Bab 14 Salah Paham

by Glen Valora 17:26,Sep 05,2020
Rasa terbungkus ini memang nikmat sekali, sehingga tubuhku gemetar sejenak.
Tubuh Alvia sepertinya juga gemetar sejenak, setelah itu langsung terbengong kaku.
……
Selvi yang berada di samping melihat Aku dan Alvia yang telah kaku terbengong dan tidak bergerak sama sekali, sehingga bertanya dengan nada kaget :”Kalian berdua kenapa tidak bergerak lagi ?”
“Aa ---“ Alvia menyadari kembali dan menjerit dengan kuat, setelah itu bagaikan telah terduduk jarum dan langsung bangun dari tubuhku.
“Pok !” Terdengar sejenis suara membuka tutup botol anggur.
“Sakit sekali, aku sakit sekali !” Alvia memegang bokong sendiri dan terus melompat di atas kasur.
“Alvia, kamu kenapa ?” Selvi bertanya dengan nada kaget.
“Budak sialan itu beraninya !” Alvia berkata dengan malu dan emosi.
“……” Selvi juga terbengong dalam seketika.
Aku tidak kepikiran bahwa ternyata tempat kehadiran diriku pada barusan bukan di depannya Alvia, malahan di belakangnya Alvia.
Alvia yang sangat emosi langsung menyerbu ke arahku, dia terus meninju pada wajahku, sambil meninju sambil berkata :”Mati saja kau, mati saja kau !”
Kecelakaan barusan semua dikarenakan ulah Alvia sendiri, Alvia yang terus memukulku dan memicu kecelakaan ini, mana boleh menyalahkan diriku pula ?
Aku yang sangat emosi langsung memeluk pinggang Alvia, setelah berguling sejenak, Aku langsung menindih Alvia pada bawah tubuhku.
“Pergi !” Wajah Alvia kemerahan karena emosi dan ingin mendorong tubuhku.
Namun saat ini tubuhnya masih tertindih oleh tubuhku, mana mungkin bisa bergerak dengan semudah itu ? Aku terus menangkap kedua tangan Alvia, membuat Alvia tidak dapat memukulku lagi, bagian bawah tubuhku terus menindih pada bagian perut Alvia, sehingga Alvia juga tidak dapat bergerak.
“Selvi, cepat tarik tubuhnya !” Alvia menjerit kuat dengan nada emosi dan panik.
Selvi buru-buru menarik tubuhku, namun setelah berupaya sejenak, Aku tetap saja tidak bergerak, malahan semakin menindih dengan kuat pada tubuh Alvia.
“Pukul kepalanya !” Alvia menjerit lagi.
Alhasil Selvi mengambil sebuah bantal dan ingin memukul ke arah kepalaku.
Demi mencegah usulan menyebalkan yang dilontarkan oleh Alvia, akhirnya Aku langsung mencium pada bibir Alvia untuk membungkamnya.
“Wu ---“ Alvia memejamkan matanya secara refleks.
Benar-benar manis sekali ! Ciuman yang sangat indah !
Ini adalah ciuman pertama antara diriku dan Alvia, namun ternyata malah terjadi di keadaan seperti ini.
Alvia terus memberontak, kedua kakinya terus menendang ke tubuhku, akhirnya Aku malah memindahkan tubuhnya sendiri dan menyandar di antara kedua paha Alvia.
Seluruh aliran darah di tubuhku langsung mengalir dengan cepat.
Aku diam-diam mempererat tenaga sendiri dan terus menekan pada pertengahan kedua paha Alvia.
“Aaa….” Alvia mendesah secara tiba-tiba, kedua pipinya telah merona merah dan indah bagaikan bunga.
“Pong Pong Pong !”
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang sangat kuat.
Aku terbengong seketika, suara ketukan pintu ini berasal dari pintu kamar Selvi dan Alvia.
Selvi dan Alvia jelasnya juga terkejut dengan suara tersebut, mereka berdua menghentikan pergerakannya, setelah itu kami bertiga saling bertatapan selama dua detik, waktu seolah-olah juga berhenti seketika.
Selvi bertanya dengan wajah kemerahan dan suara gemetaran :”Siapa ya ?”
“Kalian berdua jangan keterlaluan, Ahmad baru saja meninggal dunia, kalian berdua sudah langsung heboh bermain, ingin membuat kami mati emosi ya ?”Di luar pintu terdengar suara Rahmat yang penuh dengan nada tidak senang.
Selvi dan Alvia saling mengulur lidah, setelah itu Selvi berkata :”Kami sudah mengerti. Tidak bising lagi. Sudah mau tidur.”
Alvia melotot kepada Alvia dan berkata dengan nada seram :”Cepat lepaskan aku.”
Aku melepaskan tubuh Alvia dengan penuh tidak tega. Selvi dan Alvia turun dari kasur dan merapikan rambut sendiri yang berantakan.
“Masih tidak mau pulang ?” Alvia terus melotot padaku.
Aku menjadi segan dan malu, sehingga tidak berani terus menetap di dalam kamar mereka lagi, akhirnya hanya bisa memanjat dari jendela dan kembali ke kamarku sendiri.
Setelah itu Aku mandi dan mengganti celana dalam, rasanya menjadi lebih segar.
Aku berbaring di atas kasur dan bolak balik berpikir, keadaan barusan memang menghebohkan sekali, saat ini adegan indah dan mesra pada barusan terus terbayang di dalam otak pemikiranku.
“Gilang benar-benar sialan sekali !” Alvia berkata lagi, “Dia bahkan….di hadapanmu !”
“Heihei, bukannya kamu sedang kehausan ya ? Sekarang sudah terwujud kan.” Selvi berkata dengan nada mengejek.
“Dasar, niat aku adalah kamu yang mengambil keperawanan aku, bukan dia, mengerti ?” Alvia berkata dengan nada emosi, “Sekarang aku sama sekali tidak berselera lagi.”
“Jangan-jangan karena kamu bilang dia tidak berguna, makanya dia bertindak padamu ya ?” Selvi bertanya.
“Siapa juga yang tahu.” Kata-kata Alvia penuh dengan nada mengeluh.
“Bisa jadi kan ?” Selvi bertanya dengan nada penasaran, “Kalau begitu tubuhmu ada terjadi reaksi ? Sakit ?”
“Dia tidak masuk juga, mana mungkin bisa sakit ? Hanya saja ada sedikit rasa aneh.” Alvia berkata dengan nada amarah lagi, “Bajingan ini, beraninya dia, memang mesum sekali !”
Aku tidak ingin mendengar lagi, bisa jadi tubuhnya akan kembali bereaksi setelah mendengar percakapan dua gadis ini, api kegairahan ini takutnya tidak akan mudah mereda.
Pada keesokan harinya, ketika matahari baru saja terbit, Aku sudah dibangunkan oleh Rahmat, setelah itu Rahmat mendesak kami untuk pergi memanen jagung.
Alvia masih berbaring di atas kasur dan belum bangun, Aku dan Selvi masing-masing memilih beberapa keranjang berkulit ular dan berjalan ke kebun jagung Keluarga Pota dengan gaya tidak senang.
“Semua salah kamu, jadinya aku harus memanen jagung di pagi buta ini !” Selvi sambil berjalan sambil mengeluh, kadang kalanya meraba pinggul sendiri, langkah jalannya juga tidak terlalu stabil.
“Kamu kenapa ?” Aku bertanya.
“Luka gigitan ular, sekarang masih sakit lagi.” Selvi mengerut alisnya yang cantik.
Aku melirik ke arah pinggulnya, mengapa Selvi tidak mengeluh kesakitan saat bermain bersama Alvia di semalam ?
“Oh ya, semalam kenapa mengintip kami ?” Selvi bertanya dengan gaya emosi.
“Bukannya kamu yang terlalu bergilaan dengan kakak sepupuku ya ? Aku hanya ingin melihat apa kondisinya, siapa tahu kalian berdua malah…”
“Hmm !” Selvi melototku, lalu mempercepat langkahnya dan meninggalkan diriku yang masih berjalan di belakang.
Setelah tiba di kebun jagung, kami mengangkat keranjang dan memanen jagung. Selvi baru saja bekerja sebentar, sudah langsung melempar keranjang di tangan dan ingin buang air kecil.
Setelah bekerja beberapa saat, Aku menyadari bahwa Selvi masih belum kembali juga, sehingga merasa penasaran dan pergi mencarinya, namun ternyata wanita sialan ini bahkan ketiduran di atas kebun jagung.
Bagian bawah Selvi sedang mengenakan celana santai, atasannya adalah kemeja yang berwarna putih, saat ini dia sedang tidur menyamping, apabila melirik sekilas, bagian dadanya menampakkan kulitnya yang putih mulus, bagaikan dua kelinci yang akan melompat keluar. Kemeja bajunya sedikit ditarik ke atas dan menampakkan perutnya yang rata, bahkan dapat melihat sedikit jejak celana dalamnya yang berwarna merah muda.
Justru adegan setengah tertutup ini yang paling menarik perhatian pria.
Saat ini waktunya masih terlalu pagi, sehingga orang desa juga masih belum bangun, apabila aku dan Selvi membuatnya di sini, tidak akan ada yang mengetahuinya.
Aku menelan air ludah sendiri, lalu berjalan perlahan-lahan ke arah Selvi.
Namun ketika Aku baru tiba di hadapan Selvi, Selvi sudah membuka matanya sendiri.
“Kenapa bermalas-malasan di sini ?” Aku terbengong sejenak dan bertanya.
“Apanya yang bermalas-malasan ? Aku masih belum sadar total, tidak boleh ya ?” Selvi berkata dengan nada manja, setelah itu memejamkan mata dan lanjut tertidur.
Melihat gaya bicaranya yang lumayan terkesan imut, Aku membatalkan niat busukku pada barusan, lalu lanjut memanen jagung.
Aku terus bekerja hingga jam sembilan pagi, setelah matahari bergantung tinggi di atas langit, Rahmat baru mengantar sarapan untuk kami.
Setelah selesai sarapan, Rahmat menyuruh kami terus bekerja di bawah terik matahari yang membakar ini.
“Benar-benar tidak berperikemanusiaan !” Selvi melotot bayangan punggung Rahmat dan terus memaki.
Dikarenakan tidak sanggup menahan terik matahari yang membakar ini, Aku dan Selvi duduk di bawah sebuah pohon besar di tepi jalan untuk istirahat sejenak.
Saat ini wajah Selvi telah merah membakar, bagian kerah bajunya sedikit terbuka, dia memetik sehelai daun pohon untuk mengipas dirinya sendiri, setelah itu sambil mengeluh panjang lebar.
“Padahal waktu seperti ini aku boleh menikmati AC di rumah, tetapi dikarenakan kamu, makanya aku harus bekerja di sini dan menjemur matahari yang panas ini.”
“Tidak boleh salahkan aku juga, kalau kamu membiarkan aku melakukan yang kedua kalinya, pasti tidak akan terjadi keadaan seperti itu lagi.” Setelah banyak mendengar keluhan dari Selvi, hatiku juga merasa emosi.
“Kedua kalinya pula, kamu memang manusia tidak berguna, membiarkan kamu membuat sepuluh kali juga sama saja tidak bisa !” Selvi melototku.
“Kalau begitu kita coba saja ?” Aku melirik ke arah dada Selvi, kulit yang putih mulus tersebut sepertinya juga kemerahan karena cuaca panas.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

570