Bab 14 Itu Karena Ibu Kita Menyayangiku

by Hideo Takashi 11:20,Sep 23,2020
Semakin lama berhubungan dengan Cloud, Aeris semakin menyadari Cloud bagaikan seorang pria yang memiliki lubang tidak berdasar, dia tidak akan bisa membacanya sama sekali.
Dan tanpa terasa, Cloud juga mulai merubah orang di keluarga mereka.
“Apakah kamu tidak menyadari sarapan hari ini jauh lebih enak dari biasanya?”
“Bubur daging pitan, lumpia goreng, pangsit, juga ada cakwe yang dijual oleh keluarga laowang.”
“Biasanya dua sampai tiga bulan pun kami belum tentu bisa memakan makanan enak itu sebagai sarapan.”
Cloud tersenyum lebar : “Itu karena ibu kita menyayangiku!”
“Itu ibuku, bukan ibumu.”
Ketika Aeris mengatakan ini, ada sedikit nada cemburu yang terdengar dalam ucapannya.
Cloud datang kerumah mereka baru sebentar saja, tapi ibunya sudah begitu baik padanya, bagaimana kalau sampai tinggal lebih lama lagi.
“Sama saja bukan, bukankah orang tua terdahulu mengatakan kalau menantu itu setengah anak kandung.”
Begitu membicarakan masalah ini, Aeris langsung bersikap tegas.
“Aku sudah pernah mengatakan padamu kalau aku sudah menyukai orang lain.”
“Siapa namanya?” Cloud langsung bertanya.
Aeris refleks hendak menjawab : “Namanya…….”
Namun dia segera sadar dan memelototi Cloud : “Kamu nyebelin ya!”
“Aku sudah mengatakannya padamu, aku tidak akan memberitahu namanya padamu.”
Kalau itu nama yang lain, Aeris pasti akan langsung mengatakannya.
Namun yang menyebalkan adalah nama mereka berdua ternyata sama!
Dan entah kenapa, setelah berhubungan lama dengan Cloud, Aeris merasa seperti pernah mengenalnya.
Ketika itu, dia juga seorang pengemis yang tidak memiliki tempat tinggal.
Ketika itu, dia juga akan menjaga dan melindunginya seperti sekarang.
Nama dan marga mereka berdua sama, mungkinkah orang yang sama?
Aeris merasa bimbang.
Disaat ini, Aeris menyadari Cloud sedang makan sesuatu.
Dia bertanya dengan terkejut : “Kamu sedang makan apa?”
Cloud berkata sambil tersenyum : “Coklat.”
Begitu Aeris mendengar coklat, dia langsung mengulurkan tangannya yang putih bersih.
“Barikan aku sepotong.”
Namun Cloud malah menjawab : “Tidak mau.”
Aeris langsung tercengang.
Mobil harga miliaran bisa dia beli dengan sesukanya, namun intuk sepotong coklat dia bisa begitu pelit?
Aeris mengerutkan bibirnya yang sexy : “Dasar pelit, kelaut sana!”
Bukan Cloud pelit.
Masalahnya semua coklat ada didalam kotak besi, kalau sampai dikeluarkan, maka semua akan ketahuan!
Tanpa sadar, mobil sudah tiba di lokasi proyek.
Dari kejauhan Aeris bisa melihat ada sekelompok orang yang sedang membuat onar di lokasi proyek.
Yang menjaga adalah seorang pria berkepala botak, tangannya memegang sebatang pipa besi yang panjang.
Pria botak mencegat mobil Cloud dengan pipa besi.
“Turun!”
Aeris segera membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa.
“Apa yang kalian lakukan?”
"Apanya apa yang kami lakukan, ada juga gua yang tanya kalian mau melakukan apa?"
Pria berkepala botak menunjuk proyek bangunan yang ada dibelakangnya.
“Kuberitahu kalian ya! Tanah ini adalah milik kami!”
“Tanpa ijin dari kami, tidak ada yang boleh menyentuh tanah disini!”
Begitu mendengar ucapan ini, Aeris langsung panik.
Sekarang Jared dan Reinhard sedang berusaha mempersulitnya.
Kalau dalam waktu singkat dia tidak bisa membangun pergudangan.
Maka pada saat itu, Jared pasti akan mencari alasan untuk menendangnya!
“Tanah ini sudah dibeli oleh group perusahaan kami dua bulan yang lalu, dan semua surat juga prosedur lengkap.”
“Atas dasar apa kalian melarang kami?!”
Tiba-tiba pria berkepala botak melayangkan pipa besi yang ada di tangannya.
“Atas dasar ini!”
Disaat ini, di belakang pria berkepala botak berdiri belasan preman dengan wajah yang garang.
Masing-masing memegang sebatang tongkat kayu di tangan mereka.
Memasang pose siapa yang berani menyentuh maka mereka akan menghajar siapa.
Cloud turun dari mobil.
Dia berjalan kearah pria berkepala botak dengan wajah tanpa ekspresi.
Ketika pria berkepala botak itu merasa kesal, Cloud langsung merebut pipa besi yang ada di tangan pria itu.
Lalu, dihadapan para brandalan yang tidak merasa takut sedikit pun ini, Cloud membengkokkan pia besi yang awalnya lurus dan terlihat keras itu.
Cloud membuang pipa yang sudah dia bengkokkan ke samping dengan asal lalu mengatakan satu kata.
“Pergi.”
Pria berkepala botak itu tercengang, ia mundur dua langkah, lalu berteriak pada belasan brandalan yang berdiri dibelakangnya.
“Hajar!”
Begitu mendengar apa yang dikatakan oleh pria berkepala botak itu, Aeris langsung terkejut.
Awalnya dia ingin menarik Cloud ke samping dan mencegahnya untuk berkelahi.
Namun siapa yang menyangka Cloud begitu cepat sampai membuatnya tidak tahu harus bagaimana!
Ada dua orang berandalan yang berteriak dan melayangkan pipa besi kearah Cloud .
Cloud melangkah maju dengan cepat dan gesit.
Sebelum pipa besi itu mendarat, dia sudah mencekik leher kedua berandalan itu dan menabrakkan mereka satu sama lain.
Lalu, Cloud bagaikan seekor macan mengamuk yang menerjang masuk ke dalam kerumunan domba.
Para berandalan yang tadi begitu garang, sekarang sudah terkapar tidak berdaya hanya dengan beberapa jurus dari Cloud .
Cloud mengulurkan tangan dan memungut pipa besi yang ada di lantai.
Dia menempelkan satu sisi pipa besi ditanah dan berjalan maju sambil menyeret pipa besi itu.
“Sialan! Beraninya kamu menyentuh orangku, apakah kamu tahu siapa aku? Bosku adalah…….”
Pria berkepala botak itu belum menyelesaikan ucapannya, sudah terdengar suara “Brakk”.
Tinju Cloud menghantam perut pria berkepala botak dengan begitu keras.
Dia memegangi perutnya dan langsung berlutut dihadapan Cloud, dan rasa sakit ini membuatnya sampai tidak bisa bersuara lagi.
Berikutnya, Cloud langsung membengkokkan pipa besi yang ada di tangannya.
Kemudian dia menekuk pipa besi itu layaknya tali dan melingkarkannya di leher pria botak itu!
Cloud bagaikan sedang menggandeng seekor binatang, dia menyeret pria botak itu berjalan kearah seorang berandal.
Lalu dengan cara yang sama, dia menggunakan pipa besi yang panjang mengalungi leher tiga orang berandalan!
Disaat ini, para berandalan lain yang berada di belakang Cloud Revengale sudah meringis dan ketakutan.
Tidak ada yang berani melawan!
Aeris hanya melihat semuanya dengan mata terbelalak.
Sebelumnya, ketika Denzel sedang membesar-besarkan Cloud, dia sering mengatakan kalau Cloud sangat pintar berkelahi.
Namun yang membuat Aeris tidak terpikirkan, ternyata Cloud benar-benar begitu hebat!
Aeris Lehard segera berjalan kesamping Cloud .
Dia memeriksa Cloud dengan teliti, setelah melihat Cloud sama sekali tidak terluka, dia baru bisa merasa lega.
“Kenapa kamu begitu gegabah? Bagaimana kalau ditangan mereka ada pisau?”
Meskipun dia mengatakan itu, namun sama sekali tidak ada nada menyalahkan dalam ucapan Aeris, malah terdengar penuh perhatian.
Cloud tersenyum : “Tidak apa, berandalan kecil seperti mereka tidak akan bisa melukaiku.”
Setelah mengatakannya, Cloud berjalan mendekati pria berkepala botak itu dan menendangnya sampai terkapar dengan satu tendangan.
Cloud melihat pria botak itu dari ketinggian : “Lain kali berani datang lagi, aku akan mengeluarkan seluruh isi perutmu, lalu membelitkannya di lehermu seperti ini.”
Cloud berkata dengan ringan, namun ketika pria botak itu melihat tatapan mata Cloud yang tajam dan dingin itu.
Dia tahu apa yang dikatakan oleh pria dihadapannya ini adalah benar adanya, dia tidak sedang bercanda!
“Sekarang aku hitung sampai tiga.”
“Satu.”
Cloud baru menghitung sampai ‘satu’, belasan berandalan yang sudah dihajar sampai ketakutan ini, segera melarikan diri tanpa menoleh satu kali pun.
Si pria botak itu sampai berlari dan tersungkur beberapa kali, dia terus berlari tunggang langgang sampai menghilang dari pandangan Cloud .
Saat ini Cloud berbalik dan melihat para karyawan Tazma Grup yang melihat keramaian dari samping, dia hanya menatap mereka dengan datar.
Semua orang yang dilihat oleh Cloud, seketika bergidik!
Rasanya menakutkan bagaikan sedang diincar oleh oleh binatang buas!
“Masih bengong disana saja, cepat mulai bekerja.”
Hanya dengan satu kata dari Cloud, semua orang segera bergerak dengan cepat, bahkan hasil kerjanya jauh lebih bagus daripada biasanya.
Aeris bertanya pada Cloud : “Bagaimana kamu bisa sehebat ini? Kenapa rasanya kamu itu seperti tokoh pendekar dalam novel silat.”
Cloud berkata sambil tersenyum : “Dulu ketika aku mengemis, aku bertemu dengan seorang pengemis tua, dia bilang aku memiliki bakat terpendam, suatu hari nanti aku akan bisa menjadi pahlawan yang menegakkan kebenaran.”
“Stop.”
Aeris berkata dengan nada ketus : “Adegan dalam film ini tidak perlu kamu ulang lagi. Kalau sampai kamu lanjutkan lagi, bisa jadi kamu akan mengatakan kalau kamu bisa jurus delapan belas tapak naga.”
Cloud berkata : “Meskipun tidak selebay itu, namun yah kurang lebih sama.”
Aeris menghela nafas tidak berdaya.
Karena dia merasa tidak mungkin bisa mendengar ucapan yangnyata barang satu patah kata pun dari mulut Cloud
Melihat Aeris berbalik memandor para pekerja, Cloud berteriak dibelakangnya.
“Apa yang kukatakan adalahnyata.”
Aeris menjawab tanpa menoleh : “Jangankan nyata, meskipun itu serius, aku pun tidak akan percaya.”

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

1018