Bab 10 Pemikiran lain Alvia

by Glen Valora 16:41,Sep 04,2020
Dengan tidak rela hati Rahmat ingin membuka mulut, tetapi karena percaya dengan kewenangan kepala desa, ia akhirnya menelan kembali kata-kata yang sudah di ujung mulutnya.
Kepala desa kembali melanjutkan: “Sekarang sudah jaman apa? Masih mau menggunakan orang hidup untuk melakukan tradisi penguburan bersama! Ini sama saja dengan pembunuhan.”
“Tetapi Ahmad kami mati begitu saja?” Rahmat dengan tidak rela hati menjawabnya.
Kematian Ahmad memang berhubungan dengan Gilang yang tidak berhasil melaksanakan upacara penyucian untuk Selvi, mereka berdua bisa terhindari dari hukuman mati, tetapi dalam hidup ini juga tidak terhindar dari kesalahan mereka. Menggunakan cara lain untuk menebus kesalahan mereka kepada keluarga kalian!”
Dibawah kebijakan dari kepala desa, kedua orang tua Selvi harus memberikan uang ganti rugi sebesar 800.000.000 kepada keluarga Ramdhan dan juga masih harus tetap tinggal diKeluarga Pota, dengan status sebagai menantu Keluarga Pota melayani kedua mertuanya hingga tua nanti.
Sedangkan aku tetap melanjutkan pekerjaanku sebagai satu-satunya suhu acara penyucian didesa ini, sekaligus untuk semua urusan dirumah Keluarga Pota, jika mereka memanggilku untuk melakukannya, makan aku harus datang tanpa berkeluh-kesah sedikitpun dan melakukannya. Secara singkat, aku menjadi orang suruhan Keluarga Pota.
Hukuman untukku, orang-orang didesa sangat menyetujuinya.
Hanya saja, kakak sepupuku Alvia malah terlihat sangat tidak puas dan berkata: “Gilang pun kali ini tidak akan mati, benar-benar tidak masuk akal.”
Aku sangat emosi.
“Kakak sepupu, kamu begitu berharapnya aku mati?”
“Tentu saja. Aku masih ada 2 bulan lagi akan menikah, aku tidak ingin kamu melakukan upacara penyucian untukku, karena itu berharap kamu mati.” Alvia secara jelas mengatakannya.
Kalimatnya ini, benar-benar membuatku emosi dan juga kecewa.
Akan tetapi, aku tidak mengatakan apapun.
Ayah Mahmud berkata, aku memukul Mahmud hingga luka, hutang ini harus bagaimana dihitung.
Kepala desa berkata, mengantarkan dahulu Mahmud kerumah sakit, kemudian akan membicarakannya lagi setelah mendengar hasil pemeriksaan lukanya dari dokter nanti.
Ayah Mahmud menunjuk-nunjukkan tangannya kepadaku sambil dengan tajam berkata: “Jika ada apa-apa kepada Mahmud, jangan harap kamu akan memiliki hari-hari indah!”
Aku terkejut hingga tidak berani sedikitpun mengeluarkan suara.
“Aku kira kamu adalah seseorang yang berbakat dan memiliki nasib yang bagus, berbeda dengan orang yang lainnya. Tidak kusangka, setelah mewarisi kekuatan dariku, tubuh dan tangan lemah tidak perlu dibahas lagi, bahkan karaktermu pun sebegitu lemahnya! Aku benar-benar meragukan bahwa aku telah salah melihat orang!” Dewi Danau berbicara dengan kecewa disamping telingaku.
Meskipun telah mewarisi kekuatan dari Dewi Danau, tetapi aku yang dulu belum pernah berkelahi, dalam hal ini benar-benar adalah seorang pemula, meskipun mengerti gerak-geriknya tetapi ia tidak dapat menggunakannya, karena itu, saat berkelahi dengan Mahmud, ia cukup dirugikan juga, wajah dan dagunya yang terpukul itu masih menyimpan sedikit rasa sakit.
Sedangkan aku dari kecil adalah seorang yatim piatu, tumbuh besar dibawah makanan dari orang-orang dan menerima perlakuan burukpun tidak berani membuka mulut, dalam keadaan seperti ini membuatku merasa rendah dan malu.
Ini juga yang membuat karakterku menjadi lebih lemah dan pengecut.
“Kamu harus memperbaikinya!” kata Dewi Danau.
“Bagaimana caranya?” Aku kembali bertanya.
“Pertama-tama, kamu harus percaya diri. Sedangkan percaya diri berasal dari keterampilan yang kamu miliki. Kamu harus memiliki sebuah keterampilan. Berdasarkan pengamatanku, didalam desa ini sangat banyak wanita, tidak sedikit anak mudi juga ada disini, selama kamu menggunakan tekhnik tonifikasi dari yin dan yang ku, belajar untuk mengenali wanita dengan indra penciuman, nantinya kamu tidak akan lagi menjadi lemah dan akan menjadi seseorang yang berambisius.” Kata Dewi Danau.
Disaat yang bersamaan, Dewi Danau memberikanku tugas untuk kulaksanakan, yaitu mengambil pesona yin dari Alvia.
Waktunya adalah dalam tiga hari.
“Aku tidak berani.” Aku segera berkata, “Masih ada dua bulan lagi kakak sepupuku akan menikah, saat ini aku baru dengan terang-terangan mengambil pesona yin darinya.”
“Kamu semakin takut dengannya, semakin harus bisa mengambil pesona yin darinya, dengan ini kamu baru bisa semakin percaya diri!” Dewi Danau berkata padanya.
Aku rasa tanpa persetujuan orang lain terlebih dahulu mengambil pesona yin darinya, tidak ada bedanya dengan pemerkosaan, karena itu, aku tidak mau melakukan hal itu.
Tepat disaat ini, Selvi datang mencariku, katanya, keluarga Ramdhan menginginkan ganti rugi 800 juta darinya, 400 juta dari uang pernikahannya tidak perlu dikatakan lagi, masih harus membayar 400 juta lagi, keluarganya benar-benar tidak bisa mengeluarkan uang sebanyak itu, karena itu, 400 juta ini, ia memintaku untuk mengeluarkan.
“Aku mana ada 400 juta!” Aku sangat terkejut.
“Kalau begitu kamu pergi untuk mencarinya!” Selvi sangat bersikeras.
Meskipun aku bekerja keras dengan nyawaku ini, juga tidak mungkin mengumpulkan uang sebanyak itu.
“Huh, jika kamu tidak memberikan 400 juta itu, kamu tunggu saja aku untuk membereskanmu!” selesai berbicara, Selvi langsung pergi meninggalkannya.
Perkataan Selvi ini membuatku benar-benar marah.
“Aku mau mengambil pesona yin nya!” Aku dengan benci mengatakannya.
“Bisa.” Dewi Danau berkata, “Kamu ambil dahulu Selvi, kemudian baru mengambil Alvia.”
“Bagaimana cari mengambilnya? Jangan-jangan memanfaatkan malam dari saat ia tertidur, diam-diam naik keranjangnya?” Aku bertanya.
“Aku memiliki rencana.” Jawab Dewi Danau.
Kemudian, otakku tiba-tiba terpikirkan beberapa pengetahuan dalam bidang kesehatan, obat rerumputan, denyut nadi, pijat tulang…… hanya merasa otakku tiba-tiba membesar dan terasa sakit, aku terkejut dan terjatuh kebawah dari posisi duduk.
Setelah kurang lebih lewat 3-4 menit, rasa sakit bengkak itu perlahan-lahan menghilang, otakku serasa terisi cukup banyak hal baru, bahkan bernafaspun aku merasakan tenang dan jauh lebih stabil.
Mengikuti saran dari Dewi Danau, aku bisa melihat penyakit untuk orang dan memberikan obat, dengan ini bisa menghasilkan uang.
“Tetapi, orang-orang didesa semua mengetahui bahwa aku tidak memiliki pengetahuan apapun dalam hal pengobatan, tiba-tiba berkata bahwa aku bisa melihat penyakit, siapapun juga tidak akan mempercayainya.” Aku dengan depresi berkata padanya.
“Jika bahkan hal ini saja kamu tidak dapat menyelesaikannya, maka aku hanya bisa menyerah atasmu.”
Dewi Danau setelah selesai mengatakan kalimat ini, tidak lagi mengeluarkan suara.
Aku teringat akan ayah kepala desa, kepala desa tua yang menderita rhinitis, sudah 5 tahun, pergi melihat banyak sekali dokter tetapi tetap tidak dapat menyembuhkannya. Diotakku tiba-tiba muncul sebuah resep obat, pengobatan khusus untuk rhinitis. Akan tetapi, aku perlu naik gunung untuk mencari bahan obat-obatan itu.
Setelah selesai memetic obat-obatan itu, aku sedang berencana untuk turun dari gunung, tiba-tiba melihat Selvi dan Alvia duduk diatas sebuah batu berwarna kehijauan di kaki gunung, disampingnya ada beberapa sapi.
Alvia mengulurkan tangannya masuk kedalam pelukan Selvi, dengan terkejut berkata: “Wah, Selvi, dadamu besar sekali!”
“Kamu mesum sekali.” Selvi mendorong tangan Alvia.
Aku awalnya tidak sengaja melihat sandiwara mereka, tetapi, secara tidak sengaja mendengar Alvia menyebutkan namaku.
“Selvi, Gilang benar-benar tidak bisa melakukannya?”
Langkah kakiku dengan segera terhenti.
“Kamu bertanya ini untuk apa?” Selvi terlihat seperti tidak ingin membicarakan hal ini.
“Aku bulan depan akan menikah, sedangkan Gilang adalah satu-satunya suhu upacara penyucian. Jujur, aku sedikitpun tidak ingin melakukannya dengannya.” Kata Alvia.
“Tidak ada cara lain, waktu itu aku bukankah juga tidak ingin melakukannya dengannya? Tetapi semua wanita harus melalui hal ini.” Selvi terdengar tak berdaya dalam suaranya.
“Jika Gilang tidak bisa melakukan hal itu, maka ia tidak perlu menjadi suhu upacara penyucian. Kamu katakan dengan jujur, dia sebenarnya melakukannya atau tidak denganmu? Kamu masih perawan kah?” Alvia kembali bertanya.
“Ia ingin melakukannya, tetapi ia tidak masuk.” Kata Selvi.
“Ahmad telah mati, kamu menjadi janda, kehidupanmu setelah ini harus bagaimana?” Alvia bertanya dengan simpati.
“Aku juga tidak tahu. Haish! Semua salah Gilang !” Selvi dengan emosi mengatakannya.
“Oh benar Selvi, wanita pertama kalinya bukankah sangat sakit? Aku tiba-tiba terpikirkan suatu cara, jika kita bukanlah perawan lagi, maka tidak perlu Gilang untuk melakukan upacara penyuciannya kan?” Alvia bertanya.
“Kamu…… kamu ingin memecahkannya? Tidak boleh. Berdasarkan tradisi didesa kita, wanita sebelum menikah harus adalah seorang perawan.” Selvi segera berkata padanya.
“Aku dengar, wanita selama tidak bersentuhan dengan pria, maka ia adalah perawan. Maksudku adalah, jika aku sendiri yang melakukannya, maka tidak perlu mengandalkan Gilang dan aku juga tidak merasakan kesakitan yang sangat juga.”
“Kalau begitu kamu berencana bagaimana melakukannya?” Selvi bertanya.
“Aku juga tidak tahu. Kalau tidak kamu saja yang membantuku.” Alvia seketika menggenggam tangan Selvi, “Paling tidak kamu sudah memiliki sedikit pengalaman.”
“Ini… ini tidak baik deh. Aku adalah seorang wanita, aku bagaimana membantumu,” Selvi sangat kebingungan.
“Wanita juga bisa. Kalau begitu begini saja ya. Malam nanti aku akan pergi kerumahmu.” Alvia memutuskan dan mengatakannya kepadanya.
Dalam hatiku kebencian itu benar-benar, Alvia demi tidak memberikan keperawanannya kepadaku, ternyata meminta Selvi untuk memecahkan keperawanannya untuknya!
“Kamu harus menghentikan mereka.” Suara Dewi Danau masuk kedalam telingaku.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

570