Bab 14 Pertemuan Orang Tua Siswa Nelly Wu

by Kickson 10:01,Apr 18,2022
Maxon Wu telah menarik tangannya kembali, lalu berkata sambil mengagumi tubuhnya yang indah, “Kamu melatih kekuatan dalam dan melukai meridian paru-paru Taiyin di tangan kiri dan kananmu. Aku sudah bantu kamu membukanya sekarang, tentu saja akan ada sedikit reaksi. Jangan terlalu khawatir, akan membaik setelah batuk beberapa saat.”
Stella Zhu baru merasa lega, “Terima kasih Tuan, keterampilan medis Anda benar-benar luar biasa. Dulu aku merasa dadaku selalu sesak dan sulit bernapas. Sekarang sudah jauh lebih lega.”
Maxon Wu mengangguk, dia sepertinya haus dan mengulurkan tangan untuk menyentuh cangkir teh. Stella Zhu segera mengambilkan cangkir teh dan didekatkan ke tangannya, “Tuan, silakan minum.”
Saat ini, Hans Zhu diam-diam memperhatikan dari kejauhan. Melihat Maxon Wu menutup mata untuk melakukan tusuk jarum, dia menjadi kagum dengan kepribadian Maxon Wu di dalam hatinya. Dia mana tahu, sekalipun menutup mata, Maxon Wu tetap bisa melihat habis cucunya. Kalau dia tahu, tidak tahu apakah dia akan marah sampai muntah darah?
Setelah minum teh, Maxon Wu mulai menanyakan teknik dia berlatih. Seusai mendengarkan, dia merenung sejenak, dan berkata, “Ada yang salah dengan teknik kamu berlatih. Dalam berlatih diperlukan Yin dan Yang untuk saling melengkapi, kalau tidak, tubuh akan terluka.”
Kemudian, dia mengubah teknik latihannya dan meminta Stella Zhu untuk melakukannya kelak.
Stella Zhu juga termasuk seorang ahli, matanya berbinar begitu mendengar teknik darinya, dan berkata, “Tuan benar-benar hebat, sampai bisa terpikir teknik ini! Meski belum berlatih, tapi aku merasa tekniknya jauh lebih hebat daripada cara berlatihku sebelumnya.”
“Oke, sekarang akan menusuk lengan kananmu…” ujar Maxon Wu sambil meletakkan cangkir teh.
Sama seperti tadi, dia menyentuh Stella Zhu lagi, tetapi Stella Zhu tidak lagi gugup dan bekerja sama dengan baik.
Selesai menusuk dua meridian Taiyin pada kedua tangannya, Maxon Wu berkata, “Oke, pakai bajumu kembali.”
Stella Zhu buru-buru berpakaian, setelah sudah beres, dia baru berkata, “Tuan, aku sudah selesai.”
Maxon Wu melepaskan kain hitam, lalu berkata, “Lakukan sesuai teknik yang kukatakan, tidak akan ada masalah.”
Hans Zhu berjalan masuk saat ini dan berkata sambil tersenyum, “Tuan Wu, kamu telah menyelamatkan nyawa Stella, kamu adalah penyelamat keluarga Zhu, terimalah sujud sembah dariku!”
Maxon Wu menahannya dan berkata, “Tidak perlu sungkan, ini karena kebetulan bertemu denganku.”
“Tuan Wu, apakah leluasa untuk minta nomor kontakmu? Keluarga Zhu kami asli dari Yunjing. Kelak kalau Tuan ada ke Yunjing, Tuan harus beritahu aku dan aku pasti akan menyambut dengan hangat.”
Sebenarnya, dia masih berharap Maxon Wu bisa membantunya menerobos alam Qi.
Maxon Wu mengerti apa yang dia pikirkan, dan setelah berpikir sebentar, dia menuliskan nomor teleponnya.
Hans Zhu mengeluarkan selembar cek dan berkata dengan serius, “Tuan telah kerja keras, ini adalah sedikit niat dariku.”
Maxon Wu meliriknya dan ternyata itu adalah cek senilai 500 ribu yuan. Dia ragu sejenak, tapi diterima juga. Keluarganya masih kekurangan uang, dan uang ini tidak boleh disia-siakan.
Hans Zhu awalnya ingin mengirim mobil untuk mengantarnya, tapi ditolak oleh Maxon Wu. Dia melambaikan tangan, berjalan melewati jembatan batu, kemudian sosok itu melintas beberapa kali dan akhirnya tak terlihat.
Hans Zhu kembali ke ruang tamu dan segera bertanya pada Stella Zhu, “Stella, bagaimana perasaanmu sekarang?”
“Kakek, keterampilan medis Tuan Wu benar-benar luar biasa. Aku merasa tubuhku sangat ringan, jauh lebih baik dari sebelumnya. Selain itu, dia juga mengajariku teknik latihan yang menakjubkan.” Stella Zhu menjelaskan.
Dia menghela napas lega, “Tuan Wu ini bukan orang biasa. Kita harus berteman baik dengannya! Stella, sering-seringlah berhubungan dengan Tuan Wu. Kalian adalah anak muda, memiliki bahan pembicaraan dan zaman kehidupan yang sama.”
“Kakek, aku sudah punya pacar.” sahut Stella Zhu dengan wajah tersipu.
Hans Zhu mengeluh pelan, “Penyakit pamanmu bisa disembuhkan atau tidak, mungkin sepenuhnya akan bergantung pada Tuan Wu ini.”
Mendengar pamannya disebut, mata Stella Zhu menjadi muram, lalu berkata, “Kakek jangan khawatir, meski harus berlutut untuk memohon padanya, aku juga akan mengundangnya untuk menyembuhkan penyakit paman.”
Ketika Maxon Wu sampai di rumah, sudah hampir pukul enam. Dia sekalian membeli sarapan, lalu memanggil Lenny Zhang dan Nelly Wu makan sekitar pukul tujuh.
Mereka belum selesai makan, dari luar pintu terdengar ada gerakan. Ketika keluar untuk melihat, dia mendapati David Man dan Derik Man sedang berlutut di depan pohon pagoda, dan setiap menit bersujud satu kali. Mulutnya komat-kamit, entah apa yang mereka katakan.
Pemandangan yang langka ini tentu saja menarik perhatian sejumlah besar penonton yang ingin tahu, semua orang saling membicarakan dan berkomentar.
Ekspresi ayah dan anak ini sangat serius dan khidmat, bersujud ke arah halaman Maxon Wu. Orang yang tidak tahu akan mengira mereka sedang bersujud untuk meminta maaf pada keluarga Wu.
“Kalian sudah dengar? Dewa pohon pagoda keluarga Wu ini sangat sakti, ayah dan anak keluarga Man itu telah disembuhkan dan tidak berangasan lagi, bahkan datang dengan patuh dan mengaku bersalah.”
“Kepala desa terlalu menindas orang, sampai Dewa pohon pagoda juga tidak senang melihatnya.”
“Kelak, kita harus sering-sering sembahyang pada Dewa pohon pagoda untuk memohon perlindungan darinya.”
“Benar, benar. Besok juga aku akan datang sembahyang.”
Maxon Wu melirik mereka dan tersenyum dingin, lalu melanjutkan aktivitas makannya. Jika ayah dan anak keluarga Man ini bisa berlutut seharian, maka dia tidak akan mengejar masalah ini lagi. Tapi jika dua orang ini berani main akal bulus, dia tidak keberatan untuk terus memberi ganjaran pada mereka.
Selesai makan, Maxon Wu mengantar Nelly Wu ke sekolah dengan sepeda.
SMA 1 adalah sekolah menengah terbaik di Kabupaten Mingyang, dengan tingkat pendaftaran mahasiswa prasarjana lebih dari 80%. Saat itu, nilai Maxon Wu tidak mencukupi, sehingga melewatkan kesempatan baiknya di SMA 1, dan akhirnya mendaftar di SMA 2.
Nelly melompat turun dari sepeda setelah tiba di gerbang sekolah, lalu berkata, “Kak, siang ada pertemuan orang tua siswa.”
“Pertemuan orang tua? Minta ibu yang datang.” Maxon Wu sedikit terkejut.
“Kamu kan sudah datang, hadir sekali ini saja.” ujar Nelly Wu dengan bibir mencebik.
Maxon Wu berpikir dirinya telah mendekam di penjara selama dua tahun, juga tidak baik-baik mendampingi keluarganya, dan tidak apa-apa hadir sekali dalam pertemuan orang tua, jadi dia mengangguk setuju.
Maxon Wu mendorong sepedanya, kedua kakak adik ini berjalan ke sekolah. Saat ini, sebuah BMW X6 lewat, kecepatan mobil menurun, kaca jendela diturunkan, seorang gadis berwajah bulat berbicara pada Nelly Wu, “Nelly, kamu mengendarai sepeda ke sekolah?”
Nelly Wu menoleh dan melihat, “Iya, Rose, ini kakakku.”
Gadis itu melirik pada Maxon Wu sebentar dan pandangan meremehkan terlintas di matanya, lalu menjawab, “Aku duluan.”
Mobil melaju kencang dan meninggalkan mereka. Nelly berkata, “Kakak, dulu dia adalah peringkat pertama di kelas kami, tapi untuk simulasi ujian berikutnya, aku pasti akan melampaui dia.”
“Oke, Nelly yang paling hebat.” kata Mason Wu sambil tersenyum.
“Aku dengar, sekolah memiliki tiga kuota untuk penerimaan langsung ke Universitas Huaqing setiap tahun. Pamannya adalah kepala daerah, ayahnya juga pengusaha kaya, guru pasti akan memberikan kuota itu untuknya.” kata Nelly Wu sedikit putus asa dan kepala yang tertunduk.
Maxon Wu tersenyum, “Itu adalah urusan dia, tidak ada hubungannya dengan kita, bukankah begitu? Kamu begitu pintar, pasti bisa lolos ke Huaqing dengan mengandalkan kemampuanmu sendiri.”
Nelly Wu mengangguk penuh semangat, “Kak, aku akan berusaha!”
Keduanya tiba di ruang rapat. Saat ini, sudah banyak orang tua dan siswa yang telah datang, termasuk Rose Wang, gadis yang menyapa Nelly Wu tadi.
Maxon Wu duduk di barisan paling belakang, dia berkata pada Nelly Wu, “Nelly, kelak kalau ada kompetisi fisika kimia dan matematika, kamu daftar semua untuk partisipasi. Selama dapat memenangkan peringkat pertama di provinsi, kamu akan mendapat nilai tambahan dalam ujian masuk perguruan tinggi. Jika bisa mendapatkan peringkat pertama tingkat nasional, maka bisa berpartisipasi dalam pendaftaran independen Universitas Huaqing.”
Nelly Wu tercengang, “Kak, apa aku bisa? Soal kompetisi sangat sulit.”
\Ada orang tua siswa yang duduk di sebelahnya. Dia memakai kaca mata berbingkai hitam dan berusia awal empat puluhan. Orang ini tidak bisa menahan diri untuk melirik Maxon Wu dengan senyum mengejek di sudut bibirnya, “Dengarkan saranku, tidak semua orang bisa mengikuti kompetisi itu. Jika IQ siswa tidak cukup, itu hanya buang-buang waktu dan energi.”
Kemudian nada suaranya berubah, “Beda dengan putraku. Dia sangat pandai dalam ilmu fisika dan matematika. Kalau tidak ikut serta dalam kompetisi, itu akan menyia-nyiakan siswa bertalenta. Jadi, baru-baru ini aku telah mendaftarkan dia dalam dua kompetisi fisika dan matematika tingkat provinsi.”
Maxon Wu sangat jengkel, apa maksudnya IQ tidak cukup? Dia segera berkata, “Aku mau bilang, siswa cerdas seperti adikku ini, pasti akan mendapatkan peringkat pertama tingkat nasional. Kalau tidak berpartisipasi, itu akan menyia-nyiakan siswa berbakat.”
Pihak lawan tidak mampu mengendalikan dirinya untuk tertawa menyindir, “Peringkat pertama tingkat nasional? Kamu sungguh pandai bercanda!”
“Kenapa bercanda? Aku serius. Oh ya, tes matematika kemarin itu, putramu dapat nilai berapa?” tanya Maxon Wu.
“Putraku sangat pandai matematika. Meskipun soal kemarin itu sedikit sulit, tapi dia mendapat nilai 124! Ketiga dari seluruh sekolah!” jawab pria paruh baya dengan wajah sombong.
“Bagus, bagus.” Maxon Wu mengangguk.
“Apa boleh buat, matematika itu perlu bakat.” Pria paruh baya semakin sombong.
“Nelly, kamu dapat nilai berapa?” tanya Maxon Wu pada Nelly Wu sambil tersenyum.
Nelly Wu tahu sang kakak akan membuat malu orang dan dia sangat bekerja sama, “Kak, 146. Aku ceroboh untuk satu soal, kalau tidak, akan dapat nilai penuh.”
“Ceroboh? Bagaimana kamu boleh ceroboh? Soal yang begitu mudah, kamu harus mendapat nilai penuh. Jika tidak, bagaimana kamu bisa mendapatkan peringkat pertama dalam kompetisi matematika nasional? Bagaimana kamu bisa lolos ke Universitas Huaqing?” tanya Maxon Wu dengan wajah marah.
“Ya, aku sudah salah.” ujar Nelly Wu dengan kepala menunduk.
Ekspresi pria paruh baya itu sangat luar biasa, otot-otot di wajahnya jadi kaku, nilai 146?

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

704