Bab 8 Pulang Ke Rumah

by Febi 11:34,Nov 12,2020
Mata Jenifer Wen memerah, dengan nafas gemetar berkata: "Kamu tidak bisa menghentikanku, akan selalu ada saat kamu tidak bisa muncul, lalu setelah itu terjadi kita lihat apa yang bisa kamu lakukan padaku!"

“Kalau kamu benar-benar ingin mati, mengapa kamu tidak menemukan cara untuk mengakhiri hidupmu di penjara?” Mata lelaki itu terlihat sangat cerah di kegelapan, seolah-olah dapat menembus lubuk hati Jenifer Wen yang paling tertekan: "Coba pikirlah mengapa kamu memilih bertahan dari penderitaan seperti itu, dan masih berusaha untuk bebas, pikirkan tentang orang-orang yang menjadikanmu seperti sekarang ini, pikirkan tentang perlakuan yang kamu derita selama 3 tahun terakhir dan bahkan bisa lebih lama lagi. Apakah kamu benar-benar rela mati?"

Tangan Jenifer Wen gemetar, dan air mata mulai mengalir deras. Dia bagaimana bisa rela mati seperti ini? Keluhannya belum diselesaikan, dan dia belum bisa kembali dan bersatu dengan ibunya, tetapi sekarang rasanya sulit untuk menghadapi jebakan dan permainan keluarga Lu, juga sulit untuknya menghadapi lelaki yang ingin melukai dirinya kapan saja.

Jadi apa yang bisa dia lakukan?

Tangan laki-laki itu masih memegang pecahan kaca di tangannya, dan keduanya membeku terdiam seperti ini. Setelah itu, lelaki itu mencondongkan tubuh ke telinga Jenifer Wen dan berkata dengan lembut: "Ikuti perkataanku, aku bisa memberimu banyak keuntungan lebih dari keluarga Lu, aku dapat membantumu apa pun yang ingin kamu lakukan."

Kata-kata lelaki itu membuat Jenifer Wen sedikit bergidik. Kata-katanya seolah menyihir, membuat Jenifer Wen ragu...

Lelaki ini apakah benar bisa membantunya?

“Kamu, kamu kenapa mau membantuku?”

“Kamu sekarang masih tidak perlu tahu.”

Setelah mengatakan itu, lelaki itu turun dari atas tubuh Jenifer Wen, mengambil gelas di tangannya, berbalik dan berjalan ke balkon, membuka salah satu sudut tirai, cahaya bulan masuk, dan Jenifer Wen bisa melihat dengan jelas, punggungnya yang lebar dan kuat, membuat orang bisa merasakan rasa aman.

Dia menoleh sedikit dan berkata, "Aku akan memberimu waktu 3 hari untuk memikirkannya, dan aku akan datang mencarimu lagi dalam waktu 3 hari."

Setelah mengatakan itu, dia melompat keluar dari balkon. Jenifer Wen duduk perlahan, noda darah yang ditinggalkan oleh lelaki itu di lehernya terasa dingin, tetapi jantungnya berdebar kencang.

Mengatasi segala keluhannya, bersatu kembali dengan ibunya, ini, dapatkah lelaki ini membantunya merealisasikannya?

Dalam 3 hari berikutnya, lelaki itu tidak muncul, dan Jenifer Wen juga belum memutuskan apakah akan membuat kesepakatan dengan lelaki ini.

Hanya di dasarkan omongan kosong, dia tidak bisa dengan mudah mempercayai lelaki ini, tapi dia tidak tahu harus bagaimana menghadapinya malam ini setelah 3 hari itu lewat.

Pada pagi hari ketiga, Jenifer Wen selesai makan dipanggil ke ruang kerja kakek Lu.

Di ruang kerja yang tenang, kakek Lu memandangi wajah kuyu Jenifer Wen dalam-dalam, tanpa sedikit pun rasa kasihan di matanya: "Apakah sudah memikirkan kesalahannya dengan baik?”

Jenifer Wen menundukkan kepalanya dengan patuh menjawab: "Aku tahu aku salah. Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan Nicholas terluka sedikitpun. Aku pasti akan merawatnya dengan baik."

Kakek Lu mengangguk: "Keluarga Lu bukannya keluarga yang tidak masuk akal. Dalam sebulan terakhir, kamu telah merawat Nicholas, aku juga telah melihat semuanya di mataku. Kalau hal ini terjadi lagi, apa konsekuensinya, aku pikir kamu harusnya sangat jelas."

“Ya, aku mengerti.” Jenifer Wen mengerutkan bibirnya yang kering.

"Ya sudah kalau begitu, hari ini kamu bisa mengambil cuti sehari. Keluarga Wen harusnya tidak tahu tentang pembebasanmu dari penjara, kan? Hari ini pergi lah pulang ke rumah keluarga Wen."

Jenifer Wen tiba-tiba mengangkat kepalanya: “Benarkah, benarkah?” Benarkah dia bisa pulang untuk menemui ibunya!

Kakek Lu mengangguk, dan Jenifer Wen dengan penuh syukur membungkuk beberapa kali: "Terima kasih, terima kasih, aku akan cepat kembali kesini!"

Makna yang tidak diketahui melintas di mata kakek Lu dan dia tidak mengatakan apa-apa, hanya melambaikan tangannya menyuruh Jenifer Wen pergi.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

565