak ini."

Ketika Valeria Qiao kembali dari rumah Keluarga Liu, beberapa anak sudah tidak lagi mengalami diare, tetapi karena mereka makan terlalu banyak, kecuali Daniel Gu dan Myla Gu, ketiga anak lainnya sudah berbaring di tempat tidur, tampak lemah.

Muncul keinginan untuk mempermainkan mereka di hatinya dan dia sengaja terbatuk di pintu.

Segera, beberapa anak duduk tegak seolah disengat lebah, bahkan Molly Gu tidak berani mengerakkan kepalanya, melainkan menoleh dengan patuh.

"Itu," kata Valeria Qiao sambil tersenyum, memegang dua puluh sen yang masih hangat di telapak tangannya, "Aku akan pergi ke pasar untuk menjual kulit, apakah ada yang ingin ikut denganku?"

Semua anak terdiam.

Mereka semua takut dan sangat membenci ibu tiri ini sehingga mereka berharap tidak akan pernah melihatnya lagi, jadi bagaimana mereka bisa menemaninya keluar rumah.

Hanya hantu yang tahu apakah sang ibu tiri berencana untuk memukuli mereka di luar atau tidak, meminta mereka melakukan pekerjaan berat atau bahkan menjual mereka.

Ruang dalam rumah tua itu sangat sunyi.

Daniel Gu dan Myla Gu saling berpandangan. Mereka yang lebih tua pun berpikir lebih banyak. Mereka takut ibu tirinya akan kehilangan kesabaran lagi dan marah, jadi mereka sedang berpikir, apakah akan mengorbankan diri mereka sendiri.

Pada saat ini, Molly Gu yang termuda di antara anak-anak, melihat ke kiri dan ke kanan, lalu perlahan melompat turun dari tempat tidur.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

420