Bab 8 Siaran langsung

by Glen Valora 16:41,Sep 04,2020
Sanny segera berdiri dari ranjang, seketika menarik sebuah kain selimut menutupi dirinya dan berjalan kearah pintu, kepala dese menahannya dan bertanya: “Kamu kemana?”
“Aku…… aku hari ini tidak ingin melakukannya.” Kata Sanny.
“Apa!” kepala sang kepala desa hampir meledak, “Celanaku bahkan sudah kulepaskan! Kamu bilang kamu tidak ingin melakukannya?”
“Aku ingin ke toilet.” Sanny kembali berkata.
“Jangan mencari alasan, hari ini kamu tidak ingin melakukannya pun harus melakukannya!” selesai berkata ia memaksakan Sanny dan mendorongnya jatuh diatas kasur, berusaha untuk masuk dengan paksa.
Aku berjongkok didalam bak air, jangan mengungkit seberapa susahnya. Tidak kusangka kepala desa yang berupa sangat lembut dan ramah, ternyata dapat melakukan hal tidak masuk akal seperti ini. Benar-benar mengungkapkan kalimat itu, pagi hari adalah guru, dimalam hari adalah makhluk buas.
Jangan-jangan, aku malam harus melihat siaran langsung dari dalam bak air ini?
Selvi masih bersembunyi dibawah pohon buah.
Sedang berusaha menahan diri, tiba-tiba, sebuah udara tak tertahankan keluar dari pantatnya.
“Blup——”
Dari dalam bak air keluar dua gelembung.
“Suara apa itu?” Kepala desa berhenti sejenak, memiringkan telinganya mendengar.
Aku terkejut, dasar pantat sialan, biasanya tidak keluar, kenapa harus disaat seperti ini keluar!
“Ada suarakah?” Sanny diatas ranjang mendudukan dirinya, melihat kekanan-kiri, “Tidak ada kok.”
Kepala desa perlahan-lahan berjalan kearah bak air.
Jantungku berdegup kencang, lebih gugup dari menjadi seorang pencuri. Alhasil, semakin gugup semakin melakukan kesalahan.
“Blup——”
Lagi-lagi mengeluarkan gas kentut.
“Apa-apaan?” Kepala desa dengan penasaran melihat kedalam bak air.
Aku secara sadar diri juga mengerti tidak bisa lagi menyembunyikan diri, kemudian memunculkan diriku, seketika keluar dan berdiri dari dalam bak air.
“Ah!” Kepala desa berteriak terkejut, kemudian berjalan mundur beberapa langkah, terhenti kemudian terduduk diatas lantai, dengan suara terkejut berkata, “Siapa itu siapa!”
Memanfaatkan kegelapan didalam ruangan, aku dengan cepat melewati bak air dan berlari menuju keluar pintu.
Kepala desa dengan suara keras: “Berhenti!”
Aku tidak memperdulikan kepala desa, terus menuju keluar pintu, siapa yang tahu malah salah satu kakiku menendang pintu kemudian duk blak terjatuh diatas tanah.
Benar-benar kecelakaan tidak dapat terjadi sekali saja! Hatiku berteriak dengan sedih.
Saat aku berusaha untuk berdiri, kepala desa sudah sampai disebelahku, sekali hentakan mencengkeram tanganku.
“Gilang ?” Kepala desa terlihat sangat terkejut, “Kamu bagaimana bisa disini?”
Aku dengan canggung berkata: “Kebetulan lewat, lewat……”
Kepala desa menatapku tajam, dengan dingin berkata: “Kejadian barusan kamu melihatnya semua?”
Aku dengan segera berkata: “Aku tidak melihat apapun.”
“Huh!” Kepala desa melihat kearah Sanny, “Katakan, sebelum aku datang kemari, apa yang kalian lakukan didalam sini?”
Sanny membungkus dirinya dengan selimut kemudian berjalan keluar, dengan santai dan perlahan berkata: “Tidak melakukan apapun.”
“Aku hantu jika percaya padamu!” Kepala desa berbicara dengan serius, “Sanny, jika kamu mau mencari lelaku, aku tidak memiliki hak untuk ikut campur, tetapi kamu jangan mencari Gilang orang seperti ini. Ia adalah satu-satunya suhu acara penyucian didesa kita!”
“Jika kamu tidak percaya ya sudah.” Kata Sanny, “Gilang baru saja sampai ditempatku ini, kemudian kamu langsung datang. Kamu lihat, bajunya bahkan masih terpasang dengan rapi.”
“Kalau begitu kenapa ia berada didalam bak air?” Kepala desa kembali bertanya.
“Sekarang bukankah seluruh desa mencarinya untuk menguburkannya bersama dengan Ahmad ? Takut jika kamu menemukannya, kamu akan menangkapnya, karena itu ia bersembunyi didalam bak air itu.” Kata Sanny.
“Membicarakan tentang hal ini, aku kebetulan ingin membicarakannya denganmu,” Kepala desa membusungkan dadanya, kembali ke rupanya yang berwibawa dan inspiratif seperti biasanya, “Aku ada urusan diluar selama beberapa hari ini, sore hari ini baru kembali. Kemudian baru mendengar perihal Ahmad. Saat aku mendengar mereka berkata ingin Ahmad dan Selvi dikubur bersama-sama, saat itu aku langsung marah, memberikan pengajaran dengan keras kepada beberapa orang desa yang liar itu. Sekarang sudah jaman apa masih melakukan tradisi menemani penguburan? Ini dengan membunuh orang tidak ada bedanya! Karena itu, Gilang ——“
Kepala desa melihat kearahku, dengan wajah tersenyum dan dengan ramahnya berkata, “Kamu tenang saja, kamu dan Selvi tidak akan ada masalah. Aku sebagai kepala desa, pasti akan membela keadilan untuk kalian berdua!”
“Terima kasih terima kasih.” Aku sangat berterima kasih. Melupakan hal yang tadi terjadi diantara kepala desa dan Sanny hingga keadaannya sekarang yang bertelanjang badan, ia didalam hatiku masih adalah seseorang yang pegawai negeri yang baik dan kader masyarakat.
“Kalau begitu…… masalah tadi……”
“Aku tidak melihat apapun, apapun juga tidak tahu.”
Aku berkata sambil ingin segera keluar meninggalkan tempat ini, tetapi ditahan kembali oleh kepala desa.
“Begini, kamu dan Selvi kembalilah terlebih dahulu, masalah malam ini, kamu tidak boleh mengatakannya kepada siapapun. Sekali kamu mengatakan sepatah kata, Gilang, aku harap kamu mengerti, aku bisa membuatmu dan Selvi melakukan tradisi menemani penguburan, juga bisa membuat kalian berdua memikul nama sebagai seorang pembunuh. Kamu mengerti maksudku kan?”
“Mengerti mengerti, aku mengerti.”
Setelah aku berjalan cukup jauh, aku mendengar suara kepala desa yang marah: “Sial, apa-apaan ini? Dasar kamu wanita, kamu sudah bodoh? Ada orang disini juga tidak memberitahukannya kepadaku, jangan-jangan kamu sengaja?”
Saat aku sampai ditempat Selvi, Selvi mengeluh: “Lama sekali? Aku kira kamu sudah meninggalkanku? Lihat, Nyamuk mengigitiku dengan parah, seluruh tubuhku merah-merah.”
“Kita kembali yuk, aku bertemu dengan kepala desa, dia bilang kita tidak perlu melakukan tradisi menemani penguburan itu lagi.” Kataku berjongkok didepan Selvi, memberikan arahan untuknya agar naik keatas punggungku.
Selvi malah berkata: “Aku tidak mau. Harus menunggu Ahmad dikuburkan dahulu baru aku mau kembali.”
Disaat ini, kepala desa menyalakan lampu senternya bersama dengan Sanny meninggalkan kebun buah. Disini nyamuk terlalu benyak, aku memberi saran untuk berteduh semalam dirumah kayu itu, Selvi menyetujuinya.
Setelah masuk kedalam rumah kayu itu, Selvi langsung menjatuhkan diri keatas kasur, dengan wajah ditekuk berkata: “Lelahnya. Laparnya.”
Aku disaat ini juga merasakan perutku yang berteriak kelaparan, menyuruhnya untuk beristirahat sebentar, aku memetik beberapa buah pear.
Saat aku selesai memetic buah dan kembali kedalam rumah kayu itu, aku melihat Selvi sedang mandi didalam bak air itu. Ia melihat aku masuk kedalam, dengan segera menarik tangannya menutupi dibagian depan tubuhnya, sambil berkata: “Kamu kenapa masuk! Tidak melihat aku sedang mandi? Cepat keluar!”
Mataku secara tidak disadari mengarah kedalam bak air itu, sayang sekali cahaya didalam ruangan sangat gelap, tubuh Selvi selain kepalanya seluruhnya tersembunyi didalam air, sama sekali tidak terlihat dengan jelas.
“Air ini sangat kotor. Kakak ipar Sanny sudah menggunakannya untuk mandi, aku juga telah masuk, bahkan membuang gas dua kali didalamnya……”
“Apa!” Selvi seperti tersambar petir langsung berdiri dari dari bak air itu, seketika menjadi sedih, “Kamu tidak bilang lebih awal, pantas saja bau sekali!”
Mataku seketika bercahaya, tubuh Selvi benar-benar sangat indah, meskipun didalam ruangan tidak terlihat jelas, tetapi tubuhnya yang seputih salju itu secara samar-samar terlihat jelas, seperti bertemu bunga didalam mimpi yang bermakna sangat dalam.
“Masih melihat? Tidak segera keluar!” Selvi menarik sebuah handuk dan melemparkannya kearahku.
Aku dengan segera mundur kepintu dan keluar.
Tetapi kembali mendengar suara Selvi berkata-kata, “Aku bukannya sudah mengganti airnya? Kenapa harus berdiri?”
“Huh, Gilang, menyenangkanmu, lagi-lagi memberimu kesempatan untuk melihat tubuh gadisku ini!”
Setelah Selvi mengenakan bajunya aku baru kemudian masuk kedalam.
Setelah memakan buah pear itu, aku benar-benar lelah, ingin naik keatas ranjang untuk tidur, malah ditarik oleh Selvi kebawah ranjang kemudian ia menuju keatas ranjang, membuka kedua kakinya lebar-lebar membuat ranjang yang mulanya kecil itu menjadi terisi penuh.
Aku dengan pasrah membuang nafas, duduk disamping ranjang sepanjang malam.
Hari kedua dipagi harinya, aku kembali kedalam kebun buah untuk memetic beberapa buah untuk makanku dan Selvi. Mulanya aku berencana kembali pagi-pagi, tetapi Selvi bersikeras untuk kembali setelah Ahmad selesai dimakamkan, tidak ada pilihan lain, kita menunggu hingga siang hari, dipikir-pikir seharusnya Ahmad saat ini sudah selesai dikuburkan, kami berdua baru kemudian dengan badan lemah dan lapar berjalan kembali kearah desa.
Baru saja masuk kedalam desa, kami langsung berpapasan dengan beberapa orang. Setelah mencari tahu, Ahmad ternyata benar-benar sudah dikuburkan.
Aku dan Selvi berpisah diperempatan jalan, ia memutuskan untuk kembali kerumah ibunya, sedangkan aku, tentu saja pulang kerumahku sendiri.
Siapa yang tahu ternyata baru saja aku berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara Selvi dari belakang berlari kemari, sambil berlari sambil berkata: “Gilang, cepat lari!”

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

570