Bab 17 Diselesaikan Dengan Sempurna

by Kickson 10:01,Apr 18,2022
Maxon Wu segera menyuruh semua orang menghindar. Dia membuka guci, dan bau busuk menyergap keluar, hingga dia buru-buru menahan napas. Lalu menuangkan sebaskom darah anjing hitam yang sudah disiapkan. Jasad itu langsung terendam oleh darah anjing hitam dan menjadi hitam dalam sekejap.
Dia menutup kembali guci tersebut dan menempelkan jimat baru di atasnya.
Belasan guci yang tersisa juga digali satu per satu dan ditangani dengan cara yang sama, kemudian semuanya disatukan dan dibawa ke bawah gunung dengan mobil.
Setelah belasan guci tergali semua, hari sudah gelap. Maxon Wu meminta pekerja menggali lubang besar sedalam 10 meter di tempat yang sepi dan terpencil, kemudian melemparkan guci-guci itu ke dalam dan menguburnya.
Ketika tanah sudah ditimbun rata, waktu telah menunjukkan pukul delapan malam, para pekerja sudah sangat lelah.
Candra Lu memberi mereka masing-masing dua ribu yuan dan meminta mereka untuk tidak membicarakannya pada orang luar.
Setelah para pekerja sudah pergi, Maxon Wu berkata, “Tempat ini sudah tidak ada masalah lagi, besok bisa membawa orang ke sini. Aku masih ada urusan, aku pergi dulu.”
Jayden Lu buru-buru berkata, “Kak Maxon, jangan pergi dulu, aku telah pesan hotel untukmu.”
“Tidak bisa, ada urusan penting dan harus pulang.” ujar Maxon Wu seraya melambaikan tangan.
Melihat tidak bisa menahannya, Jayden Lu hanya bisa mengantarnya ke stasiun kereta.
Masalah keluarga Lu sudah diselesaikan, dan hati Maxon Wu menjadi lega saat ini. Ketika sampai di rumah, dia melihat David Man dan Derik Man masih berlutut dan bersujud di depan pohon pagoda. Mereka sudah bersujud seharian, sekarang kelelahan seperti anjing, wajahnya pucat dan hampir ambruk.
Maxon Wu juga tidak mempedulikan mereka. Dia kembali ke rumah untuk mengobati ibunya dan membuka meridian Nelly Wu. Setelah semua ini beres, waktu sudah pukul satu dini hari.
Beberapa saat kemudian, dia merasa dua orang yang bersujud di luar itu sangat berisik. Dia pergi keluar untuk beritahu mereka bahwa Dewa pohon pagoda telah memaafkan mereka, dan sudah boleh pergi.
Kedua orang ini merasa telah terampuni dan pergi dengan rasa terima kasih yang besar. Sejak saat itu, mereka sangat menghormati tapi juga menjauhi keluarga Wu, sama sekali tidak berani mengusik.
Maxon Wu kerja keras sepanjang hari dan sangat lelah, dia bahkan tidak berlatih tinjunya dan tertidur nyenyak.
Dia terbangun oleh telepon dari kepala sekolah SMA 1. Kepala sekolah sangat ramah, pertama, dia memuji kecerdasan dan prestasi Nelly Wu yang baik, kemudian mengatakan bahwa dia berharap Nelly Wu bisa masuk ke kelas intensif terbaik di SMA 1.
Hanya ada 20 siswa di kelas intensif, dan beberapa guru terbaik di SMA 1. Siswa yang bisa masuk ke kelas intensif berharap bisa memiliki kemampuan untuk lolos ke lima besar universitas elite di tanah air.
Maxon Wu mengungkapkan rasa terima kasih dan mengatakan bahwa Nelly Wu sedang tidak enak badan akhir-akhir ini, karena itu tidak dapat kembali ke sekolah untuk beberapa waktu. Kepala sekolah mengatakan itu bukan masalah dan bisa ke sekolah kapan saja.
Setelah menutup telepon, Maxon Wu mencium wangi masakan. Dia melihat jam, ternyata sudah pukul 12 siang.
“Kak, ayo makan.” panggil Nelly Wu dari luar pintu.
“Segera.” Dia buru-buru berpakaian dan pergi ke ruang tamu.
Nelly Wu benar-benar tidak pergi ke sekolah, tetapi dia tidak menyia-nyiakan waktunya. Dia bangun jam enam pagi untuk mengerjakan latihan. Sampai sekarang, dia sudah mengerjakan enam lembar soal kompetisi matematika nasional.
“Kak, aku telah mengerjakan beberapa set soal kompetisi.” kata Nelly Wu dengan ekspresi agak aneh.
“Bagaimana? Hasilnya bagus, kan?” tanya Maxon Wu.
“Semuanya dapat nilai 100. Yang pertama, aku dapat nilai 72, dan kemudian nilainya semakin tinggi. Aku mendapatkan nilai penuh pada lembar kelima, lembar keenam juga nilai penuh.” Nelly Wu menjelaskan.
“Benarkah? Bagus, bagus, teruslah berusaha.” sahut Maxon Wu gembira.
“Kak, apa kamu punya rencana?” tanya Nelly Wu tiba-tiba.
Maxon Wu tertegun mendengar pertanyaan Nelly Wu. Dia benar-benar tidak punya rencana khusus. Dia berpikir sebentar dan bertanya, “Dik, menurutmu apakah kakak cocok jadi dokter?”
“Cocok!” Nelly Wu cepat-cepat mengangguk, “Kakak pasti akan menjadi dokter terbaik.”
Ditanya Nelly Wu seperti itu, Maxon Wu mulai serius memikirkan masa depannya sendiri. Meskipun dirinya memiliki kekuatan bela diri, tapi tidak bisa digunakan sebagai mata pencaharian. Sedangkan, keterampilan medis dapat menyembuhkan penyakit, menyelamatkan orang, dan menghidupi keluarga.
Tapi kalau ingin melakukan praktek, harus memiliki sertifikat kualifikasi medis, dan sertifikat itu membutuhkan gelar sarjana atau semacamnya, juga pengalaman magang lebih dari satu tahun.
Namun, dia tidak terburu-buru dan akan memikirkannya lagi nanti.
Setelah makan, Maxon Wu pamit keluar dengan keluarganya. Dalam perjalanan kali ini, dia akan pergi ke kota lain.
Sewaktu dia dibebaskan dari penjara, Jerry Li memberinya sebuah catatan dengan alamat dan nomor telepon tertulis di atasnya, katanya ada anggota keluarga seorang pengusaha besar yang menderita penyakit aneh, dan berharap dia punya waktu untuk pergi melihat.
Dalam catatan itu tertulis alamat yang bersangkutan ada di Kota Hai, sebuah perusahaan bernama “Lianshang Media”.
Dia memiliki waktu luang untuk beberapa hari ini dan memutuskan untuk menengok pasien itu. Jadi, dia menghubungi nomor tersebut dan suara seorang pria tua terdengar dari ujung telepon sana.
“Maaf, Anda mencari siapa?” tanya lawan bicara sangat ramah.
“Aku bermarga Wu, Jerry Li yang memintaku untuk mengobati pemilik nomor telepon ini.” jawab Maxon Wu.
“Mohon tunggu sebentar, aku konfirmasi dulu.” balas pria tua.
Semenit kemudian, pria tua berkata dengan ramah, “Ternyata Tuan Wu, Tuan Besar akan datang sebentar lagi.”
Setelah menunggu sekitar dua menit, sebuah suara yang penuh terdengar, “Tuan Wu? Halo, aku adalah Agung Ren, kamu akhirnya menghubungiku.”
“Tuan Ren, apakah kesehatanmu yang bermasalah?” tanya Maxon Wu.
“Bukan, bukan, tapi putriku. Mengenai kondisinya, akan kita bicarakan setelah bertemu. Tuan Wu ada di mana sekarang?” tanya lawan bicaranya.
Maxon Wu melirik jam, “Kalau ada waktu, kita bertemu saja hari ini.”
“Baik, kalau begitu jam lima sore. Kita bertemu di Hotel Tianlong.”
Setelah kedua pihak sepakat dengan waktu dan tempat bertemu, Maxon Wu menutup telepon, lalu menghentikan sebuah taksi. Kalau naik kereta cepat, kira-kira perlu dua setengah jam untuk sampai ke Kota Hai.
Kota Hai, juga dikenal sebagai kota sihir, adalah kota metropolitan internasional yang terkenal, bahkan lebih makmur dari Yunjing, tempat berkumpulnya orang-orang kaya.
Waktu dua jam setengah terasa agak panjang, Maxon Wu berselancar di ponselnya dengan bosan. Kereta telah melaju sekitar satu jam, tiba-tiba suara panik terdengar dari penyiaran kereta, “Penumpang sekalian, ada penumpang berusia tinggi di kabin kelas bisnis yang tiba-tiba sakit, kondisinya sangat kritis. Jika ada dokter di sini, silakan ke kabin kelas bisnis untuk membantu kami memberikan pertolongan. Aku ulangi sekali lagi...”
Mendengar siaran itu, Maxon Wu langsung berdiri tanpa ragu dan melangkah lebar ke kabin kelas bisnis.
Saat ini, di depan kabin kelas bisnis telah menjadi kacau. Beberapa pegawai dan pria berjas kulit sedang bingung dan panik.
“Aku dokter.” kata Maxon Wu.
Mata orang-orang ini bersinar dan segera memberi jalan. Salah satu gadis muda berblazer yang berparas cantik segera membawa Maxon Wu ke dalam kabin.
Saat ini, seorang pria tua dengan rambut putih terbaring di kursi besar, wajahnya menguning, otot-ototnya kaku, dan matanya lebih banyak putih daripada hitamnya.
Maxon Wu meliriknya, lalu menggunakan mata dimensinya melihat bagian otak dan menemukan tumor telah tumbuh di otaknya. Tumor telah menyusup ke jaringan otak dan sekitarnya, seharusnya sudah mencapai titik kritis sekarang, sehingga menyebabkan pria tua mengalami kondisi seperti sekarang ini.
Dia masih belum bicara, seorang pemuda masuk dan berkata dengan keras, “Aku kepala dokter bedah otak. Kalian minggir, biarkan aku melihat kondisi pasien.”
Orang ini tidak ramah sekali, dia sudah berteriak-teriak begitu masuk, sama sekali tidak menganggap Maxon Wu yang datang lebih dulu.
Karena itu, Maxon Wu menyingkir ke samping, dia ingin melihat bagaimana orang ini akan menanganinya.
Pemuda ini sangat kurus, tidak tinggi, dan berkulit gelap. Dia memeriksa sebentar, tampak serius, dan berkata, “Pasti ada masalah di otaknya, tapi aku tidak bisa memastikannya sekarang. Setelah sampai perhentian berikutnya, segera turunkan pasien ini untuk ditolong di rumah sakit terdekat, mungkin masih ada kesempatan.”
Wanita berblazer itu menjadi pucat dan bertanya, “Dokter, apakah kakekku baik-baik saja?”
“Aku tidak bisa pastikan.” Pemuda itu menggeleng.
“Dia tidak mampu bertahan untuk lima menit lagi.” Maxon Wu akhirnya bersuara, “Jika tidak mendapat pertolongan tepat waktu, napasnya akan segera berhenti.”

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

704