Bab 13 Bertindak Serius

by Glen Valora 17:26,Sep 05,2020
Alvia tiba-tiba menopang wajah Selvi, lalu langsung menciumnya.
“Aa !” Selvi jelasnya terbengong kaku, lalu mengeluh kaget dengan gaya kebingungan. Alvia mengambil kesempatan ini untuk menyelinapkan lidah sendiri ke dalam mulut Selvi.
Aku langsung terbengong kaku, apakah diriku yang salah melihat ? Alvia bahkan bertindak serius ? Dia terlalu menggila sekali !
“Saat ini emosional mereka sedang melonjak tinggi, saatnya bertindak. Pergi sekarang dan mengambil keperawanan mereka.” Dewi Danau tiba-tiba berkata.
“Ini…ini bukannya tidak terlalu baik ya ?”
Aku merasa tindakan seperti ini tidak jauh berbeda dengan seorang pemerkosa. Seumur hidupku paling benci dengan pemerkosa, Aku tidak ingin menjadi seorang penjahat di dalam hidupku.
“Kuno !”
Nada bicara Dewi Danau penuh dengan kesan kecewa.
“Wuwu…” Selvi seolah-olahnya ingin mendorong Alvia, namun bagian dada kirinya terus tertindih oleh Alvia, sehingga telapak tangannya terus menepuk kuat.
Selvi sepertinya tidak ada tenaga untuk memberontak lagi, kedua kakinya mengulur dengan lurus, membiarkan Alvia mencium secara paksa terhadap dirinya. Dengan perlahan-lahan, mereka berdua saling merengut ciuman, dua wajah yang cantik juga semakin merona merah, nafasnya juga semakin menyesakkan.
Alvia menangkap satu tangan Selvi dan meletakkan di antara dua pahanya, setelah itu kedua pahanya menjepit dengan erat pada tangan Selvi ….
Selvi mencoba menarik tangan sendiri namun tetap saja tidak berhasil, setelah itu bertanya :”Kamu kenapa pula ----“
Nada pembicaraanya sangat panjang, sehingga kedengarannya sangat merdu.
“Aku mau kamu.” Alvia berkata dengan nada ringan, “Aku ingin memberikan keperawanan aku untukmu.”
“Kamu mesum sekali.” Selvi berkata, “Gilang di kamar sebelah saja, Aku panggil dia ke sini…”
“Aku tidak mau ! Dia hanya sampah tidak berguna dan busuk, mana ada seenak kamu.” Alvia sambil berkata, lalu sambil mencium lagi ke bibir Selvi.
Api amarah di hatiku terus melonjak.
Dasar kau Alvia, beraninya menganggap aku sebagai sampah, merasa aku busuk pula ! Aku tidak akan mengampuni kamu !
Sementara pada saat ini, Alvia bahkan melepaskan celana dalam sendiri, lalu melemparnya ke sisi kasur.
Dengan demikian, kakak sepupuku langsung memaparkan tubuhnya yang telanjang bulat di hadapanku, Aku hampir saja mengalirkan darah mimisan.
Setelah melepaskan celana dalam, Alvia menangkap satu tangan Selvi untuk mengulur ke pertengahan dua pahanya……
Ini jejaknya ingin Selvi yang mengambil keperawanannya ?
Aku terus menjerit kata jangan di dalam hati.
Lepaskan tangan Selvi, biarkan Aku saja !
“Guk !” Pada saat melihat pemandangan indah di antara kedua paha Alvia, Aku tidak bisa bertahan untuk meneguk air ludah sendiri.
“Siapa ?” Alvia mendengar suara menelan air ludah, sehingga menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah jendela.
Aku kaget seketika dan ingin bersembunyi, namun saat ini gorden sedang terikat di dalam kamar, sementara sekarang juga tidak ada tempat luang di luar, Aku sama sekali tidak ada tempat persembunyian, akhirnya hanya bisa menahan rasa segan dan melambaikan tangan kepada Alvia.
“Kak…kakak sepupu, selamat malam.” Aku tersenyum paksa dan menyapa kepada mereka.
“Aaa !” Setelah melihat keberadaanku, Alvia kaget melompat dan bangun dari tubuh Selvi, lalu berteriak :”Dasar sialan, kenapa sembunyi di luar jendela ? Kamu sedang mengintip kami ?”
Wajah Alvia penuh dengan jejak amarah.
Selvi juga menyadari kembali, ketika melihat aku, dia menjerit kaget dan menutupi bagian dada dengan kedua tangannya.
“Gilang ? Kamu…kamu bahkan mengintip kami ! Dasar pria mesum !” Selvi membentak dengan emosi, pada saat yang sama juga menampakkan jejak malu tersipu.
“Kakak sepupu, aku…aku tidak melihat apapun.” Aku ingin menjelaskannya, namun otakku telah kekacauan dan sama sekali tidak bisa menjelaskan apapun.
Alvia mengeluh sinis dan berbisik di telinga Selvi, setelah itu Selvi melirik Aku dan tersenyum sekilas, lalu mengangguk setuju.
Pada saat diriku sedang penasaran dengan isi pembicaraan mereka, Alvia telah mengaitkan jari kepadaku, lalu berkata dengan perlahan-lahan :”Gilang, kamu masuk.”
“Apa ?” Aku mengira bahwa diriku telah salah mendengar, sehingga menatap Alvia dengan penuh kakagetan.
Alvia tersenyum tidak jelas. “Jangan apa lagi, suruh kamu masuk ya masuk saja, tidak dengar ya ?”
Kali ini Aku telah mendengar dengan jelas, dalam hatiku sangat tidak bisa percaya, Alvia bahkan suruh Aku masuk ke kamarnya ? Berdasarkan sikap Selvi dan Alvia, dalam keadaan seperti ini pastinya akan memaki diriku dengan mati-matian, akan tetapi mereka malahan menyuruh Aku masuk ke dalam kamar !
Dengan melihat tatapan dan tubuh mereka yang menggoda, dan juga wajah dan leher yang telah merona merah, Aku menjadi sadar seketika, mereka berdua pastinya dikarenakan terlalu lama saling meraba, sehingga saat ini nafsu tidak terkendali dan tubuhnya telah kehausan, oleh sebab itu menginginkan diriku yang membantu mereka…
Jadi sekarang ingin diriku beraksi satu lawan dua ?
Saat ini Aku merasa kaget dan senang, akhirnya tidak perlu bertindak diam-diam terhadap mereka dengan membawa nama pemerkosa.
Kali ini mereka yang minta sendiri kepadaku.
“Aku masuk sekarang.” Aku menjawabnya, lalu mendorong pintu dan memanjat ke dalam kamar.
Setelah masuk ke dalam kamar, Aku baru menyadari ternyata Selvi dan Alvia telah ulang mengenakan baju tidur mereka, saat ini mereka sedang menatapku dengan wajah yang penuh dengan senyuman.
Aku merasa sedikit bersemangat dan menggosok tangan sendiri, “Itu, sebenarnya…emm, harus bagaimana ?”
Selvi dan Alvia saling bertatapan, lalu menutup mulut dan tertawa sendiri.
“Kamu duduk saja dulu.” Alvia menunjuk kasur dan berkata padaku.
Aku juga duduk di atas kasur dengan hati tanpa ragu.
Alvia memberikan sebuah isyarat mata kepada Selvi,Selvi juga mengangguk padanya.
“Kamu pejamkan mata dulu.” Alvia berkata dengan nada manja, “Aku bisa malu.”
Bagaimanapun mereka adalah seorang wanita, meskipun hatinya sangat menginginkannya, namun pastinya memiliki pertahanan sendiri, makanya mereka ulang mengenakan baju tidurnya lagi.
Aku memejamkan mata dan menanti pelayanan dua nona cantik tersebut.
Tiba-tiba sebuah selimut menutup pada kepalaku.
Aku membuka mataku, pemandangan di depan mataku menjadi gelap gulita.
Dalam hatiku mulai berpikir sendiri, jangan-jangan mereka ingin bermain di bawah selimut ?
Benar-benar gadis yang pemalu, bukannya sudah cukup apabila mematikan lampunya saja ?
Pada saat diriku sedang menebak siapa yang akan maju duluan, tiba-tiba mendengar suara Alvia yang berkata :”Mulai hantam !”
Setelah itu, rasa kesakitan mulai terasa di bagian kepala dan pinggangku.
Aku terbengong seketika, apa yang terjadi ?
Namun setelah itu Aku langsung menyadari kembali, ternyata kedua gadis ini sedang memukul Aku ?
“Hem, dasar pria mesum, berani mengintip kami pula, mati saja kau !”
“Pukul saja sampai muntah darah, tusuk saja matanya !”
……
Selvi dan Alvia terus memaki dan menjerit, lalu memukul dan menendang pada tubuhku.
Pukulan mereka tidak memberikan ampun, sehingga tubuhku juga merasakan kesakitan, namun Aku tidak berani melawan juga, lagi pula saat ini kepalaku sedang tertutupi oleh selimut, sehingga sama sekali tidak bisa melawan.
Awalnya mengira bahwa dapat menikmati tubuh yang indah, namun ternyata malah dipukul oleh mereka !
Sementara pada saat yang sama, Alvia menahan kedua tanganku yang berada di bawah selimut, lalu berkata dengan nada keras :” Selvi, preman sialan ini sudah melihat tubuh kita, kita juga harus melihat tubuhnya, kamu cepat lepaskan celananya !”
“Ini…ini bukannya tidak terlalu baik ya ?” Selvi sedikit tidak berani untuk bertindak.
“Ini tidak bermasalah, cepat lepaskan celananya, lalu memotret dan menyebar fotonya, agar orang desa kita tahu juga kalau ukurannya begitu pendek, setelah itu bisa memberhentikan jabatannya yang sebagai Pencuci, ke depannya kalau aku mau menikah, tidak perlu dirinya lagi yang mengambil keperawananku !” Alvia berkata lagi.
Dalam hatiku menjadi sangat kaget, ternyata Alvia bisa begitu kejam, bahkan ingin mengumumkan foto bugilku dan membuat diriku kehilangan jabatan Pencuci.
Api amarahku meledak seketika, Aku ingin membuka selimutnya dan berdiri, namun saat ini Alvia malah duduk di atas kepalaku, sehingga Aku sama sekali tidak dapat membalikkan badan.
“Oh…baik..baik !” Pada saat ini Selvi telah menyetujui permintaan Alvia dan mulai membuka celanaku.
Kedua kakiku terus memberontak, namun tidak membawa hasil apapun, bahkan celana dalamku juga terlepaskan oleh Selvi.
Aku merasa bersedih hati, Aku pernah memberikan pertolongan kepada Selvi, namun Selvi tetap saja lupa budi dan membantu Alvia untuk mencelakai diriku !
“Cepat ambil ponsel dan foto tubuhnya !” Alvia berkata lagi.
“Oh.” Selvi menjawabnya, sepertinya sedang pergi mengambil ponsel.
Pada saat ini, Aku mendengar suara Dewi Danau yang berkata padaku :”Benar-benar tidak berguna, sudah begitu dihina oleh wanita tetapi malah tidak berani melawan, orang sudah duduk di atas kepalamu, kamu tidak merasa terhina dan malu ya ? Kamu masih seorang pria atau tidak ? Kalau masih pria harus berani menyerang mereka, meniduri mereka saja dengan tanpa ampun !”
Kata-kata Dewi Danau membuatku merasa malu dan terhina, namun kata-kata Dewi Danau memang ada benarnya, Aku tidak boleh membiarkan dua wanita ini terus menginjak harga diriku, Aku harus balik menyerang !
Oleh sebab itu Aku menggunakan seluruh tenagaku, lalu menguatkan kepala dan menjatuhkan tubuh Alvia dari kepalaku.
“Aaa---“Alvia menjerit kaget dan jatuh terbaring di atas kasur.
Aku dengan cepatnya melepaskan selimut yang menutupi kepalaku, bersiap-siap untuk balik menghajar dua wanita tersebut.
Akan tetapi ketika Aku membuka selimutnya, Alvia telah bergerak lincah dan duduk kembali pada tubuhku.
Ternyata Alvia tidak memakai celana dalamnya ! Saat ini Aku melihat celana dalam Alvia yang masih tergeletak di sisi kasur, seharusnya ketika Aku masuk ke dalam kamar, dia hanya sempat mengenakan baju tidurnya saja, dan masih belum sempat mengenakan celana dalamnya lagi.
Rasa yang merasuki tulang membuat diriku bagaikan telah kesetrum listrik, seluruh tubuhku terbengong seketika, dan tidak tahu bagaimana bereaksi melawan lagi.
Pada saat Selvi yang pergi mengambil ponsel melihat reaksi perlawananku yang datang secara tiba-tiba, dia langsung bekerja sama dengan Alvia untuk menahan tubuhku lagi.
Alvia duduk di tubuhku dan mulai memukul sembarangan pada kepalaku.
“Sudah cukup !” Aku membentaknya, “Kalau pukul lagi aku akan balas.”
“Kalau tidak memberi pelajaran padamu, kamu bahkan tidak tahu kehebatan kakak sepupumu !” Alvia melanjutkan serangan kekerasan dirinya, “Mengintip kami pula, dapat keberanian dari mana kau !”
“Dia keterlaluan !” Tangan Selvi juga tidak berdiam santai, saat ini dia sedang menendang sembarangan pada tempat yang tidak diperhatikanku.
“Aku mau emosi !” Dua gadis ini semakin semangat memukulku, tenaganya juga semakin kuat, seluruh tubuhku menjadi kesakitan.
“Kamu mau emosi ? Aku lebih emosi daripada kau !”
“Phak !” Aku merasakan kesakitan yang menebar pada pipiku.
Alvia bahkan berani memukul wajahku !
“Kalian sudah keterlaluan !” Aku berusaha untuk menahan tangan Alvia, namun ketika mengulurkan tanganku, Aku malah menyentuh bagian yang lembut, sehingga menyimpan tanganku dengan refleks.
“Aa, berani meraba aku !” Mata Alvia telah melotot besar, “Dia berani meraba dadaku, Selvi, cepat menekan tangannya !”
“Aku bukan sengaja !” Aku buru-buru menjelaskannya, barusan aku memang tidak berniat.
“Sialan !” Alvia menjerit kuat, “Selvi, cepat tangkap tangannya !”
Selvi buru-buru menghampiri untuk menangkap tanganku, Aku juga melawan secara refleks, namun tanpa sengaja menyentuh pada bagian dadanya lagi.
Pada saat baru tersentuh dada Selvi, Selvi telah menjerit kuat dan buru-buru menghindariku.
“Budak ini memang mau membangkang, berusaha bertindak mesum pula !” Pada saat terasa emosi, Alvia juga melayangkan sebuah tamparan ke wajahku,
Aku tidak ingin menerima siksaan mereka lagi, sehingga bergerak dengan lincah dan menangkap tangan kirinya.
Aku menangkap tangan kanan Alvia dengan cepat, namun tangan kiri Alvia langsung melayang ke wajahku lagi, akhirnya Aku juga langsung menangkap tangannya.
“Sialan, cepat lepaskan tanganku !” Kedua tangan Alvia sama sekali tidak bisa bergerak, sehingga menjadi semakin emosi.
“Aku tidak mau lepas !” Aku tentu saja tidak mungkin melepaskan tangan Alvia dan membiarkan tangan Alvia balik menampar diriku.
Alvia yang terlanjur emosi bahkan mulai memukulku dengan bokong sendiri.
“Phakk ---“
Bokong Alvia yang empuk langsung memukul pada bagian bawah perutku.
Meskipun merasa sedikit kesakitan, namun dikarenakan Alvia yang tidak mengenakan celana dalamnya, sehingga rasa yang merasuki tulang membuat tubuhku bergairah seketika.
“Phakk ---“ Alvia mengulangi aksinya lagi.
Namun pada kali ini, alat kelaminku telah bereaksi dengan tanpa terkendali.
“Phakk ---“
Setelah ditepuk pada ketiga kalinya, alat kelaminku telah berdiri tegap.
Sementara pada saat ini, Alvia masih sedang bersemangat memukulku, sama sekali tidak menyadari kejanggalan pada bagian bawah tubuhku.
“Sialan, berani menyerang dada kami, mati saja kau !” Alvia mulai mengangkat bokong sendiri lagi, lalu memukul kuat ke arah bawah perutku….
“Phakk ---“
Seiring dengan bokong Alvia yang memukul ke arahku, Aku langsung terjerumus di dalam sebuah kelembutan, seluruh bagian kelaminku telah diterkam oleh bokong Alvia …

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

570