Bab 10 Keranjang Obat

by Glen Valora 16:17,Feb 01,2021
“Hehe, dasar bocah, kamu benar-benar sangat berani, tapi malam ini pasti tidak bisa, Bang Pigaimu ada di rumah setiap malam, tidak baik jika membuatnya ketahuan.”
Setelah mendengar perkataan ini, Gavin segera mengerti bahwa Afril sudah menyetujuinya, hati mulai membuat rencana, Gavin baru saja mengontrak White Mountain, jika membangun dua rumah kecil di sana, maka sepenuhnya bisa melakukan di pagi hari.
“Hehe, kakak ipar, sejujurnya Ladang Gunung dan kolam teratai di desa kami sudah dikontrak olehku, bagaimana kalau kamu tunggu aku membangun dua pondok jerami di Ladang Gunung , pada saat itu...”
Meski Gavin masih belum menyelesaikan perkataannya, tapi Afril malah sudah tahu.
“Gavin , keuntungan apa yang bisa didapat dari Ladang Gunung dan kolam teratai? Apakah kamu bodoh? Sama sekali tidak ada ikan di dalam kolam teratai, menanam apa di Ladang Gunung juga tidak akan tumbuh, jika bisa menghasilkan uang, orang-orang di desa kita sudah lama mengontraknya, sehingga tidak perlu dibiarkan kosong selama bertahun-tahun.”
“Kakak ipar, aku tahu, jika ada orang yang mengontrak, aku juga tidak mempunyai kesempatan ini, karena tidak ada yang mengontrak, aku baru mengontraknya, lahan seluas sepuluh hektar menghabiskan uang sebanyak 60.000.000, ini terlalu melelahkan bagi keluargaku, saat Abangku menikah, keluargaku berhutang banyak uang, meski Abangku sudah meninggal dunia, tapi uang juga harus tetap dibayar, bukan? Jika kamu menyuruhku mengontrak lahan seluas sepuluh hektar dengan harga 60.000.000, aku tidak mampu.”
“Bukankah Utang Abangmu masih ada kakak iparmu? Kamu ini orang yang suka mengurus urusan orang lain, tapi sama sekali tidak tahu kebenarannya, sehingga khawatir dengan tidak jelas.”
Meski mengatakannya seperti itu, tapi Afril malah semakin menyukai pria besar di depannya, mulutnya manis, orangnya juga lucu, bisa membuat gadis merasa senang, dan juga mempunyai rasa tanggung jawab.
“Uhm, meski seperti itu, tapi bagaimanapun juga itu merupakan istri Abangku, Abangku pernah mengatakannya saat masih hidup, jika dia sudah tidak ada, dia menyuruhku untuk melindungi kakak ipar dengan baik, menjaganya dengan baik, meski Abangku sudah meninggal dunia, tapi aku tetap harus melakukannya sesuai dengan perkataan Abangku.”
“Hehe... aku lihat kamu menyukai kakak iparmu, jadi mencari alasan seperti ini, kan?”
Begitu dikatakan oleh Afril seperti ini, Gavin juga sangat canggung, untungnya Gavin tidak tahu malu, kalau tidak sekarang wajahnya sudah memerah.
“Hehe, jika aku menyukai kakak iparku, aku pasti akan mengatakannya, aku tidak akan menyembunyikannya, selan itu, aku juga tidak akan mencari begitu banyak alasan, jika suka, untuk apa mencari alasan?”
Setelah berkata, Gavin sekali lagi mengulurkan tangan ke paha Afril, tapi kali ini malah ditahan oleh Afril .
“Sudahlah, ini sudah tiba di depan pintu masuk desa, kamu masih begitu berani, apakah tidak melihat ada begitu banyak orang di pintu masuk desa? Cepat pergi melakukan pekerjaanmu.”
Begitu diingatkan oleh Afril seperti ini, seperti dugaan, Gavin melihat ada beberapa wanita di pintu masuk desa sedang mengipasi kipas di bawah naungan pohon, Gavin segera berperilaku baik.
Begitu pulang ke rumah, Gavin segera mencari sebuah keranjang untuk menyimpan udang kerang, setelah menyapa dengan Sakho , Gavin langsung pergi ke kolam teratai.
Begitu tiba di kolam teratai, Gavin langsung mencari sebuah tempat yang berlumpur dan memblokir tempat yang kita-kira bisa mendistribusikan tanah dengan menggunakan jaring yang terbuat dari bambu di rumah, kemudian memasukkan udang kerang ke dalam untuk dipelihara, jika udang kerang tidak bisa hidup, maka Gavin harus mempertimbangkan untuk melakukan hal yang lain dengan menggunakan kolam teratai.
Setelah selesai melakukan semuanya, Gavin pulang dan makan siang dengan sederhana, kemudian langsung pergi ke Ladang Gunung, hari ini, Gavin tertarik dengan konten di papan reklame yang ada di depan ((Restoran NOGO)).
Ada banyak Jamur Pinus Liar di Ladang Gunung dan juga pegunungan, terutama Ladang Gunung yang sudah tidak lagi dibudidayakan selama bertahun-tahun, Jamur Pinus Liar yang ada di dalam sama sekali tidak dipetik oleh orang, yang terpenting adalah orang-orang di dalam desa masih tidak tahu bahwa Jamur Pinus begitu berharga, jika ada satu jalan yang bisa menghasilkan uang, tentu saja Gavin ingin memanfaatkannya.
Melihat Ladang Gunung yang jauh, hati Gavin tanpa sadar penuh dengan semangat.
Segera mendaki ke arah Ladang Gunung dengan membawa sebuah keranjang obat di punggung, tidak lama kemudian, Gavin menemukan satu lahan yang penuh dengan Jamur Pinus Liar, ini membuat Gavin menjadi semakin semangat.
Meski menghadapi matahari yang terik, tapi Gavin sama sekali tidak merasakan panasnya matahari, hatinya sepenuhnya menghitung berapa banyak uang yang dia hasilkan sepanjang sore ini,
Sampai matahari hampir terbenam, Gavin baru turun dari gunung dengan puas, di sepanjang sore ini, Gavin malah memetik sepuluh kilogram Jamur Pinus, ini harganya lebih dari 600.000, jika baru saja selesai hujan, Gavin merasa bahwa dirinya sendiri bisa memetik lebih banyak Jamur Pinus.
Membawa keranjang yang penuh dengan Jamur Pinus, yang pertama dipikirkan oleh Gavin adalah mengantar sedikit Jamur Pinus untuk Ocha .
Begitu teringat penampilan Ocha yang sedih, hati Gavin menjadi kesal, segera mempercepat langkah kakinya.
Begitu tiba di depan pintu rumah Ocha , Gavin mendorong pintu, pintu malah tidak dikunci, dan langsung didoronh terbuka oleh Gavin .
Yang terlihat di dalam mata adalah Ocha duduk sendirian di halaman dan diam-diam menangis, setelah melihat penampilan Ocha yang sedih dengan wajah cantik berlumur air mata, Gavin tanpa sadar merasa sakit hati.
“Kakak ipar, ada apa denganmu? Siapa yang menggertakmu? Kamu bilang ke aku, aku akan membantumu mendapatkan keadilan.”
Ocha tidak menyangka bahwa Gavin akan datang ke sini, bagaimanapun juga dikelilingi oleh begitu banyak orang di pagi hari, Ocha awalnya mengira Gavin akan sengaja bersembunyi darinya selama beberapa hari demi tidak membuat orang lain salah paham.
“Tidak apa-apa, kenapa kamu datang ke sini? Tidak takut digosip oleh orang kah?”
Ocha menyeka air matanya, menatap emosi yang tidak jelas di dalam mata Gavin dengan sedikit malu, ada perasaan sakit hati, kelembutan dan juga kepanasan di dalam tatapan itu.
“Hehe, kakak ipar, kita berdua tidak perlu takut jika tidak melakukan kesalahan, untuk apa takut dengan itu, aku datang ke sini untuk mengantar sedikit Jamur Pinus untuk kamu, kamu menumisnya, pasti sangat enak.”
Gavin berkata sambil ingin mengeluarkannya dari keranjang obat.
Tapi malah dihentikan oleh Ocha .
“Kamu menyimpannya untuk makan sendiri saja, jika aku ingin makan, aku akan memetiknya sendiri, selain itu, langit sudah begitu malam, kamu datang ke sini, jika ketahuan oleh Ibu kita, itu akan tidak baik.”
“Hais! Untuk apa takut jika Ibu tahu, aku sudah dewasa, dia tidak mungkin mengurusku seumur hidup, kamu lihat aku memetiknya begitu banyak, bagaimana mungkin aku bisa menghabiskannya sendiri? Kamu bantu aku makan sedikit.”
Setelah melihat keranjang Gavin yang penuh dengan Jamur Pinus, Ocha mengangguk dengan sedikit malu.
Setelah melihat Ocha mengangguk dan setuju, wajah Gavin juga mengeluarkan senyuman.
“Kakak ipar, kamu masih belum bilang kenapa kamu menangis.”
“Tidak apa-apa, kamu tidak perlu menanyakannya, langit sudah begitu malam, lebih baik kamu pulang saja, tidak baik jika dilihat oleh orang lain.”
“Tidak, kamu tidak bilang, aku tidak akan pulang.”
Setelah mendengar Ocha tidak ingin memberitahunya, Gavin langsung duduk di bangku lipat di halaman, sama sekali tidak bermaksud untuk pulang.
Setelah melihat Gavin yang bertindak tanpa malu-malu, Ocha malah tidak mempunyai cara, Ocha tidak pernah marah pada Gavin , bahkan Ocha sendiri pun tidak tahu kenapa bisa seperti ini.
“Baik, kalau begitu kamu cepat pulang setelah aku mengatakannya.”
“Uhm, kamu bilang saja, aku akan pulang setelah kamu selesai mengatakannya.”
Begitu melihat Ocha berkompromi, hati Gavin sangat senang.
“Orang yang menagih utang sudah datang, selain itu, televisi di rumah juga dibawa pergi, mengatakan bahwa membayar utang 100.000 dengan televisi, jika 3.000.000 sisanya tidak dibayar selama sebulan, mereka akan mengambil semua barang di rumah.”
Setelah mendengar perkataan ini, Gavin segera berjalan ke dalam rumah, seperti dugaan, televisi berwarna di ruang tamu sudah tidak ada, selain itu, lemari di samping tempat tidur juga kurang satu, ini membuat Gavin sangat marah hingga seluruh tubuh gemetar, tapi Gavin sedikit tidak berdaya dengan masalah tentang berhutang uang kepada orang lain.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di otak Gavin .
“Kakak ipar, bagaimana kalau bekerja denganku, aku berjanji akan membuatmu melunasi semua uang dalam seminggu.”
Ocha tidak mengerti dari mana Gavin mempunyai kepercayaan diri seperti ini, tapi tetap bertanya dengan sedikit penasaran: “Ikut denganmu untuk mengerjakan pekerjaan apa? Pekerjaan apa yang bisa menghasilkan 3.000.000 dalam seminggu?”
“Hehe, kamu bilang dulu ikut atau tidak, selama kamu setuju, aku berjanji aku bisa melakukannya.”
“Gavin , kamu tidak dizinkan untuk melakukan hal yang ilegal, kamu bilang ke aku dulu pekerjaan apa, kemudian aku baru mempertimbangkan apakah akan setuju atau tidak.”
Gavin tidak menyangka Ocha malah peduli padanya saat ini, hati tanpa sadar merasakan kehangatan.
“Pasti tidak ilegal, kamu hanya perlu ikut aku pergi ke Ladang Gunung untuk memetik Jamur Pinus, selama kamu bisa memetik sepuluh kilogram dalam sehari, aku bisa menjualnya dengan 600.000 untukmu.”
Setelah mendengar bahwa itu bukan melakukan hal yang ilegal, hati Ocha baru menghela napas panjang.
“Baik kalau begitu, kakak ipar ikut dengan kamu, tapi aku akan pergi bersama denganmu saat kamu menjual Jamur Pinus.”
Setelah mendengar Ocha setuju, Gavin sangat senang hingga langsung memeluk Ocha , dengan senang berputar satu keliling di tempat asal.
Ocha tidak menyangka Gavin akan tiba-tiba memeluknya, segera wajahnya menjadi malu.
“Gavin , cepat kamu lepaskan aku, lepaskan aku.”
“Kakak ipar, kamu baru saja mengatakan bahwa kamu sudah ikut denganku, kamu tidak bisa tidak mengingkari janji, besok pukul lima pagi, aku akan datang untuk mencarimu.”
Setelah mengatakan perkataan ini, Gavin membawa keranjang obat dan berlari pulang dengan senang.
Ocha merenungkan makna dari perkataan Gavin , wajah Ocha tanpa sadar memerah, pada saat yang bersamaan, teringat adegan yang dipeluk oleh Gavin , saat itu, Ocha malah merasa sangat senang, sangat senang.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

554