Bab 4 Orang yang sebaliknya dengan reputasi

by Brama aditio 23:12,Jun 16,2020
“Kak, kamu berhati lembut lagi.” Serrly menatap Ria. Kakaknya ini, sangat baik dalam segala hal, tetapi hanya saja hatinya terlalu lembut, didunia bisnis, berhati lembut adalah sebuah larangan. “Sudah seharusnya membiarkan bajingan itu sedikit menderita, sehingga dia dapat melihat jelas identitas aslinya. Kalau tidak, jika nantinya dia menempel padamu seperti plester erat, apa yang bisa kamu lakukan?”

“Baiklah…..” Ria melirik sekilas ke arah pergi Nofan dengan khawatir. Sekarang, dia hanya bisa berharap orang dari Perusahaan Nara Totendo tidak memukulnya dengan berat.

Nofan tentu saja tidak tahu apa yang dipikirkan Ria, jika dia mengetahuinya, dia pasti akan mengatakan, orang yang memohon adalah Perusahaan Nara Totendo, bukanlah dirinya.

Reputasi nama Perusahaan Nara Totendo di Kota Haloja selalu sangat buruk, tepat ketika supir taksi mendengar Nofan akan pergi ke Perusahaan Nara Totendo, dia langsung menyuruh Nofan turun dari mobil, dia tidak ingin menemani Nofan pergi mati.

Tetapi pada akhirnya, Nofan menambahkan uangnya, supir itu baru menyetujui dengan terpaksa.

Namun, ini juga membuat Nofan lebih penasaran, sebenarnya seperti apa Perusahaan Nara Totendo ini, mengapa bisa membuat orang ketakutan sampai seperti ini.

Segera, mobil tiba didepan gedung Nara Totendo, puluhan pria berseragam keamanan sedang berjalan didepan gedung sambil memegang tongkat listrik, badan mereka sangat kokoh dan besar.

Adegan ini terlihat sangat menakutkan, tetapi Nofan malah tersenyum menghina.

Dalam sekilas dia dapat mengetahui, bahwa sebenarnya orang seperti apa didalam Perusahaan Nara Totendo.

“Sekelompok orang yang sebaliknya dengan reputasi…….” Nofan menyipitkan mata, orang-orang ini tampaknya memiliki kemampuan bertarung yang kuat, tetapi sebenarnya sangat lemah, jika menempatkan mereka di Afrika yang dilanda perang, mereka bahkan tidak akan bertahan selama setengah jam.

Karena, mereka tidak ada sedikit kedisiplinan.

Kepercayaan diri Nofan semakin bertambah, tetapi yang mengejutkannya adalah, setelah dia memberitahu niat datangnya, beberapa penjaga keamanan itu hanya menertawakannya lalu membiarkannya masuk tanpa menghalangi.

Jika tidak menghalangi juga bagus, dirinya dapat menghemat energy. Nofan memikirkannya lalu melangkah masuk ke gedung Nara Totendo.

Resepsionis perusahaan adalah wanita cantik bermake-up tebal yang mengenakan pakaian kerja berwarna hitam, melihat Nofan masuk, dia hanya melirik sekilas lalu lanjut menundukkan kepala dan bermain ponsel.

“Halo, aku ingin mencari bos kalian.” Nofan menyipitkan mata sambil berkata.

“Apakah kamu punya janji?” Tanya wanita bermake-up tebal.

“Tidak.” Nofan menggelengkan kepala.

Wanita bermake-up tebal mengamati Nofan sejenak, lalu berkata dengan datar: “Kalau begitu, kembalilah, bos kami tidak memiliki waktu untuk menemuimu.”

Nofan tersenyum tipis, tidak berbicara.

Dia langsung meninju meja resepsionis yang terbuat dari batu marmer.

“Apakah kamu gila………” Wanita bermake-up tebal sedikit marah, apakah otak orang ini bermasalah.

Tetapi kemudian, sebuah suara kretek, membuat sisa perkataannya berakhir didalam mulut.

Meja marmer dihadapannya, dengan tinju Nofan sebagai pusatnya, pecah seperti celah sarang laba-laba.

“Apakah sekarang Bos kalian ada waktu luang?” Nofan bertanya dengan datar.

Wanita bermake-up tebal menelan air liurnya, lalu memutar nomor telefon bosnya alias Jacky Zhang.

“Bos…..Jacky, ada orang…..yang datang mencarimu.” Wanita bermake-up tebal menatap Nofan sekilas dengan ketakutan, dia tidak tahu kepalan Nofan terbuat dari apa, tetapi dia tahu, meja resepsionis terbuat dari batu marmer, itu tidak perlu diragukan.

“Siapa?” Jacky langsung mendengar ada yang aneh dari wanita bermake-up tebal.

“Suami Ria.” Kata Nofan.

“Dia, dia adalah suami Ria.”

Didalam kantor, Jacky bangkit dari tubuh seksi sekretaris, lalu mengerutkan keningnya.

Suami Ria?

Sejak kapan Ria memiliki suami?

“Biarkan dia masuk.” Meskipun dia ragu, tetapi bagaimanapun, Jacky adalah orang yang membunuh lalu menjilati darah diatas pisau alias sangat mengerikan, jadi dia tidak takut akan hal itu.

“Kantor Bos Jacky berada di lantai 18.” Wanita bermake-up tebal berkata dengan ketakutan.

“Lantai 18?” Nofan tersenyum, bos Perusahaan Nara Totendo ini lumayan menarik.

Bahkan berani mengatur kantornya berada di lantai 18, harus tahu bahwa orang biasa akan menghindari angka 18, bagaimanapun, 18 adalah angka yang tidak beruntung, neraka ada 18 lantai.

Dapat hidup di dalam lantai 18 neraka, semuanya adalah iblis diantara iblis, tampaknya Bos Jacky ini sudah menganggap dirinya sebagai raja iblis.

Jika kamu sudah menganggap dirimu sebagai raja iblis, maka hari ini aku alias raja neraka akan datang menemuimu! Nofan tersenyum, tatapannya terlintas sebuah cahaya.

Didalam kantor Jacky, sekretaris seksi sedang mengenakan roknya, raut wajahnya memerah, didalam ruangan masih tersisa aroma **.

“Pergi, suruh mereka datang kemari.” Jacky menepuk bokong sekretaris lalu berkata.

“Baik.” Sekretaris menundukkan kepala dan menjawab, begitu membuka pintu, dihadapannya muncul sebuah wajah tangguh.

Itu adalah Nofan.

Nofan memasuki pintu, Jacky adalah pria paruh baya yang lumayan kokoh, wajah kanannya ada bekas luka, dia mengenakan kemeja kotak-kotak, kancing didadanya tidak dikancing, otot-otot dada yang padat langsung terlihat.

“Bagaimana memanggilmu?” Jacky mengamati Nofan sekilas, lalu bertanya.

“Nofan.”

Nofan mengerutkan kening, aroma ** yang tersisa diruangan membuatnya sedikit tidak nyaman.

“Datang menagih hutang?” Jacky menyalakan sebatang rokok, menyesapnya dengan kuat, lalu bertanya dengan datar.

“Ya.” Nofan menganggukan kepala.

“Apakah kamu tahu dimana sekarang orang yang terakhir kali datang menagih hutang kepadaku?” Tanya Jacky.

“Tidak tahu.” Jacky menggelengkan kepala, lalu mengamati perabot didalam kantor Jacky.

“Sekarang dia berada dirumah sakit, enam tulang rusuknya patah, hmm….dan juga sebuah kaki, diperkirkan setengah hidupnya hanya dapat dilewati diatas kursi roda, menurutmu, apakah dia sangat menyedihkan?” Tatapan Jacky melihat ke Nofan terbawa sedikit lelucon, seolah-olah seperti melihat seekor monyet saja.

“Menyedihkan, sudah terlalu menyedihkan.” Nofan berkata dengan penuh arti lalu menghela nafas.

“Kalau begitu, apakah kamu masih akan menagih hutang?” Jacky mengeluarkan asap dari mulutnya lalu bertanya.

“Mau!”

“Terbatuk”

Jacky dibuat tertegun oleh perkataan ini, orang ini adalah seorang idiot kah. Dia sudah seperti ini, dan masih berani mau.

“Saudaraku, apakah otakmu sudah dilindas oleh mobil?” Jacky memadamkan rokok, bangkit lalu bertanya dengan kejam.

“Tidak” Nofan menggelengkan kepala, lalu berkata dengan tenang: “Bos Jacky, mengembalikan hutang adalah hal yang wajar, dan apa yang kamu lakukan sebelumnya aku boleh tidak mempermasalahkannya, tetapi sekarang aku sudah datang, uang itu, aku sarankan lebih baik kamu memberikannya beserta bunganya.”

Sudut mulut Jacky terdapat lengkungan kejam, dia tertawa dingin dan berkata: “Bagaimana jika aku tidak bersedia?”

Nofan tiba-tiba menyeringai, lalu berkata: “Kalau begitu, aku akan memukulmu sampai kamu bersedia.”

“Semua, masuklah!” Jacky memukul meja dengan kuat, sampai asbak rokok diatas meja bersuara.

Pintu dibuka, lalu masuk sekitar 7 atau 8 pemuda yang tangguh.

“Patahkan kakinya.” Jacky menunjuk Nofan lalu berkata dengan datar. Dia masih belum pernah berjumpa dengan orang konyol yang begitu tidak tahu kedudukannya. Di Kota Haloja, selalu dia alias Jacky yang menagih hutang kepada orang lain, bagaimana mungkin ada orang yang berani menagihnya?

7 atau 8 pemuda mendengar ini, wajah mengeluarkan ekspresi kejam, lalu berjalan kearah Nofan dari kiri dan kanan.

Sejak awal, mereka sudah mengikuti Jacky berbisnis di Kota Haloja, beberapa tahun ini, membunuh orang lalu menjilati darah diatas pisau, dengan kekuatan yang kejam, membuat reputasi nama di Kota Haloja.

Berkelahi adalah hal yang biasa.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

631