Bab 9 Kelembutan Payudara

by Glen Valora 16:17,Feb 01,2021
Gavin tidak menyangka bahwa Afril akan begitu berani, tapi Gavin malah sangat suka dengan keberanian seperti ini.
Api yang awalnya sudah dibangkitkan oleh pihak lain, Gavin juga tidak diam-diam menikmatinya lagi, sebaliknya berinisiatif untuk menyerang, sepasang tangan langsung memegang pinggang Afril yang ramping.
“Uhm.”
Sebenarnya hati Afril sudah didorong oleh barang milik Gavin itu seperti cakar kucing, sekarang gerakan Gavin yang mendadak membuat seluruh tubuh Afril melembut.
Meski tangan Gavin masuk melalui baju kaus, tapi area lembut itu malah dipisahkan dengan lapisan pelindung yang ukurannya tebal, bagaimana mungkin Gavin bisa tahan lagi, Gavin meningkatkan kekuatannya dan juga ingin mencari celah.
Tubuh Afril awalnya sudah menjadi lembut, bagaimana mungkin bisa menahan rangsangan dari Gavin yang seperti ini.
Segera terdengar suara yang jelas dari lubang hidung Afril , pada saat yang bersamaan, kecepatan dan kekuatan di tangan Afril seketika turun drastis.
“Hmm.”
Suara yang jelas itu membuat seluruh tubuh Gavin gemetar, ini adalah pertama kalinya Gavin mendengar suara indah yang bisa sebanding dengan Ocha .
“Hati-hati…”
Peng…
Gavin dan Afril hanya peduli dengan kenyamanan, sebaliknya malah melupakan situasi mereka saat ini, begitu Afril bertindak santai, pijakan kaki motor yang kecil langsung menghantam batu di tepi jalan, untungnya kekuatan Gavin cukup kuat, Gavin langsung menahan motor dengan kedua kaki, pada saat yang bersamaan, Gavin juga memegang Afril yang hampir terjatuh.
Afril menepuk dadanya, melihat ada parit dalam yang tidak jauh dari batu di tepi jalan, hati Afril masih sedikit berdebar ketakutan.
Gavin juga ketakutan, jika terjadi sesuatu karena masalah tadi, itu benar-benar mengalami kerugian lebih besar daripada keuntungan.
“Kakak ipar, apakah kamu baik-baik saja?”
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa, Gavin , lebih baik kita cepat melakukan hal yang penting saja, kedepannya jika ingin bermain-main dengan kakak ipar, kamu bisa membuat janji dengan kakak ipar terlebih dahulu, untungnya kamu cukup kuat, kalau tidak, hari ini, kakak ipar benar-benar akan mati di sini.
Setelah mengatakan perkataan ini, Afril langsung menarik napas dalam dan bersiap untuk melaju ke kota.
Setelah melihat badan Afril yang sedikit gemetar, Gavin tahu bahwa Afril mungkin sudah ketakutan dengan masalah tadi.
Gavin segera turun dari motor dan berjalan ke depan, kemudian berkata: “Kakak ipar, aku yang mengemudi saja, kamu beristirahat di belakang.”
“Kamu bisa kah?”
“Bisa, saat aku masih sekolah, aku pernah mengemudi motor 125cc milik teman, ini lebih mudah dari motor itu.”
Setelah mendengar Gavin mengatakannya seperti itu, hati Afril merasa lebih tenang, dan langsung turun dari motor dan membiarkan Gavin yang mengemudi.
Kali ini, keduanya malah cukup berperilaku baik, dengan cepat Gavin membawa Afril tiba di Koperasi Kredit Pedesaan, setelah membantu Afril memarkirkan motor dengan baik, Gavin langsung berjalan menuju pasar grosir ikan goreng dan udang goreng.
Afril melihat Gavin begitu perhatian, hati Afril tanpa sadar merasakan kehangatan.
“Gavin , kamu cepat menyelesaikan kesibukanmu, kakak ipar akan menunggumu di sini.”
Setelah mengatakan perkataan ini, Afril tanpa sadar teringat adegan dia dengan Gavin di motor, wajahnya tanpa sadar menjadi panas, berbalik badan dan berlari ke arah Koperasi Kredit Pedesaan dengan menginjak sepatu tinggi yang berwarna merah.
Setelah melihat wajah Afril yang memerah, Gavin merasakan perasaan seperti menemukan dunia baru, Gavin tidak menyangka bahwa wanita yang biasanya begitu terbuka akan mempunyai penampilan seperti ini, Gavin tanpa sadar tersenyum nakal dan berteriak, “Kakak ipar, tunggu aku, aku akan segera kambali.”
Setelah mendengar teriakan Gavin , Afril tiba-tiba merasa gelisah, pada saat yang bersamaan, sudut bibir juga mengeluarkan sedikit senyuman yang menyentuh.
Di sepanjang jalan, Gavin terus mengenang sentuhan Afril yang lembut itu, hati tanpa sadar menantikannya.
Pasar grosir ikan goreng Iwak Seger adalah pasar grosir ikan goreng yang terbesar di Distrik Banyuwangi, di pasar ini, Gavin malah melihat berbagai macam udang karang, ini membuat Gavin tampak sangat senang, Gavin bertanya di beberapa tempat, pada akhirnya, Gavin menemukan sebuah tempat jualan yang paling murah, membeli sepuluh kilogram bibit hanya menghabiskan uang sebanyak 120.000.
Begitu melihat bibit udang kerang yang segar dan hidup, Gavin sedikit tidak sabar ingin pulang untuk mencoba memeliharanya.
Setelah berjalan sampai ujung pasar grosir Iwak Seger, Gavin tiba-tiba melihat sebuah papan reklame pembelian tiket Hasil Alam Liar di depan pintu ((Restoran NOGO)) yang paling terkenal di kota.
Harga Jamur Pinus Liar yang tercantum di atas adalah 60.000 per gram, harga Belut Kuning Liar tinggi dengan sangat masuk akal.
Gavin diam-diam mencatat nomor telepon di papan reklame, Gavin sudah memikirkan bagaimana mendapat untung dari pot emas pertama.
Saat tiba di Koperasi Kredit Pedesaan dengan mengambil sepuluh kilogram bibit udang kerang. Gavin melihat Afril baru saja berjalan keluar.
“Kakak ipar, apakah semuanya berjalan dengan lancar?”
Saat melihat Gavin , wajah Afril juga tampak senang, Afril berkata sambil tersenyum, “Uhm, berjalan dengan lancar, apakah kamu sudah selesai?”
“Uhm, sudah selesai, ayo kita pulang, aku akan membawamu.”
Setelah mendengar perkataan Gavin ini, Afril tahu bahwa Gavin takut hal seperti itu akan terjadi lagi, jadi Afril segera mengangguk dan menyetujuinya.
Dalam perjalanan pulang, Gavin merasakan kelembutan dari dua payudara di belakang punggungnya, Gavin tanpa sadar sedikit tak terkendali, tapi Gavin malah berusaha untuk menahannya, bagaimanapun juga Gavin sudah pernah ditegur sebelumnya.
“Kakak ipar, berapa banyak uang yang kamu pinjam?”
Afril tidak menyangka bahwa Gavin akan menanyakan pertanyaan ini, Afril segera berkata, “Lebih dari 120.000.000, aku awalnya mengira ini akan sulit untuk diurus, tidak menyangka pihak lain langsung mengurusnya untukku.”
Setelah mendengar perkataan Afril yang senang, Gavin berkata sambil tersenyum: “Tentu saja harus seperti itu, penampilan kakak ipar hari ini seperti peri yang turun ke bumi, pihak lain pasti sudah lama terpesona oleh kakak ipar, orang yang memiliki daya tahan yang kuat seperti aku pun tidak tahan, apalagi orang-orang itu.”
“Hehe... peri apaan, apakah kamu tidak pernah mendengar bahwa penampilan seorang wanita tidak akan secantik seperti sebelumnya setelah berusia tiga puluhan? Kakak ipar sudah berusia dua puluh delapan, sudah hampir berubah menjadi seorang wanita yang tidak cantik.”
“Siapa bilang, aku melihat sekarang kakak ipar terlihat seperti setangkai kuncup bunga yang berwarna cerah, bagaimana mungkin sudah menjadi tidak cerah sebelum mekar, selain itu, kulit di tubuh kakak ipar sehalus kain satin, bahkan gadis yang berusia delapan belas tahun pun tidak memiliki kulit yang sebagus kakak ipar.”
Setelah mendengar perkataan ini, Afril tanpa sadar teringat Gavin mengulurkan dua tangan besar ke dalam baju kausnya, begitu memikirkannya seperti ini, Afril tanpa sadar merasakan perasaan sedikit gatal, tapi begitu memikirkan bahwa ini akan segera tiba di rumah, Afril memaksa dirinya untuk menahan kegelisahan di dalam hati.
“Dasar bocah, kamu paling bisa membuat wanita senang, apakah kamu pernah mencoba kulit gadis yang berusia delapan belas tahun? Jangan menipu kakak ipar, kakak ipar bukan tumbuh besar karena ditipu.”
“Yang aku katakan adalah perkataan yang sebenarnya, aku telah memegang beberapa tangan gadis di dalam kelas kami, sentuhan itu pasti tidak sebagus kakak ipar.”
Setelah mengatakan ini, Gavin tanpa sadar mengulurkan satu tangan dan meletakkannya di paha putih Afril yang mengenakan stoking hitam.
Afril tidak menyangka bahwa Gavin akan begitu berani, Afril awalnya sudah menahan kegelisahan di dalam hati, tapi begitu terangsang oleh tangan yang besar itu, Afril tanpa sadar sedikit tidak bisa menahan gairah di dalam hati.
Setelah merasa Afril menempel dirinya sendiri semakin erat, Gavin menjadi senang, pada saat yang bersamaan, tangan ang memegang di atas paha Afril juga bergerak dengan tidak senonoh.
“Gavin ... cepat... hentikan...”
Hembusan napas di sebelah telinga membuat Gavin tidak sabar ingin menghentikan motor dan melakukan seks dengan Afril .
“Gavin ... jangan seperti ini, cepat atau lambat kakak ipar akan menjadi milikmu, kamu jangan terburu-buru.”
Meski Afril juga sangat menikmatinya, tapi malah tidak ingin membuat Pigai tahu setelah pulang, sebelumnya Afril merasa dirinya sendiri sudah mempunyai perasaan, tapi untungnya saat itu, dia mengenakan celana pendek denim, jika mengenakan celana tipis yang satunya lagi, takutnya Afril sudah mempermalukan diri sendiri.
“Hehe, kakak ipar, kalau begitu kita membuat janji dulu?”

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

554