Bab 13 Aku Akan Tutup Mata, Lepaskan Pakaianmu

by Kickson 10:01,Apr 18,2022
Beberapa menit kemudian, Maxon Wu berdiri dan pergi. Ini pertama kalinya dia menggunakan mantra ini, jadi tidak tahu apa efeknya. Jika efeknya kurang, dia akan melakukannya dalam beberapa hari lagi.
Dia pulang untuk beristirahat sebentar. Sampai pukul satu dini hari, dia pergi ke Qingshan Garden tepat waktu untuk berlatih Tinju Lima Naga.
Dia sedang melatih dua naga kecil pada Tinju Lima Naga di kedua lengannya, dan terobosan sudah dekat, jadi dia harus berlatih keras dalam beberapa waktu ini.
Ketika sampai di tempat dia berlatih tinju sebelumnya, dia segera melakukan pemanasan. Begitu energi dan aliran darah telah terbuka, dia mulai berlatih Tinju Lima Naga.
Setelah berlatih lebih dari satu jam, dia tiba-tiba merasa naga besar di tulang belakang telah bersambung di lengan kanannya, dia sangat gembira dan segera meningkatkan latihan.
Tidak lama kemudian, lengan kanannya perlahan-lahan menjadi lebih luwes, naga besar terhubung sepenuhnya dari lengan sampai ke bahu. Dia tahu, naga kecil di lengan kanan telah berhasil!
Naga kecil di kedua lengannya terbentuk bersamaan. Benar saja, tidak butuh waktu lama, naga kecil di lengan kiri juga terbentuk. Saat ini, dia mencoba mengerahkan teknik tinjunya, dan merasa seperti ada dua naga air yang keluar dari lengannya, daya bunuh meningkat beberapa kali lebih tinggi dari sebemunya!
Tanpa sadar, sudah pukul empat subuh, dan dia masih ingin berlatih sebentar lagi. Tapi, tiba-tiba dia mendengar ada yang naik gunung, karena itu dia berhenti.
Tidak lama kemudian, seorang pria tua dan seorang wanita mendaki gunung dengan cepat, dua orang yang sama yang dia lihat kemarin pagi.
Maxon Wu sedikit mengernyit, ada orang luar yang datang dan dia tidak boleh berlatih tinjunya lagi, jadi dia bersiap untuk pergi terlebih dulu.
Tak disangka, pria tua itu berjalan lurus ke arahnya, kemudian memberi hormat yang dalam, “Hans pernah bertemu dengan Tuan! Kemarin kami tidak mengenali orang ahli di depan mata, jadi telah meremehkan Tuan, mohon maafkan kami.”
Maxon Wu memandang pria tua ini yang sepertinya bisa melihat basis kultivasi dirinya.
Pewarisannya berasal dari peradaban yang lebih maju di zaman prasejarah, dan dia tahu banyak tentang para praktisi di dunia saat ini. Tapi dia merasa basis kultivasi pria tua ini sangat rendah, tidak ada reiki di dalam tubuhnya, cuma ada semacam energi yang samar dan tidak terlihat, dan itu adalah tenaga kekuatan.
“Tidak masalah. Kita tidak saling mengenal, tidak bisa disebut meremehkan.” ujarnya.
Pria tua menarik wanita itu dan berkata, “Ini adalah cucu perempuanku, Stella. Hari itu Tuan mengatakan bahwa dia berisiko mengalami kematian dini. Jadi mohon Tuan selamatkan nyawanya!”
Maxon Wu melirik wanita itu, lalu berkata, “Cuma perlu dipijat, lalu berlatih dengan cara baru, dan kamu akan pulih kembali sekitar satu bulan.”
“Tuan berwelas asih, mohon Tuan menyelamatkannya!” kata pria tua dengan gembira.
“Kalian tinggal di dekat sini?” tanya Maxon Wu setelah berpikir sejenak.
“Tidak jauh, mobilnya diparkir di kaki gunung.” jawab pria tua cepat.
Maxon Wu mengangguk, “Kalau begitu, mari pergi ke tempat tinggal kalian, di sini tidak leluasa.”
Pria tua segera mengiyakan, dia memimpin jalan dan ketiganya turun gunung bersama.
Ada sebuah mobil yang terparkir di taman. Mobil seharga lebih dari jutaan yuan dengan sopir di dalamnya, pria tua duduk di samping sopir, Maxon Wu dan gadis bernama Stella Zhu duduk di barisan belakang.
“Aku masih belum tahu nama Tuan.” Hans Zhu bertanya.
“Namaku Maxon Wu.” jawab Maxon Wu, kemudian dia melihat Stella Zhu dan mendapati kepribadiannya sedikit dingin, tipe wanita cantik yang sama sekali berbeda dengan Clarice Tang.
Stella Zhu sangat gugup, dia tahu kengerian master alam Qi, yang bisa membunuh master seperti kakeknya hanya dengan satu gerakan! Duduk bersama orang seperti ini, bagaikan murid SD yang sedang duduk di sebelah guru killer, dan hati yang gelisah.
“Tuan Wu, kabarnya master alam Qi bisa melukai orang dengan daun, benarkah itu?” Stella Zhu memecah keheningan dengan menanyakan pertanyaan yang membuatnya penasaran.
Maxon Wu berpikir sebentar dan menjawab, “Bisa dilakukan, tapi sulit. Tujuan utama berlatih sampai alam Qi adalah membuka meridian seluruh tubuh. Tidak ada yang akan secara khusus melatih hal-hal yang kamu katakan. Kalau bisa menggunakan anak panah, kenapa masih memakai daun?”
Stella Zhu tersipu, mengetahui bahwa pertanyaannya terlalu awam.
Hans Zhu segera berkata, “Tuan Wu, aku berlatih seni bela diri pada usia tiga belas tahun, dan telah berlatih sepanjang hidupku, tetapi aku masih berada di alam kekuatan dan tidak dapat menerobos alam Qi, kira-kira apa sebabnya?”
Maxon Wu telah mengamati Hans Zhu sebelumnya, lalu berkata, “Kultivasi alam Qi harus dipandu oleh seorang guru. Jika ada orang yang memberi pengarahan, maka kamu bisa melangkah ke alam Qi kapan saja.”
Hans Zhu sangat gembira, “Tuan Wu, apakah Anda bisa memberi petunjuk padaku?”
Setelah bertanya, dia merasa tidak sopan dan segera berkata, “Aku pasti akan membalas Tuan Wu!”
“Nanti baru dibicarakan lagi.” ujar Maxon Wu tenang.
Dia masih belum begitu kenal dengan Hans Zhu, Tao tidak boleh diwariskan sembarangan, jadi tentu saja tidak boleh langsung disetujui begitu saja.
Setelah berkendara selama dua puluh menit, mobil tiba di depan sebuah vila di pinggiran kota. Lingkungan di sini cukup bagus, tanaman hias memenuhi halaman luar, air mengalir di sekeliling vila, jadi di depan jalan keluar masuk hanya ada jembatan batu bergaya kuno.
Dapat dilihat bahwa Hans Zhu ini sangat kaya, dan vila seperti ini setidaknya bernilai puluhan juta.
Setelah turun dari mobil, Hans Zhu sendiri yang membukakan pintu mobil bagi Maxon Wu dan menyilakan dia masuk ke ruang tamu.
Saat ini masih belum pukul lima pagi, langit masih gelap, dan para pembantu masih belum bangun, sehingga Stella Zhu sendiri yang menyeduh teh untuk Maxon Wu. Tehnya adalah teh terbaik, bahkan tekonya terbuat dari tanah liat berkualitas tinggi.
Maxon Wu minum beberapa cangkir teh, tiba-tiba berkata pada Hans Zhu, “Tinggalkan kami sebentar.”
Hans Zhu tidak berani banyak bertanya dan segera meninggalkan ruang tamu.
Jadi, hanya Maxon Wu dan Stella Zhu yang tersisa di ruang tamu, dan Stella Zhu sangat gugup.
Maxon Wu memberi isyarat agar dia duduk mendekat, lalu berkata, “Aku akan bantu melancarkan meridian paru-paru kamu. Tapi kamu harus melepaskan pakaian dan telanjang.”
Stella Zhu menutupi dadanya secara spontan dan kepanikan memenuhi wajah cantiknya.
Maxon Wu tersenyum kecil, “Jangan khawatir, aku akan menutup mataku dengan kain hitam. Memintamu melepaskan pakaian itu untuk memudahkan dalam penusukan jarum. Adanya bahan kain akan mengurangi ketepatan dalam penusukan jarum.”
Mendengar matanya ditutup, Stella Zhu menghela napas lega dan berkata, “Baiklah.”
Dia mencari kain hitam dan melapisnya dengan tebal, dan dia sendiri yang menutup mata Maxon Wu.
Dalam hati Maxon Wu berkata, tutuplah setebal yang kamu mau, aku punya mata tembus pandang, tidak ada bedanya ditutup atau tidak.
Selesai menutup mata Maxon Wu, Stella Zhu baru mulai melepas pakaian, mulai dari kemeja dulu kemudian penutup dada.
Maxon Wu sudah membuka mata dimensinya. Melalui kain hitam, dia bisa melihat dua kelinci putih besar melompat tanpa kekangan dari pakaian dan cukup kenyal. Stella Zhu memiliki pinggang yang kecil, tapi dadanya besar dan kulit putih yang membuat darahnya mendidih.
Dia pura-pura bersikap tenang dan mengeluarkan satu set jarum. Tangan kanan mengambil sebuah jarum emas, dan tangan kirinya terulur ke depan, lalu sengaja berkata, “Aku mau mencari posisinya dulu, jadi akan menyinggungmu, mohon maaf.”
Wajah cantik Stella Zhu memerah, napasnya terburu-buru karena gugup, dadanya tidak berhenti naik turun. Dampak visual yang kuat membuat Maxon Wu bereaksi.
“Baik.” jawab Stella Zhu dengan suara gemetar. Dia berpikir, karena Maxon Wu tidak bisa melihat, itu akan baik-baik saja meski disentuh beberapa kali.
Tangan Maxon Wu terulur ke depan dan menekan sebuah bola.
Tubuh halus Stella Zhu bergetar sedikit dan mengerang pelan.
Maxon Wu tidak berani memegang, tangan besarnya segera berpindah ke tengah, lalu turun dan akhirnya menekan di sekitar usus besar, bagian rongga tubuh antara diafragma dan pusat, dan jarum emas segera ditusuk.
Dia langsung mengambil jarum emas kedua, dan menusuknya di jalur meridian paru-paru secara berurutan.
Tidak lama setelah itu, dia menyentuh bahu Stella Zhu. Rongga bahu di tulang selangka sangat indah. Dia tidak bisa untuk tidak menyentuhnya beberapa kali. Ujung jarinya menyentuh kulit yang halus, lembut dan hangat, rasa sentuhan yang luar biasa.
Tangannya turun ke lengan kiri. Kulit Stella Zhu sangat licin, otot-otot di lengannya indah dan kuat, dan dapat dipegang dengan satu tangan.
Tidak boleh menyentuh terlalu lama, dia mulai menusuk jarum satu demi satu, mulai dari titik Zhongfu, Yunmen, Tianfu dan titik tusuk lainnya, sampai ke titik Shaoshang.
Setelah jarum ini ditusuk, Stella Zhu tiba-tiba batuk dengan keras. Setelah batuk agak lama, dia bertanya dengan heran, “Tuan, kenapa aku batuk?”

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

775