Bab 14 Apa Lagi Yang Dapat Dijual

by Glen Valora 16:18,Feb 01,2021
Mendengar perkataan Ocha, Gavin merasa sangat gembira, memeluknya erat, seakan takut kehilangan, namun rasa hangat dibagian dada membuatnya menyadari bahwa sang kakak ipar sedang menitihkan air mata.

"Kakak ipar, kamu kenapa? tidak apa-apa jika kamu merasa keberatan, aku menyukaimu aku ingin bersamamu, namun aku tidak ingin melihat kakak ipar sedih dan menangis, jika seperti ini aku lebih baik melajang seumur hidup.

"Sembarang bicara, kakak menangis bahagia, kakak tidak menyangka kamu tidak keberatan dengan wanita yang sudah pernah menikah, boleh saja jika kamu ingin bersama kakak, tapi ada satu permintaan, jika kamu dapat memenuhinya kakak akan bersama denganmu, jika tidak lebih baik kita tidak menjalin hubungan, baik untukmu juga baik untukku."

Hal yang diinginkan sudah di depan matanya sekarang, bagaimana mungkin Gavin tidak bersedia, langsung menjawab dengan serius: "Kakak ipar, katakan, menyuruhku mendaki gunung pisau dan mengarungi lautan api sekalipun aku bersedia."

"Kakak tidak perlu kamu sampai harus mendaki gunung dan mengarungi lautan api, hanya perlu membuat kedua orang tua kita setuju kakak menjalin hubungan denganmu, aku rela menjadi kakak ipar terkecil asalkan bersamamu."

Setelah mengatakan hal ini Ocha menundukan kepala malu, tidak berani menengadahkan kepala melirik Gavin barang sedikitpun.

Gavin juga dibuat terkejut dengan ucapan Ocha, dia sangat ingin menikahi Ocha, namun tidak disangka Ocha dapat mengucapkan kalimat seperti itu, yang juga berarti setelah dia menikahi kakak ipar dia masih diperbolehkan menyentuh wanita lain? ini namanya untung, keuntungan yang luar biasa.

Gavin mencium harum semerbak dari tubuh Ocha, dengan suara bersemangat berkata: "Kakak ipar, aku tidak ingin membuatmu sedih, aku juga tidak peduli dengan pandangan orang lain, aku hanya ingin menikahimu untuk menjadi istriku, hanya ada kamu di dalam hatiku tidak ada yang lain, walaupun aku lebih muda darimu, tapi aku tahu apa itu cinta."

Saat mengatakan hal ini, seketika banyak hal yang terbesit di dalam lubuk hatinya, namun saat ini dia memang benar-benar sedang mengatakan isi hatinya.

Tatapan malu Ocha melirik sekilas Gavin, kebetulan tertangkap oleh Gavin, langsung meraih paras cantik itu dan mendaratkan ciuman lembut tepat di atas bibir merahnya.

Mmmmhh......

Terdengar desah manja dari Ocha, suasana yang menghangat membuat api disekejur tubuh Gavin membara memicu hasratnya yang berkobar, disaat yang bersamaan membuka mulutnya secara perlahan, menjulurkan lidah masuk ke dalam mulutnya.

Diperlakukan seperti ini oleh Gavin, membuat tubuh Ocha melemah seketika, disaat yang bersamaan tubuhnya juga merespon secara perlahan, membuatnya makin merasa malu.

Ehmm ehmm......

Gavin sepenuhnya larut dalam kenikmatan, Ocha sedikit menutup mata namun dapat melihat dengan jelas raut wajah serius Gavin, perlahan-lahan menerima kehadiran pria ini di dalam hatinya.

Saat Gavin memasukan tangannya ke dalam pakaian miliknya, Ocha menolak.

"Gavin ...... Gavin ...... kita tidak boleh seperti ini, setelah ayah dan ibu menyetujui hubungan kita, kakak akan memberikannya setiap hari padamu...... setiap hari."

Setelah mengatakan hal ini Ocha langsung mendorong Gavin, wajahnya yang memerah memikul kerajang obat berlari menjauh dan kembali mencari jamur pinus.

Memandangi tubuh molek Ocha dari belakang, memikirkan persitiwa yang terjadi antara dirinya dan Ocha tadi, Gavin menggerakan bibirnya, masih samar-samar dapat dirasakan, sama seperti apa yang dikatakan oleh sang guru, setelah dirasakan akan selalu terngiang, tapi yang dikatakan oleh sang guru adalah arak, dan ini adalah madu baginya.

Memikirkan bagaimana agar kedua orang tuanya dapat menyetujui hal ini, membuat Gavin sakit kepala, namun setidaknya Ocha telah memberikan harapan untuknya, dan membuatnya tahu bahwa Ocha juga menyukai dirinya.

Melihat Ocha yang berjalan semakin jauh, Gavin dengan cepat mengejarnya, khawatir akan ada bahaya, selain itu juga senang melihat punggungnya yang seputih salju saat ia berjongkok untuk memetik jamur pinus.

"Kakak ipar, pelan sedikit, wilayah pegunungan ini milik keluarga kita, kamu tidak perlu terburu-buru."

"Ini milik keluargamu, tidak ada kaitannya denganku."

Ocha malu-malu berkata sambil mencari jamur pinus, bagaimana bisa dia tidak mengerti maksud dari perkataan Gavin ? dia tidak bodoh.

"Hei hei, bukannya wilayah pegunungan ini cepat atau lambat akan menjadi milik keluarga kita? kakak ipar jangan lupa dengan ucapanmu tadi."

Melihat raut wajah puas Gavin, Ocha melirik Gavin sekilas lalu berkata: "Jangan sok kamu, kalau kamu bisa menahlkukan ayah dan ibu baru hebat, warga di desa ini melihatku bagaikan dewa pembawa bencana, semua menjulukiku sebagai pembawa sial, untung saja tidak diusir keluar dari desa, ayah ibu kita malah lebih hebat lagi, aku sarankan kamu untuk menyerah saja."

Mulut Ocha memang berkata demikian, namun di dalam hatinya sangat menanti, menanti untuk mendapat pengakuan dari orang tua Gavin, semenjak melihat milik Gavin yang begitu besar, walaupun kedua orang tua Gavin tidak menyetujui, dia juga bersedia merelakan dirinya sekali lagi untuknya.

Tentu saja hal ini hanya disimpan di dalam hati dan tidak berani ia katakan, karena jika dia mengatakannya dia takut Gavin tidak akan memandangnya seperti dulu, dan akan menganggapnya sebagai wanita murahan.

Gavin dibuat tercengang terlena akan lirikan Ocha, sudah begitu lama bersama kakak ipar, sejak kapan kakak ipar mengeluarkan raut wajah nakal seperti ini?

Raut wajah nakal dan lucunya itu membuat Gavin sangat ingin mendorongnya terbujur di bawah tanah dan memainkannya.

"Wahh...... Gavin cepat kemari, banyak sekali jamur pinus disini, sangat banyak."

Saat Gavin sedang larut dalam pikirannya, Ocha menemukan banyak jamur pinus, dan kali ini dengan lahan yang sangat amat luas.

Gavin berjalan menghampiri lalu terkejut melihat begitu banyak jamur pinus yang tumbuh di rerumputan yang sangat luas, saking luasnnya cukup untuk dipetik oleh Ocha selama tiga hari.

"Kakak ipar, kamu hebat sekali, jamur pinus sebanyak ini dapat ditemukan dengan mudah olehmu."

"Mana ada apa-apanya, hanya beruntung saja, ayo cepat petik bersamaku, setelah petik langsung kita bawa untuk dijual, kakak masih memiliki hutang dengan orang."

Ocha berkata sambil mulai memetik.

Gavin dengan sigap membantu Ocha memetik tiada henti, tidak lupa juga untuk mencuri padangan menatap tampak samping wajah Ocha, tampak samping wajahnya yang begitu sempurna membuat Gavin terpesona.

Dengan cepat, dua orang ini telah memetik dua keranjang penuh jamur pinus, Ocha menatap gembira jamur pinus dibelakangnya bagaikan seorang anak kecil, tidak berhenti berterima kasih kepada Gavin di sepanjang perjalanan.

"Gavin, jika ini benar-benar bisa menghasilkan banyak uang, kakak tidak tahu harus bagaimana berterima kasih padamu, kalau tidak bagaimana jika setelah mendapatkan uang kakak membeli seekor ikan besar lalu memasaknya untuk menambah staminamu."

"Menambah stamina apanya? sudah sewajarnya membantu kakak ipar, dan kelak kita mencari uang bukan hanya dari jamur pinus saja."

Mendengar perkataan ini, Ocha sedikit heran menatap Gavin lalu berkata: "Di gunung ada apa lagi yang dapat dijual, selain jamur pinus?"

"Hehe, nanti kamu akan tahu, sebentar aku tiba-tiba terpikirkan sesuatu."

"Apa? tanyakan saja, apa yang kakak tahu pasti akan kakak beritahu." Ocha memetik satu keranjang penuh jamur pinus, merasa sangat amat senang.

"Kakak ipar, bukannya kamu mengatakan ingin berterima kasih kepadaku? jika aku menginginkan kakak ipar menggunakan cara lain untuk berterima kasih kepadaku, apa kakak ipar setuju?"

Ucapan Gavin membuat wajah Ocha memerah malu, bagaimana dia bisa tidak tahu maksud dari perkataan Gavin ?apalagi melihat miliknya yang besar itu belum berdiri saja sudah sedikit tampak, membuatnya makin menanti di dalam hati.

"Tunggu sampai ayah ibu kita setuju." setelah mengatakan ini, seketika membuatnya sedikit khawatir Gavin akan merasa diacuhkan.

"Jika kamu memang menginginkannya, kakak...... kakak...... kakak izinkan kamu untuk melakukannya...... satu kali."

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

91