Bab 1 Tabib Ajaib di Penjara

by Kickson 10:01,Apr 18,2022
Di Penjara Longhu, sebuah mobil Mercedes Benz S Class, dua buah Land Rover Range Rover, melaju berentetan memasuki pintu utama. Kepala Penjara, beserta beberapa penanggung jawab penting lainnya, berdiri tegak menunggu kedatangan seseorang di pintu masuk gedung perkantoran dengan wajah yang penuh hormat.

Mobil-mobil itu pun berhenti, pertama, seroang pria muda turun dari Land Rover terlebih dahulu, dia membuka pintu mobil Mercedes Benz, lalu seorang pria paruh baya yang wajahnya tampak pucat pun turun dari mobil perlahan-lahan di bawah tuntunan pria muda tersebut.

Pria paruh baya itu sekitar empat puluh tahunan, auranya sangat gagah, namun sepertinya dia sedang sakit, sesekali wajahnya tampak sedikit kesakitan. Dan rasa sakit itu sangatlah kuat, membuat orang hebat yang kuat dan dingin sepertinya itu tidak dapat menahannya, dan merasa sangat lelah.

"Jenderal Chu!" sahut sang Kepala Penjara sambil memberi hormat pada pria itu.

Pria paruh baya yang datang itu, adalah Jenderal Tingkat Tiga di daerah peperangan Negara Yanlong, namanya Timothy Chu, posisinya di militer sangatlah tinggi, waktu muda sudah memiliki pangkat seperti ini, masa depannya sangatlah cemerlang.

Timothy melambaikan tangannya, "Tidak perlu sungkan-sungkan, Kepala Penjara Li, terima kasih, di mana Tabib Ajaib Wu itu?"

Nama Kepala Penjara Li adalah Jerry Li, dia adalah Kepala Penjara di Penjara Longhu, begitu mendengar pertanyaan itu, ia segera membungkukkan punggungnya, "Maxon Wu sudah menunggu di dalam, silakan masuk, Jenderal!"

Dia memimpin jalannya di depan, segerombolan orang pun berjalan memasuki gedung perkantoran itu dengan rapi. Di lobby lantai satu, duduklah seorang pemuda yang mengenakan seragam penjara, usianya sekitar dua puluh satu atau dua, rupanya sangat biasa, ia sedang mengisap sepuntung rokok di mulutnya, matanya setengah terpejam, seolah sedang memandangi orang-orang yang sedang masuk ke dalam lobby itu.

Dia adalah Maxon Wu, "Tabib Ajaib Wu" yang dimaksud oleh Jerry tadi.

"Matikan rokokmu, Jenderal tidak bisa mencium bau asap rokok." kata seorang penjaga yang bertubuh kekar dengan dingin.

Maxon tidak memedulikannya, dan malah bertanya, "Siapa pasiennya?"

Timothy memandangi pemuda itu dengan penasaran, ternyata dialah Tabib Ajain Wu, kenapa semuda ini? Timothy sedikit mengangguk, dan berkata, "Tabib Ajaib Wu, aku pasiennya."

Setelah berkata demikian, mungkin karena mencium bau asap rokok, ia pun terbatuk-batuk. Setelah dia mendapatkan sakit kepala ini, ia tidak dapat mencium bau asap rokok lagi.

Wajah Jerry pun tampak terkejut, ia segera berkata, "Maxon Wu, matikan rokoknya, apa kau tidak melihat Jenderal Chu batuk-batuk?"

Maxon meniupkan asap rokoknya, lalu berkata pelan, "Tidak apa-apa, biarkan dia batuk-batuk sejenak."

Penjaga tadi pun marah, ia berjalan ke arah Maxon dan mengulurkan tangannya hendak merebut rokok di mulut Maxon itu, namun baru saja ia mengulurkan tangannya, Maxon langsung menghadangnya dengan tangannya, penjaga itu terkejut bak tersengat listrik, tangan kanannya langsung mati rasa, dan tidak dapat ia angkat sedikit pun.

Ia terkejut bukan kepalang, tertatih ke belakang, ia menatap Maxon dengan sangat was-was, dengan sergap ia berkata, "Dia adalah orang hebat!"

"Srett!"

Baru saja dia selesai bicara, setidaknya ada lima buah pistol yang diarahkan ke arah Maxon, sebagai penjaga, keamanan Jenderal adalah yang paling utama.

Maxon berkata dengan malas-malasan, "Kalian memperlakukan Tabib Ajaib dengan seperti ini?"

Timothy mengangkat tangannya, lalu berkata, "Simpan pistol kalian."

Mereka pun menyimpan kembali pistol mereka, wajah Timothy tampak bersalah, "Tabib Ajaib Wu, maaf telah membuatmu terkejut. Apakah Anda bisa memeriksa penyakitku sebentar?"

"Tentu saja." Maxon tersenyum, "Mengobati pasien adalah kewajiban dokter, lagipula penyakitmu juga tidak sulit untuk disembuhkan."

Di belakang Timothy, seorang pemuda yang tampan dan tinggi besar pun keluar dan berkata dengan pandangan tegas, "Kau bukan penipu kan? Kau saja tidak tahu penyakit apa yang sedang dialami oleh ayahku, tapi langsung berkata bahwa penyakit itu bisa disembuhkan?"

Maxon melihat ke arah orang itu sejenak, lalu berkata pelan, "Siapa bilang aku tidak tahu?"

Pemuda itu adalah putra Timothy Chu, namanya Sheldon Chu, ia tercengang sejenak, "Kau tahu?"

Maxon tidak memedulikannya, dan bertanya pada Timothy, "Apakah kepalamu sering sakit, dan rasa sakitnya sungguh sangat hebat, bahkan sampai perlu untuk dipukul dan diakupuntur untuk meredakannya? Waktu tersakitnya biasanya jam dua sampai tiga malam, jam lima sampai enam dini hari. Rasa sakit kepala yang hebat itu membuat kualitas tidurmu menjadi sangat buruk, imunitasmu juga menurun, oleh karena itu kau sering sekali terkena flu, juga terkena radang paru-paru dan radang lambung. Apa perkataanku benar?"

Begitu mendengar perkataan itu, tubuh Timothy gemetaran, ia langsung berkata, "Tuan Wu benar-benar Tabib Ajaib, semua yang Anda katakan benar!"

Sheldon tercengang, kenapa semua perkataannya bisa benar?

Maxon, "Oleh karena itu, aku bisa menyembuhkan penyakitmu! Tapi sebelum aku menyembuhkannya, aku ingin berbicara dengan Kepala Penjara Li terlebih dahulu."

Seketika wajah Jerry pun berubah muram, ia tahu Maxon akan mendapatkan peringanan hukuman lagi. Dua tahun lalu saat ia baru masuk penjara, Maxon mendapatkan hukuman tujuh tahun pernjara, akhirnya ia mendapatkan dua kali peringanan, dan langsung dipotong menjadi tiga tahun. Sekarang ia ingin meminta peringanan lagi, hal ini membuat Jerry bingung!

Maxon tersenyum dingin, "Kepala Penjara Li, kenapa wajahmu muram seperti itu? Apa kau sudah tahu apa yang ingin aku katakan?"

Jerry sungguh ingin menangis rasanya, ia mendekat sedikit, lalu berkata dengan pelan, "Adik Wu, aku benar-benar tidak bisa memberi peringanan lagi! Di sini sudah ada peraturannya, jarak antara pemberian pengurangan hukuman tidak boleh kurang dari satu tahun, jarak antara kau mendapatkan peringanan sebelumnya sampai sekarang juga baru tiga bulan saja."

Maxon tersenyum dingin, "Kentut! Bukankah kau memiliki dua kuota prioritas di tanganmu?"

Wajah Kepala Penjara Li tampak sangat muram, kuota prioritas itu sangatlah penting, pada narapidana yang sikap dan perubahannya terbaik di penjara, dapat dibebaskan lebih awal jika orang tersebut tidak menjalani hukuman dua tahun. Maxon memintanya untuk menggunakan kuota prioritas itu, tentu saja Jerry tidak rela, entah ada berapa orang yang berbaris untuk mendapatkan kuota itu.

Melihat ekspresi wajah Jerry, Maxon pun memejamkan matanya, lalu berkata pelan, "Aku ngantuk, ingin istirahat, antar aku kembali ke selku."

Jerry pun panik, dan segera berkata, "Maxon, bagaimana kalau begini saja, aku akan mencari teman untuk menjaminmu keluar?"

Maxon membalikkan matanya, "Aku hanya ingin peringanan! Dan keluar dalam tiga hari ini!"

Maxon ingin keluar karena ia memiliki alasannya sendiri. Tadi pagi ia berbicara dengan keluarganya melalui telepon, kata adiknya, ibunya sedang sakit dan berada di rumah sakit, hatinya sangat khawatir, ia ingin segera pulang ke rumah.

Jerry pun bertambah panik, ia masih ingin bernegosiasi dengan Maxon, tiba-tiba Sheldon berdiri keluar, dan berkata, "Tabib Ajaib Wu, asalkan kau dapat menyembuhkan ayahku, aku janji kau akan bebas hari ini!"

Ia langsung menjanjikan kebebasan Maxon, lalu melihat ke arah Jerry, "Kepala Penjara Li, aku mengerti akan nilai dari kuota prioritas itu, kuharap kau bisa memberikannya. Aku akan menggerakkan hubungan Keluarga Chu kami, agar dapat memberimu dua kuota prioritas lebih lagi tahun depan."

Begitu mendengar akan ada orang yang bertanggungjawab akan hal ini, dan mendapatkan kuota lebih pula, Jerry pun langsung merasa gembira, ia berkata, "Tak masalah, aku akan segera menyuruh orang untuk mengurusnya!"

Lalu ia tersenyum ke arah Maxon, "Adik Wu, akhirnya kau boleh keluar, jangan lupa untuk menjengukku kelak."

"Jenguk kepalamu!" maki Maxon, dia tidak ingin datang ke tempat setan ini lagi.

Lalu, Maxon pun bangkit berdiri, melambaikan tangannya untuk menyuruh Timothy duduk, lalu ia mengeluarkan satu set jarum emas, dan memulai pengobatannya. Teknik yang ia gunakan adalah Jarum Pelurus Enam Yang, khusus untuk mengobati penyakit saraf di kepala, di dunia ini, hanya dialah yang mampu menggunakan teknik ini!

Tak lama, kepala Timothy pun penuh dengan jarum emas, di saat bersamaan, rasa sakit di kepalanya pun ikut menghilang, tubuhnya pun terasa jauh lebih lega dari sebelumnya.

Melihat ekspresi ayahnya, Sheldon pun terkagum-kagum, "Tuan Wu, maaf aku tadi tidak sopan, ilmu kedokteran Anda benar-benar sangat jarang di dunia!"

Maxon berkata pelan, "Reaksimu tidak ada salahnya, mengobati penyakit memang harus berhati-hati."

Setelah selesai, ia pun menuliskan sebuah resep dan ia berikan pada Sheldon, "Minum setiap hari waktu sakit kepala, minum setiap kali merasa sakit."

Sheldon menerima resep itu dengan kedua tangannya, lalu bertanya, "Tuan, ayahku butuh berapa lama untuk bisa pulih?"

"Setelah akupuntur kali ini, ia dapat kembali pulih total setelah minum obat selama tiga hari." Nada bicara Maxon sangat percaya diri, ia langsung mengungkapkan waktu sembuh Timothy.

Sheldon sangat gembira, ia berkata pada Timothy, "Ayah, apa Ayah medengarnya? Sebentar lagi Ayah akan segera sembuh!"

Timothy membuka matanya, ia tersenyum dan berkata, "Akupuntur Tuan ini membuat pengelihatanku jelas seketika, sekujur tubuhku terasa lega, tak heran Anda dijuluki Tabib Ajaib."

Maxon tidak memedulikan pujiannya itu, ia menekan punggungnya dengn kedua tangannya, mengeluarkan reiki dari dalam tubuhnya, melancarkan peredaran darahnya dengan teknik khusus, untuk memperkuat efek pengobatannya.

Setengah jam kemudian, kepala Maxon penuh dengan keringat, uap panas di atas kepalanya mengembun menjadi kolom udara seukuran ibu jari, tingginya sekitar sepuluh sentimeter.

Kejadian itu membuat seluruh orang tercengang, tubuh salah seorang penjaga paruh baya pun gemetaran, dengan suara bergetar ia berkata, "Ini jurus Tiga Bunga Di Atas Kepala?"

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

775