Bab 4 Gadis Lugu Yang Baik

by Hideo Takashi 16:08,Sep 11,2020
Kata-kata Cloud membuat Aeris dan Gavia saling memandang dan Gavia tidak bisa untuk tidak memegang keningnya. Karena senyuman percaya diri Cloud agak konyol baginya, dia berpikir kalau menantunya ini memang memiliki otak yang tidak normal.

Saat ini, Jared dan Casius sedang duduk di ruang keluarga. Jared sendiri sedang minum teh dengan santai dan disampingnya Casius menundukkan kepalanya dengan ekspresi yang rumit.

Lalu Reinhard buru-buru masuk, "Ayah! Aku dipukuli."

Jared mengerutkan kening, "Bajingan mana yang berani untuk melukai anakku!"

Reinhard berteriak dengan marah, "Menantu pilihanmu, si brengsek itu bernama Cloud!"

Reinhard mengangkat tangan kanannya yang bengkak dan menunjuk pipinya yang juga bengkak.

"Barusan, aku hanya bercanda dengan adikku, lalu si anjing itu membuat tanganku seperti ini! Lihat jari-jariku patah!"

Jared menepuk meja lagi dan berkata sambil menunjuk ke Casius.

"Casius, dasar adik tidak berguna!"

Casius pun terlihat kaget, karena menantu laki-laki sampah yang baru saja dia pilih tidak disangka berani memukul keponakannya yang dianggap sebagai harta.

Setelah terkejut, Casius dengan bodoh berkata: "Kakak, bukankah kamu yang memilih menantu itu."

"Kamu……"

Jared menendang meja.

"Keluar dari sini!"

Begitu Casius pergi, Reinhard meraih tangan Jared dan berkata, "Ayah, bantu aku memanggil lusinan orang, aku ingin memotong tangan dan kaki bajingan itu!"

"Tidak bisa!"

Meski Jared merasa kasihan pada putranya, dia menjelaskan dengan amarah, "Kita baru saja menerima menantu sampah ini. Jika kamu memotong tangan dan kakinya, pamanmu tidak akan berdiam diri saja!"

"Lagipula, Cloud ini awalnya orang gila, kenapa kamu begitu saja memprovokasi dia?"

Reinhard berkata dengan enggan, "Ayah, Aeris sudah menikah, ayo kita keluarkan dia dari grup!"

Jared menggelengkan kepalanya: "Tidak, sekarang grup kita memiliki proyek yang sangat penting yang ditangani oleh Aeris. Kontraknya akan ditandatangani dalam dua hari, dan akan menjadi tidak etis untuk mengeluarkannya sebelum kontrak selesai."

Reinhard berkata cepat, "Ayah, proyek itu sudah selesai dikerjakan, jadi tidak masalah siapa yang akan menandatanganinya!"

"Aku akan pergi untuk menandatangani kontrak proyek ini, lalu semua pujian akan diberikan kepadaku. Bukankah kakek lebih menghargaiku dari pada Aeris?"

Mata Jared berbinar, dia benar.

"Lagi pula, Denzel, bajingan kecil itu tidak bisa dilepaskan, dan dia masih bisa digunakan sebagai alat tawar-menawar!" Setelah berkata, Jared memandang putranya sambil mengangguk sedikit, dan menepuk pundaknya, lalu berkata lagi, "Kamu akhirnya sudah dewasa!"

Kompleks Sunny, rumah Aeris.

Casius yang pincang tengah menopang dirinya untuk masuk ke dalam rumah dengan tongkat sedikit demi sedikit. Setelah membuka pintu, dia terkejut melihat Cloud sedang duduk di sofa di ruang tamu.

"Kamu ... barusan menghajar seorang Dewa?"

"Ehm."

Bagi Cloud, memukul Reinhard seperti memukul seekoranjing. Gavia lalu menarik Casius untuk duduk di sebelahnya, dan membisikkan apa yang terjadi barusan, lalu kedua suami istri itu menatap Cloud dengan aneh.

Bagi keluarga mereka, Cloud itu aneh. Namun bagi Aeris, dia mengalahkan Reinhard yang manja dan pemberontak sejak kecil. Di matanya, meski dia agak bodoh, tetapi dia sangat lugas dan mungkin sedikit lucu.

Aeris juga memandang Cloud dengan ekspresi bingung. Kemudian dia mengajak Cloud ke kamarnya. Saat membuka pintu, aroma unik dari kamar seorang gadis tercium. Aromanya begitu manis dan sangat menyenangkan serta menyegarkan, dan Cloud menarik napas dalam-dalam tanpa sadar.

Kamarnya tidak besar, dengan tempat tidur kecil selebar 1,5 meter, ditambah dengan meja, dan setengah dinding rak buku. Lalu Cloud hanya duduk di sudut kosong dan berkata sambil tersenyum, "Aku akan tidur di sini mulai sekarang."

"Hah?" Aeris tertegun.

"Tapi, tapi itu tidak adil untukmu."

Gadis lugu dan baik hati ini, cukup melihatnya saja sudah membuat Cloud merasakan hangat di hatinya, ditambah dengan bibir tipis merah muda Aeris yang tampak mempesona.

Sebenarnya, dia telah menunggu bocah laki - laki itu kembali, karena dia telah bersumpah akan menikahi dia, dan bocah laki - laki itu namanya Cloud. Sebenarnya dia ingin memberi tahu Cloud tentang ini, tetapi nama mereka sama, jadi dia takut kalau Cloud akan salah paham sehingga dia bingung harus berbicara apa.

Cloud duduk bersila di sudut lalu kepalanya melihat ke atas dan tersenyum yang memperlihatkan sederet gigi putihnya.

"Kamu tenang saja, selama aku tidak mendapat izin darimu, aku tidak akan pernah menyentuhmu. Bagi gelandangan sepertiku, memiliki tempat untuk berlindung dari angin dan hujan saja sudah cukup."

Setelah berbicara, Cloud memeluk kepalanya dan berbaring telentang di sudut.

Saat Aeris tidak memperhatikan nya, dia membuka kotak besi nya, dan mengambil sepotong coklat.

Saat sudut mulut Cloud terangkat, dan kakinya gemetar karena gembira, dan bersamaan dengan itu ada ketukan cepat di pintu.

"Aeris, buka pintunya!"

Setelah membuka pintu, Gavia tampak berdiri di depan pintu dengan wajah bingung sambil memegang ponselnya, dan berkata, "Reinhard menelepon." kata Gavia yang tampak khawatir.

Ketika dia mendengar bahwa yang meneleponnya adalah Reinhard, hati Aeris terkejut, lalu Reinhard berkata, "Aeris, kabar baik untukmu, kamu tidak perlu berangkat bekerja lagi besok! Ha ha ha..." Di telepon, Reinhard tertawa liar.

"Kenapa kenapa?" Tanya Aeris dengan nada sangat marah hingga suaranya bergetar.

"Apakah kamu ingin tahu alasannya?. Hei! Karena kamu hanyalah seorang perempuan, karena kamu semua adalah parasit. Dan Sekarang aku ingin parasit seperti kalian pergi. Lalu keluargamu akan mati untukku!. Ah ha ha ha ……" Dalam tawa yang keras, Reinhard menutup telepon.

Aeris duduk dengan sedih di tepi tempat tidur, dia merasa sedih, tidak berdaya, dan bingung. Lalu Cloud mebelai Aeris dari bawah.

"Masalah ini disebabkan olehku, jadi aku akan menyelesaikannya."

Sebelum Cloud berbicara, Gavia menahan dahinya yang kesakitan.

"Bagaimana kamu akan menyelesaikannya sebagai gelandangan?"

"Sekarang pekerjaan putriku hilang, dan putraku masih di tangan mereka!"

"Astaga, apakah dia menginginkan nyawa keluarga kita?"

Cloud segera bangun dan keluar dari pintu dengan cepat.

"Hei, kamu mau kemana?"

Gavia dan Casius sama-sama tidak menyangka, kalau Cloud akan pergi begitu saja. Kedua orang itu terdiam untuk waktu yang lama. Saat Gavia menyusulnya ke pintu, Cloud sudah tidak lagi terlihat.

"Dia, dia baru saja pergi?"

Gavia menatap Casius.

"Apakah dia akan menyusahkan Reinhard?"

Gavia sabar dan pengertian,meski dia berada dalam situasi yang sangat buruk sekarang, tetapi dia masih mengkhawatirkan Cloud.

Melihat langit yang semakin gelap, kekhawatiran muncul di wajah Gavia: "Sekarang sudah gelap. Berbahaya baginya untuk keluar seperti ini."

"Apa kau benar-benar mengira dia sedang mencari Reinhard, mungkin karena dia tahu rumah kita, jadi dia kabur?"

Sekarang semuanya menjadi berantakan, dan Casius merengut setelah selesai berbicara, dan menutup Dirinya di kamar seperti kura-kura.

Gavia bergegas turun dari lantai atas, tepat pada waktunya untuk melihat Cloud sedang memasukkan ponselnya ke dalam sakunya. Dia tampak seperti baru saja menyelesaikan panggilan, lalu Gavia menghampiri Cloud, dan Cloud berkata tanpa menunggu dia berbicara.

"Bu, bisakah ibu meminjamkan sesuatu?"

"Ibu?" panggilan yang tiba-tiba itu mengejutkan Gavia, tidak disangka Cloud berteriak begitu lancar.

"Kamu, apa yang akan kamu pinjam?"

"Baru saja aku melihat a ada ikan gurame di dapur, tolong pinjamkan padaku."

"Apa?"

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

1018