Bab 3 Berpegangan Tangan

by Hideo Takashi 16:08,Sep 11,2020
Dan seseorang yang membuatnya gugup berdiri sepuluh meter jauhnya. Meski 16 tahun telah berlalu sejak pertama kali mereka bertemu, Cloud masih bisa langsung mengenalinya secara sekilas. Karena apa yang dia lihat bukanlah wajahnya yang cantik, tetapi hatinya yang baik dan murni.

Hanya saja senyumannya yang secerah matahari di bulan Maret itu untuk sementara tertutupi oleh kesedihan di wajahnya. Saat ini, Cloud bersumpah di dalam hatinya kalau dia akan membuatnya terus berusaha untuk membuatnya terus tersenyum.

Saat ini, Cloud dan Aeris saling berhadapan. Saat dia menatapnya, Aeris tiba-tiba merasa bahwa penampilannya tampak tidak asing, tetapi dia tidak bisa mengingat kapan dia pernah melihatnya.

Pada saat ini, Jared berjalan ke Aeris, dan dia menghalangi pandangan Aeris dan Cloud. Kemudian Jared meraih tangan Aeris untuk membawanya kepada Cloud, tetapi Aeris mengambil inisiatif dan langsung berjalan mendekat. Lalu perlahan dia mulai berjalan mendekati Cloud.

Semakin dekat, kian dekat.

Hati Cloud sendiri juga sudah lama tidak mengalami fluktuasi seperti ini selama 16 tahun terakhir. Dan sekarang, hatinya seperti seekor rusa kecil yang berlarian di padang rumput.

Setelah cukup dekat dengan Cloud, Aeris berhenti.

Dia memandang Cloud dengan tatapan aneh, dan ada sedikit perlawanan dalam keanehan itu. Tetapi mata Cloud penuh dengan kelembutan. Sebenarnya cinta macam inilah yang bisa meluluhkan hati banyak wanita yang membuatnya lupa pada orang-orang di sebelahnya.

Di mata semua orang, Cloud terlihat seperti orang bodoh sekarang, tetapi dia terus memandang Aeris yang sangat canti dengan mempesona, seperti seorang pengemis yang melihat sang putri.

Jared lalu berdiri di antara keduanya.

"Cloud, kamulah orang yang paling menonjol di antara semua pesaingmu. Apakah kamu merasa sangat bahagia sekarang?"

Cloud mengangguk, dan dia tersenyum dengan deretan gigi putih pada Aeris. Senyumannya itu juga membuat semua orang tertawa. Tawa orang-orang yang penuh dengan sindiran dan ejekan. Lalu Jared bertepuk tangan, dan seseorang segera datang dengan membawa nampan kayu ke sebelahnya.

Ada kotak perhiasan di atas nampan kayu itu. Kemudian Jared membuka kotak perhiasan itu dan mengeluarkan dua cincin dari dalam.

"Cloud, pakaikanlah cincin pertunangan ini pada calon istrimu."

Begitu kata ini keluar, semua orang di sekitarnya bertepuk tangan, diantara tepuk tangan dan tawa, Gavia menangis.

Cincin berlian untuk wanita itu terdapat ukiran nama Cloud di atasnya, dan Jared juga menemukan cincin berlian kecil di tangan Cloud tampak seperti cincin pernah dibelinya. Tetapi cincin itu tampak sedikit berbeda, namun dia tidak berpikir terlalu banyak, karena berpikir bahwa pelayan di toko perhiasan itu mungkin salah.

Bagaimanapun juga sepasang cincin itu adalah barang yang murah, jadi tidak masalah jika jumlahnya kurang dari beberapa juta rupiah. Tetapi yang tidak diketahui Jared adalah, meski cincin pertunangan itu bukan berlian besar, tetapi nilai sebenarnya lebih dari 400 triliun. Karena berlian itu salah satu yang paling unik di dunia, serta memiliki nama yang sangat indah yaitu “Eternal Heart”

Cloud meraih tangan Aeris dan perlahan memakaikan cincin di jari manisnya. Aeris memejamkan mata, dan air mata mengalir perlahan dari sudut matanya. Tepat setelah Aeris mengambil cincin dan memakaikannya pada jari manis Cloud, Gavia, yang sudah tidak bisa menahannya lagi, menutupi wajahnya dan berlari keluar vila sambil menangis.

Casius yang tergesa-gesa mengejarnya malah jatuh ke bawah. Aeris pun dengan cepat membantu Casius berdiri.

"Aeris, pergi kejar ibumu. Aku khawatir dia tidak akan sanggup untuk menerimanya!"

Aeris segera mengejarnya, begitu dia akan meninggalkan vila, dia dihentikan oleh kakak sepupunya Reinhard dan beberapa pengikutnya di pintu gerbang.

"Adikku, upacara pertunanganmu belum berakhir, kamu tidak bisa pergi. Dan juga suamimu yang merupakan orang pilihan masih berdiri di sana, kamu harus mengajaknya jika kamu ingin pergi."

Mendengar Reinhard mengatakan bahwa Cloud adalah orang pilihan, orang-orang di sebelahnya langsung tertawa.

"Minggir!"

Aeris menjadi pucat karena marah. Sejak kecil, Reinhard sering membully Aeris. Karena dia adalah perempuan, jadi setiap kali dia mengadu kepada kakeknya, dia selalu diabaikan atau dihukum oleh kakeknya sendiri. Reinhard tidak pernah melewatkan kesempatan untuk selalu menindas Aeris.

"Aku ini kakak sepupumu, jadi aku bertanggung jawab penuh atas semua urusan hidupmu.."

"Ayah telah memilihkan calon suami untukmu, dan sangat sulit untuk menemukan seseorang dengan kelebihan."

Saat ini, Cloud juga ikut keluar dari aula.

"Orang gila itu... ah, tidak, calon suamimu, ada di sini rupanya."

Cloud berdiri di samping Aeris.

"Cepat dan ajak istrimu kembali, karena kamu harus makan sedikit malam ini. Dengan begitu, kamu bisa bekerja keras saat di tempat tidur, sehingga adiku akan melahirkan anak yang gemuk lebih cepat."

Saat perkataan itu terhenti, seorang pemuda di antara kerumunan itu berteriak, "Ya Tuhan, dia mungkin bahkan tidak tahu apa artinya bekerja keras di tempat tidur."

Reinhard sengaja berkata, "Dia hanya gila, bukannya bodoh!"

Setelah itu, semua orang di sekitarnya tertawa lagi. Lalu Cloud mengulurkan tangan dan menyentuh hidungnya.

“Adikku sepertinya calon suamimu belum pernah menyentuh wanita sebelumnya, jadi apakah kamu mau aku membantunya? Tidak usah malu. "

Tangan Aeris sudah memutih karena tangannya mengepal terlalu keras.

"Reinhard, sudah cukup!"

"Jangan lepaskan, aku, aku …” Ketika hendak menampar Reinhard, tangan Aeris di tahan olehnya.

"Hei, apa kamu ingin memukulku?" Reinhard mengangkat wajahnya mendekati Aeris.

"Ayo, cepat pukul aku. Mau pukul dimana, di sini, atau di sini, ayo pukul, pukul?"

Begitu suara Reinhard berhenti, ada tangan lain yang kemudian menamparnya.

"Plak!

Tepuk tangan meriah terdengar di seluruh ruang perjamuan. Reinhard dipukul dan berputar dua kali sebelum jatuh ke tanah. Dia lalu memegang setengah dari wajahnya yang benar-benar menjadi bengkak dan menatap Cloud dengan bingung.

"Kamu, kamu beraninya memukulku!"

"Kamu, calon suami yang tidak berguna, berani memukulku!"

Aeris juga menatap Cloud dengan tatapan kosong. Lalu Reinhard tiba-tiba mengepalkan tangan dan hendak memukul Cloud. Tetapi Cloud bisa menangkap kepalan tangan Reinhard dengan telapak tangannya, lalu dia menekannya sedikit.

Krak!

Suara tulang patah!

"Arrgggggggh!!"

Reinhard menjerit kesakitan, lalu berkata “Brengsek, aku akan membunuhmu, aku akan membunuhmu ... Argggh! Sakit, sakit sekali rasanya seperti hampir mati!"

Begitulah, karena dari kecil hingga dewasa, semua orang selalu memanjakan Reinhard. Meski dia melakukan sesuatu yang salah tidak akan ada yang akan menegurnya termasuk kakek.

Aeris menarik Cloud dan berlari dengan cepat, lalu menuku ke sudut di samping vila, dan menemukan Gavia sedang bersembunyi di situ. Gavia telah melihat semua yang terjadi,lalu ketiganya buru-buru meninggalkan area vila dan bergegas menuju halte bus.

"Terima kasih."

Sejenak Aeris mengucapkan terima kasih. Gadis yang baik hati ini, jelas sudah kehabisan kata - kata. Tetapi saat dia membuka mulut, dia sangat bersyukur. Setelah diam beberapa saat, dia ragu-ragu dan berkata, "Kamu, mengapa kamu memukulnya?"

"Karena kamu adalah istriku." Kata Cloud dengan benar.

"Aku ..." Aeris mengerutkan dua bibir tipis seksi.

Banyak hal yang ingin dia katakan, tetapi dia tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Lalu dia segera menjadi khawatir lagi, "Tapi, kamu barusan memukul Reinhard, dia tidak akan melepaskanmu, aku akan kembali dan meminta maaf padanya sekarang."

Cloud mengulurkan tangan untuk menghentikannya dan tersenyum lembut.

"Tidak apa-apa, lain kali jika dia melakukan itu lagi, aku akan menghajarnya lagi. Di dunia ini, tidak ada yang boleh menyakitimu."

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

1018