Bab 14 Pembalasan

by Minnie Yao 10:01,Jan 07,2022
Pesta dansa belum berakhir dan Panglima Perang Si mengundang Madell Gu ke aula samping.

Aula samping sangat besar, dengan karpet kasmir tebal, satu set lengkap furnitur Italia, ada dua peta di dinding, yaitu peta geomansi China dan peta laut dunia.

Di dinding barat daya terdapat deretan rak buku yang diisi dengan buku-buku berbagai warna yang tertata rapi, di ujung rak buku terdapat sebotol partisi berbagai macam ukiran yang diisi dengan berbagai pisau.

Mata Madell Gu tertuju pada pisau-pisau itu dan sangat menginginkannya.

“Madell, duduklah.” Panglima Perang Si berkata dengan ramah. Dia terlihat sedikit serius, mungkin karena dia menjaga perasaan Madell Gu, jadi dengan sengaja membuat dirinya sedikit lebih ramah.

Madell Gu berterima kasih padanya.

Nyonya Si dan Flora Si juga masuk dan beberapa orang itu duduk. Pelayan membawakan secangkir teh hitam Inggris untuk Madell Gu. Teh harum itu mengandung susu, yang membuatnya menjadi lebih lembut.

Madell Gu menyesap, matanya sedikit menyipit, seperti kucing kecil.

Nyonya Si minum air putih, Flora Si minum cokelat panas dan Panglima Perang Si minum secangkir teh Longjing.

“Bagaimana keadaanmu selama bertahun-tahun di desa?” Tanya Panglima Perang Si.

“Aku dibawa ke pedesaan oleh pengasuh ketika aku berusia dua tahun. Patut diakui bahwa tidak peduli seberapa susahnya hidup di pedesaan, tetapi itu adalah yang terbaik di hati para pengembara." Ucap Madell Gu.

Setelah Panglima Perang Si mendengar kata-kata ini, matanya berbinar, "Itu benar, kamu ini cukup berpengetahuan, bagus."

Dia sudah memuji Madell Gu berkali-kali dan wajah Nyonya Si bahkan menjadi lebih jelek.

Nyonya Si mengatur Viennese Wals untuk membuat Madell Gu malu, akan tetapi hasilnya Madell Gu terlihat sangat luar biasa dan Panglima Perang Si semakin merasa puas padanya.

Dia yang awalnya ingin menjebaknya bahkan mengalami kerugian.

Panglima Perang Si tidak mengetahui alasan mengapa Madell Gu memasuki kota dan bertanya kepadanya, "Mengapa kamu kembali ke kota baru-baru ini?"

Ekspresi Nyonya Si sedikit menegang.

Madell Gu melirik Nyonya Gu, lalu sedikit menunduk, diam-diam tersenyum tapi tidak menjawab.

Mengapa datang ke kota? Nyonya Si menjemputnya untuk membatalkan pernikahan.

Tapi Madell Gu tidak akan mengambil inisiatif untuk mengatakannya.

Jadi Nyonya Si membantu Madell Gu menjawab, "Ayahnya yang merindukannya, jadi pun menjemputnya kembali."

"Iya." Madell Gu mengikuti.

Panglima Perang Si membicarakan topik keluarga pada umumnya dan menyuruhnya untuk sering mengunjungi Kediaman Panglima Perang dan berkata, "Hari sudah malam dan pesta dansa sudah akan selesai. Datanglah untuk makan malam di lain hari."

Madell Gu mengiyakan.

Nyonya Si dan Flora Si mengantar Madell Gu.

Flora Si dengan hangat meraih lengan Madell Gu dan bertanya, "Kak Madell, dari mana kamu belajar menari? Kamu menari dengan sangat baik."

"Kemarin di rumah, kakakku mengajari aku, dia menari jauh lebih baik." Kata Madell Gu.

Hati Flora Si menegang dan berkata, "Benarkah?"

"Iya." Kata Madell Gu.

Flora Si ingat bahwa Madell Gu juga memiliki seorang kakak yang cukup hebat.

Setelah keluar dari aula samping, Nyonya Si melihat Chloe Qin dan Medelyn Gu, lalu Flora Si menatap tajam ke arah Medelyn Gu, yang membuat Medelyn Gu merasa tidak nyaman.

“Aku akan mengirim seseorang untuk mengantar kalian pulang.” Nyonya Si tersenyum, “Ini juga sudah berakhir. Mohon maafkan, bila aku tidak menyambut kalian dengan baik."

"Tidak perlu repot-repot nyonya." Chloe Qin tersenyum tipis, "Aku baru saja menelepon dan tuan akan menjemput kami sebentar lagi."

Medelyn Gu tampak kuyu karena diabaikan sepanjang malam, ditambah Panglima Perang Si mengumumkan di depan orang-orang di Kota Y bahwa Madell Gu adalah tunangan panglima muda.

Cita-cita Medlyn Gu untuk menikahi keluarga kaya hancur dalam seketika.

Mungkin karena dia merasa sedih dan sedikit gila di dalam hatinya, Medelyn Gu bertanya kepada Nyonya Si, "Mengapa panglima muda tidak terlihat di pesta sebesar itu? Mengapa dia tidak datang menemui tunangannya secara langsung?"

Jika pertanyaan ini diajukan di hari biasanya, Nyonya Si tidak akan merasakan apa-apa setelah mendengar kata-kata tersebut. Namun Nyonya Si baru saja menerima kabar tentang hilangnya panglima muda dan ini membuat Nyonya Si hampir kelepasan.

Flora Si yang menggenggam erat tangan ibunya, sehingga Nyonya Si tersadarkan dan mencegah terjadinya kehilangan kendali pada dirinya.

Flora Si tersenyum kepada Medelyn Gu dan berkata, "Kakak kedua sangat sibuk akhir-akhir ini. Nona Gu mungkin tidak tahu bahwa Keluarga Si adalah keluarga tradisional, yang pernikahannya diatur oleh orangtua. Selama orangtuaku hadir, apa bedanya jika kakakku datang atau tidak?"

Ini juga mengartikan bahwa keluarga besar memiliki rasa hormat dan rendah diri, tetapi keluarga kecil seperti Medelyn Gu yang tidak tahu akan tingkat kepentingannya.

Medelyn Gu tampak seperti ditampar dan wajahnya bahkan lebih jelek.

Chloe Qin juga merasa malu pada Medelyn Gu.

Madell Gu berdiri diam di samping, mengawasi mereka seolah-olah sedang menonton drama dan tidak mengatakan sepatah kata pun.

Tepat ketika dia akan berbicara, ajudan di pintu masuk memberi tahu bahwa mobil Jerom Gu telah tiba dan apakah ingin membiarkannya masuk.

Chloe Qin menghela nafas lega.

Nyonya Si masih ingin mengucapkan sesuatu, tetapi Chloe Qin berkata terlebih dahulu, "Tidak perlu Nyonya, kami akan pergi."

Madell Gu memberi hormat kepada Nyonya Si dan Flora Si, lalu pergi bersama ibu tiri dan kakaknya, meninggalkan aula mewah Kediaman Panglima Perang.

Nyonya Si berdiri di bawah atap, setengah inci bayangan menutupi dirinya, senyumnya agak gelap.

Baru saja keluar dari gerbang Kediaman Panglima Perang dan belum mencapai tempat parkir, Madell Gu tiba-tiba meraih tangan kiri Medelyn Gu yang dipatahkan oleh Madell Gu.

Setelah Madell Gu meraih tangan kiri Medelyn Gu, dia mendorongnya dengan kuat.

Dia bergerak cepat.

Peluit mobil mengaburkan gerakan Medelyn Gu hanya merasakan sakit lain di pergelangan tangannya dan berkata dengan marah, "Apa yang kamu lakukan, mengapa kamu meraih tanganku?"

Suaranya begitu keras hingga sampai ke telinga Nyonya Si dan Flora Si.

Kakak Madell Gu tidak menyukainya.

Nyonya Si dan Flora Si tersenyum, sebenarnya sangat mudah untuk menyerang Madell Gu.

Yaitu dengan meminjam tangan orang lain dan tangan itu adalah kakak dan ibu tiri Madell Gu.

"Aku tidak melakukan apa-apa." Madell Gu berteriak pada Medelyn Gu dan melepaskan tangannya. "Aku hanya ingin melihat apakah tanganmu masih sakit."

Medelyn Gu sangat marah dan ingin menampar Madell Gu.

Tetapi melihat mobil ayahnya berhenti di depannya, Medelyn Gu tidak berani.

Medelyn Gu tahu bahwa ayahnya sangat termakan dengan sikap lembut tapi tidak dengan sikap keras, serta seberapa besar kasih sayang ayahnya terhadap Madell Gu? Itu tidak lebih dari rasa kasihan padanya.

Medelyn Gu sangat percaya bahwa ayahnya lebih mencintainya, jadi dia menyingkirkan keganasannya, dengan lembut berjalan ke ayahnya sambil berlinang air mata.

Di antara putra dan putri, Jerome Gu paling mencintai Medelyn Gu. Meskipun dia memarahi Medelyn Gu ketika dia pergi hari ini, dia pun sudah menyesalinya setelah itu.

Melihat Medelyn Gu menangis tersedu-sedu, Jerom Gu buru-buru bertanya, "Medelyn, apa yang terjadi padamu?"

“Ayah, karena Madell takut aku akan merebut pusat perhatiannya, jadi dia mematahkan tanganku.” Air mata mengalir dari mata Medelyn Gu.

Setelah itu, dia mengulurkan tangan kirinya di depan Jerom Gu.

Tidak ada kekuatan di tangan itu.

Medelyn Gu menangis dengan sedih dan Jerom Gu merasa kasihan, lalu kembali menatap Madell Gu dengan marah, "Kamu mematahkan tangan kakakmu?"

Sangat kejam, dia benar-benar sama seperti ibu kandungnya, Desi Sun!

Apakah kepolosannya hanya sebuah peyamaran?

Chloe Qin buru-buru berkata, "Tuan, jangan marah, Madell masih anak-anak dan wajar saja bila dia sedikit nakal, kita cukup mengajarinya dengan baik di masa depan."

Ucapannya tampak seperti membantu Madell Gu, tetapi mereka sebenarnya sedang meyakinkan Jerom Gu bahwa ini adalah kesalahan Madell Gu.

Jerom Gu menjadi lebih marah.

“Ayah, aku tidak mematahkan tangan kakak. Dia melukai tangannya ketika dia mencubitku.” Madell Gu menjelaskan dengan lembut.

“Ayah, tanganku benar-benar patah. Saat dia memutarnya, aku mendengar suara retakan.” Medelyn Gu menangis lebih keras.

Chloe Qin berkata, "Tuan, sebaiknya antar Medelyn ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan terlebih dahulu, jangan menundanya."

Chloe Qin tidak ingin menyia-nyiakan air ludahnya. Melainkan tunggu ketika tiba di rumah sakit dan menunggu Medelyn Gu selesai menyambungkan tangannya, dia ingin melihat bagaimana Madell Gu masih bisa mengelak.

Ketika ada bukti yang kuat, lalu memberinya pelajaran pada saat itu jugalah tidak terlambat.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

463