Bab 3 Ladang Gunung

by Glen Valora 16:16,Feb 01,2021
Sebenarnya dia juga sedang berpikir bagaimana mengeluarkan mentimunnya, tapi memikirkan hal yang memalukan itu, dia menolaknya.
Melihat Ocha bertekad tidak membutuhkan bantuannya, Gavin hanya bisa menyerah.
Setelah keluar dari rumah Ocha , Gavin ingin mandi di sungai, memadamkan api kecil di dalam hatinya.
Begitu tiba di tepi sungai, Gavin melihat Afril Limbo, menantu rumah sebelah yang cantik berjongkok di sana, sedang mencuci pakaian di dalam baskom.
Celana setipis kain kasa sama sekali tidak bisa menutupi bokongnya yang besar, mereka bilang wanita yang memiliki bokong besar mudah mendapatkan anak, tapi Afril telah menikah selama dua tahunan, dan perutnya belum ada kabar apapun.
"Kak Fril, Bang Pigai memintamu keluar mencuci pakaian di cuaca panas seperti ini, benar-benar tidak terlalu menyayangimu."
Awalnya Afril ingin datang mencuci pakaian sambil mandi, tapi tanpa terduga Gavin akan datang ke tepi sungai di cuaca panas ini.
Tapi dia terkejut ketika melihat lubang di celana Gavin .
"Hei…... Aku hanya mencuci beberapa pakaian dan akan segera kembali, apa yang kamu lakukan di tepi sungai di hari panas seperti ini?"
"Hehe, kakak ipar, aku datang karena mencium aroma dari jarak jauh, kebetulan melihat kakak ipar memancarkan aroma yang membuatku mabuk, tadinya menyangka bisa bertemu seorang gadis, tapi ternyata sudah menjadi milik orang lain."
Selesai berkata, Gavin terlihat kasihan, kemudian langsung melompat ke dalam air.
Mendengar pujian Gavin , Afril melirik Gavin , tapi hatinya sangat senang.
"Hehehe..... mulutmu cukup manis, baru usia berapa dirimu, apakah barangmu sudah bisa dIgun akan? Berani sekali keluar mencari gadis."
Mendengar kata-kata Afril , Gavin langsung merasa tidak senang, seorang pria galak tiba-tiba muncul di depan Afril , dan sesuatu keluar dari lubang celana robek itu.
"Kakak ipar, lihatlah sudah begitu besar, menurutmu bisakah dIgun akan?"
Awalnya, Afril hanya ingin mengejek Gavin , tapi sekarang setelah melihat barang aslinya, tindakan mencuci pakaian menjadi lambat.
"Gavin , bagaimana kamu tumbuh sebesar ini? Ini lebih besar belasan kali lipat dari kakakmu, bisa saja membunuh seorang wanita."
Mendengar kata-kata pujian Afril , Gavin sangat bangga.
Melihat tatapan Afril yang genit, dia segera mengerti apa yang dipikirkan pihak lain.
"Hei, kakak ipar, kalau kamu suka, mari kita buat janji untuk selingkuh."
"Kamu yang mengatakannya, tapi jangan beritahu kakakmu."
Afril juga merasa senang, dia menikah dengan Pigai Lius selama dua tahun, tapi tidak berbeda dengan seorang janda. Orang luar tahu dia tidak dapat melahirkan anak, tapi mereka tidak tahu alasan utamanya adalah Pigai.
Setiap hari menghadapi pria tiga detik seperti Pigai, Afril menjadi kesal, dia tentu tidak akan menolak Gavin .
"Jangan khawatir, aku tidak bodoh, bagaimana mungkin beritahu Bang Pigai...."
Sebelum selesai berbicara, Gavin melihat sosok seseorang muncul dari kejauhan, dia segera terjun ke dalam air, dan berenang ke kejauhan.
Dan saat ini, Pigai juga berjalan ke arah sini.
"Afril , pulanglah bersamaku, kontrak tanah keluarga kita telah habis masa berlakunya, kepala desa telah datang untuk mengambil uangnya, kamu yang bertanggung jawab atas keuangan keluarga kita, aku tidak tahu di mana kamu menyimpannya."
Afril baru saja menyangka ada hal-hal baik yang akan terjadi, malah dihancurkan Pigai, dia segera menjadi marah.
"Tidak bisakah kamu menunggu di rumah? Bukankah semua uang ada di lemari?"
"Aku tidak punya kunci…..." Suara Pigai semakin kecil.
Melihat Afril mengikuti Pigai pergi, Gavin menghela nafas lega.
Dia hanya bercanda, tapi tak terduga Afril akan menganggapnya serius, untungnya Pigai kebetulan datang, kalau tidak, sulit baginya untuk menyingkirkan wanita ini.
Ketika kembali ke rumah, Gavin melihat ayahnya Sakho Hosna dan kepala desa Giyo Hosna sedang duduk merokok di rumah, tapi ayahnya terlihat sedih, dan ibunya juga mendesah.
"Paman Hosna, ada apa? Mengapa ayah dan ibuku terlihat sedih."
Giyo melirik Gavin dengan senyuman masam, dan berkata, "Kontrak tanah seluas sepuluh hektar telah habis masa berlakunya, aku datang memberihu ayahmu, kalau ingin terus menyewa, harus membayar 60 juta, ayahmu ingin terus menyewa tanah, tapi tidak punya uang."
Banyak tanah di desa harus diperpanjang kontraknya setiap sepuluh tahun sekali, Gavin tiba-tiba teringat kolam teratai yang ditinggalkan dan ladang pegunungan yang tumbuh subur di desa.
Orang-orang di desa tentu menginginkan tanah subur, dan pasti banyak persaingan sengit, tapi kolam teratai dan ladang pegunungan yang ditinggalkan mungkin tidak diinginkan oleh siapa pun.
"Paman Hosna, apakah Ladang Gunung dan kolam teratai juga termasuk dalam lingkup kontrak ini?"
Mendengar apa yang dikatakan Gavin, Giyo menatap Gavin dengan terkejut dan berkata: "Ya, tapi siapa yang mau beberapa tempat itu? Kalau kamu mau, 20 juta per sepuluh tahun, aku berikan keduanya padamu."
"Hehe, Paman Hosna, selain mengatakan kita sama-sama bermarga Hosna, bagaimana juga kita adalah sekeluarga, tempat yang tidak diinginkan siapapun, kamu menghitungnya 20 juta, bukankah terlalu membullyku?" Dan aku baru saja turun tangan, meskipun aku mau, juga harus disetujui ayahku, bisakah kamu menghitungnya lebih murah?"
Giyo tidak menyangka mulut Gavin begitu hebat.
“Hehe, aku sudah menghitung cukup murah untukmu. Kolam teratai itu 30 hektar, dan Ladang Gunung sebesar 100 hektar, totalnya 130 hektar, 20 juta per sepuluh tahun, pertahunnya hanya 2 juta, kamu hanya perlu menangkap sedikit binatang liar sudah cukup untuk membayar uang kontrak."
"Paman Hosna, apa yang kamu katakan benar, kalau hanya menangkap binatang liar, uang itu hanya cukup untuk membayar biaya kontrak, lalu bagaimana aku bisa menyimpan uang untuk menikahi seorang istri? Paman Hosna, bisakah kamu memperjuangkannya, dan menghitungnya lebih murah?"
Setelah mendengar, Giyo sedikit bingung.
"Kamu si bocah kecil benar-benar menginginkan Ladang Gunung dan kolam teratai? Kalau benar-benar mau, aku memberimu harga 16 juta selama sepuluh tahun. Tidak bisa kurang lagi, kalau tidak aku sulit untuk memberitahu atasan."
"Ya, Paman Hosna, kita tidak dapat terusin kontrak tanah yang sekarang, tapi bagaimanapun juga, tetap harus memiliki sumber mata pencaharian, kami mengambil Ladang Gunung dan kolam teratai dulu, dan setidaknya tidak akan rugi."
Sakho merasa lega melihat putranya berbicara di sana, dan pada saat yang sama dia juga merasa putranya benar.
"Pak Hosna, bisakah kata-kata anakmu dipercaya?Kalau kamu setuju dengan anakmu, kita harus membuat pernyataan tertulis, kalau tidak, setelah aku kembali dan melaporkannya akan menjadi repot."
"Ya, apa yang dikatakan Gavin memang masuk akal, jadi lakukan saja apa yang dikatakan anak itu."
Kemudian Giyo mengeluarkan kertas dan pena, dan segel resmi desa membuat sebuah pernyataan, setelah semuanya selesai, Giyo menepuk bahu Gavin dan berkata: "Bocah ini memiliki keberanian, kalau ketemu kesulitan di masa depan, silakan datang mencariku, yang bisa kubantu, Paman Hosna pasti akan melakukannya untukmu, tapi jangan begitu terbuka, tidak baik dilihat gadis-gadis kecil di desa."
Setelah mengatakan ini, Giyo melirik celana Gavin dan pergi.
Melihat lubang di celananya, Gavin tersenyum segan, tapi meskipun begitu, dia tetap mengantar Giyo ke luar pintu.
Setelah Giyo pergi, Sakho memanggil Gavin ke dalam rumah, dia tidak mengerti putranya sendiri.
"Gavin , katakan padaku mengapa kamu mengontrak tempat yang bahkan tidak didatangi burung-burung."
“Hehe, ayah, kamu telah mendukungku, berarti kamu juga punya ide sendiri, kan? Bagaimana kalau kamu membicarakan pikiranmu dulu?”

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

91