Bab 18 Nona, Kamu Kekurangan Pria

by Kickson 10:01,Apr 18,2022
Pemuda ini duduk di area tempat duduk yang tidak jauh dari kabin kelas bisnis, dia juga yang pertama kali mendengar siaran itu. Namun, sebagai orang yang egois, dia tidak langsung bertindak, lagi pula menyembuhkan penyakit dan menyelamatkan orang itu juga ada risikonya, apalagi juga tidak akan ada imbalannya.
Tapi, ketika pintu kabin dibuka, dia melihat wanita cantik berblazer ini, juga Vacheron Constantin senilai 800 ribuan yuan di pergelangan tangannya.
Dia langsung semangat, mengikuti Maxon Wu ke kabin, dan berinisiatif untuk memberi pengobatan pada pria tua itu. Inilah yang disebut baru berusaha jika bisa mendapatkan keuntungan. Sekalipun dia tidak bisa mengobatinya, namun bisa memberikan kesan yang baik di hati wanita cantik ini.
Kata-kata Maxon Wu membuatnya tidak senang, dalam hati dia berpikir, siapa orang ini? Dia mengamati Maxon Wu dan berkata, “Anak muda, kalau tidak mengerti jangan sembarangan bicara! Tidak ada yang tahu dengan kondisi otaknya, harus menggunakan bantuan mesin baru bisa menetapkan penilaian. Kamu bilang dia tidak bisa bertahan lima menit lagi, atas dasar apa?”
Wanita berblazer juga memandang Maxon Wu dengan gugup, ingin mendengar bagaimana dia menjawabnya.
“Lebih baik bertindak daripada bicara saja. Aku punya cara untuk membuat orang tua ini sadar. Dengan begitu, dia akan memiliki waktu yang cukup untuk pergi ke rumah sakit dan mendapat pengobatan.” kata Maxon Wu.
“Kamu punya cara? Kamu begitu muda, masih mahasiswa kedokteran, kan? Atau, kamu seorang dokter?” sinis pemuda itu.
“Aku seorang tabib.” sahut Maxon Wu.
“Aku seorang dokter keliling.” kata Maxon Wu lagi.
“Dokter keliling?” ujar dokter muda dengan wajah meremehkan. Dia melihat wanita cantik berblazer itu, “Nona, dokter keliling dan penipu tidak beda jauh. Jangan percaya omongannya. Kalau ada kesalahan sampai pasien menjadi parah, sudah terlambat untuk menyesalinya.”
Seorang pemuda di samping marah hingga wajahnya membiru dan berteriak pada Maxon Wu, “Penipu, cepat pergi dari sini!”
Alis Maxon Wu mengernyit dalam, “Penipu? Aku mendengar dari siaran bahwa ada orang lagi kritis, baru kemari untuk melihat keadaannya. Saat ini, kondisi orang tua ini tidak optimis. Secara kasarnya, dia tidak akan hidup dalam lima menit lagi!”
“Kamu berani bicara sembarangan lagi!” Pemuda itu sangat marah dan menarik kerah baju Maxon Wu.
Maxon Wu tidak ingin berkonflik dengannya. Dia mundur ke luar pintu kabin dan berkata dengan dingin, “Dua menit lagi, mulutnya akan berbusa; tiga menit lagi, anggota tubuhnya akan membiru, tidak dapat menahan kencing dan buang air besar. Itu saja!”
Setelah mengatakannya, dia kembali ke tempat duduknya sendiri tanpa berpaling lagi. Dia sangat kesal, dirinya berniat baik untuk pergi memeriksa pasien, tapi malah dianggap penipu. Sulit sekali menjadi orang baik di zaman sekarang!
Begitu Maxon Wu pergi, dokter muda langsung mendengus dan berkata, “Penipu seperti ini benar-benar menyebalkan. Kalau bukan aku yang langsung membongkarnya, akibatnya tidak bisa dibayangkan.”
Wanita berblazer tampak khawatir, dia masih belum menyerah dan bertanya, “Terima kasih, bisakah kamu meringankan kondisi kakekku sebelum kereta tiba di stasiun?”
Dokter muda mengeluh, “Kalau di rumah sakit, mungkin aku punya cara, tapi di sini tidak ada peralatan dan obat-obatan, aku juga tak berdaya.”
Dia baru selesai bicara, tubuh pria tua itu tiba-tiba gemetar, mulutnya mulai berbusa, dan giginya terkatup rapat, sangat menakutkan.
Wanita cantik berblazer menjerit, “Kakek, ada apa denganmu!”
Pemuda itu juga terkejut, “Bagaimana ini? Kakek benar-benar mengeluarkan busa. Ini semua karena bajingan itu yang bicara sembarangan, aku akan pergi mencarinya!”
“Berhenti!” Wanita cantik berblazer tiba-tiba menjadi sangat tenang dan menghentikan si pemuda.
Dia memperhatikan kondisi pria tua, tiba-tiba berkata, “Kita pergi undang tuan itu kemari.”
“Apa? Undang dia?” Pemuda ini dengan wajah tidak rela, “Dia seorang penipu…”
“Diam!” Wanita cantik berblazer melotot padanya, “Jika dia hanya orang biasa, omongannya tidak mungkin akan begitu tepat. Ikut aku undang dia, dan minta maaf dengannya!”
Hati pemuda tersentak, mungkinkah dia benar-benar master medis?
Sejak kecil sampai dewasa, dia tumbuh besar di bawah otoritas kakaknya dan tidak berani melawan perintahnya, jadi dia mengikutinya pergi mencari Maxon Wu.
Wajah dokter muda menjadi muram dan tidak stabil, bagaimana bisa omongannya begitu tepat? Mungkinkah dia sungguh mengerti ilmu pengobatan? Mustahil, dirinya bahkan tidak melihatnya, dan dokter keliling itu bisa?
Tidak lama setelah Maxon Wu duduk, kedua kakak dan adik itu membawa pegawai kereta dan buru-buru menemukan Maxon Wu. Kabin kelas dua lebih sesak, mereka membungkuk dalam-dalam pada Maxon Wu terlebih dahulu.
“Maaf, kami yang telah salah paham pada Anda!” ujar wanita cantik berblazer yang berdiri di sisi depan.
Maxon Wu sedang membaca majalah, tanpa mengangkat kepalanya dia berkata santai, “Tidak apa-apa, aku cuma penipu dan tidak mengerti ilmu pengobatan.”
“Tuan! Kami memang bersalah, tapi mohon Anda selamatkan kakekku. Aku, Marisa Wei akan sangat berterima kasih.” Wanita itu hampir menangis setelah selesai bicara dan matanya penuh dengan permohonan.
Maxon Wu paling takut wanita menangis, terutama wanita cantik. Dia menghela napas dan berkata, “Bawa jalan.”
Marisa Wei sangat gembira dan segera pimpin jalan di depan.
Ketika datang ke kabin kelas bisnis lagi, anggota tubuh pria tua benar-benar telah membiru, sama seperti yang dikatakan Maxon Wu.
Maxon Wu tidak keberatan sama sekali. Dia melihatnya sebentar, mengeluarkan sebatang jarum emas, menyusuri celah tempurung kepala dan menusukkannya di mana tumor itu berada.
Karena adanya tumor, tekanan intrakranial meningkat, hematoma terbentuk secara lokal, dan satu jarumnya ini ditusuk tepat di bagian hematoma. Dengan sedikit putaran, lalu dia mencabut jarumnya, dan aliran darah menyembur keluar dari lubang jarum itu.
Dia sudah ada persiapan, menggunakan gelas plastik untuk menampung darah yang keluar. Hanya sebentar, hematoma langsung menghilang, tekanan hematoma intrakranial berkurang, dan saraf yang tertekan oleh tumor menjadi lega.
Pria tua mengaduh dan menghela napas panjang, memutar matanya beberapa kali, dan perlahan-lahan kembali normal, dia bertanya, “Ada apa denganku?”
“Kakek!” Marisa Wei terkejut juga senang dan segera memapahnya.
Dokter muda terkejut sampai mulutnya terngaga melihat adegan ini, bagaimana dia melakukannya? Bisa sadar hanya dengan satu tusukan jarum?
Pemuda yang sebelumnya telah berkata tidak sopan pada Maxon Wu tiba-tiba membungkuk dalam-dalam, “Maaf! Aku yang tidak tahu diri, mohon maafkan aku!”
Maxon Wu tidak peduli padanya dan berkata pada wanita cantik berblazer, “Aku hanya meringankan sakitnya untuk sementara. Setelah sampai Kota Hai, bawa dia ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.”
Marisa Wei sekali lagi mengucapkan terima kasih dan bertanya, “Tuan, penyakit apa yang diderita kakekku?”
“Tumor otak.” Maxon Wu tidak merahasiakan, “Posisinya agak dalam dan operasinya lebih sulit.”
“Kamu bilang dia menderita tumor otak, bagaimana kamu memvonisnya?” tanya dokter muda tidak sabar.
Maxon Wu tidak peduli padanya, dan pemuda itu menghardiknya, “Pergi dari sini! Kalau bukan karena kamu, apa aku akan salah paham pada tabib ajaib ini?”
Dokter muda tidak bisa membantah dan pergi dengan wajah merah padam.
Pria tua memegang tangan Maxon Wu, “Anak muda, terima kasih telah menyelamatkan nyawaku.”
“Masalah kecil, Anda tidak perlu sungkan. Istirahatlah, tidak ada masalah lagi, aku pergi dulu.” ujar Maxon Wu.
“Tuan, aku boleh minta nomor teleponmu?” tanya Marisa Wei buru-buru dengan ekspresi memohon di wajah cantiknya.
Maxon Wu berpikir sebentar, kemudian saling meninggalkan nama dan nomor telepon.
Ketika Maxon Wu hendak pergi, Marisa Wei tiba-tiba berkata, “Tuan Wu, kelas bisnis telah dibooking olehku. Sebaiknya Anda duduk di sini saja, suasananya lebih bagus.”
Maxon Wu tidak menolak dan duduk di kursi kosong sebelahnya.
Marisa Wei mengurus pria tua sebentar, kemudian baru datang mengobrol dengannya. Dia tersenyum dan bertanya, “Tuan Wu, Anda mau kemana?”
“Mau mengobati pasien di Kota Hai.” Maxon Wu menjawab.
Marisa Wei dalam hati berpikir bahwa orang ini memang tabib ajaib. Dia memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta petunjuk darinya, “Tuan Wu, aku menderita insomnia akhir-akhir ini, mudah emosi, dan periode menstruasi tidak teratur. Bolehkah Anda bantu aku mengeceknya?”
“Boleh.” angguk Maxon Wu.
Dia meminta Marisa Wei mengulurkan pergelangan tangannya dan mulai mengecek denyut nadinya. Saat ini, dia tidak melihat tubuhnya dengan mata dimensi, hanya menilai kondisi fisiknya berdasarkan denyut nadi.
Setelah mengecek denyut nadinya, dia berkata, “Bukan masalah serius, cuma perlu banyak istirahat.”
“Tidak ada masalah?” Marisa Wei sedikit tidak mengerti, “Jadi kenapa aku insomnia dan emosi tidak stabil?”
Maxon Wu berpikir sejenak, lalu berkata, “Sederhana, Nona Wei belum punya pacar, bukan?”
Wajah Marisa Wei memerah, “Sekarang belum ada.”
“Kalau begitu, cepat cari pacar. Jika sudah ada pacar, penyakitmu akan sembuh.”
Marisa Wei ini sebenarnya kekurangan pria. Kurangnya kehidupan pria dan wanita akan menyebabkan gangguan endokrin, ini bukan masalah besar.
Wajah Marisa Wei semakin merah, dia mendehem, “Terima kasih Tuan Wu.”
Maxon Wu sekarang baru sempat mengamati wanita cantik berblazer ini dengan cermat. Blazer model rok pendek mencapai bagian lutut, di bawahnya adalah kaki yang indah dan mengenakan stocking biru muda.
Ketika mengobrol dengan Maxon Wu, dia melepas jasnya dan memakai kemeja putih di dalamnya, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan bentuk tubuhnya yang membuat orang iri. Dilihat dari cara berpakaiannya, sifat wanita cantik ini lebih tradisional dan konservatif.
Selama mengobrol, Maxon Wu jadi tahu jika pemuda yang minta maaf sebelumnya bernama Sandy Feng, dan pria tua bernama Zebe Feng adalah kakeknya dari pihak ibu. Orang tuanya sudah meninggal sejak dia kecil dan tumbuh besar di bawah asuhan kakeknya.
Selain tiga orang ini di kelas bisnis, masih ada beberapa pengiring, seperti pengawal, yang mengenakan jas hitam dan bertampang serius.
Dari hal ini dapat dinilai, kalau Marisa Wei ini bukan hanya orang sederhana, tapi juga sangat terhormat. Dia mengecek nama Zebe Feng di internet, dan benar saja, dia menemukan bahwa orang ini adalah ketua komisaris “Yuanshan Corp”, konglomerat Kota Hai dengan kekayaan bersih lebih dari puluhan miliar yuan.
Marisa Wei juga tidak sederhana, dia adalah direktur Yuanshan Corp, CEO perusahaan Shanhai Media di bawah bendera Yuanshan Corp, dan merupakan pengusaha muda terkenal di tanah air.
Marisa Wei tidak menganggu Maxon Wu lagi, dan Maxon Wu menenangkan hati dan meditasi dalam setengah perjalanannya.
Akhirnya, kereta sampai di stasiun Kota Hai, yang juga merupakan stasiun akhir. Maxon Wu semula mau pergi dulu, tapi Marisa Wei bersikeras mau mengirim sebuah mobil untuk mengantarnya ke tempat yang akan dia tuju.
Lagi pula, Maxon Wu juga akan naik taksi, jadi dia tidak menolak. Dia masuk ke dalam mobil kelas S, sopir membawanya ke tempat yang disepakati sebelumnya, Hotel Tianlong Kota Hai.
Sampai di hotel, dia melaporkan nama, lalu diundang ke ruang pertemuan di lantai tiga oleh pelayan. Di dalam ruangan, duduk seorang pria paruh baya, berusia awal lima puluhan, kepala botak, seorang pria gemuk dengan senyum di wajahnya.
Dia berdiri untuk menyambutnya, “Tuan Wu, akhirnya kita bertemu.”
“Maaf, membuatmu menunggu lama.” Maxon Wu mengangguk.
“Tidak, tidak, aku juga baru sampai.” Orang ini adalah Agung Ren dan dia menyilakan Maxon Wu duduk.
“Pasiennya tidak datang?” tanya Maxon Wu.
“Putri kesayanganku tidak bersedia datang, dia sibuk dengan urusan pekerjaan.” jawab Agung Ren seraya tersenyum.
“Ceritakan kondisinya.” minta Maxon Wu.
“Putriku mulai benci laki-laki sejak dia berumur lima belas tahun. Tidak peduli betapa tampannya anak laki-laki tersebut, dia tidak tertarik. Selain itu, begitu dia melakukan kontak fisik dengan seorang pria, dia akan langsung muntah. Aku telah mencari banyak dokter ahli untuk mendiagnosa, tapi mereka semua tidak berdaya.” Agung Ren menjelaskan.
“Aku dengar dari teman lama, penyakit lama dia selama bertahun-tahun telah disembuhkan oleh Tuan Wu di penjara, jadi aku minta dia mengenalkanmu padaku.” kata Agung Ren.
Hati Maxon Wu tersentak, tidak bisa menyentuh pria, dan akan muntah begitu disentuh? Dia tiba-tiba teringat sebuah kasus penyakit, mungkinkah dia memiliki fisik jenis itu?

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

704