Bab 19 Kamu Sungguh Tidak Tahu Malu

by Febi 11:35,Nov 12,2020
“Nicholas sudah sadarkan diri, kamu masih berani datang, kamu memangnya tidak takut aku akan berteriak memanggil orang untuk datang kesini!"

"Panggil lah, kalau kamu berani, aku akan menyelesaikanmu di depan mereka, dan lihat apakah Nicholas nanti masih bersedia menerimu sebagai istrinya!”

“Kamu sungguh tidak tahu malu!”

“Jenifer, jangka waktu kesepakatan kita sudah hampir sampai, apakah kamu sudah memikirkannya? Jadi bersedia atau tidak?"

Jenifer Wen terkejut, lelaki ini bahkan masih ingat tentang ini!

“Hal sebesar ini aku bagaimana bisa melupakannya?” Lelaki itu sepertinya bisa membaca pikirannya: “Aku menantikan jawabanmu.”

Tubuh Jenifer Wen tidak bisa menahan gemetar. Langkah kaki datang dari luar kamar. Begitu Jenifer Wen hendak berteriak keras, mulutnya langsung disumpal oleh orang itu: "Hei, jangan takut, aku belum akan memakanmu. Cek yang kuberikan padamu sebelumnya telah diganti dengan sebuah kartu. Ambil kartu ini dan belilah beberapa pakaian indah dan seksi. Aku akan datang lagi saat tenggat waktu 30 hari tiba. Setelah saatnya tiba, ingatlah untuk menyapaku dengan pakaian itu."

Sebuah kartu bank di masukkan ke tangannya, dan lelaki itu tersenyum dan bangkit, menatapnya dengan tatapan yang sangat berbahaya: "Kalau kamu berani tidak mendengarkanku, aku akan membuat Nicholas mati di sisimu. Setelah itu kita akan lihat bagaimana keluarga Lu akan membunuhmu setelah melihatnya."

Jenifer Wen memegang kartu itu erat-erat, dan ujung kartu yang tajam menusuk ke dagingnya, sangat sedih, dan juga membuatnya bergumul dalam putus asa.

Pada akhirnya, dia menutup matanya dan mengangguk: "Baik, aku mengerti."

Setelah itu lelaki itu pergi dengan kepuasan. Nicholas Lu tak lama kembali ke kamar. Jenifer Wen memperhatikannya melepas pakaiannya dan berbaring di tempat tidur, dan bertanya dengan lembut: "Nicholas, saat kamu koma apakah pikiranmu tetap sadar? Apakah bisa mendengar sesuatu dengan normal?"

Nicholas Lu menatapnya dengan dingin: "Kenapa, kamu takut aku mendengar kegiatan liarmu dengan lelakimu itu?"

“Bukan...Aku...”

Dia takut dia akan mendengar kata-kata yang dia curhatkan padanya pada malam-malam yang tidak berdaya itu.

Nicholas Lu bangkit, berjalan ke arahnya, berjongkok dan mencengkeram wajahnya, "Jenifer, ingat baik-baik siapa dirimu, sebaiknya kau tahu bagaimana melakukan sesuatu, meskipun aku tidak tertarik padamu, tapi aku tidak akan pernah mengizinkan istriku berbuat kotor dengan lelaki lain!"

Sikap dingin Nicholas Lu terlihat begitu mencekam, dan aura penguasa yang tak terbantahkan berbeda dengan kebiadaban lelaki itu.

Namun keduanya membuat Jenifer Wen sangat ketakutan.

Dia mengangguk: "Aku, aku tidak akan..."

“Ya, itu yang terbaik!"

Setelah membuang wajahnya, Nicholas Lu menyeka tangannya seolah-olah telah menyentuh sesuatu yang kotor kemudian kembali berbaring untuk tidur.

Keesokan paginya, meskipun Jenifer Wen sendiri enggan, tapi dia tetap keluar untuk membeli pakaian, karena lelaki itu tidak tahu ada di mana saja dan selalu mengawasinya. Kalau dia tidak mendengarkannya, dia takut dia akan melakukan sesuatu yang buruk. Dan bisa membuatnya mati kapan saja.

Mobil keluarga Lu berhenti di depan pusat perbelanjaan termewah di Kota J. Jenifer Wen turun dari mobil. Melihat sekelilingnya, dia hanya merasakan ada banyak kenangan disana.

Ketika dia masih menjadi putri dari keluarga Wen, ibunya sering membawanya ke sini, tetapi sekarang...Segalanya berbeda.

Menyingkirkan semua pikiran yang berantakan, Jenifer Wen masuk dan menemukan etalase yang dulu paling sering dia kunjungi. Belum beberapa tahun dan dekorasinya tidak banyak berubah, tetapi dia tidak mengenal siapa pun yang ada disana.

Melihat di beberapa etalase dengan santai, Jenifer Wen merasakan ada beberapa mata yang tidak ramah tertuju padanya. Ketika dia berbalik, dia melihat beberapa pekerja menatapnya dengan ekspresi aneh, dan ada sedikit penghinaan di mata mereka.

Jenifer Wen melihat pakaiannya, jeans yang sering dicuci hingga warnanya luntur, lengan pendek putih yang sangat sederhana, dan tas kanvas putih. Melihatnya yang seperti itu membuat orang merasa kalau dia tidak sanggup untuk berbelanja disana.

Tampaknya benar kata Hansen Bai, orang-orang jaman sekarang selalu melihat orang dari luarnya saja, melihat dia yang tidak berpakaian bagus, dan dia langsung digolongkan sebagai masyarakat tingkat bawah.

Sambil memikirkan itu, Jenifer Wen melihat dress di tengah etalase dan menyukainya, saat hendak mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Tiba-tiba, ada seseorang yang datang dan mengambilnya darinya.

Jenifer Wen mengerutkan kening, mengira kalau dia tidak beruntung dan ingin melihat pakaian lainnya, tetapi tiba-tiba, orang itu berteriak seolah terkejut, "Wah, lihat siapa ini? Jenifer?"


Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

615