Bab 3 Memukuli Pria Jahat

by Kickson 10:01,Apr 18,2022
Mobil melaju ke stasiun bus, Maxon pergi ke bank untuk menransfer uangnya ke kartunya, selain dua ratus ribu RMB yang diberi oleh Jerry, serta tiga ratus ribu RMB yang diberi oleh Timothy, serta lima ratus RMB lebih yang telah ia kumpulkan selama ia melakukan pengobatan di dalam penjara, jika ditambah-tambah, hartanya sudah lebih dari satu juta RMB lebih!

Setelah membeli tiket dan naik ke dalam bus, Maxon menutup matanya untuk melatih reikinya.

Yang ia latih adalah ilmu bela diri "Seni Surga, Bumi, Neraka, dan Alam Baka", ilmu ini dibagi menjadi empat tingkat, yaitu Surga, Bumi, Neraka, dan Alam Baka. Tingkat Alam Baka sendiri dibagi menjadi tiga tahap, yaitu pelatihan reiki, pelatihan dewa, dan pelatihan dasar. Saat ini Maxon sedang berada dalam tahap menengah, pelatihan reiki.

Reiki di dalam tubuhnya, mengalir di dalam nadinya, membuat tubuhnya sangat ringan, hatinya kosong, tanpa pikiran dan harapan, tanpa kekhawatiran dan beban.

Tiba-tiba, ia mencium sebuah aroma wangi di hidungnya, dan langsung membuka matanya. Entah sejak kapan, seorang wanita yang sangat cantik berdiri di sebelahnya, wanita itu mengenakan headphone, matanya sangat cantik, hidungnya mancung, usianya sekitar dua puluhan. Tidak hanya tubuhnya saja yang bagus, wajahnya juga sangat cantik, seperti dewi yang turun dari khayangan.

Apalagi sepasang kakinya itu, sungguh sangat cantik, merupakan kaki terindah yang pernah ia lihat seumur hidupnya sampai saat ini, seputih salju, sangat lurus dan montok, ototnya sangat terlihat. Maxon bahkan merasa, hanya dari kaki wanita itu saja, cukup untuk membuatnya tergila-gila.

Ia mengenakan sepasang sepatu putih di kakinya, tumit kakinya juga tampak sangat sempurna. Wanita yang memiliki kaki panjang pasti tidak mungkin pendek, wanita itu tingginya 1.7 meter, mengenakan celana jeans pendek bewarna merah muda, atasannya mengenakan kaos pendek putih yang sejuk, menunjukkan pusarnya yang cantik, serta perut kecilnya yang putih dan datar.

Dadanya sangat besar, saat bus mereka bergoncang, dadanya juga ikut bergetar, Maxon melirik ke arahnya sejenak, seketika tenggorokannya pun terasa kering.

Selama dua tahun di penjara, ia tidak pernah melihat wanita, dalam matanya, wanita mana pun sungguh sangat menarik, apalagi wanita cantik yang langka seperti ini.

Karena konsentrasinya itu, Eye of Dimension di mata kirinya pun terbuka, seketika baju wanita itu pun menghilang, ia melihat lekuk tubuh yang sangat cantik itu, benar-benar menggairahkan......

Ia segera mengalihkan pandangannya, takut dirinya akan mimisan.

Namun begitu ia mengalihkan pandangannya, ia tak tahan untuk melihatnya lagi. Lalu, ia pun merasa wanita ini tiba-tiba merangkul lengannya, dan berkata dengan lembut, "Suamiku, aku haus, apa kau punya air?"

Maxon terkejut, ha, suami? Ia tercengang sedetik, lalu ia pun menyadari sesuatu. Ternyata, entah sejak kapan, bus itu pun telah penuh dengan penumpang, ada empat orang pemuda yang sedang mengelilingi wanita ini, tatapan mata mereka tampak tidak baik, penuh dengan perasaan yang menindas.

Jangan-jangan...... orang-orang ini adalah preman?

Maxon pun tersenyum, lalu mengeluarkan sebotol air dan ia berikan pada wanita itu, "Minumlah."

Tatapan mata keempat pemuda itu pun tampak sangat kebingungan, mereka telah mengikuti wanita ini sejak tadi, kenapa tiba-tiba suaminya muncul?

Pemimpin dari para pemuda itu tidak ingin menyerah, ia menyipitkan matanya, dan berkata pada Maxon, "Hei, pacarmu ini cukup cantik juga, siapa namanya?"

Maxon melirik ke arah orang itu, "Apa hubungannya denganku?"

Pria itu tertawa dingin, "Kusarankan kau untuk tidak ikut campur, cepat turun saja dari bus ini, kalau tidak......"

Maxon mengeluarkan senyumannya yang dingin, "Boleh saja, aku juga sudah hampir sampai, akan segera turun."

Hati wanita itu pun berubah muram, ternyata pria memang tidak bisa diandalkan!

Beberapa pemuda itu juga tersenyum bangga, setelah Maxon turun, sisanya sangat mudah. Mereka memiliki obat yang pasti akan dapat menurunkan wanita cantik ini dari bus, lalu menggilirnya!

Tiba-tiba, sang sopir pun berteriak, "Shizhuang Kecil sudah sampai, apa ada yang ingin turun?"

Jarak antara Shizhuang Kecil dan kota tempat rumahnya berada tidak jauh, oleh karena itu Maxon pun berkata, "Berhenti sebentar."

Sang sopir pun menginjak remnya di depan sebuah pertigaan yang luas dan kosong.

Tiba-tiba menarik tangan wanita itu, lalu tersenyum dan berkata, "Istriku, kita sudah sampai, ayo turun."

Wanita itu tercengang sejenak, lalu ikut turun dari bus bersama dengan Maxon. Keempat preman itu semua tercengang, lalu mereka pun terpaksa ikut turun ke bawah.

Begitu pintu bus tertutup, bus pun melanjutkan perjalanannya lagi.

"Sial! Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak ikut campur, kurasa kau benar-benar ignin diberi pelajaran!" Pemimpin preman itu tertawa dingin sejenak, lalu mengeluarkan sebuah pisau dari pinggangnya, keempat preman itu pun mengepung Maxon.

Maxon melirik ke arah pisau itu sejenak, lalu berkata, "Kusarankan kalian untuk pergi sekarang, jika aku menyerang kalian, tenagaku sangat besar, kalian pasti akan terluka."

Para pemuda itu pun tercengang sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak, "Sial! Keras kepala juga, entah lebih keras kepalamu atau tinjuanku!"

Lalu, mereka berempat pun menyerang kemari.

Maxon tidak mundur, dan malah maju, ia langsung berlari ke hadapan orang-orang itu, belum sampai mereka bereaksi, dua orang di antaranya langsung terpental keluar. Dua orang sisanya, yang satu tulang kakinya patah karena diinjak, yang satu tulang rusuknya patah karena terkena siku Maxon.

Empat suara teriakan kesakitan pun terdengar bersamaan, semua orang terkapar di atas tanah, keringat dingin pun bercucuran, ekspresi wajah mereka tampak menderita.

Maxon menepuk-nepuk tangannya seolah tak terjadi apa-apa, "Aku sudah memperingatkan kalian, tapi sayang kalian tidak memedulikannya. Panggil ambulans sendiri saja. Tapi aku telah memberi kalian serangan diam-diam, dalam tiga tahun, tubuh kalian akan terus kesakitan, tapi tidak perlu khawatir, setelah kurang lebih lima tahun kemudian, kalian akan kembali pulih."

Lalu, ia tersenyum kepada wanita itu, dan bertanya, "Gadis cantik, kau mau pergi ke mana?"

Setelah itu barulah sang wanita tersadar dari rasa terkejutnya, ia segera berkata, "Terima kasih banyak!"

Maxon, "Sama-sama."

Wanita itu berpikir sejenak, lalu bertanya tiba-tiba, "Kakak, kau mau pergi ke mana, apa kau bisa membawaku?"

Maxon tercengang, membawamu?

Belum sampai Maxon menolaknya, wanita itu langsung melanjutkan, "Sekarang aku sangat ketakutan, tidak berani pulang seorang diri."

Maxon berpikir sejenak, benar juga, setelah mengalami semua ini, gadis mana pun pasti akan merasa takut, ia pun mengangguk, "Ya sudah kalau begitu, kau ikut aku kembali ke kota dulu, lalu pikirkan lagi langkah selanjutnya, bagaimana?"

Wanita itu menganggukkan kepalanya dengan keras, "Namaku Clarice Tang, siapa namamu?"

"Maxon Wu." jawabnya, "Menyusuri jalan sekitar satu km dari sini adalah jalan lingkar dalam kota, kita naik taksi di sana."

Clarice mengangguk, ia mengikuti Maxond an berjalan berdampingan ke depan.

Perjalanan 1 km, hanya dengan berjalan kaki selama belasan menit saja sudah sampai, ternyata benar apa yang dikatakan Maxon, tempa titu merupakan sebuah jalan lingkar dalam kota yang sangat luas.

Setelah menunggu beberapa menit, mereka pun naik ke sebuah taksi dan pergi ke arah kota.

Kota ini bernama Kabupaten Mingyang, populasi satu juta penduduk lebih, perekonomiannya dapat berada di peringkat seratus lebih secara nasional. Rumah Maxon, berada di bagian timur Kabupaten Mingyang, tempatnya itu termasuk gabungan antara kota dan desa.

Begitu naik ke atas mobil, Manxon menelepon nomor adiknya terlebih dahulu. Adiknya bernama Nelly Wu, enam belas tahun, sedang berada di kelas dua SMA, pintar dan cantik, sangat giat belajar pula.

Selama Maxon mendekam di penjara dua tahun ini, adiknya cukup menderita, Maxon merasa sangat bersalah. Untung saja ia mendapatkan hak khusus saat dia baru saja masuk penjara, setiap hari dia dapat menelepon Nelly, ia juga dapat menransfer uang yang dia dapatkan kepadanya.

Telepon mulai tersambung, tapi tidak ada yang mengangkat, Maxon agak sedikit khawatir, ia mencoba menelepon lagi. Terus sampai tiga kali, tetap saja tidak ada yang mengangkatnya!

Maxon pun tampak muram, apa terjadi sesuatu? Oleh karena itu ia pun menelepon nomor ibunya, kali ini diangkat dengan sangat cepat.

"Maxon." Suara seorang wanita paruh baya pun terdengar dari telepon, suaranya sangat lembut.

Maxon segera bertanya, "Ma, mana Nelly?"

"Tadi pagi Nelly ke rumah sakit, barusan dia keluar untuk membelikanku makanan." jawab Ibu Wu.

"Apa dia tidak membawa handphone-nya?" Maxon sedikit lega.

"Bawa, kenapa, apa teleponnya tidak tersambung?" Jantung Ibu Wu berdetak kencang sejenak.

Maxon takut dirinya khawatir, oleh karena itu ia berkata, "Tidak apa-apa. nanti aku akan mencoba meneleponnya lagi."

Setelah menutup teleponnya, Maxon pun berpikir sejenak. Nelly mengeset telepon darinya dengan nada dering yang khusus, begitu mendengar nada dering darinya itu, ia pasti akan langsung mengangkatnya. Ini sudah ditelepon tiga kali tapi masih saja tidak diangkat, kalau bukan diset menjadi mute, berarti dia sama sekali tidak bisa mengangkatnya!

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

775