Bab 8 Panas Seperti Api, Keras Seperti Besi

by Glen Valora 16:17,Feb 01,2021
Mendengar suara rem, Gavin secara alami menghindar ke pinggir jalan.

“Hahahaha…… apa kamu berzodiak kelinci? Begitu penakut tapi masih berani melompat begitu tinggi.”

Melihat Afril yang sudah berdandan cantik diatas motor, tatapan Gavin bersinar, hari ini Afril berdandan dengan sangat sexy, mengenakan kaos putih dipadu dengan celana denim, dan sepasang stoking hitam di dua kaki ramping, sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah yang menambah sedikit pesona, dandanan seperti ini hampir sama seperti gadis-gadis di kota.

Gulu…..

“Kakak ipar, mau kemana kamu? Berdandan seperti seorang seorang peri.”

Afril melihat tatapan lurus Gavin , terlebih ketika dia memuji dirinya sebagai seorang peri, seketika ia merasa sangat senang, pada saat yang sama, ia juga tidak lupa memberikan lirikan menggoda kepada Gavin .

“Manis sekali mulutmu, jika abang Pigaimu memiliki mulut yang setengah manis sepertimu, aku sudah sangat puas. Aku mau ke kota untuk mengambil uang, sekalian melihat apakah bisa mendapat pinjaman, akan sangat mudah melakukan pekerjaan jika berdandan cantik.” Usai berbicara, Afril sengaja memberikan tatapan menggoda pada Gavin .

Melihat tatapan menawannya, Gavin hampir tidak dapat menahannya.

“Pinjaman untuk apa?”

Kondisi keluarga Afril bahkan jauh lebih baik dari keluarganya, Gavin sedikit bingung kenapa dia memerlukan pinjaman.

“Bukankah desa kita dikontrak untuk perbaikan lahan? Aku dan abang Pigai ingin membuka 20 hektar lahan lagi, kelak tidak perlu keluar untuk mencari uang lagi, bukankah itu sangat baik?”

“Kakak ipar adalah wanita yang luar biasa, ada pemikiran, wanita kuat di masa depan….”

Baru saja Gavin ingin memuji, malah dihentikan oleh Afril .

“Sudah, sudah, cepat, kalau kamu mau ke kota, aku bisa memberimu tumpangan, jika tidak, aku sudah mau pergi, abang Pigai masih menungguku di rumah.”

“Pergi pergi pergi, aku pergi beli sedikit lobster.”

Usai berbicara, Gavin dengan cepat melangkah ke tempat duduk belakang.

Baru saja naik, Gavin tidak dapat menahan diri, menarik nafas dalam-dalam, mencium aroma wangi dari tubuh Afril , Gavin juga tidak dapat menjelaskan wangi apa ini, namun sangat enak dicium.

“Kakak ipar, kamu memakai parfum?”

“Apa yang kamu katakan? Untuk apa aku memakai parfum, duduk dengan benar, berangkat.”

Afril langsung menginjak gas, Gavin yang masih belum mempersiapkan diri, merasa terkejut, langsung memeluk Afril dengan erat.

Perasaan lembut itu membuat Gavin tidak dapat menahan, dan meremasnya beberapa kali, pada saat bersamaan, ia juga merasakan kepuasan dalam hatinya.

Diserang oleh Gavin secara tiba-tiba, membuat Afril terkejut, namun sentuhan Gavin itu membuat perasaannya timbul, namun walaupun demikian, ia juga memberinya peringatan.

“Kemana kamu menaruh tanganmu?”

MendengarAfril berkata seperti itu, Gavin menarik kembali tangannya dengan malu.

Merasakan pergerakkan mundurnya, Afril sedikit menyesali perkataannya barusan, namun memang tidak pantas keduanya melakukan tindakan yang berlebihan diperjalanan seperti ini.

“Hehe, kakak ipar, aku bukan sengaja, kamu tidak memberitahuku ketika menginjak gas, aku takut terjatuh, dengan sendirinya memelukmu.”

Sambil berbicara, Gavin tidak tertahan, sambil mencondongkan tubuhnya kearah depan.

Merasakan pergerakkan kecil Gavin , Afril sedikit merasa gembira dalam hati kecilnya, kali ini ucapannya tidak seserius tadi.

“Hm, aku rasa kamu ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.”

Gavin mendengar perkataan ini, juga tidak membantah, hanya tersenyum dan perlahan-lahan menempelkan diri pada tubuh Afril , menghirup aroma tubuhnya.

Melihat ekspresi Gavin yang tidak tau malu, Afril terkekeh.

Sebelumnya ia belum menyadari bahwa ternyata Gavin begitu lucu, namun sejak semalam melihat Gavin memiliki begitu banyak uang, ia berpikir ingin mendekati pria ini, semakin dekat, ia semakin merasa banyak sekali kelebihan dalam tubuh pria ini.

Gavin tertegun dengan suara tawaan Afril .

“Kakak ipar, ketawa apa kamu?”

“Tidak mau kasih tau kamu, tebak saja sendiri.”

Karena desa Nohara berada di penggunungan, jadi jalan desa Nohara menuju kota adalah jalan tanah yang sudah rusak bertahun-tahun, banyak lubang disepanjang jalan.

Jika ini terjadi sebelumnya, Gavin pasti akan mengeluh. Namun saat ini dia sangat menikmati semua lubang ini, karena setiap melangkahkan lubang itu, ia dapat merasakan kemontokan Afril yang duduk diatas tempat duduk itu.

Sepanjang jalan, Afril juga sangat menikmati aura lelaki muda yang dipancarkan Gavin . Namun dia segera merasakan tidak senang, karena setiap kali melewati lubang, dia merasa Gavin sengaja mendorongkan tongkat kearahnya, dan semakin lama semakin kuat.

“Gavin , simpan tongkatmu, sudah menyodokku, untuk apa membawa tongkat ke kota, mau bertarung? Menyembunyikannya dengan begitu dalam, aku bahkan tidak pernah melihatnya sebelumnya.”

“Hehe, kakak ipar, aku juga tidak ada cara, ini adalah tongkat emas, dia berubah sendiri ketika melihatmu.”

Afril tersenyum marah mendengar perkataan ini, satu tangan mengendarai motor, satu tangan memegang tongkat itu.

Panas seperti api, keras seperti besi, Afril langsung mengerti apa yang terjadi.

Bisa merasakannya dengan begitu jelas walaupun dibatasi oleh celana, jika ini …..

Sambil memikirkannya, Afril merasa tubuhnya sudah melemah, ia juga menyesal menyetir motor dengan begitu laju, karena ia sudah dapat melihat jalan raya di kota, tidak lama lagi ia sudah tiba di kota dan tidak dapat merasakan kehangatan ini.

Tadinya mengira Afril akan memegang beberapa kali saja dan menarik kembali tangannya, tidak disangka Afril tidak hanya tidak menarik kembali tangannya, dia bahkan sengaja memelintirnya beberapa kali dibalik celana.

Si……

Rasa puas ini membuat Gavin menarik nafas.

Merasa tubuh Gavin didekatnya mulai menegang, Afril juga menjadi semakin bersemangat.

Energi tangannya juga ikut meningkat.

Si………

Hu………

“Kakak ipar, kamu sedang memainkan api, apa kamu tidak takut, aku menyeretmu ke samping dan langsung memberimu kehangatan?”

Afril segera mengerti kata-kata yang baru saja di katakanGavin . Memperlambat kecepatan motor, tersenyum dan berkata : “Iya, jika kamu ada keberanian, hari ini kakak ipar akan membiarkanmu bersenang-senang”

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

554