Bab 15 Rencana

by Glen Valora 17:26,Sep 05,2020
“Kamu jangan berharap !”
Pada seketika ini, sebuah mobil kecil berkendara ke arah kami, debu bertebaran di sana sini, Aku dan Selvi buru-buru menutup hidung sendiri.
“Kamu mau mati ya !” Selvi memaki ke arah mobil.
Mobil kecil tersebut langsung berhenti. Setelah pintu mobilnya terbuka, ada seorang pria dan wanita yang berjalan turun dari kiri kanan mobil.
Usia pria tersebut sekitar dua puluh tujuh atau delapan, gaya rambutnya rata dan tipis, saat ini sedang mengenakan sebuah kacamata hitam, wajahnya sangat asing.
Wanita tersebut memiliki bentuk tubuh yang tinggi, saat ini sedang mengenakan rok pendek berwarna hijau, pinggangnya sangat kecil, sehingga gaya jalannya juga sangat menggoda. Dia adalah anak perempuan kepala desa yang bernama Sarwendah Tan.
Sarwendah seumuran dengan Selvi, termasuk salah satu di antara tiga bunga desa, namun latar belakang keluarganya sangat baik dan juga telah selesai wisuda, dengarnya saat ini sedang menjadi seorang akuntan di sebuah perusahaan.
Sejak kecilnya sifat Sarwendah sudah sangat sombong, kakek dan ayahnya masing-masing adalah kepala desa, sehingga dia selalu merasa derajat dirinya lebih tinggi daripada orang lain, oleh sebab itu dia selalu memandang rendah orang lain dan suka pamer.
“Aduh, ini bukannya Selvi dan Gilang ya ? Buat apa kalian di sini ?” Sarwendah bertanya dengan sengaja.
“Panen jagung.” Selvi berkata dengan gaya tidak peduli.
“Ini bukannya baru saja menjadi pengantin ya ? Kenapa harus panen jagung pula ? Kamu lihatlah sendiri, kulitmu telah hitam. Kamu benar-benar bernasib buruk sekali, seumur hidupnya menjadi hancur karena Gilang.” Sarwendah sambil berkata dan sambil melirik Aku dengan tatapan menghina.
Aku melotot sekilas pada wajah Sarwendah, sejak kecil gadis ini memang tidak pernah akur denganku. Apabila Aku makan di rumah Sarwendah, Sarwendah bahkan memilih untuk memberikan makanannya kepada anjing daripada memberikannya untukku, dia bahkan mengancam aku harus menggonggong bagaikan anjing, jika aku tidak menuruti permintaannya, dia akan melarang aku ke rumahnya lagi.
Sejak turun dari mobil, mata pria barusan terus melekat pada tubuh Selvi.
“Siapa nona cantik ini ?” Dia membuka kacamata hitamnya, lalu menghampiri tubuh Selvi dan menyumbat kacamata dirinya ke dalam dada Selvi.
Selvi buru-buru menutup kerah baju sendiri dan berjalan ke sisi kiri tubuhku.
“Dia pacarku, ayahnya adalah Komisioner Nagoya.” Sarwendah mulai memperkenalkan.
“Kita lanjut panen jagung saja.” Selvi bagaikan tidak mendengarnya dan langsung berjalan ke kebun jagung.
Pada saat Aku dan Selvi tiba di kebun jagung, Sarwendah dan pacarnya masih berdiri di tepi jalan raya untuk menatap kami.
“Ternyata di desa kalian ada wanita yang begitu cantik ya, bahkan masih perawan lagi.” Pacarnya Sarwendah berkata.
“Ei, Rizki, apa maksudmu ?” Sarwendah jelasnya sudah emosi.
“Haha, benaran tempat yang indah, kelihatannya aku harus banyak bermain ke desa kalian ini.” Rizki Syarifudin mengeluarkan ponsel dan memotret ke arah Selvi, matanya penuh dengan tatapan mesum.
Pada jam enam sore, Rahmat menyuruh Aku pergi ke rumah kepala desa untuk membawa sepeda roda tiga miliknya dan memindahkan semua jagung hasil panen. Sebelumnya Rahmat pernah meminjamkan sepeda roda tiganya kepada kepala desa dan masih belum mengambil kembali.
Pada saat aku tiba di rumah kepala desa, aku melihat sepeda roda tiga Rahmat yang masih diparkir di halaman rumah kepala desa, namun pintunya yang tertutup erat sepertinya tidak terkunci, ketika aku ingin memanggilnya, tiba-tiba terdengar suara aneh yang berasal dari dalam rumah.
“Aa----“ Suara seorang wanita.
Dalam hatiku terbengong sejenak, kata-kata yang akan aku lontarkan semuanya tertelan kembali.
“Kamu jangan meraba lagi, kalau raba lagi aku akan emosi !”
Suara Sarwendah.
“Kamu tidak mengizinkan aku merabamu, juga tidak mengizinkan aku tidur bersamamu, jadi apa bedanya aku tetap lajang atau memiliki pacar sepertimu ?”Rizki berkata dengan emosi.
“Bukannya sudah bilang padamu ya ? Budaya desa kami, wanita tidak boleh ada tindakan seksual sebelum menikah ! Kecuali ada Pencuci yang menyucikan, kalau tidak pengantin prianya akan mati. Jangan-jangan kamu berharap langsung mati di malam pernikahan kita ya ?” Sarwendah berkata.
“Aku tidak percaya budaya tidak masuk akal ini ! Terus ada tradisi Nyuci itu, ini bukannya menyuruhmu memberikan keperawanan kamu ke pria lainnya ya ? Ini benar-benar menipu orang, takhayul !” Rizki berkata.
“Kamu tetap saja harus percaya. Di depan mata kita sudah ada contoh yang nyata. Selvi tidak berhasil Nyuci pada saat sebelum pernikahannya, jadinya pengantin prianya yang bernama Ahmad itu sudah meninggal di malam pertama pernikahan.”
Sarwendah berkata lagi.
“Selvi yang berada di kebun jagung pada pagi tadi itu ? Kejadiannya benaran begitu aneh ya ?” Rizki seolah-olah sudah sedikit memercayainya.
“Benaran, buat apa aku membohongmu ?” Sarwendah langsung menjawabnya.
“Jadi saat ini Selvi masih seorang perawan ?” Rizki bertanya.
“Kamu hari ini bukannya sudah lihat sendiri ya ? Buat apa tanya aku lagi ?” Nada bicara Sarwendah membawa sedikit jejak cemburu.
“Seru juga. Jadi sekarang kalau ada yang meniduri Selvi, orang itu akan mati ?” Rizki bertanya lagi.
“Seharusnya tidak akan.” Sarwendah berkata.
“Begini saja, aku kasih kamu dua pilihan.” Rizki berkata dengan nada semangat, “Antara kamu harus tidur denganku atau membiarkan aku meniduri Selvi.”
“Apa maksudmu ?” Sarwendah berkata dengan nada emosi.
Aku juga sangat emosi setelah mendengar demikian, Rizki yang sialan ini bahkan mau meniduri Selvi !
Rizki berkata lagi :”Kamu juga sudah tahu sendiri, aku sedang berada di usia muda yang penuh kegairahan, dengan kedudukan aku di saat ini, bukannya gampang saja kalau ingin meniduri wanita ? Tetapi sejak berkenalan denganmu, aku sudah membatasi nafsu sendiri. Namun sebenarnya hal ini membuat tubuhku sangat tersiksa, Kalau kamu memang memikirkan perasaanku, maka biarkan aku tidur denganmu. Tetapi kalau tidak mau, aku hanya bisa meniduri wanita lainnya saja. Kalau kamu membantuku meniduri Selvi, kita tiga bulan ke depan langsung menikah, terus aku akan meminta ayahku mengangkat kedudukan ayahmu juga, sampai saat itu ayahmu bukan hanya sekedar sebagai kepala desa saja !”
Keadaan di dalam rumah menjadi hening seketika.
Beberapa saat kemudian, Sarwendah baru berkata lagi :”Aku tidak boleh tidur denganmu. Aku tidak ingin bernasib seperti Selvi, suaminya sudah meninggal di malam pertama, dan lebih tidak ingin menjadi seorang janda. Tetapi kalau kamu ingin meniduri Selvi, aku boleh membantumu, tetapi kamu harus menyetujui tiga permintaanku.”
“Kamu bilang saja, aku pasti setuju.” Rizki berkata dengan tanpa sabar.
“Pertama, tiga bulan kemudian kita harus menikah ; Kedua, kamu harus membantu ayahku naik jabatan ; Ketiga, langsung kasih aku uang dua ratus juta.” Sarwendah mengeluarkan permintaannya.
“Tidak masalah !” Rizki setuju dengan tanpa ragu.
Aku semakin emosi setelah mendengarnya, dan bahkan merasa sedikit sulit menerima. Sarwendah sebagai pacarnya Rizki, namun malah setuju untuk membantu Rizki meniduri wanita lainnya !
Benar-benar pasangan jalang !
“Uang sudah transfer !” Rizki berkata.
“Sudah terima.” Sarwendah berkata, “Selvi sekarang tinggal di rumah Ahmad, tidak begitu gampang kalau kamu mau menidurinya.”
Rizki berkata :”Kamu mengajak dia keluar saja. Asalkan tiba di tempat luar, aku akan ada solusi sendiri.”
“Kalau Selvi tidak mau ? Kalau dia menuntut kamu memerkosa dia ? Kalau ketahuan di saat itu, bisa jadi akan mempengaruhi kedudukan ayahmu.” Sarwendah berkata.
“Kalau yang ini aku ada solusi.” Rizki berkata, “Aku sini ada obat, asalkan kamu menyembur ke tubuhnya, dia akan menuruti segala permintaanku.”
“Obat ? Obat apa ?” Sarwendah bertanya.
“Obat yang membuat wanita menjadi berangan-angan.”Rizki berkata.
“Kamu kenapa bisa ada obat seperti ini ? Kamu, kamu tidak akan menggunakan obat ini padaku kan ?” Sarwendah jelasnya sangat emosi.
“Tenang saja, kalau aku mau menggunakan obat ini padamu, aku sudah pakai sejak dulunya.” Rizki berkata.
“Meskipun demikian, Selvi juga bukan dengan kemauan sendiri. Dia tetap saja akan menuntut kamu.” Sarwendah berkata dengan perhatian.
“Aku boleh menuduhkan semua ini kepada pria tidak berguna itu.” Rizki lanjut berkata.
“Pria tidak berguna ? Maksudmu Gilang ?”
“Iya, bukannya dia tidak sanggup ya ? Dengarnya dia bahkan tidak sanggup meniduri Selvi pada saat sebelum pernikahannya Selvi ya ? Kamu mencari solusi untuk mengambil spermanya, lalu letak di tubuh Selvi.”
“Kamu bahkan menyuruh aku mengambil itunya Gilang ?” Sarwendah menjerit dengan emosi.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

570