Bab 11 Masuk ke Dalam Jebakan

by Minnie Yao 10:01,Jan 07,2022
Ballroom Kediaman Panglima Perang sangat megah, dengan lampu kristal yang bersinar serta iringan alunan piano, sejak tadi sudah banyak pria tampan dan wanita cantik yang berdansa.

Tetapi masih belum ada yang menghiraukan pasangan ibu dan anak Medelyn Gu.

“Mengapa Nyonya Panglima Perang mengabaikan kita? Bukankah pesta ini diadakan untuk kita hari ini?” Medelyn Gu tidak bisa menahan diri.

Chloe Qin tidak bisa menahan wajahnya lagi dan merasa kesal ketika ditanya oleh Medelyn Gu, lalu berkata, "Mungkin nyonya sedang sibuk. Apakah kamu tidak melihat sekelilingnya."

Tangan kiri Medelyn Gu terasa sangat sakit, hingga dia meminum beberapa teguk anggur berturut-turut sambil menyaksikan Nyonya Panglima Perang mengobrol dan tertawa dengan orang-orang di kejauhan, dia terlihat tidak sibuk sama sekali dan Medelyn Gu merasa cemas.

Mengapa Nyonya Panglima Perang sengaja mengabaikannya?

Hanya Madell Gu, dengan mata tenang menatap aula dansa itu, seolah-olah tempat ini tidak ada hubungannya dengan dia.

Tatapan menghina dari orang lain, semua diabaikan oleh Madell Gu dan dia dengan tenang mengamati sekeliling.

Nyonya Panglima Perang yang sibuk sejak tadi, akhirnya meluangkan waktu luangnya dan melirik ke sini beberapa kali. Madell Gu melihatnya dan tersenyum padanya, tetapi tidak mendapat balasan.

Sudut bibir Madell Gu sedikit terangkat yang mengartikan dia tidak peduli.

Setelah beberapa saat, Nyonya Panglima Perang pergi ke aula kecil di sebelah.

Seorang pria tinggi, kokoh, berusia lima puluhan, dengan penuh keagungan, duduk di sofa kecil sambil merokok. Dalam gumpalan asap, matanya dalam dan bijaksana.

Dia adalah Panglima Perang Si.

“Bagaimana?” Tanya Panglima Perang Si kepada Nyonya Si yang memasuki pintu.

Nyonya Si tersenyum lembut: "Madell telah tiba. Panglima perang, Anda tidak harus pergi menemuinya secara langsung. Anda bisa mengucapkan beberapa patah kata padanya setelah makan malam keluarga. Dia adalah gadis desa yang belum pernah melihat dunia, Anda jangan menakuti dia!"

Panglima Perang Si tersenyum dan mengeluarkan cerutu: "Apakah aku sebegitu menakutkan?"

“Bukan kamu yang terlihat menakutkan, tetapi identitasmu. Selama hidup Madell, bagaimana mungkin dia pernah melihat orang besar sepertimu?” Nyonya Panglima Perang tersenyum, tangannya yang putih dan lembut menyentuh dengan lembut medali di dada Panglima Perang Si.

Medali itu berkilau hingga bisa terlihat pantulan bayangan di dalamnya, yang juga menunjukkan keunggulan Panglima Perang Si.

Panglima Perang Si meraih tangannya dan menciumnya dengan lembut, "Kamu benar, juga tidak terlambat bila menemuinya setelah pesta prom selesai."

Nyonya Si tersenyum dan mencium pipi suaminya dengan lembut.

Nyonya Si tidak akan membiarkan Panglima Perang Si menemui Madell Gu terlebih dahulu, karena dia sudah menyiapkan "hadiah besar" untuk Madell Gu.

"Hadiah" ini pasti akan membuat Panglima Perang Si merasa 'kagum' pada Madell Gu.

Madam Si tersenyum penuh kemenangan di sudut bibirnya, karena semuanya sudah diatur, "Panglima perang, aliran pesta baru memiliki sebuah peraturan, yaitu tokoh utama dalam pesta harus menari. Pesta hari ini untuk Madell dan dia perlu berdansa dengan David. Tetapi sayang sekali David tidak ada di rumah. " Nyonya Si menjelaskan dengan lembut, "Menurut aturan, perlu dicarikannya seseorang untuk menggantikan David dan menari bersama Madell."

Panglima Perang Si mengerutkan kening, "Tidak mungkin kamu menginginkan aku yang berdansa dengannya bukan?"

Panglima Perang Si adalah pria yang kasar, dia paling benci menari.

Nyonya Si tertawa, “Bagaimana mungkin? Aku sudah mengatur semuanya."

Panglima perang sangat puas dan tersenyum tipis, mengatakan bahwa istrinya bijaksana.

“Apakah ada surat dari David baru-baru ini?” Tanya Panglima Perang Si.

David Si adalah Panglima Muda Kedua dari Kediaman Panglima Perang dan orang yang akan menikah dengan Madell Gu.

"Ada, aku baru saja menerima telegram kemarin pagi yang mengatakan bahwa David dalam kondisi stabil." Kata Nyonya Si.

Begitu membahas ini, wajah berseri-seri Nyonya Si menjadi lebih gelap.

"Penyakitnya telah diobati selama lima tahun, tetapi masih belum terlihat keefektifannya." Panglima Perang Si juga kesal, "Atau bagaimana jika membawanya kembali dan mencoba pengobatan tradisional Tiongkok."

“Tidak bisa.” Nyonya Si menolak, “Pengobatan tradisional Tiongkok adalah penipuan. Apakah Anda tidak membaca koran yang menuliskan bahwa hal-hal yang cukup modis akhir-akhir ini adalah menonton film, minum anggur asing dan mengutuk pengobatan Tiongkok, intinya aku tidak percaya pada pengobatan Tiongkok."

“Lancang. Pengobatan Tiongkok sudah ada selama ribuan tahun, bagaimana bisa kearifan nenek moyang kita menjadi ampas!” Panglima Perang Si mengerutkan kening.

Nyonya Si segera menenangkannya, “Panglima perang, Jerman memiliki teknologi medis tercanggih di dunia, juga akademi militer tercanggih. David sambil menjalani pengobatan sambil belajar di akademi militer. Ketika dia kembali setelah lulus, bisa saja penyakitnya sudah sembuh dan bukankah itu adalah dua hal yang sangat membahagiakan?"

Panglima Perang Si mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi.

“Aku akan istirahat sebentar, nanti kamu panggil aku." Panglima Perang Si merasa sakit di kepalanya.

Aula di samping adalah suite dengan kamar tidur di dalam, yang biasanya digunakan untuk keramahtamahan.

Panglima Perang Si masuk untuk beristirahat dan mata menawan Nyonya Si menjadi suram dan dingin.

Penyakit putranya membuatnya sakit kepala dan begitu juga dnegan Madell Gu.

Madell Gu mengancamnya, lalu memaksanya untuk mengakui bahwa Madell Gu adalah tunangan dari Panglima Muda Kedua dan hal ini membuat Nyonya Si sangat marah. Dia ditekan oleh Madell Gu dan dia perlu membalikkan satu ronde.

Semuanya sudah direncanakan, dia cukup menunggu Madell Gu masuk ke dalam jebakannya.

Nyonya Si bangkit, melewati pintu pojok dan datang ke ruangan lain.

Ada dua ajudan di dalam ruangan dan seorang pria dengan tuksedo, bertubuh ramping dan tinggi, memberi hormat kepada Nyonya Si.

“Siapa namamu?” Nyonya Si bertanya dari ketinggian.

Pria itu sedikit gugup dan tergagap, "Namaku Jensen Ye, aku memberi hormat pada nyonya."

“Jensen Ye, apakah kamu benar-benar pandai menari?” Nyonya Si mengangkat dagunya sedikit, terlihat arogan. Dia adalah sosok yang anggun, bahkan jika dia sombong, tetapi juga terlihat menggelora dan juga membuat hati orang lain tergerakkan."

“Iya, aku yang mengajari tari pada para nona di Paramount.” Kata Jensen Ye.

“Apakah kamu tahu apa yang harus dilakukan?” Nyonya Si bertanya lagi.

“Aku sudah tahu karena ajudan telah menjelaskan semuanya dan aku sudah mengingatnya.” Jensen Ye menjawab, “Nyonya, jangan khawatir, aku tidak akan membuat kesalahan.”

“Baguslah jika kamu memahaminya. Sana pergi ke aula.” Kata Nyonya Si dengan dingin.

Jensen Ye menjawab iya, berbalik dan pergi. Dia adalah seorang penari, berjalan ringan, mengenakan tuksedo yang disesuaikan, tetapi dia tidak memiliki rasa keanggunan dan kemewahan, melainkan terlihat sangat sembrono.

Nyonya Si menggelengkan kepala, Temperamen seseorang tidak dapat ditopang oleh pakaian, melainkan harus dipupuk sejak kecil.

Memikirkan hal ini, hati Nyonya Si sedikit tidak sabar. Sikap Madell Gu sangat baik, bahkan lebih anggun daripada saudara perempuannya yang pernah belajar di Inggris. Dia sama sekali tidak terlihat seperti seorang gadis desa.

Apa aku salah prasangka padanya?

Ketika Nyonya Si sedang merenung, seorang ajudan masuk terburu-buru.

Tanahnya licin dan cahaya lampu tampak seperti langit yang dipenuhi dengan bintang. Sang ajudan berjalan terburu-buru dan hampir jatuh.

“Ada apa, mengapa begitu terburu-buru!” Nyonya Si mengerutkan kening karena tidak senang.

Ajudan menyerahkan telegram dan berbisik kepada Nyonya Si, "Nyonya, panglima muda meninggalkan Jerman enam bulan lalu dan menghilang ..."

Wajah Nyonya Si tiba-tiba berubah.

“Bagaimana mungkin?” Nyonya Si sangat marah dan takut Panglima Perang Si yang sedang beristirahat di aula sebelah mendengarnya, jadi dia menekan suaranya.

Dia menerima telegram Jerman setiap setengah bulan tanpa adanya keterlambatan. Dia mengirim banyak orang untuk merawat David Si di Jerman, tetapi sekarang dia mengatakan kepadanya bahwa putranya menghilang!

Benar-benar brengsek!

Para ajudan yang mendampinginya harus ditembak mati!

“Benar, nyonya.” Kata ajudan.

Wajah Nyonya Si memerah, gigi putihnya terkatup rapat.

"Cepat cari dia! Bila tidak dapat menemukannya, maka kalian semua harus mati!” Nyonya Si menahan amarahnya, tetapi suaranya seperti pedang dingin, meluncur melintasi kehampaan dengan dentang yang haus akan darah.

Ajudan mengiyakan, berlari terburu-buru dan hampir terpeleset lagi.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

463