Bab 5 Harusnya Waktu Itu Langsung Bunuh Dia Saja

by Febi 11:33,Nov 12,2020
Lelaki itu kemudian menghembuskan nafas di telinga Jenifer Wen: "Kalau keluarga Lu melihat ini, menurutmu apakah mereka akan kembali menjebloskanmu ke penjara, atau memberi vonis baru karena kamu telah membawa masuk laki-laki lain kesini? Dan kemudian membunuhmu diam-diam?”

Tubuh Jenifer Wen langsung menjadi dingin, tidak, dia tidak mau kembali kesana lagi, dan tidak bisa mati!

Lelaki itu melihat dia tidak lagi melawan semakin melancarkan aksinya!

Jenifer Wen tersadar dari pikirannya kemudian menggigit lidah lelaki itu, dan bau darah menyebar di antara kedua orang itu.

Meskipun dia tidak ingin memancing kesalah-pahaman orang-orang dari keluarga Lu, tapi dia juga tidak bisa membiarkan orang ini mengambil keperawanannya!

“Sss, kamu!"

Lelaki itu karena kesakitan langsung melepasnya dan Jenifer Wen mengambil kesempatan itu dengan panik berguling dan menjatuhkan lampu samping tempat tidur.

Kurang dari setengah menit, seseorang datang dan mengetuk pintu: "Nona Wen, apa yang terjadi di dalam, aku masuk ya?"

Di malam yang gelap, Jenifer Wen menatap bayangan gelap lelaki di depannya, mencoba melihat seperti apa tampangnya, tetapi dia tidak bisa melihat apa pun kecuali sepasang mata yang dingin.

Membuka mulutnya, Jenifer Wen ingin memanggil seseorang, tapi dia tidak berani. Mata dingin lelaki di depannya membuatnya sangat ketakutan.

Akhirnya, lelaki itu dalam waktu yang lama hanya menatapnya dalam-dalam, kemudian berguling dan turun dari tempat tidur, dia dengan cepat melompat dari balkon, dan menghilang di kegelapan malam.

Jenifer Wen perlahan pulih, dan kemudian menggerakkan bibirnya: "Tidak, tidak apa-apa, aku tidak sengaja menjatuhkan lampu, aku bisa membersihkannya sendiri, kamu tidak perlu masuk."

Ketika langkah kaki di luar pintu menghilang, dia meraih selimut dan membungkus tubuhnya dengan erat, berlari ke balkon tanpa alas kaki, memeriksa ke kiri dan ke kanan bahwa tidak ada laki-laki, lalu kembali ke kamar dan mengunci pintu balkon dengan erat, dan membuka tirai untuk membiarkan cahaya bulan masuk. Setelah memecah kegelapan yang mencekik di kamar, dia menarik nafas lega dan berbaring di tempat tidur.

Nicholas Lu sedang berbaring dengan tenang di sisi lain tempat tidur, tubuhnya memancarkan kehangatan. Jenifer Wen yang dalam keadaan panik, akhirnya berbaring di sisi tubuhnya dan dengan hati-hati memeluk lengannya.

Di bawah sinar bulan, siluet Nicholas Lu begitu lembut. Memikirkan mata dingin lelaki tadi, Jenifer Wen menyadari kalau dia saat ini hanya bisa mengandalkan Nicholas Lu untuk bisa merasa lebih nyaman dan tenang.

Keesokan paginya, Jenifer Wen bangun, kejutan tadi malam membuatnya tidak bisa tidur nyenyak, dan dia bangun untuk sarapan bersama lingkaran mata yang hitam.

Tiba-tiba, pelayan dari kamar tidur Nicholas Lu berseru: "Cepat datang orang, Tuan muda terluka!"

Orang pertama yang bergegas keluar ruangan adalah kakek Lu, diikuti oleh ibu Nicholas Lu. Sekelompok orang dengan panik bergegas ke kamar Nicholas Lu.

Sendok bubur Jenifer Wen jatuh di atas meja. Nicholas Lu bagaimana bisa terluka?

Setelah buru-buru bangun dan pergi ke kamar tidur, Jenifer Wen belum sempat melihat apa yang terjadi disana langsung mendapat tamparan di wajahnya.

Suara tamparan itu begitu tajam, kepala Jenifer Wen sampai menoleh ke satu sisi, dan tamparan itu terasa menyakitkan juga panas.

“Bagaimana caramu mengurus Nicholas hah!” Eva Ye menamparnya dengan kekuatan yang besar. Melihat Jenifer Wen seperti sedang melihat musuh, dan dalam matanya penuh dengan kebencian dan aura ingin membunuh.

Jenifer Wen menoleh dan melihat 3 luka berdarah di lengan Nicholas Lu. Dia karena terkejut maju ke depan, "Mustahil, kemarin tidak ada apa-apa. Kenapa hari ini tiba-tiba bisa ada luka?”

"Kamu memiliki tanggung jawab untuk menjaga Nicholas, tetapi sekarang malah kamu yang tidak tahu apa-apa dan mengajukan pertanyaan pada kami! Kalau aku lihat kamu ini kesal dan ingin mengambil kesempatan untuk membunuh anakku kan!"

"Bukan aku, aku tidak ..."Jenifer Wen di dalam kepalanya terus berpikir, dari mana asal ketiga luka ini? Mungkinkah Nicholas Lu bangun dan mencakarnya sendiri? Ini tidak mungkin!

Mungkinkah tadi malam...

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

565