Bab 4 Si Wanita Pembawa Sial

by Glen Valora 16:17,Feb 01,2021
Melihat senyuman licik putranya, Sakho tertawa dan berkata, "Kamu benar-benar nakal seperti monyet, aku tidak punya cara apapun, hanya berpikir ada tempat untuk domba di rumah, jadi kamu tidak perlu menggiringnya setiap hari, lumayan susah, aku benar-benar tidak memikirkan hal-hal lainnya."
Gavin tidak menyangka ayahnya menghabiskan 16 juta agar dirinya tidak perlu susah payah menggiring domba, ini membuat Gavin sangat terharu.
“Ayah, aku rencana membersihkan kolam teratai dulu, baru mencari beberapa orang untuk memelihara ikan bersama, dan akar teratai juga bisa dijual untuk mendapatkan uang. Sedangkan untuk ladang pegunungan, aku ingin mengelilinginya dan mengembangkannya pelan-pelan, menanam sedikit pohon buah-buahan dulu, dan lihat bagaimana hasilnya. Kalau bagus, baru memperluaskannya, sekalian memelihara ayam dan bebek di bawah, ayam yang dipelihara di rumah bisa dijual 200 ribu per ekor di kota kecil, dan bisa dijual 300 per ekor di kota besar."
Sakho tidak menyangka ayam lokal begitu berharga, dan bertanya dengan tidak berani percaya, "Bagaimana kamu tahu tentang ini?"
"Disaat sekolah, aku mendengar teman-teman sekelasku mengatakannya, mereka tidak kekurangan uang, yang mereka inginkan adalah jenis ayam ras yang kita pelihara, mereka tidak terlalu peduli lebih mahal 60 atau 100 ribu."
Melihat tampilan Gavin yang percaya diri, Sakho mengangguk dan tersenyum berkata: "Oke, lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan, kalau butuh uang, katakan saja pada ayah."
"Yah, aku tidak berencana mengeluarkan uang pada tahap awal, ikan besar dalam kolam teratai cukup bagiku mendapatkan uang untuk sementara waktu."
Setelah mengatakan ini, Gavin kembali ke kamar dan mengganti pakaiannya.
Melihat Gavin memasuki rumah, Igun tidak menahan diri mengeluh pada Sakho.
"Kamu begitu memanjakannya, tidak ada yang menginginkan kolam teratai dan ladang pegunungan itu, kalian malah mengontraknya dengan harga 16 juta, tanah seluas sepuluh hektar itu selalu memiliki hasil panen yang bagus setiap tahunnya."
"Apa yang kamu tahu, sepuluh hektar tanah memang bagus, tapi biaya kontraknya 60 juta, dan itu harus tidak ada yang bersaing denganmu, kalau seseorang bersaing denganmu, mungkin bisa mencapai 100 juta."
Setelah mendengar ini, Igun berhenti berbicara.
Setelah mengganti pakaiannya, Gavin hendak keluar, tapi dihentikan oleh Igun.
"Gavin, aku telah menggiring dombanya kembali untukmu hari ini, apakah kamu ingin pergi mencari Ocha si wanita pembawa sial itu?"
"Bu, dia bukan wanita pembawa sial, jangan sembarang omong kosong."
Melihat Gavin membantah seperti sebelumnya, Sakho merasa kesal.
"Gavin, meskipun dia bukan wanita pembawa sial, tapi dia adalah istri kakakmu, sebagai kakak iparmu, jangan selalu ke sana."
"Oh, aku tahu…..."
Selesai berkata, Gavin langsung mengambil jaring ikan dan keluar.
Sepanjang sore, Gavin tidak mendapatkan ikan di kolam teratai, ini membuat Gavin sedikit tercengang, dan pada saat yang sama, dia juga mengerti mengapa tidak ada siapapun di desa yang menginginkan kolam teratai ini.
Setelah memikirkannya sepanjang malam, Gavin memutuskan untuk mengubah caranya, kalau tidak, kontrak kolam teratai benar-benar akan rugi.
Dia pergi ke kota keesokan paginya, karena tidak banyak ikan di kolam teratai, itu pasti karena ikan tidak cocok bertahan hidup di sana, tetapi lobster berbeda, itu tangguh dan harganya tidak murah, kali ini dia ingin memelihara beberapa lobster.
Ketika melewati rumah Ocha, Gavin teringat kata-kata orang tuanya, tetapi hatinya yang tidak tenang membuatnya tidak menahan diri ingin melihatnya.
Ocha membuka pintu dan melihat Gavin yang berdiri di depan pintu, dia segera menunjukkan senyuman di wajahnya, semalam dia telah berusaha keras juga tidak dapat mengeluarkan setengah batang mentimun itu, ini membuatnya takut dan tidak berdaya, dan teringat saran Gavin.
Dia menyesal setiap kali memikirkannya.
Gavin juga melihat wajah Ocha yang penuh senyuman, dia melihat Ocha tersenyum padanya, Gavin merasa seluruh dunia menjadi hangat, dan langsung melupakan kata-kata orang tuanya.
"Kakak ipar, pa..... pagi... ah, apakah mentimunmu….. sudah..... dikeluarkan?"
Awalnya Ocha tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi tak terduga Gavin duluan mengatakannya, dia menggelengkan kepalanya malu-malu.
"Gavin, kamu….. bisakah kamu masuk…... dan membantuku?"
Setelah mengatakan ini, Ocha langsung bergegas masuk ke dalam rumah, dia merasa sangat malu.
Setelah mendengar ini, Gavin menjadi semangat dan tidak tahu bagaimana menjawabnya, dia langsung mengikutinya masuk.
Melihat Gavin masuk tanpa menutup pintu, dia merasa malu dan canggung.
"Kamu pergi mengunci pintu dulu, betapa buruknya kalau dilihat orang."
Gavin sangat senang mendengar ini, dia hampir saja melompat kegirangan.
Mengunci pintu, apa maksudnya? Pria dan wanita berada dalam satu ruangan, dan mengunci pintunya, ini sama seperti memberitahunya kakak ipar membutuhmu, kakak ipar tidak ingin kamu pergi begitu saja.
“Oke, kakak ipar, jangan sembarang bergerak, aku khawatir mentimunnya akan masuk lebih dalam, dan sulit untuk mengeluarkannya.”
Kata-kata Gavin membuat Ocha tersipu, melihat ekspresi Ocha yang malu-malu, Gavin tidak sabar ingin bergegas padanya, tapi dia segera pergi mengunci pintu, karena serangan ibunya tadi malam membuatnya takut setengah mati.
Ketika berjalan lagi ke dalam, Gavin tercengang.
Karena dia melihat Ocha mengambil inisiatif duduk di ranjang dengan punggung bersandar ke dinding, kedua kakinya terbuka, dan tangannya yang ramping berusaha keras ingin mengeluarkan mentimun, terlihat sangat berbeda dengan kakak ipar yang semalam.
Setiap kali dia menggerakan mentimun, benda itu selalu merangsang inderanya, kemudian perasaan nyaman yang kuat membuatnya tidak menahan diri mendengus.
Gavin menelan ludah, dia berkata dengan semangat: “Kakak ipar, biarkan aku membantumu.”

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

91