Bab 9 Seperti Orang Gila

by Glen Valora 16:41,Sep 04,2020
Aku membalik kepala untuk melihat, Selvi dengan rupa terkejut berlari kearah kemari, dibelakangnya Mahmud dan beberapa preman-preman yang biasa berkumpul bersamanya mengikuti dari belakang.
“Sialan, berhenti! Aku sudah menunggu kalian seharian penuh!” Mahmud berteriak dengan emosi.
Kesadaranku seketika juga ingin membalik badan dan berlari, tetapi, Selvi didepan mata hampir tertangkap oleh Mahmud dan orang-orangnya, aku tidak bisa meninggalkannya tidak membantunya.
Menunggu hingga Selvi berlari hingga didepannya, aku sambil berlari mengambil beberapa batu dipinggir jalan dan menghalangi ditengah jalan, berhadapan dengan Mahmud dan orang-orangnya, berkata kepada Selvi : “Kamu cepat pergi, aku akan menghalangi mereka.”
“Kamu juga larilah.” Selvi dengan gelisah berkata.
“Tidak perlu. Kamu cepat pergi!”
Aku tahu, dengan kecepatan Selvi, pasti tidak dapat melarikan diri. Hanya dengan aku menghalangi Mahmud dan orang-orangnya, baru bisa memberikan waktu lebih banyak untuk Selvi melarikan diri.
Tidak kusangka Selvi juga tidak lari, ia juga memungut batu-batu dari tanah.
“Sialan, kamu akhirnya menunjukkan diri juga.” Mahmud akhirnya berhenti juga, menunjuk-nunjuk kearahku sambil marah, “Jika aku tidak membunuhmu hari ini maka kamu tidak akan bermarga Ramdhan lagi!”
Dalam hati aku sangat ketakutan, tetapi tetap memberanikan diri menebalkan kepalku sambil berkata: “Jika kamu berani maka majulah menghadapiku, lepaskan Selvi.”
“Hahaha, lepaskan dia? Mimpi! Hari ini kalian berdua siapa-pun jangan berharap bisa lari!”
“Baiklah kalau begitu, paling tidak jika ikan mati, jala pun akan rusak!” Aku mengangkat batu ditanganku.
Perkataanku seperti itu, tetapi dalam hatiku jantungku berlonjak cepat tidak henti.
“Hanya beberapa semut saja, apa yang perlu ditakutkan? Hanya perlu satu jurus saja sudah bisa membuat mereka hancur lebur seperti abu yang terbang musnah.” Ditelinga tiba-tiba terdengar jernih kalimat ini.
Aku seketika tercengung, jurus? Abu yang musnah?
“Maju!” Mahmud mengangkat tangannya dan mengebaskannya, “Patahkan kaki Gilang, tangkap Selvi !”
Beberapa preman itu dengan tatapan sadis maju kearahku dan Selvi. Aku menatap beberapa orang yang berada dipaling depan itu, dengan kera melemparkan batu itu kearah mereka.
“Ah!” Orang itu berteriak kesakitan, langsung terjatuh diatas tanah, tangannya menutupi kepalanya dan bergulung-gulung diatas tanah.
Orang yang lainnya tidak tercengang, satu persatu maju kearahku menyerang. Aku maju siap untuk menghadapi mereka, menabrak salah satu dari mereka kemudian mendorong orang itu mundur hingga 5-6 meter kebelakang, kurang sedikit menabrak tubuh Mahmud.
Orang yang lainnya berusaha untuk menangkapku, aku menghindar ke kanan dan ke kiri, seperti ikan yang masuk kedalam air, tidak membiarkan mereka untuk menyentuhku sedikitpun, malahan beberapa orang ini berputar-putar hingga pusing, kakiku menyandung mereka dan mereka semua terjatuh diatas tanah, berteriak-teriak ah ah.
“Sialan, dasar sampah!” Mahmud berteriak-teriak dengan marah menyerang kearahku, kepalan tangannya mengarah kearah kepalaku dan menghantam.
Hanya terasa rasa sakit dikepala, hampir saja terjatuh diatas tanah.
Mahmud sebagai preman nomor 1 didesa, benar-benar bukanlah panggilan yang sekedar kata-kata saja, tubuh dan tangannya tentu saja sinkron dengan panggilannya. Kemarin kutendang dengan kakiku hingga terbang, hanya dia satu-satunya yang menganggap remeh diriku maka dari itu mendapat kerugian seperti itu.
Setelah memukulku sekali, Mahmud melanjutkan pukulannya tanpa berhenti kearahku.
Aku memiringkan sedikit kepalaku, pukulan Mahmud meleset, aku memukulkan sebuah bata kearah bahunya, tubuh Mahmud berhenti seketika, kemudian mundur 3-4 langkah kebelakang. Aku tidak memberikannya kesempatan untuk menarik nafas dan langsung menyerbu kerahnya, mengarah kearah bahunya kembali meluncurkan sebuah pukulan, tidak disangka, Mahmud melayangkan sebuah pukulan kearah daguku, tubuhku berlimbung kebelakang, batu bata yang ada ditangankupun terjatuh diatas tanah.
“Ah——“ Mahmud seperti seekor anjing gila menyerang kearahku, melayangkan pukulan kearah wajahku.
Aku benar-benar dibuat pusing dengan pukulannya yang terakhir itu, hanya terasa daguku seperti lepas, kepalaku terdengar suara wung wung. Dilanjutkan dengan rasa sakit dari wajahku, kembali menerima pukulan dari Mahmud. Dalam kesadaranku yang selanjutnya aku menerbangkan sebuah tamparan keras kearah depan.
“Plak!”
Suara nyaring terdengar jelas.
Kemudian, tubuh Mahmud terlempar dalam udara, terjatuh dengan keras diatas tanah.
Aku menerjang kembali kearahnya, memberikan tendangan-tendangan menggila kearahnya.
“Memukulku! Memukulku!”
Mahmud beberapa kali berusaha untuk bangkit berdiri, tetapi sekali demi sekali menerima tendangan-tendangan dariku hingga terjatuh kembali. Ia memeluk kaki kananku, aku mengangkat kakiku dan menendangnya membuatnya terbang terjatuh, tanpa menunggunya berdiri, kembali menyiraminya dengan tendangan-tendangan membabi-buta.
Orang yang lain satu-persatu bangkit berdiri, melihat pemandangan seperti, semuanya terkejut dan ketakutan tidak berani maju kearah kemari.
“Orang ini sudah gila!”
“Ia benar-benar adalah orang gila!”
……
Tendangan demi tendangan meluncur dari kakiku keatas tubuhnya, hingga akhirny Selvi berlari kearahku, menarikku sambil berkata: “Kamu jangan menendangnya lagi, menendangnya lagi bisa-bisa dia akan mati.”
Aku meluruskan konsentrasiku melihat, Mahmud sudah tergeletak diatas tanah seperti seekor babi mati yang tidak bergerak sedikitpun.
Didalam hati aku terkejut deg, tidak mungkin benar-benar menendangnya hingga mati kan?
Preman-preman yang mengikuti Mahmud itu melihati dari samping, tiap-tiap dari wajah mereka menunjukkan ketakutan, melihat aku yang melihat kearah mereka, langsung bersama-sama mundur 2 langkah kebelakang.
Disekitarnya ada tidak sedikit penduduk desa yang sedang melihat.
Saat ini, kepala desa dengan beberapa orang keluarga Ramdhan berlari kearah kemari, dengan suara keras berteriak: “Apa yang terjadi? Kenapa berkelahi?”
“Apa yang terjadi kepada Mahmud ?” Ayah Mahmud berlari kearah kemari, dengan segera memapah Mahmud berdiri, hanya melihat Mahmud dengan hidung memar dan wajah membengkak, ujung mulutnya mengeluarkan sedikit bekas darah.
“Kamu yang memukulnya?” Ayah Mahmud menatapku dengan emosi, membenciku hingga seakan-akan ingin mengulitiku hidup-hidup dan menelanku.
“Aku……” Aku seketika tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.
Salah satu premannya berkata: “Dia yang memukul kakak Mahmud. Memberikan beratur-ratusan tendangan kerah kakak Mahmud, seperti orang gila!”
“Menendang mati Mahmud, Sembilan nyawamu pun tidak akan cukup untuk menebusnya!”
Ayah Mahmud meledak seperti sebuah petir yang menyambar.
“Mereka yang mulai memukul orang terlebih dahulu!” Selvi dengan suara keras berkata, “Kami baru saja kembali, mereka langsung mau memukuliku. Mahmud masih ingin memperkosaku juga, Gilang demi menyelamatkanku baru berkelahi dengan Mahmud !”
“Apa katamu?”
Wajah ayah Mahmud seketika menggelap.
“Kataku, Mahmud berusaha untuk memperkosaku!” Selvi sekali lagi dengan penuh penekanan mengucapkan kalimatnya.
Ayah Mahmud meloto kearah Selvi, “Mahmud berusaha untuk memperkosamu? Kamu tidak punya malu?”
“Kamu——, kamu yang tidak punya malu!” mata bulat Selvi melotot kearahnya.
“Kamu sudah membuat Ahmad mati, sekarang kamu berusaha untuk membuat Mahmud ku mati juga?”
Ayah Mahmud dengan marah berkata, “Kamu adalah bencana!”
“Kamu——” Selvi emosi hingga kata-kata tidak dapat keluar dari mulutnya.
“Dan juga kamu——” Ayah Mahmud menunjuk kearahku, “Aku lihat kamu dan Selvi bekerjasama untuk mencelakai Ahmad. Dasar kalian berdua bencana, kalian harus menemani Ahmad dikuburkan bersama!”
Orang ini benar-benar tidak masuk akal, memang benar anak tidak jauh berbeda dengan ayahnya.
Aku kemudian langsung melihat kearah kepala desa.
Kepala desa berjalan kearah kemari, mengulurkan tangannya didepan ayah Mahmud, dengan wajah serius berkata: “Nak, jangan berkata seperti itu. Disaat tidak ada bukti apapun, kamu tidak boleh merusak kepolosan anak muda. Ada kebenaran dibalik sebuah masalah, kita memeriksa dengan jelas kemudian baru membicarakannya kembali. Kamu lihat, sekarang segera mendekati waktu untuk makan, kita pergi kerumah Ahmad dulu, ada perkataan apapun mari kita bicarakan disana. Kamu tenang saja, aku sebagai kepala desa, pasti akan menyelidiki dengan jelas kasus ini.”
Ayah Mahmud dengan tajam melotot kearahku dan Selvi, “Bagaimana dengan Mahmud ?”
“Antarkan dia kerumah sakit dulu saja.”
Kepala desa tidak lagi menganggap ayah Mahmud, berkata kepadaku dan Selvi : “Kalian berdua ikut denganku.”
Baru saja sampai dirumah Ahmad, ayah dan ibu Ahmad langsung berlari kerah kami, melihat posisinya itu seolah-olah ingin memakanku dan Selvi hidup-hidup. Kepala desa menahan mereka, membujuk dan berkata: “Jangan gegabah, jangan gegabah, ada masalah kita bicarakan baik-baik.”
“Apa lagi yang perlu dibicarakan?” Rahmat membuka mulutnya, “Ahmad sudah dikuburkan, mereka kembali untuk apa! Mereka harus dikuburkan bersama-sama dengan Ahmad !”
“Kenapa, kamu tidak menaruh aku sebagai kepala desa ini lagi dimatamu? “ Wajah kepala desa seketika menjadi serius.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

570