Bab 15 Pegang Terong

by Glen Valora 16:18,Feb 01,2021
Ocha selesai berbicara dengan cepat memikul jamur pinusnya dan pulang ke rumah, tidak berani menolehkan kepala di sepanjang perjalannya, saat duduk di halaman rumah dia malah teringat akan milik Gavin yang besar dan gagah, dan hal baik yang dilihatnya hari ini, namun sekali teringat dengan status dirinya sendiri, Ocha hanya dapat menghela nafas.

Gavin mengembala domba sambil bersenandung, kejadian hari ini benar-benar membuatnya terkejut dan tidak menyangka.

Walaupun tidak menyelesaikan secara tuntas hal itu bersama kakak ipar, namun setidaknya kakak ipar sudah bersedia untuk bersama dengannya, apalagi terakhir kakak ipar juga sudah melepaskannya, baginya ini adalah sebuah kebahagian yang datang secara tiba-tiba, bahkan dapat membuatnya bangun kegirangan dari tidur lelapnya.

Sesampainya di rumah Gavin melihat Sakho berjongkok di depan pintu sambil menghisap rokok, dan sang ibu Hidun langsung menjewer telinganya menariknya masuk ke dalam rumah.

"Bocah tengik, katakan sejujurnya padaku hari ini, apa yang kamu lakukan pada Ocha ?“

”Sakit sakit sakit, ibu, apa yang aku lakukan, mengapa kamu sama seperti ayahku tidak mempercayaiku."

Mendengar ucapan Gavin , Hidun makin menjewernya dengan keras.

"Dasar bocah, kapan kamu pernah berkata jujur, ayahmupun mendengar suaranya, masih juga tidak mengaku? seorang pria sejati harus berani mengakui apa yang telah diperbuat, kamu sungguh membuat aku dan ayahmu kecewa."

Walaupun telinga Gavin terasa sangat sakit karena jeweran sang ibu, namun tiba-tiba merasa senang di dalam hati, karena ada maksud tertentu di dalam ucapan sang ibu.

"Ibu, ibu, pelan sedikit, aku sungguh tidak berbuat apa-apa, jika memang aku melakukannya aku pasti akan bertanggung jawab, apa aku orang yang begitu tidak dapat dipercaya?"

"Heh, katakan sejujurnya hari ini, apa kamu melecehkannya?"

Saat Hidun berkata, Sakho menutup pintu masuk ke dalam rumah sambil menghisap rokok.

"Ibu, aku sungguh tidak melakukannya, paling banyak juga hanya mencium bibirnya saja."

Saat mengatakan hal ini Gavin sedikit mengecilkan volume suaranya, karena teringat yang sebenarnya ia cium bukan hanya bibir saja.

Melihat raut wajah Gavin, Sakho dan Hidun hanya dapat menghela nafas.

Anak laki-laki semata wayang, bagaimana jika memang sampai memutuskan hubungan keluarga dengan mereka? siapa yang tidak tahu kalau darah lebih kental dari air? tapi sebenarnya mereka menolak Ocha dari dalam hati, karena anak pertama mereka meninggal karena dirinya, hanya tidak menyangka anak bungsunya juga menyukainya.

"Baiklah, katakan sesungguhnya pada ibu hari ini, apa yang sebenarnya kamu perbuat padanya, jika memang telah melakukan hal yang merugikannya, keluarga kita bukanlah orang yang tidak bertanggung jawab."

"Ibu, jika aku memang telah melakukan hal itu padanya, apa kamu dan ayah akan benar-benar memutuskan hubungan denganku?"

Gavin baru melontarkan ucapan, Hidun kembali menjewer keras telingannya, sambil berkata: "Dasar bocah tengik, sudah ku duga kamu melecehkannya, telinga ayah dan ibumu ini tidak tuli, bagaimana mungkin salah dengar?"

Hidun makin kesal, menjewernya semakin keras lagi, membuat Gavin merintih kesakitan.

Sakho menghela nafas dalam, berkata: "Sudah, lepaskan dia, anak kita hanya dia seorang, sudah saatnya membicarakan beberapa hal dengannya."

"Gavin , ayah dan ibumu tahu dengan anak ini Ocha , dia adalah seorang gadis yang baik, bukan pembawa sial, dan bukan penyebab kematian suaminya."

Gavin membuka mata dan mulutnya dengan lebar dibuat terkejut melihat Sakho bertanya dengan heran: "Ayah, kalau kamu tahu mengapa masih berkata seperti itu pada ibuku?"

"Kamu tahu mengapa aku menyebut dirinya seperti itu? kalau bukan karenamu siapa lagi? saat kakakmu masih hidup kamu setiap hari selalu mencari kakak dan kakak iparmu, dulu saat hanya ada kakakmu aku tidak pernah melihat dirimu serajin itu, aku dan ibumu serta kakakmu tahu apa maksud hatimu, kami selalu mengira kamu hanya menyukainya sesaat saja, tidak disangka kamu malah benar-benar jatuh hati."

"Kakakmu meninggal karena sebuah kecelakaan, meninggalkan seorang kakak ipar yang begitu cantik, seluruh gerak-gerikmu selalu aku dan ibumu perhatikan, tapi apa perempuan cantik ini boleh kamu sentuh? apa kamu tahu arti dari siluman rubah? sosok yang akan menginginkan nyawamu, Ocha walaupun bukan seekor siluman rubah tapi juga kurang lebih sama, di desa kita ada lima sampai enam laki-laki yang mendambakannya, aku dan ibumu menjulukinya sebagai pembawa sial dan penyebab kematian suaminya itu semua agar kamu menyerah, tidak menyangka kamu masih saja tetap melangkah di jalan ini."

"Aihh, jika kamu memang sudah melakukan hal yang merugikannya maka nikahilah dia, tapi sebelum kamu menikahinya kamu sendiri harus bisa menjadi lebih baik lagi, kalau tidak dia cepat atau lambat akan menjadi istri orang lain."

Selesai mengatakan hal ini, Sakho menarik nafas dalam mengangkat tong air pergi ke beberapa sisa sawah miliknya, Sakho sebelumnya memang sangat emosi, walaupun dia sekarang juga masih merasa kesal, namun untuk anaknya sendiri, walaupun harus malu juga tidak masalah, siapa suruh dia memiliki anak seperti ini.

Hidun melihat Sakho yang sudah membicarakan semua dengan jelas, tidak lagi berkata-kata, langsung mengambilkan nasi untuk Gavin , lalu menyusul Sakho pergi ke sawah.

Gavin dibuat tercengang di dalam ruangan dengan ucapan Sakho barusan, dia tentu saja tahu maksud perkataan ayahnya sendiri, intinya mengatakan bahwa Ocha terlalu cantik jika dia tidak memiliki kemampuan dan kelebihan pasti tidak dapat mempertahankannya.

Namun dia bukanlah orang yang selalu tidak memiliki kemampuan, setelah menyantap makanannya Gavin memutuskan untuk menjual jamur pinusnya lalu mulai untuk membuat rencana kedepan.

Memikul satu keranjang penuh jamur pinus di belakangnya berjalan ke rumah sebelah milik Afril .

Gavin awalnya ingin mengetuk pintu, namun menyadari walaupun pintu itu terkait, namun seperti sengaja tidak dikunci rapat, yang terpenting adalah dia masih bisa mengintip tubuh mulus putih bak salju dari sela-sela pintu, lekukan tubuh itu tentu saja, adalah Afril .

Dua gundukan putih bak salju itu kini bermain di dalam tangannya, menutup kedua matanya.

Gavin tidak menyangka ternyata pagi hari seperti ini Afril melakukan hal semacam ini di rumah, tiba-tiba dia melihat Afril mengeluarkan sebuah terong besar dan panjang dari dalam air.

Raut wajah Afril saat memegang terong itu, membuat Gavin berpikir bagaimana jika Afril berada di bawah tubuhnya dan menjamahi bagian bawah miliknya.

Afril melihat terong di tangannya, mendesah perlahan.

Semalam Pigai sudah berusaha semalaman, pada akhirnya masih saja tidak berguna, hanya bisa menggunakan mulutnya, namun itu sama saja seperti menggaruk bagian gatal dari luar pakaian, sama sekali tidak memuaskan, melihat terong di tangan membuatnya seketika teringat dengan si kuat dan besar milik Gavin .

Awalnya dia mengira hanya dia sendiri yang mengetahui milik Gavin begitu besar, namun tidak disangka demi Ocha , Gavin rela memperlihatkan miliknya yang besar dan perkasa itu di depan orang banyak, sekarang sembilan dari sepuluh wanita di pinggir jalan pasti sedang membicarakan bagian bawah Gavin .

Menjulurkan lidah menjilat dengan perlahan terong di tangannya, hati Afril makin merasa tidak puas.

Dan saat ini Gavin yang berada di luar pintu kebetulan melihat Afril yang begitu menggoda, pemandangan ini membuat milik Gavin menjadi besar sama seperti terong yang berada di tangan Afril sekarang.

Melihat Afril berdiri dan lanjut menggunakan terong tersebut untuk memuaskan diri, Gavin tidak dapat menahan lagi.

Tok tok tok......

"Kakak ipar, apa ada di rumah?"

Selesai berkata demikian, Gavin masih mengintip Afril dari sela-sela pintu.

Tubuh Afril sudah memanas akibat terong yang sedang dHidunakannya, tiba-tiba mendengar suara Gavin , membuatnya terkejut bukan kepalang, langsung terpikir milik Gavin yang besar itu dan menganggapnya sebagai sebuah takdir.

"Iya, iya, tunggu sebentar."

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

127