Bab 8 Minta Maaf, Maka Aku Akan Melupakan Masalah Tersebut

by Stefen Lee 11:53,Sep 15,2020
Awalnya Louis Yang dan Alicia Lin tertegun begitu mendengar ucapan Erick Qin akan tetapi selanjutnya mereka pun tertawa terbahak-bahak.

"Kamu bilang kamu tinggal di sini? Erick Qin, aku rasa kamu sudah gila." Louis Yang tersenyum mengejek lalu berkata: "apakah kamu tahu apa tempat ini? Apakah kamu tahu berapa harga rumah di sini?"

Erick Qin malas berbicara omong kosong dengannya, dia pun tidak menghiraukan dia dan menatap ke arah tempat parkir.

"Eric Qin sebaiknya kamu lekas pergi. Jika kamu menganggu istriku lagi, aku akan membunuhmu!" Louis Yang turun dari dalam mobil lalu mengancamnya.

Begitu mendengar kata panggilan "istriku", tanpa disadari, Erick Qin pun mengepalkan tangannya.

"Kenapa? Kamu ingin memukul aku?" Louis Yang melirik sekilas ke arah tangan Erick Qin yang dikepal lalu tersenyum mengejek.

Lalu dia pun mendorong dada Erick Qin dan dengan kasar berkata: "aku menyuruhmu untuk pergi, apakah kamu tidak mendengarnya!"

"Sudahlah, untuk apa kamu mencari masalah dengan pengecut seperti dia." Alicia Lin yang berada di dalam mobil pun menjulurkan kepalanya lalu berbicara dengan nada kesal.

Louis Yang menatap ke arah Alicia Lin lalu menganggukkan kepalanya berkata: "baik, aku akan membiarkanmu karena mendengar ucapan istriku, lain kali jika aku melihatmu kembali, aku akan mematahkan kakimu!"

Setelah selesai berbicara, dia pun berjalan ke arah mobilnya.

Erick Qin menatap mobil tersebut dengan lekat dan dadanya tidak bisa menahan untuk tidak naik dan turun.

"Louis Yang........" Erick Qin menyebutkan nama ini, lalu sebersit kekejaman timbul pada matanya.

"Ayo jalan." Pada saat ini Finola Tsu yang sudah memarkir mobil pun berjalan ke mari.

Dia melirik sekilas ke arah Erick Qin dan menatap ke arah segaris lurus dengan tatapan Erick Qin lalu sambil mengerutkan keningnya bekata: "ada apa? Mengapa ekspresimu seperti itu?"

Erick Qin menarik nafas dalam-dalam lalu menggelengkan kepalanya berkata: "tidak apa-apa."

Meskipun Finola Tsu masih mencurigainya, akan tetapi dia tidak lagi bertanya. Dia pun hanya menganggukan kepala berkata: "jika kamu bertemu sesuatu hal yang merepotkan, kamu dapat memberitahunya kepadaku."

Erick Qin tersenyum pahit dan berkata: "tidak perlu."

Dia sangat menyadari kebenaran bahwa semakin banyak bantuan yang digunakan, semakin tipis jarak di antara mereka, lagipula Finola Tsu tidak berhutang apa pun pada dirinya.

Pada pintu masuk gunung, ada satu per satu sepeda yang ditata dengan rapi, Erick Qin dan Finola Tsu masing-masing menggunakan sebuah sepeda lalu berjalan ke arah puncak gunung.

Semakin tinggi, semakin kuat tekanannya. Pada saat yang bersamaan, Erick Qin juga merasakan kesegaran serta reiki.

Ketika sampai di puncak gunung, Erick Qin berseru di dalam hatinya.

Dengan berdiri di sini, dia dapat melihat hampir seluruh Kota F!

Hal yang lebih penting adalah udara yang segar dan reiki yang Erick Qin rasakan membuatnya semakin bersemangat!

"Ini merupakan tempat yang sangat cocok untuk berlatih!" Erick Qin berpikir di dalam hati.

Finola Tsu membawa Erick Qin mengelilingi villa lalu tersenyum berkata: "bagaimana? Apakah kamu merasa puas?"

"Sangat puas." Erick Qin berkata dengan tulus.

Bagi dirinya, besar kecil maupun baik atau tidaknya sebuah rumah tidak penting. Tetapi lingkungan tempat ini bagi Erick Qin sangat menakjubkan!

"Kalau begitu seterusnya kamu tinggalah di sini, kamu dapat memberitahu aku jika ada hal yang kamu inginkan." Finola Tsu mengerjapkan matanya dan berbicara sambil tersenyum.

Dia terlihat sangat cantik ketika tersenyum, dua lesung pipinya membuat orang merasa sangat nyaman dan hangat.

Perasaan hangat ini membuat Erick Qin tertegun selama beberapa saat.

"Hei, apa yang sedang kamu lihat!" Finola Tsu melambaikan jari tangannya sambil memutar matanya.

Erick Qin barulah mendapatkan kembali kesadarannya lalu wajahnya bersemu merah berkata: "tidak.....tidak ada apa-apa."

"Ckck, pemalu sekali." Finola Tsu menjahilinya.

Erick Qin terkekeh dan mencoba untuk mengatakan sesuatu, akan tetapi dia tidak tahu harus mengatakan apa.

Pada saat ini, tiba-tiba ponsel Finola Tsu berdering.

Dia melirik sekilas ke arah ponselnya dan seketika keningnya pun berkerut.

"Kalau begitu kamu tinggalah terlebih dahulu di sini, silahkan hubungi aku jika ada masalah." Finola Tsu berkata.

Setelah dia selesai berbicara, dia pun mengayuh sepedanya ke arah bawah.

Setelah dia menatap kepergian Finola Tsu, Erick Qin berjalan langsung ke puncak gunung dan duduk bersila.

Dia memejamkan matanya dan pikirannya bergerak, lalu ingatan tentang latihan membanjiri pikirannya seperti air pasang.

“Masuklah terlebih dahulu ke tahap permurnian.” Erick Qin berbisik. Dia mengikuti metode yang ada di ingatannya dan mulai merasakan reiki dari lingkungan sekitarnya.

Reiki di puncak gunung, disertai dengan nafas Erick Qin perlahan mengalir ke tubuhnya. Jika melihat dengan cermat, dapat terlihat pusaran air kecil yang terbentuk di sekitar tubuhnya.

Reiki berputar perlahan di dalam tiandan. Reiki yang semula hanya sebesar kacang hijau, perlahan-lahan membesar menjadi sebesar jari tangan.

Erick Qin seperti tidak merasakan waktu yang sedang berjalan Dari sore hingga pagi hari berikutnya, barulah dia perlahan membuka matanya.

"Huh....." Erick Qin membuang nafas dengan panjang. Dia sudah tidak tidur semalaman, akan tetapi dia tidak merasa lelah, melainkan merasa sangat bersemangat.

"Akhirnya aku berhasil melatih hingga masa pemulihan tingkat pertama." Erick Qin mengepalkan tangannya dan merasakan tenaga yang sedang berpacu di dalam tubuhnya lalu mengulas sebuah senyuman.

"Akan tetapi sayang sekali reiki di puncang gunung sudah terpakai habis." Erick Qin mengerutkan keningnya sambil melihat ke arah sekelilingnya.

Hanya mencapai tahap masa pemulihan tingkat pertama saja sudah menghabiskan seluruh reiki di atas gunung. Bukannya akan menjadi semakin sulit jika dia ingin berlatih kembali?

Menurut ingatannya, ada cara lain selain menyerap reiki langit dan bumi, yaitu dengan meminjam obat dari raja obat yang sudah disimpan bertahun-tahun, seperti ginseng, knotweed china dan sebagainya.

Tetapi ... obat-obat ini sulit didapatkan. Bagaimana mungkin semudah itu jika ingin mendapatkannya?

“Lihatlah nanti untuk kedepannya saja.” Erick Qin mengepalkan tangannya dan melihat ke arah batu besar di sampingnya tanpa sadar.

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengarahkan kepalan tangannya ke arah batu tersebut.

Hanya terdengar sebuah suara ledakan dan batu besar itu langsung berubah menjadi bubuk!

Erick Qin menatap ke arah tangannya dengan terkejut.

Hanya berlatih hingga ke tahap pemulihan tingkat pertama saja sudah memiliki kekuatan sekuat ini, bagaimana jika berhasil hingga tahap inedia? Sulit membayangkannya!

"Hebat." Sebersit tatapan tajam timbul pada mata Erick Qin, "mulai hari ini, tidak ada seorang pun yang dapat menindas aku!"

Setelah selesai mandi di dalam villa, Erick Qin pun berjalan turun dari puncak gunung untuk berkeliling, dia ingin mencari tempat selanjutnya untuk berlatih.

Baru saja meninggalkan Kompleks Longhai, sebuah mobil melaju masuk dan memblokir jalan Erick Qin.

Begitu mobil tersebut berhenti, dapat terlihat ada empat hingga lima orang yang turun dari dalam mobil.

"Erick Qin, aku kira kamu sudah mati. Kelihatannya pelajaran aku yang terakhir kurang keras!"

Pihak yang datang bukanlah orang lain, melainkan kekasih Agnes Lin, Tito Zhao.

Dia membawa empat hingga lima orang yang masing-masing memegang tongkat dan mengelilingi Erick Qin.

"Cecunguk, aku dengar-dengar kamu sudah bercerai dengan Alicia Lin." Tito Zhao berbicara sambil terkekeh.

Erick Qin meliriknya sekilas dengan dingin lalu berkata: "apa hubungannya denganmu?"

Tito Zhao tertawa terbahak-bahak: "mengapa tidak ada hubungannya denganku? Aku adalah kekasih Agnes, kalau begitu Alicia Lin adalah kakak kandungku!"

"Kakakku mengatakan bahwa dia tidak ingin melihatmu lagi, hehe." Tito Zhao berbicara sambil terkekeh.

Ekspresi Erick Qin menggelap, dia menatap Tito Zhao dengan dingin lalu berkata: "Alicia Lin yang menyuruhmu datang?"

"Menurut kamu?" Tito Zhao mengorek hidungnya dan berbicara dengan ekspresi penuh kemenangan.

"Aku beri kamu sebuah kesempatan, jika kamu berlutut dan berjanji bahwa kamu tidak akan datang lagi ke Kompleks Longhai untuk kedepannya, aku akan melepaskanmy. Bagaimana?" Tito Zhao berkata.

Erick Qin melirik sekilas ke arah dia dan dengan dingin berkata: "aku juga memberimu sebuah kesempatan, kamu berlutut, maka aku akan melupakan masalah sebelumnya."


Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

824