Bab 5 Jarum Terbang Menusuk Nadi Dan Memuntahkan Busa Putih

by Kickson 10:01,Apr 18,2022
"Ma." Ia memanggil ibunya dan berlari ke sana.

Lenny masih belum lima puluh tahun, tapi rambutnya sudah putih, terlihat seperti orang enam puluh tahunan. Beberapa tahun ini, dia memikul beban dan tanggung jawab keluarga ini sendiri, oleh karena itu menua dengan sangat cepat.

"Maxon!" Begitu melihat putranya, Lenny segera memeluknya, air matanya terus mengalir.

Maxon tersadar, ia segera mengusap air matanya dan berkata, "Ma, aku sudah keluar penjara, kelak masalah keluarga kita, aku yang akan menanggungnya!"

Lalu, ia pun melihat ke arah orang-orang yang masih sedang menebang pohon itu.

Pemimpin dari orang-orang itu adalah orang kenalan Maxon, dia adalah putra kedua dari David Man, sang Kepala Desa, belum sampai lulus SD dia sudah menjadi preman dan memiliki bawahannya sendiri. Waktu kecil, Maxon sering sekali diganggu oleh mereka.

"Kalian, sedang menebang pohon rumahku? Dan ingin membongkar rumahku?" tanya Maxon dingin.

Saat Derik Man melihat Maxon, ia agak sedikit takut, bagaimanapun orang yang baru saja keluar dari penjara tidaklah sembarangan. Tapi dia juga bukanlah anak yang baik hati, seketika tatapan matanya pun berubah keji, lalu berkata, "Maxon, pohon di rumahmu ini mempengaruhi kecantikan desa, sekarang aku akan menebangnya. Satu lagi, rumahmu tidak memiliki surat resmi, sesuai dengan peraturan negara, kita harus membongkarnya dan membangunnya ulang."

Lalu wajahnya berubah muram, "Aku tahu kau baru saja keluar, tapi kuperingatkan kau, kalau kau berani berbuat macam-macam denganku, kujamin aku akan mengembalikanmu ke dalam penjara lagi!"

Maxon tertawa, "Hehe, mana mungkin aku berbuat macam-macam? Sekarang aku adalah penduduk desa yang baik, seratus persen mendukung pekerjaan desa. Tapi aku harus memberitahumu satu hal, pohon pagoda tua di rumahku ini memiliki kekuatan, kusarankan kalian untuk tidak menyentuhnya."

Derik tercengang sejenak, lalu tertawa keras, "Punya kekuatan? Kau ingin membohongi siapa! Aku tetap akan menebangnya!" Lalu, ia pun menebangnya lagi dengan keras.

Lalu, Maxon pun melemparkan sebuah jarum emas diam-diam dan menusuk ke satu nadi Derik. Jarum emas itu sangat tipis, sepertinya Derik sama sekali tidak melihatnya.

Sedetik kemudian, tubuhnya tiba-tiba kejang-kejang, memuntahkan busa putih, giginya ia tutup rapat-rapat, sampai-sampai lidahnya hampir putus, darah pun mengalir keluar.

Orang-orang lainnya pun terkejut dan segera meletakkan peralatan mereka, mereka ingin mencoba menyelamatkan Derik, namun tidak ada hasilnya, Derik kejang dengan semakin hebat, tatapan matanya tampak sangat ketakutan.

Maxon segera berkata, "Sekarang pohon pagoda itu menunjukkan kekuatannya, segera antar dia ke rumah sakit, kalau tidak dia akan mati."

Orang-orang itu pun tersadar dan segera membawa Derik masuk ke dalam mobil sedan hitam, lalu mobil pun melaju secepat kilat menuju ke rumah sakit desa.

Lenny yang melihat orang-orang itu pergi secara tiba-tiba, merasa sangat terkejut, apa pohon pagoda ini benar-benar memiliki kekuatan?

Clarice tersenyum dan berjalan ke depan, lalu berkata sopan, "Hai, Bibi, namaku Clarice Tang, aku adalah teman Maxon."

Tatapan Lenny pun segera terarah kepada Clarice, hatinya pun terasa sangat senang, gadis ini cantik sekali!

"Maxon, apa ini pacarmu? Cepat perkenalkan pada Mama."

Maxon tahu ibunya salah sangka, ia segera berkata, "Ma, dia ini temanku, bukan pacarku."

Lenny agak sedikit kecewa, dan bergumam, "Gadis secantik ini, sayang sekali."

Lalu ia tersenyum lagi dan berkata, "Gadis yang cantik sekali, apa kau sudah punya pacar?"

Maxon langsung merasa pusing dan segera berkata, "Ma, kita bicara di rumah saja." Lalu menariknya pulang ke halamannya.

halaman rumah mereka penuh dnegan pot bunga, saat ini adalah saat bunga bermekaran, bau aroma bunga yang wangi bertebaran di mana-mana. Sudut di setiap rumah sangatlah bersih, ini adalah kerja keras Lenny semuanya.

Setelah berbincang-bincang sejenak dengan Clarice, Lenny pun pergi memasak makan siang, Nelly membantunya.

Di dalam ruangan, hanya tersisa Maxon dan Clarice. Clarice menatap Maxon, dan berkata tiba-tiba, "Kak, aku bisa melihat bahwa kau adalah orang hebat."

Maxon sangat terkejut, dan menatapnya dengan sedikit tersenyum, "Oh, aku orang hebat?"

Clarice mengangguk, "Tadi saat kau menolong adikmu, kekuatan tendanganmu itu, jauh lebih hebat dari bodyguard Kakekku. Masalah yang terjadi barusan ini, sepertinya juga bukan kekuatan dari si pohon pagoda.

Maxon sungguh sangat kagum pada wanita ini, pengamatannya sungguh sangat tidak biasa, ia berkata, "Kau bisa melihat semua ini, tentu saja bukanlah orang yang biasa. Katakan, gadis cantik, siapa kau sebenarnya? Kenapa kau mengikutiku?"

Clarice menghela nafasnya, "Aku adalah sebuah masalah, masalah besar!"

Maxon menatapnya, "Kau adalah masalah besar? Kenapa begitu?"

Clarice sedikit mengeluh dan berkata, "Hari ini, adalah hari pernikahanku, namun pengantin prianya bukanlah orang yang kusukai, oleh karena itu aku kabur."

Maxon tercengang, dan berkata, "Ternyata kau adalah seorang pengantin wanita yang kabur, kalau begitu kenapa kau adalah masalah besar?"

Clarice tersenyum pahit, "Keluargaku cukup hebat, kalau mereka tahu aku ada di tempatmu ini, mungkin akan merugikanmu."

Maxon menatapnya, "Maksudmu, kau tidak akan pergi dari sini sementara?"

Clarice menatap Maxon dengan memelas, "Kak, kau adalah orang baik, aku akan lebih tenang di sini."

Maxon membalikkan matanya, wanita ini merepotkan sekali!

Makan siang pun jadi, empat lauk dan satu sup. Lenny sangat pandai memasak, Clarice terus memujinya, hal ini membuat Lenny semakin menyukainya.

Di tengah-tengah makan siang, Clarice mulai berpura-pura melas, ia berkata bahwa dia tidak bisa mengontrak rumah dan tidak ada tempat tinggal, dan berkata bahwa di luar sana ada banyak orang jahat.

Begitu Lenny mendengarnya, ia segera merasa simpati padanya, "Di rumahku ini masih ada satu kamar yang kosong, Clarice, tinggallah saja di rumahku, makannya juga akan lebih mudah."

Maxon segera berkata, "Harus membayar uang sewa."

"Uang sewa apa?" Lenny melotot ke arah Maxon, "Dia ini hanyalah seorang gadis kecil, hidup di luar itu tidak mudah."

Clarice sangat berterima kasih, "Bibi, Anda baik sekali!"

Mulutnya sangat manis, sampai membuat posisi Maxon di hati Lenny langsung tergantikan, ia hanya bisa melahap makan siangnya itu saja.

Setelah selesai makan, Maxon mengeluarkan sebuah kartu bank dan ia berikan ke tangan Lenny, "Ma, di dalam sini ada delapan ratus ribu RMB, ini adalah uang yang kudapat selama aku main saham di dalam penjara, simpanlah saja."

Lenny terkejut bukan kepalang, uang yang dikirimkan oleh Maxon sebelumnya tidaklah sedikit, kenapa ia memberi delapan ratus ribu RMB lagi? Tapi ia masih tetap sangat senang, bermain saham dan mendapatkan uang sebanyak ini, itu artinya putranya pintar.

Ia tersenyum dan berkata, "Baik, Mama akan menyimpannya untuk kau menikah nanti." Lalu ia pun menatap ke arah Clarice sejenak.

Clarice dan Nelly pergi mencuci piring, mereka sedang berbisik-bisik ria. Maxon pun mengambil kesempatan itu untuk mengobati penyakit ibunya, ia mengeluarkan sebuah jarum emas dan ia tusukkan padanya, lalu ia mengendarai sepeda listriknya untuk pergi membeli beberapa obat.

Kanker harus diobati perlahan-lahan, tidak dapat diobati secara langsung, selain akupuntur, juga harus minum obat dan menggunakan reiki untuk melancarkan peredaran darah pasien.

Setelah melakukan pengobatan itu, waktu pun sudah mulai sore. Sekitar pukul setengah empat, tiba-tiba di luar menjadi ribut, Maxon keluar untuk melihatnya.

Ia melihat, orang-orang yang tadi pagi itu datang lagi, dan membongkar dinding rumah mereka. Melihat Maxon keluar, orang-orang itu malah melotot ke arahnya, seperti sedang berkata, kalau kau berani menghentikan kami, kami akan memberimu pelajaran!

Maxon melingkarkan kedua tangannya sambil berteriak, "Aku sudah bilang, pohon pagoda ini memiliki kekuatan, dia adalah dewa penjaga rumah kami, kalau kalian membongkar rumah kami, hati-hati jika Dewa Pohon Pagoda itu membalas kalian."

Mendengar perkataan itu, orang-orang itu pun ketakutan. Saat ini Derik Man masih sedang berbaring di rumah sakit, masih belum sadarkan diri sampai sekarang.

Namun setelah berpikir sejenak, mereka merasa bahwa Maxon hanya menakut-nakuti mereka, mereka memang sering mendengar dewa penjaga rumah, tapi mana ada Dewa Pohon Pagoda, omong kosong saja!

Orang-orang itu pun tak memedulikannya dan terus membongkar dindingnya. Saat palu mereka memukul dinding itu, salah satu dari mereka tiba-tiba berteriak, "Ah", lalu kejang-kejang, mengeluarkan busa putih, gejalanya sama persis dengan Derik.

Maxon segera berkata, "LIhatlah, Dewa Pohon Pagoda di rumahku sedang marah, apa kalian tidak segera membawanya ke rumah sakit?"

Orang-orang itu terkejut dan ketakutan, mereka meninggalkan peralatan mereka dan segera menuju ke rumah sakit. Mereka datang dengan cepat, pergi dengan cepat pula.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

704