Bab 3 Hari Pernikahan

by Febi 11:33,Nov 12,2020
Jenifer Wen setelah menyelesaikan tugasnya langsung pergi dari sana, dia benar-benar malu menghadapi lelaki ini, ya meskipun lelaki itu sama sekali tidak sadarkan diri.

Ketika Jenifer Wen keluar dari kamar Nicholas Lu, kakek Lu telah menunggunya di luar.

"Hari ini adalah pertama kalinya kamu mengurus Nicholas, bagaimana, apakah kamu sanggup melakukannya?"

Jenifer Wen mengangguk, tetapi tiba-tiba teringat dengan lelaki yang dilihatnya hari ini, tentu saja, dia tampan dan tidak sulit untuk menerimanya, tetapi dia masih merasakan kesulitan dalam mengatasi rintangan di hatinya.

Ya dia mungkin akan terbiasa dengan seiring waktu.

"Ya, tidak masalah."

Kakek Lu mengangguk, dan kemudian seorang lelaki berjas hitam masuk dengan 2 buku kecil berwarna merah di tangannya.

"Ini buku nikah kalian. Aku akan menyimpannya untuk kalian. Kamu tidak keberatan kan."

Jenifer Wen menggelengkan kepalanya. Maksud dari perkataan kakek Lu sangat jelas. Buku nikah ada di tangan keluarga Lu, yang berarti kalau dia hanya mengambil nama nyonya muda Lu untuk sementara, tanpa status, tanpa kebebasan, bahkan ada kemungkinan kalau buku nikah ini dapat diganti dengan buku cerai kapan saja, dan dia juga akan dikirim kembali ke tempat di mana mimpi buruknya berulang, atau mungkin akan membuatnya menghilang di dunia ini.

Jenifer Wen tidak peduli dengan status, tapi dia peduli tentang kebebasan. Buku nikah ini adalah belenggu, tapi juga satu-satunya cahaya baginya untuk menyingkirkan keadaan sulit. Dia hanya bisa mengandalkan buku merah sebagai ganti kebebasan masa depannya.

Melihatnya yang sangat mematuhi perkataannya, kakek Lu mengangguk, "Kalau sudah tidak ada apa-apa lagi kamu bisa pergi dan pelajari cara memijat Nicholas dengan tukang pijat. Ingat, mengurus kehidupan sehari-hari Nicholas adalah tugasmu sebagai istrinya."

Jenifer Wen menjawab ya dan kembali ke kamar Nicholas Lu. Tukang pijat melihatnya datang dan memberi isyarat untuk duduk di samping dan menontonnya bagaimana memijatnya.

Jenifer Wen duduk bersama, mengamati otot-otot lelaki itu berulang kali didorong dan digosok, dan di hatinya diam-diam mengaguminya.

Melihat Nicholas Lu dalam keadaan koma di tempat tidur dan otot-ototnya tetap tidak berhenti tumbuh selama 3 tahun, jadi bisa dikatakan kalau tukang pijat ini luar biasa.

Kalau dia berhasil mempelajari teknik pijat ini, dia mungkin bisa memastikan kesehatan otot ibunya yang lumpuh di tempat tidur, yang keadaannya sama seperti Nicholas Lu saat ini.

Mata Jenifer Wen meredup ketika dia memikirkan ibunya, yang sudah 3 tahun tidak dia temui.

Saat itu, ibunya sangat marah hingga terbaring kaku di tempat tidur karena perilaku tak tahu malu 3 orang keluarga Wen. Dan sekarang, dia tidak tahu bagaimana keadaan ibunya.

Alasan dia harus meninggalkan penjara secepat mungkin bukan hanya karena lelah dan takut akan kesakitan, tapi juga karena dia ingin mengurus ibunya.

Dan demi ibunya, dia harus memanfaatkan kesempatan menikah dengan keluarga Lu ini untuk mendapatkan kembali kebebasannya.

Hari sudah gelap setelah proses pemijatan selesai. Jenifer Wen mengantar tukang pijat pergi dan dia juga pergi makan malam. Kakek Lu di waktu makan malam berkata lagi padanya, "Karena buku nikah sudah di dapatkan, jadi kamu mulai malam ini akan tidur dengan Nicholas.”

Kakek Lu memberi perintah dan itu tentu tidak bisa ditolak.

Karena kehadirannya disini untuk memberikan keajaiban pada Nicholas Lu maka dia harus mengikuti aturan dengan ketat.

Sumpit di tangannya berhenti dan dia mengangguk.

Bagaimanapun, dia hanya perlu tidur dengan orang koma, seorang yang sedang koma tidak bisa bergerak atau berbicara tentu jauh lebih aman daripada orang-orang besar yang hidup di penjara yang ingin membunuhnya kapan saja.

Jadi arti tidur bersama seharusnya hanya literal.

Selesai makan, Jenifer Wen kembali ke kamar Nicholas Lu. Demi menyongsong pemandangan sebagai pengantin baru, seprei di kamar diganti jadi warna merah. 2 lilin merah dinyalakan di atas meja. Lampu dimatikan, dan nyala api merah menerangi ruangan dengan cahaya hangat.

Jenifer Wen berjalan ke sisi tempat tidur dan memandang lelaki di tempat tidur. Wajahnya di bawah cahaya lilin terlihat sangat lembut. Tak ada perasaan dingin yang biasanya dia rasakan. Dalam keadaan saat ini membuat orang mengira kalau dia hanya tidur biasa.

"Mulai hari ini dan seterusnya, kamu adalah suamiku. Kamu juga merasa ini konyol kan, karenamu dalam 3 tahun terakhir ini aku hampir mati beberapa kali. Bukannya aku tidak membencimu, dan aku tahu kamu harusnya juga sangat membenciku kan. Tapi sekarang kita malah menikah. Mungkin ini takdir."

“Sebenarnya, tidak masalah kalau kamu tidak pernah bangun.” Jenifer Wen duduk di sisi tempat tidur, mempelajari teknik yang dia pelajari dari tukang pijat hari ini dan memberikan pijatan pada Nicholas Lu: “Karena aku disini untuk mendapatkan kebebasan ku. Dan kamu hanya perlu seseorang untuk menjagamu. Ya kita hanya perlu mengambil apa yang kita butuhkan, dan itu akan lebih baik kalau tidak ada yang berubah."

Jenifer Wen berhenti setelah melakukan terapis pijat untuknya selama satu jam. Meskipun dia membenci orang yang menyebabkan dia dipenjara, tapi dia tetap akan mengurusnya karena ini adalah kesepakatan dengan keluarga Lu.

Rasa kantuk melanda, di hari pertama setelah keluar dari penjara, Jenifer Wen akhirnya merasakan sedikit kebebasan. Perasaan manusiawi seperti kelelahan, seperti mengantuk, kembali ke kesadarannya.

Nicholas Lu berada di sisi lain tempat tidur, dan dia berbaring di sisi lain tempat tidur merah yang luas dan besar, dia meringkukan tubuhnya dan mulai menutup matanya.

Di tengah malam, kaki Jenifer Wen menggigil. Dia berkeringat dingin karena kesakitan di tulang yang memang sering kambuh dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berguling ke tengah. Dia tiba-tiba, berbalik dan menyentuh sumber panas di sebelahnya, tanpa sadar mencondongkan tubuhnya, dan melingkarkan tubuh kecilnya di sebelahnya yang seperti “kompor” yang hangat.

Arus hangat mengalir dari kulit, dan penyakit dingin Jenifer Wen mereda, dan secara bertahap dia mulai jatuh terlelap lagi.

Keesokan harinya.

Jenifer Wen sudah lama tidak melihat cahaya pagi di sel penjara yang gelap, sehingga ketika sinar matahari pagi pertama masuk melalui tirai langsung membuatnya terbangun.

Dia membuka matanya, menatap kosong ke wajah tampan yang agak pucat di depannya, merasakan kehangatan tubuhnya, dan tiba-tiba menyadari kalau dia sekarang sedang berbaring di pelukan siapa.

Jenifer Wen meronta-ronta dan segera bangun, wajahnya agak panas. Walaupun Nicholas Lu adalah orang yang sedang koma tapi dia juga seorang lelaki dewasa. Jenifer Wen memeluknya seperti ini, dia bagaimana mungkin tidak merasa malu.

Dia langsung mengganti piyamanya. Ketika dia membuka pintu dan keluar, dia kembali menatap Nicholas Lu, yang masih terbaring diam di tempat tidur. Ada beberapa keraguan dalam benaknya.

Saat tadi dia mau bangun. Dia sepertinya merasakan kekuatan dari lengan Nicholas Lu di pinggangnya.

Apakah itu hanya ilusi?

Atau Nicholas Lu akan segera bangun dan sadarkan diri?

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

615