Bab 9 Gagal Bernegosiasi

by Brama aditio 23:40,Jun 16,2020
Pagi hari yang cerah, seolah-olah terdapat lapisan bedak tipis di wajah Ria yang cantik. Beberapa helai rambut pirang lembut terjatuh di pipinya. Bibirnya bagaikan ceri itu seperti anak kecil yang sedang menyedot, sehingga ada dorongan untuk membuat orang ingin menciumnya.

Seketika Nofan pun mematung melihatnya.

Ia bukan tidak pernah melihat wanita cantik, bahkan ia setiap saat bisa menemukan yang lebih seksi di negera asing. Namun ia tidak pernah tergoda, tetapi sekarang hatinya berdebar dengan kencang.

"Apa yang ingin kamu lakukan!"

Tiba-tiba terdengar suara kesal, Nofan pun mengerutkan dahi, lalu berbalik badan dan pergi. Tanpa peduli suara teriakan dari belakangnya.

Lingkungan di dekat perumahan ini cukup bagus dan yang terpenting adalah bisa bertemu dengan wanita cantik yang sedang olahraga pagi. Hal itu melindungi matanya.

Setelah berlari sebanyak sepuluh putaran, Nofan pun mencari tempat yang tenang dan bergaya, lalu mulai berlatih tinju.

Satu per satu, Nofan benar-benar melatihnya dengan sepenuh hati. Ia sama sekali tidak berani lalai. Tetapi di mata orang lain, ia seperti sedang sembarangan latihan. Di detik awal, ia sedang lompat-lompat, lalu di detik berikutnya sudah berguling-guling di lantai. Lebih gila dari orang gila.

Namun, mereka tidak melihat dari gerakan yang seperti orang gila itu. Di belakang baju tertampak otot Nofan yang menonjol. Otot di bawah kulitnya terus-menerus bergerak dan menjadi lebih kuat. Tulang yang mengalami kompresi lebih lanjut, kepadatan tulangnya pun meningkat. Darahnya yang mengalir bagaikan sungai. Namun keringatnya yang tercampur dengan sedikit noda hitam, beraroma tidak sedap.

Di saat yang sama, cahaya di sekitar Nofan berubah menjadi redup. Jika tidak dilihat dengan teliti, keberadaannya mungkin bisa terabaikan.

Sebelas menit kemudian, Nofan pun berhenti. Dadanya naik turun, pakaiannya telah dibasahi oleh keringat. Ujung kepalanya muncul asap putih, lalu kembali biasa setelah beberapa saat.

Nofan mengepalkan tangannya dan mengeluarkan sebuah tinjuan.

Bang!

Terdengar suara ledakan, udara berdesir, pohon yang berada di hadapan Nofan tiba-tiba terjatuh, daun muda pun juga ikut terjatuh ke tanah, lalu terdengar suara daun-daun terjatuh.

Sudut bibir Nofan terangkat pelan, kemudian tubuhnya pun bergetar cepat, seperti adegan pada serial televisi yang sedang bergetar dengan kecepatan sangat tinggi dan muncul asap putih dari tubuhnya.

Setelah lebih dari tiga puluh detik, ia pun berhenti bergetar. Keringat dan noda di tubuh Nofan pun sudah menghilang, lalu kembali ke penampilan sebelumnya yang segar itu, hanya saja pakaiannya terlihat lebih jelek.

Jelas, ini bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh manusia. Pada dasarnya, tubuh manusia biasa tidak dapat menahan getaran yang berkecepatan begitu tinggi.

Nofan sendiri juga mengerti itu.

Semua ini dikarenakan oleh cara tinju sebelumnya.


Delapan tahun yang lalu, ketika pergi meninggalkan negaranya sendiri, ia mendapatkan sebuah jurus tanpa nama. Awalnya secara terpaksa ia hanya bisa melakukan beberapa gerakan. Hingga saat ini, ia bisa terus bertahan melatihnya selama sebelas menit dan menggunakan waktu selama delapan tahun.

Semakin berlatih, ia pun semakin merasa hormat pada jurus tanpa nama ini.

Benar, rasa hormat.

Nofan pernah berspekulasi, jika ia ingin menyelesaikan jurus tanpa nama ini dengan utuh, setidaknya harus membutuhkan waktu sebanyak dua jam, yang berarti sekarang ia belum mencapai sepersepuluh dari jurus ini.

Sepersepuluh inilah yang membuat ia menjadi orang terjago di dunia.

Jurus tanpa nama ini hanya memiliki satu kegunaan, yaitu meningkatkan kesehatan fisik tanpa batas.

Semakin lama waktu berlatih, peningkatan kesehatan fisik pun semakin besar, kekuatannya semakin besar, kecepatannya semakin cepat, kemampuan reaksinya semakin kuat. Kekuatan fisik yang bertahan lama, panca indera yang semakin peka, otak yang lebih cerdas...

Semuanya sedang berkembang menuju tingkat evolusi non-manusia.

Tentu, Nofan lebih percaya bahwa dirinya sedang menuju tingkat batas manusia.


Kembali ke rumah, Nofan melihat sekilas kedua kakak beradik itu sedang berbisik-bisik di ruang makan yang berada di sebelah ruang tamu. Tetapi yang berbisik-bisik hanyalah Serrly, wajah Ria terlihat sedikit memerah dengan tatapan mata yang menghindar.

Nofan langsung berjalan kearah ruang makan dan duduk di meja makan. Ia pun langsung mengambil pau dan memakannya, tanpa memperdulikan tatapan mata Serrly yang mengerikan itu. Ia pun memuji dan berkata, "Juru masak rumah kalian cukup hebat."

Wajah Serrly yang penuh dengan kekesalan, hampir saja menghancurkan giginya dan bergumam, "Dasar cabul!"

Tadi pagi, ia melihat Nofan yang menatapi kakaknya dengan semangat. Jika ia tidak mengeluarkan suara, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Nofan.

”Apakah aku melecehkanmu?” Nofan bertanya balik dan melirik Serrly atas bawah. “Dasar tepos, dikasih gratis saja, aku juga tidak mau.”

"Jika enak, banyak makanlah." Ria tersenyum canggung. Di sisi lain ia sedang menenangkan adiknya yang kesal dan di sisi lain ia berkata dengan Nofan.

Ia menghabiskan paunya dalam dua hingga tiga suap, tanpa sungkan Nofan pun mengambil satu lagi, "Suruh juru masak untuk membuat lebih banyak lagi, ini tidak cukup untuk dimakan."


Plak!

Serrly langsung meletakkan sumpit di tangannya di atas meja dan berdiri dengan kesal. Kemudian berkata aku tidak nafsu makan lagi, lalu berbalik badan dan pergi.

Jika tidak pergi, ia takut dirinya sendiri akan mati karena kekesalannya terhadap Nofan.

"Sebenarnya Serrly tidak bermaksud untuk menentangmu," Ria buru-buru menjelaskannya dengan memasang wajah merasa bersalah.

Nofan sama sekali tidak memperdulikannya dan berkata sambil makan, "Kakek Erbin berharap kita bisa menikah secepat mungkin. Kapan kamu mau mengurus administrasi pernikahan?"

Tubuh Ria bergetar dan hampir saja terjatuh dari kursi. Ia menatap Nofan tak percaya. Meskipun aku kalah taruhan dan sekarang aku adalah tunanganmu. Kamu juga tidak boleh begitu santai.

Kamu menganggapku apa sebagai apa?

"Jangan salahkan aku yang terlalu langsung."

Nofan menghabiskan semua pau dihadapannya dan berkata dengan serius, "Sebelumnya aku sudah mengatakannya dengan jelas, aku tidak suka padamu. Alasan mengapa aku mencarimu, hanya karena Kakek Erbin yang memaksaku untuk datang kemari. Entah kita yang pergi mengurus administrasi pernikahan agar Kakek Erbin menyerah. Atau kamu pergi membujuk Kakekku, sehingga aku juga tidak perlu begitu repot-repot. "

Ia tidak ingin membuang terlalu banyak waktu disini. Kali ini kembali ke China, ia masih ada hal yang lebih penting untuk dilakukan.

Mulut Ria berkedut. Ia sekarang mengerti mengapa Nofan sejak awal sudah begitu tidak sopan. Sejak kemarin, mereka mengira bahwa Nofan ini terlalu melebih-lebihkan dirinya sendiri.

Justru sekarang tampak sebaliknya.

Apa itu wanita tercantik di Kota Haloja, wanita yang kaya dan berkuasa. Bahkan Perusahaan Surya Prasma yang ia banggakan saja, sama sekali tidak pernah dianggap oleh Nofan.

Difikir-fikir juga benar, orang yang memiliki kemampuan seperti Prajurit Imbatible, bagaimana mungkin merengek kepada dirinya sendiri dengan tidak tahu malu, seperti yang mereka pikirkan.

Ia sangat paham, tetapi mengingat Nofan yang begitu langsung tanpa memperdulikan perasaannya. Perasaan bersalah padanya pun berkurang dan ia juga merasa sedih.

Apakah aku begitu buruk di matamu?

"Aku boleh menikah denganmu!"

Ria menatapi kedua mata Nofan, "Tetapi sebelum itu, aku ingin kamu membantuku sesuatu. Kemarin malam, laboratorium perusahaan kita terjadi pencurian..."

Nofan tiba-tiba mengerutkan dahinya. Tatapan matanya pun berubah menjadi tajam, lalu ia langsung memotong perkataan Ria, "Kamu ingin memanfaatkanku?"

Seketika Ria pun takut. Tatapan mata Nofan yang tajam itu, membuatnya merasa seperti sedang menghadapi dewa pembunuh. Bahkan Ayahnya sebagai Kepala Keluarga Chu yang berpangkat tinggi. Ia juga tidak pernah merasakan tekanan yang begitu kuat itu.

Tanpa sadar, ia pun menghindari tatapan mata Nofan. Tetapi, setelah itu amarah dalam hati Ria pun meledak, "Nofan! Aku juga bukan tidak ada yang mau. Anggap saja aku tidak mengucapkan kata-kata sebelumnya. Ingin aku menikah denganmu, itu sangatlah mustahil!"

"Taruhan kita sebelumnya...Apakah kamu ingin mengingkarinya?” Nofan berkata dengan penuh arti sambil menyipitkan matanya.

Bajingan!

Ria mengepalkan tangannya dengan erat dengan kedua matanya yang memerah, lalu berkata dengan satu per satu, "Aku bukanlah orang yang tidak menepati janji. Besok kita pergi mengurus administrasi pernikahan!"

Setelah berkata, Ria pun berbalik badan dan pergi. Sekarang ia hanya ingin menangis dengan keras, bahkan jika menangis, ia juga tidak akan menangis dihadapan Nofan.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

628