Bab 11 Reaksi Wajah

by Glen Valora 16:41,Sep 04,2020
Aku memisahkan obat yang yang aku dapat menjadi dua porsi, salah satunya diantar ke rumah kepala desa tua.
Setelah keluar dari rumah kepala desa tua, waktu sudah jam lima sore.
Aku bertemu dengan ayahnya Ahmad, dia memesan aku agar besok dapat memanen jagung di rumahnya, lalu menyuruh aku makan malam di rumahnya pada hari ini.
Pada saat aku tiba di rumah Keluarga Pota, aku melihat Selvi dan Alvia yang juga berada di sana.
Setelah melihat kedatanganku, reaksi wajah Selvi dan Alvia menjadi sedikit aneh.
Orang tua Ahmad bersikap datar terhadap kami semua, akan tetapi, agar kami dapat terus bekerja dengan suka rela untuk Keluarga Pota, orang tua Ahmad tetap saja menyiapkan hidangan makan malam untuk kami semua, akan tetapi yang dihidangkan adalah sisa makanan dalam upacara pemakaman Ahmad.
“Meskipun kepala desa telah membela kalian, bukan berarti aku sudah memaafkan kalian. Kalau kepikiran dengan Ahmad, aku bahkan ingin membunuh kalian semua ! Rumah kami ada lima hektar kebun jagung, besok kalian berdua panen semuanya !” Rahmat selesai berkata, bahkan tidak makan dan sudah langsung meninggalkan tempat.
“Hm, bahkan memperlakukan kita bagaikan kerbau.” Selvi berkata dengan nada tidak terima.
“Iya, Selvi, kamu seorang anak gadis mana mungkin bisa memanen jagung, besok suruh Gilang yang panen sendiri saja.” Alvia berkata.
Saat ini hatiku merasa tidak senang, lima hektar kebun jagung, aku yang panen sendiri ?
Demi memanen jagung di waktu yang lebih pagi lagi, Rahmat meminta aku menginap di rumahnya.
Selvi mengatakan bahwa dirinya merasa sedikit takut pada saat tidur, sehingga meminta Alvia pergi menemaninya.
Setelah selesai makan malam dan istirahat sejenak, aku langsung pergi mandi. Sementara kamar mandiku berada di samping kamar Selvi dan Alvia.
Sejak mewarisi ilmu dari Dewi Danau, pendengaran aku menjadi semakin tajam. Dikarenakan demikian, aku dapat mendengar pergerakan di kamar sebelah dengan jelas
Pada saat ini, aku mendengar percakapan antara Selvi dan Alvia.
“Selvi, paman Pota menganggapmu seperti musuh, takutnya kamu tidak bisa berhidup tenang di rumah ini lagi. Bagaimana kalau aku mengenalkan seorang pacar baru untukmu lagi ?” Alvia berkata.
“Ini tidak boleh, kepala desa sudah bilang, aku mesti menanti kedua mertuaku menutup usia baru bisa meninggalkan rumah ini.” Selvi menjawabnya.
“Aturan hanya perintah mati, manusia kan orang yang hidup. Kamu masih muda saja sudah menjadi janda, betapa kasihannya. Pacarku ada seorang adik, orangnya juga tampan, atau kalian berdua ---“
“Tidak, tidak, Ahmad baru saja meninggal dunia, aku sudah langsung mencari pacar baru, kalau sempat ketahuan sama orang lain, aku bukannya harus dikritik oleh mereka.” Selvi berkata.
“Benar juga.” Alvia berkata.
“Jangan bahas aku lagi, bahas tentang kamu saja, bagaimana pacarmu ? Baik padamu ya ?” Selvi bertanya.
“Masih mending, rumahnya membuka sebuah kedai kecil, dia yang menjual pupuk ke desa kita. Lumayan baik padaku, Cuma selalu ingin tidur bersamaku.” Alvia berkata.
Dalam hatiku sedikit kaget, ternyata pacarnya Alvia memiliki pemikiran seperti ini, siapa yang cepat siapa yang dapat, kemungkinan besar keperawanan Alvia akan diambil oleh pacarnya !
“Kamu sudah setuju ?” Selvi bertanya.
“Tentu saja tidak, bukannya peraturan desa kita harus mempertahankan keperawanan sebelum menikah ya.” Alvia berkata.
Setelah mendengar jawaban ini, hatiku terasa lega.
Untung saja Alvia dapat mempertahankan prinsipnya.
“Sudahlah, jangan bahas lagi, aku mau mandi dulu.” Selvi berkata.
“Aku mau mandi bersamamu.” Alvia tiba-tiba melontarkan kalimat ini, aku yang sedang mencuri dengar di kamar sampingnya bahkan telah berangan-angan.
“Baik, ayolah, siapa yang takut.” Selvi sepertinya tidak ingin kalah.
“Baik, kita mandi bersama.” Alvia jelasnya sangat semangat.
Aku yang mendengar hingga demikian baru mengetahui kalau ternyata Selvi dan Alvia adalah sahabat yang begitu dekat, bahkan sudah bisa mandi bersama.
Kamar mandi mereka kebetulan berada di samping kamar mandiku, saat ini aku sedang menahan nafas, sehingga dapat mendengar isi percakapan mereka dengan semakin jelas.
“Wah, Selvi, sejak kapan kamu jadi begitu montok, jangan-jangan sudah pernah diraba sama lelaki ya ?” Alvia berkata dengan nada sangat kaget.
“Kamu yang pernah diraba lelaki, punyamu juga sangat besar. Jangan-jangan pacarmu sering meraba ya.” Selvi balik bertanya.
“Mana ada, aku seorang wanita yang sangat menuruti tradisi, dia jangan berharap kalau ingin meraba sebelum menikah, hm. Ini karena pertumbuhan aku sendiri ya baik, hihi.” Alvia lumayan membanggakan diri.
“Sombong pula !” Selvi berkata.
“Heihei, Selvi, bentuk tubuhmu menggoda sekali. Kamu memberikan keperawananmu ke Gilang itu, benar-benar mubazir sekali.” Alvia berkata.
Aku yang mendengar di kamar sebelum bahkan ingin melompat ke samping dan langsung menampar Alvia.
“Jangan bilang begitu, keperawanan aku masih ada.” Selvi berkata.
“Benaran atau tidak, sini, aku periksa dulu.”
“Aa !” Selvi menjerit kaget, “Kamu jahat sekali, jangan meraba sana.”
“Yoyoyo, menggoda sekali…” Alvia tertawa senang.
“Kamu mesum sekali…”
Meskipun aku tidak dapat melihat pergerakan mereka, namun hanya mendengar isi percakapan ini, dalam otak pemikiranku telah membayangkan adegan Selvi dan Alvia yang telah telanjang bulat.
“Sudahlah, kita mulai mandi saja dulu. Atau, aku yang memandikan kamu saja ?” Alvia berkata.
“Boleh juga, kamu memandikan aku, nanti aku yang memandikan kamu.”
Di dalam otakku langsung terbayang adegan Selvi dan Alvia yang saling menggosok badan di dalam kamar mandi, sehingga dalam hatiku juga penuh dengan kegairahan.
Apabila Aku juga ikut serta, ada dua orang wanita yang melayani Aku, bukannya sangat menyenangkan sekali ?
Tanpa disadari, tubuhku bahkan terjadi reaksi yang sangat kuat, aku buru-buru menyiram dengan air dingin.
Setelah keheningan sejenak yang terjadi antara Selvi dan Alvia.
“Menyebalkan, jangan meraba sana.” Selvi tiba-iba menjerit kaget.
“Hihi, nyaman sekali. Gilang pernah meraba tubuhmu yang sini ? Menurutku bahkan di dalam mimpi dia juga berharap bisa meraba sini.” Alvia tertawa senang dan berkata.
“Hm, kenapa mengungkit dia lagi ? Kamu berani meraba aku pula, aku juga mau meraba kamu.” Selvi berkata.
“Aduh, cepat lepaskan, gatal sekali.” Alvia berkata dengan nada nyaring.
“Hihi, aku bantu pacarmu yang raba, mungkin dia juga bermimpi bisa meraba tubuhmu yang bagian ini.” Selvi berkata lagi.
“Em, nyaman sekali, kuat sedikit.” Alvia bahkan sudah mulai mendesah.
Seluruh tubuhku bahkan telah berkerumun oleh api kegairahan, benar-benar menghebohkan sekali, dua wanita ini bahkan saling meraba di dalam kamar mandi.
“Menyebalkan, jangan pura-pura lagi, kalau kedengaran sama Gilang, mungkin akan mengira kalau kita berdua adalah lesbian.” Selvi berkata.
“Efek kedap suaranya begitu bagus, kamu kira telinganya panjang seperti apa, mana mungkin bisa kedengaran ? Budak bodoh itu, bisa jadi sudah berbaring di atas kasur dan tertidur pulas bagaikan seekor babi.” Alvia berkata.
Aku sangat emosi, ternyata di dalam pandangan Alvia Sulistia, aku memang begitu tidak berguna ya ?
Aku bahkan ingin melompat ke sana dan menindih di atas tubuhnya, lalu membuat Alvia jatuh di bawah kehebatanku.
“Alvia, jangan meraba lagi, aku sudah tidak tahan.” Selvi buru-buru mendesaknya.
“Haha, kalau tidak tahan suruh Gilang yang membantumu saja.” Alvia berkata dengan penuh kesenangan.
“Baik, kamu yang bilang sendiri ya, nanti suruh dia kemari dan sekalian mengurusmu.”Selvi berkata.
“Uwek, aku tidak mau. Sudahlah, tidak raba lagi, kalau sudah tiba di kasur, kamu lihat saja nanti !” Alvia berkata.
Aku merasa seluruh api kegairahan tubuhku mulai membara dan sangat menyengsarakan. Oleh sebab itu aku buru-buru menyiramkan air dingin pada tubuhku sendiri, setelah tujuh delapan menit kemudian, aku baru bisa menenangkan diriku.
Setelah keluar dari kamar mandi, tiba-tiba terdengar suara Dewi Danau yang muncul di samping telingaku.
“Dua gadis itu sudah selesai mandi. Malam ini sudah ada kesempatan yang baik, mereka berdua masih perawan, kalau kamu bisa mendapatkan dua gadis itu dalam sekaligus, akan sangat membantumu dalam melatih Pelet Perawan !”

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

570